
Bu Rahma segera datang ke kediaman Hardi setelah mendapat kabar dari menantunya itu jika Sarah diculik. Disana sudah ada bu Yesi dan pak Herman, mereka semua terlihat sangat khawatir. Bu Yesi memeluk bu Rahma yang terlihat menangis, ia sebenarnya juga sedih menantu kesayangannya di sekap orang namun mencoba tenang dan berusaha menenangkan agar bu Rahma tak tambah merasa sedih.
Tak berapa lama Rio pun datang, Hardi dan yang lainnya langsung berdiri. Hardi dengan tak sabar menanyakan hasil yang di dapat Rio tentang melacak keberadaan Sarah.
"Bagaimana Rio, apa kau telah menemukan lokasinya?" Hardi tak sabar.
"Saya sudah menemukan lokasi di mana ponsel bu Sarah terakhir di hidupkan, letaknya cukup jauh dari sini. Di gudang kosong, di dekat kompleks perumahan elit." jelas Rio
"Hayo kita ke sana." Ucap Hardi tergesa-gesa, namun di tahan oleh pak Herman.
Pak Herman menyarankan agar Hardi melaporkan dulu pada polisi agar bisa lebih aman bagi Sarah.
"Sudah pah, sudah aku telpon polisi" Devan yang baru datang menimpali.
"Kalian di sini saja, biar aku, Devan dan Rio yang pergi kelokasi" mereka bertiga segera keluar dari rumah di ikuti beberapa orang yang adalah orang-orang suruhan Hardi. 3 mobil melaju untuk menuju ke lokasi yang mana ponsel Sarah terakhir kali aktif.
Hardi meminta anak buahnya menyetir dengan cepat. "Hei... Cepat, bisa lebih cepat gak" teriak Hardi tak sabar.
Namun Devan menenangkan Hardi untuk sabar, "Sabar mas, jika kita ngebut, nyawa kita juga taruhannya. Mas harus tenang, nanti bukannya kita menyelamatkan mbak Sarah malah kita yang tidak selamat."
Mendengar itu Hardi pun terdiam, namun Hardi masih saja terlihat gusar dan emosi sendiri, "Sial..."
Setelah cukup lama dan memasuki sedikit jalanan kecil di ujung jalan kompleks. Mereka pun turun dari mobil di ikuti oleh anak buah Hardi yang berjumlah 12 orang.
"Apa sudah pasti lokasinya di sini?" tanya Devan.
"Betul, dari yang kami lacak lokasi terakhir yah di sini" balas Rio.
Setelah sampai pada gudang itu, semua orang menyebar mencari keberadaan Sarah. Memcoba membuka dan menggedor semua pintu yang ada di lokasi itu.
"Sarah, Sarah! kau mendengarku sayang! Sarah aku mohon Sarah, jawab aku" Hardi terus berteriak tanpa lelah berharap Sarah benar-benar berada disana dan mendengar teriakannya. Namun hanya suara angin yang berhembus pertanda tak ada orang disana selain mereka.
__ADS_1
Rio dan Devan pun ikut berteriak memanggil Sarah, namun hening tak ada apapun di sana. Tiba-tiba seorang anak buahnya berlari menghampiri mereka bertiga.
"Saya menemukan ini tuan" dengan membawa tas wanita dan ponsel di tangannya.
Hardi pun segera mengambilnya, "Ini punya Sarah, benar ini milik Sarah". ucap Hardi dengan yakin.
"Apa kalian melihat keberadaan seseorang di sini?" tanya Rio.
"Maaf, kami sudah menyusuri seluruh area di gudang ini namun kami tak menemukan siapa-siapa" balas salah satu anak buah.
Hardi menjadi sangat emosi dan sangat prustasi dengan semua ini. "Dimana kau Sayang? Sarah, Apa kau baik-baik saja?" batin Hardi.
__________
Sarah terisak tak berdaya karena merasa lelah telah berusaha seharian untuk melepaskan diri hingga tak sadar tadi ia pingsan. Dan sekarang ia berada di atas ranjang di kamar yang cukup besar. Lakban di bibirnya pun sudah di lepas namun ikatan di kaki dan tangannya masih sama.
Terdengar pintu di buka, terlihat Malvin masuk kedalam kamar itu. Dengan tatapan dan seringai yang menyeramkan, berjalan ke arah Sarah membawa nampan yang diatasnya ada segelas air putih dan makanan.
Malvin mengorek telinganya dengan jarinya, berasa bengah dengan teriakan makian dari Sarah. "Kamu masih punya tenaga juga yah, padahal belum makan seharian. Telingaku sampai bengah mendengar teriakanmu. Ini makanlah, biar kau punya tenaga untuk kabur... Hahahahaha" Malvin mengarahkan sendok berisi nasi dan lauknya ke arah Sarah namun Sarah malah menutup mulutnya rapat.
"Bukalah sayang, mumpung aku masih bersikap baik padamu" seringai Malvin terus menyodorkan sendoknya pada mulut Sarah.
Perlahan Sarah pun membuka mulutnya, "Bagus, begitu donk nuru...." belum selesai Malvin berbicara, Sarah menyemburkan makanan yang tadi ke arah wajah Malvin.
Seketika Malvin menutup matanya, bangkit lalu menampar keras pipi Sarah hingga ia tersungkur di atas tempat tidur. Terlihat darah keluar dari ujung bibir Sarah dan Sarah hanya bisa menangis di perlakukan seperti itu.
Malvin menjambak rambut Sarah membuat Sarah mendongak, "Dengar yah perempuan sialan, aku akan membuatmu dan suamimu menderita. Camkan itu" Malvin mendorong Sarah hingga Sarah terjerembab di ranjang. Lalu Malvin pergi keluar kamar dan mengunci kembali kamar tersebut.
Sarah lagi-lagi terisak, perutnya memang lapar dan bibirnya pun mengering karena tak meminum setetes pun dari kemarin.
"Mas, tolong aku. Tolong selamatkan aku, aku sudah tak sanggup lagi berada di tempat ini dan mendapatkan penyiksaan seperti ini. Aku mohon mas, semoga kau bisa cepat menemukanku." gumam batin Sarah yang sudah tak berdaya berharap suaminya segera menyelamatkannya.
__ADS_1
________
Sementara Hardi dan yang lainnya telah sampai di rumahnya dengan tangan kosong. Raut kecewa tersirat di wajah masing-masing terutama Hardi. Bu Yesi, pak Herman dan bu Rahma menghampiri Hardi, Rio dan Devan.
"Mana Sarah nya nak? Kau telah menemukannya kan. Mana dia?" ucap bu Rahma, mencoba mencari keberadaan Sarah namun tak melihatnya.
Hardi hanya menunduk, lalu menggelengkan kepalanya. Bu Rahma langsung syok, ia kehilangan keseimbangan. Bu Yesi dan pak Herman menahannya hingga tak terjatuh. Bu Rahma di bantu untuk duduk oleh bu Yesi.
"Maksudnya bagaimana, tadi lokasinya telah di temukan, kan!" pak Herman penasaran.
"Begini pah, kami datang kesana namun tak ada seorangpun di sana. Kami hanya menemukan ini, tas dan ponsel milik mbak Sarah" jelas Devan menaruh tas dan ponsel itu di atas meja.
Semua orang kembali merasa kecewa karena Sarah belum di temukan. Hardi semakin prustasi, ia menangis sejadi-jadinya, tak peduli dengan yang lainnya. Karena istri tercintanya tak tahu berada dimana dan keadaannya seperti apa! bu Rahma mengelus-ngelus dadanya yang terasa sesak dan air matanya terus saja mengalir tak tertahankan.
Begitupun yang lainnya, menunjukan gurat kesedihan yang sama.
"Sayang, aku harus mencarimu dimana lagi? aku sudah sangat prustasi dan tak bisa berpikir lagi. Aku mohon bertahanlah dimana pun kau berada. Cepat atau lambat aku pasti akan menyelamatkanmu." gumam batin Hardi.
Bersambung........
Dimanakah Malvin menyembunyikan Sarah?
Nantikan Up Author selanjutnya 😊
Masih ingin membaca kelanjutannya.
Yuk Like, Vote dan Komen.
Agar Author lebih semangat. ..
terimakasih 😊**
__ADS_1