Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Apa lagi?


__ADS_3

Keesokan harinya Hardi dan Wulan bertemu di sebuah Cafe dekat kantor Hardi, disana Hardi berusaha menahan amarahnya agar tak di curigai oleh Wulan. Hardi ingin tahu seberapa lagi Wulan akan mengelabuinya dengan segala kebohongan yang ia ucapkan yang seolah nyata. Wulan sangat pandai sekali berakting seolah ia adalah korban dari perceraian yang terjadi di masa lalu, seakan ia ingin meraih perhatian dan simpati Hardi kembali dengan menggunakan Cilla sebagai umpannya.


" Sudah lama menunggu? maaf tadi jalanan cukup padat." ucap Wulan lalu duduk di kursi depan Hardi.


" Tidak apa-apa " balas Hardi singkat.


" Bagaimana tentang Cilla? apa aku bisa menemuinya sesuka hatiku dan mengatakan yang sebenarnya bahwa aku adalah mamah kandungnya? aku sangat merindukan Cilla, aku sangat menyayangi Cilla, Dia adalah putriku satu-satunya. Untuk itu aku meminta kau membiarkan aku bersamanya walau tidak setiap hari." ujar Wulan dengan tampang memelas, sementara Hardi hanya mendengarkan dengan tangan mengepal erat menahan emosi.


" Aku sangat sedih ketika Cilla tidak mengenaliku, kau tahu kan bagaimana anak sendiri tak mengenali kita! Hati ini terasa sakit, anak yang aku kandung dan aku lahirkan tak menganggap aku. Semua ini gara-gara orangtuamu dan salah aku juga yang malah mengikuti keinginan orangtuamu." ucap Wulan seolah dia adalah korban.


" Cukup, Sudah Cukup " ucapan Hardi membuat Wulan terkejut.


" Aku sudah tahu semuanya, aku sudah menanyakan itu pada orangtuaku, aku sudah tahu kebenarannya. Sudahlah kau jangan terus berakting di hadapanku, air matamu itu hanya airmata palsu, aku tak akan lagi termakan ocehan busukmu itu." ucap Hardi tegas.


" Apa maksudmu? aku memang adalah korban dari keegoisan orangtuamu, aku sangat menyayangi Cilla dan tak ada yang bisa menyangkal itu." ujar Wulan menekankan.


" Baiklah, aku sudah tidak peduli kau itu korban atau apa. Aku masih mengijinkanmu dengan Cilla karena aku masih punya hati nurani tapi aku hanya ijinkan kau bertemu sebulan sekali itupun atas pengawasanku." ujar Hardi.


" Tapi waktu segitu tidak ***........." ucap Wulan terpotong oleh perkataan Hardi.


" Setuju atau tidak bertemu sama sekali! " tegas Hardi.


" Baiklah, aku terima yang terpenting aku bisa menemui Cilla." ucap Wulan setuju.


" Yasudah, karena tidak ada lagi yang kita bicarakan, aku permisi." ucap Hardi lalu berlalu dari hadapan Wulan.


Wulan menatap tajam kearah Hardi yang terus menjauh, ia mengelap sisa air mata yang membasahi pipinya. Lalu ia tersenyum sinis lalu terlihat kesal karena rencana yang telah ia susun dengan rapi tak berhasil membuat Hardi simpati dan luluh.


" Dasar orangtua sialan, dari dulu selalu saja membuatku gagal menaklukan Hardi. Senangnya ikut campur urusan orang, padahal sudah sedikit lagi Hardi berada di genggamanku tapi lagi-lagi.... Sial.... " geram Wulan sambil melempar lap ke meja di depannya.

__ADS_1


_______________


Hardi pulang lebih cepat dari biasanya, dia merasa sangat lega karena beban pikirannya sekarang sudah tidak ada. Rasa rindu mendadak datang padanya untuk segera bertemu dengan istri tercinta dan kebetulan tidak ada janji penting hingga ia dapat segera pulang.


Ketika sampai di rumah, Hardi melihat Sarah sedang duduk di kursi taman, memandang kosong ke depan seolah ada yang di pikirkan oleh istrinya tersebut. Hardi segera menghampiri istrinya secara mengendap-endap untuk memberikan kejutan. Hardi menutup mata Sarah dengan kedua telapak tangannya, Sarah yang diperlakukan seperti itu secara tiba-tiba terlihat terkejut.


" Siapa yah?" tanya Ssrah namun Hardi hanya diam saja dengan menahan senyumnya.


" Ini siapa? jawab dong." Sekali lagi Sarah bertanya dan lagi-lagi Hardi hanya diam. Sarah meraba-raba tangan kekar yang menutup matanya tersebut dan dirasa ia meraba cincin di jari manis tangan tersebut serta wangi parfum yang sangat familiar baginya walau ia tak bisa melihatnya.


" Ah mas Hardi, aku tahu itu kamu " ucap Sarah yang berhasil menebak siapa yang menutup matanya itu.


" Pintar sekali kau sayang, bisa menebaknya " ucap Hardi lalu melepaskan tangannya dan beralih duduk di samping Sarah.


" Wangimu sudah melekat jadi aku bisa menebak dari wangi parfummu juga dengan adanya cincin pernikahan kita, yang jelas tanganmu sangat kekar." balas Sarah.


" Aduh mas, bisa-bisa tubuhku remuk nih kalau cara memeluknya seperti ini." ucap Sarah yang merasa hardi memeluknya terlalu erat.


" Habisnya mas sangat merindukanmu, sudah lama mas tak memelukmu seperti ini." ucap Hardi masih memeluk istrinya erat.


" Tapi tak seperti ini juga mas, nanti bayi kita tak bisa nafas " ucapan Sarah akhirnya membuat Hardi melepaskan pelukannya.


" Aduh sayang, maafkan ayah yah. Ayah tak sengaja, soalnya ayah sangat merindukan bundamu." ucap Hardi sambil mengelus perut istrinya seolah ia sedang berbicara dengan bayi dalam kandungan Sarah.


Sarah hanya tersenyum melihat tingkah Hardi dan sekaligus bahagia karena Hardi sangat memperhatikan kehamilannya. Hardi menanyakan apakah Sarah menginginkan sesuatu untuk dimakan, mungkin ada yang Sarah inginkan sebagai tanda ngidam. Namun Sarah menjawab bahwa saat ia tak menginginkan apa-apa, Sarah hanya butuh perhatian dari suaminya saja sudah cukup baginya. Hardi sedikit bercanda bahwa Sarah boleh selalu berada di dekatnya, menyentuhnya atau menjamahnya di tempat dimanapun yang Sarah suka, Hardi dengan senang hati akan menerimanya. Tapi itu malah membuat Sarah mencubit pinggang suaminya karena mungkin itu bukan keinginannya tapi keinginan dari suaminya. Hardi merintih kesakitan karena Sarah mencubitnya tak hanya sekali tapi berkali-kali, Sarah berhenti tatkala Hardi menarik pinggangnya dan meraih wajahnya lalu mengecup pipinya lembut.


Karena hari bertambah senja, Hardi mengajak Sarah untuk masuk kedalam rumah, belum sempat melangkah lebih jauh terdengar suara kaca pecah. Hardi dan Sarah terkejut, lalu mereka menoleh ke arah belakang yang ternyata terdapat sebuah botol kaca yang pecah dan terdapat selembar kertas yang di gulung di dalamnya. Hardi menyuruh Sarah untuk tidak mendekat agar Sarah tidak terluka lalu Hardi mendekati pecahan kaca tersebut dan mengambil selembar kertas tersebut. Hardi membukanya dan membaca tulisan di dalamnya tertulis dengan huruf kapital berwarna merah ' AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KALIAN BAHAGIA '. Hardi langsung meremas kertas tersebut lalu melemparkannya ke tong sampah dengan penuh amarah.


" Pak Maman, Pak Maman..." teriak Hardi.

__ADS_1


" Iya pak, ada apa?" balas pak Maman yang tadi berlari.


" Pak Maman, tugas pak Maman kan menjaga rumah ini, tadi kemana?" tanya Hardi tegas.


" Maaf Tuan, tadi saya pergi ketoilet." jawab pak Maman.


" Lain kali jangan tinggalkan tempatmu lagi, bereskan ini jangan sampai ada pecahan kacanya yang tersisa." ujar Hardi.


" Baik tuan " balas Pak Maman.


Lalu Hardi kembali kedekat Sarah dan mengajak Ssrah untuk segera masuk kedalam rumah.


" Tadi apa mas? aku lihat mas membaca sesuatu lalu membuangnya " tanya Sarah.


" Tidak apa-apa sayang, mungkin itu kerjaan orang iseng, tak usah di pikirkan mending kita segera masuk, mas juga sudah gerah ingin segera mandi." ujar Hardi mengalihkan pembicaraan.


Sarah percaya saja dengan perkataan Hardi, mereka pun akhirnya masuk kedalam rumah.


_________


Malam pun tiba, Sarah menemani Cilla sampai ia tertidur. Sekarang Cilla berani sendiri untuk tidur tidak di temani lagi oleh Lia karena Cilla bilang dia sudah besar jadi tidak perlu ada yang menemaninya. Sarah kembali ke kamarnya dan melihat Hardi sudah berbaring di tempat tidur sambil melihat ponselnya.


" Masih sibuk mas?" tanya Sarah.


" Tidak sayang, mas hanya memeriksa email yang masuk dari beberapa klien saja. Ayo sini kita tidur, sudah malam juga, kau kan perlu banyak istirahat." ucap Hardi sambil menepuk-nepuk kasur di sisinya.


Sarah segera naik ketempat tidur dengan berbantakan tangan kekar Hardi dan tangan Sarah memeluk pinggang suaminya. Sarah begitu nyaman berada di dekat Hardi dan Hardipun merasakan hal yang sama, Hardi mengecup kening Sarah dan mengucapkan selamat tidur lalu mereka pun mulai memejamkan mata masing-masing sampai mereka terlelap ke alam mimpi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2