
Esok harinya, terlihat Sarah bisa berjalan walau masih sedikit pincang, Hardi memperhatikannya dan berpikir apa mungkin pergelangan kaki Sarah masih sakit.
" Sayang, apa kakimu masih sakit?" tanya Hardi khawatir.
" Oh ini, tak terlalu mas hanya masih terasa pegal saja tapi sudah lumayan dibanding kemarin." balas Sarah yang sedang menyuapi si kembar yang mulai lari-lari mengejar Cilla.
" Yasudah biar mas saja yang menyuapi mereka, kamu istirahat saja biar cepat sembuh." ujar Hardi.
Sarah pun akhirnya memberikan mangkuk makanan yang ada di tangannya kepada Hardi dan Sarahpun duduk di sofa sambil melihat Hardi yang sibuk menyuapi putra mereka yang tak ingin diam.
__________
Devan sedang makan siang, seperti biasanya dia makan seorang diri bukan karena tak punya teman tapi Devan memang sudah nyaman seperti itu hanya di temani oleh laptop atau tablet yang isinya pelajaran semua.
Lagi-lagi Bella menghampiri Devan dengan duduk di hadapan Devan yang sedang membaca isi laptopnya dan sesekali melahap makanan yang ada di sampingnya. Bella tak mengganggu Devan, dia hanya duduk dan makan saja walau terkadang dia curi-curi pandak kearah Devan. Suasan sepi tanpa percakapan apapun yang ada hanya suara sebdok dan garpu yang berbentutan dengan piring ataupun mangkuk mereka.
Tiba-tiba ada yang mengguyur kepala Bella dengan segelas minuman, sehingga Bella langsung berdiri dan terkejut dengan kepala serta baju yang basah kuyup. Devan yang tadinya fokus dengan laptopnya pun langsung melongo dan menatap orang yang berdiri di samping Bella dengan gelas di tangannya.
" Larisa?" Devan tersentak ketika melihat siapa pelaku yang mengguyur Bella.
" Rasakan kau perempuan j*l*ng, berani-beraninya mendekati gebetan gue hah." ucap Larisa dengan sinisnya dan Bella hanya diam dengan mengambil tisu untuk melap wajah dan rambutnya. Melihat itu Devan memberikan saputangannya kepada Bella dan Bella menerimanya dengan senang hati.
" Larisa apa yang kamu lakukan? memangnya kamu siapa sampai berani menyiram orang seenaknya seperti itu." Bentak Devan yang tak suka dengan ulah Larisa.
" Memangnya salah, perempuan ini aku lihat suka banget mendekati kamu, beraninya dia bersikap seperti itu, aku hanya membantumu mengusirnya agar tak mengganggumu." ujar Larisa.
" Darimana kau tahu jika aku terganggu dengan kehadiran dia! yang menggangguku bukan Bella tapi kamu, Larisa." bentak Devan, mendengar ucapan Devan, Bella tersenyum senang sedangkan Larisa tambah mengkerutkan wajahnya tanda tak suka.
" Tega sekali kamu mengatakan hal seperti itu, memangnya perempuan ini siapa kamu! sampai kamu membela dia begitu." bentak Larisa.
__ADS_1
" Dia... Dia calon pacarku, jadi kamu jangan pernah mengganggunya lagi." awalnya ragu namun mencoba mempertegas perkataannya.
" Apa? dia? memangnya kau ganti selera jadi suka sama orang asing? dulu kau bilang hanya akan mengencani perempuan Indonesia saja." ujar Larisa yang mengingat perkataan Devan dulu.
" Tidak... perasaan tak bisa di tentukan dengan siapa kita akan melabuhkan hati kita, sekarang aku mulai menyukai Bella." ujar Devan tegas sambil merangkul bahu Bella dengan tangan kirinya, lagi-lagi perkataan dan perbuatan Devan membuat Bella tersentak tak percaya namun ia sangat senang.
" Kau.... Lihat saja nanti, aku tak rela Devan memilihmu bukan aku. Dasar Br*ngs*k." ujar Larisa kesal sambil pergi dengan sangat terpaksa.
Devan dan Bella melihat Larisa yang menjauh begitu saja, setelah sadar Devan melepaskan tangannya dari pundak Bella.
" Maaf... Kamu tak apa-apa? maafkan atas perlakuan Larisa terhadapmu, semoga kamu bisa melupakan kejadian tadi." ujar Devan.
" Tapi perkataanmu tadi itu...." ucap Bella.
" Itu, maaf aku memanfaatkan kamu dan terima kasih, lain kali aku traktir kamu makan sebagai tanda maafku, kamu sudah punya nomor kontakku kan! nanti kita saling kabar." ujar Devan lalu pergi meninggalkan Bella yang berdiri mematung.
_______
Kini Hardi dan keluarganya berada di taman belakang Villa yang terhampar rumput yang cukup luas yang sangat cocok untuk bermain anak-anak. Hardi menggelar tikar lalu Sarah dan meetuanya membawa beberapa bahan makanan untuk menemani mereka santai, pak Herman menyiapkan panggangan untuk mengadakan barbeque di tengah cuaca yang sejuk ini.
Cilla berlarian dengan kedua adiknya, dia sangat bahagia bisa bermain bersama yang sekarang kedua adiknya sudah bisa berjalan dan sedikit berlari walau terkadang terjatuh. Mereka tak menangis, malah terdengar tawa riang dari ketiganya.
" Sayang larinya jangan cepat-cepat, lihat Arka dan Arsa sampai jatuh." ujar Sarah sedikit berteriak.
" Iya bunda." balas Cilla.
" Jangan jauh-jauh yah Cilla, jaga adik-adikmu." ujar Hardi.
" Lia, temani mereka main dan jangan jauh-jauh yah." ucap Sarah.
__ADS_1
" Baik nyonya." balas Lia.
Hardi memanggang makanannya di bantu oleh pak Herman, sedangkan Sarah dan bu Yesi menyiapkan peralatan untuk makan nanti. Suasana kekeluargaan sangat terasa hangat, suasana yang jarang sekali di rasakan mereka karena kesibukan masing-masing. Terutama Hardi yang super sibuk sampai sulit untuk meluangkan waktu dengan keluarganya.
Tak berapa lama akhirnya makananpun sudah siap, semua tersaji di atas karpet dan terlihat sangat enak apalagi di tata dengan indah oleh Sarah dan ibu mertuanya. Membuat yang melihatnya semakin tergiur dan ingin sekali segera menyantapnya.
" Anak-anak ayo kemari, makanan sudah siap, pasti kalian suka." seru Sarah kepada anak-anaknya.
Cilla dan yang lainnya pun berlari kecil, Cilla menuntun adik-adiknya secara perlahan karena memang Arka dan Arsa tak begitu cepat berlari. Setelah sampai mereka rebutan ingin duduk di sebelah Sarah, namun Hardi mengajak si kembar untuk di dekatnya dengan di iming-iming sesuatu yang membuat si kembar mau di dekatnya sementara Cilla sangat senang bisa bersebelahan dengan bundanya.
Tak terasa waktupun berjalan begitu cepat, matahari sudah mulai turun ke ufuk barat pertanda petang telah menjelang. Semua perlengkapan dan peralatan sudah di rapikan dan semua orangpun segera masuk kedalam villa. Hardi menggendong Cilla yang tertidur begitupun Arka dan Arsa yang terdidur dalam gendongan Sarah dan bu Yesi.
Mereka bertiga tidur sangat lelap walaupun sudah di letakkan di tempat tidur tapi tetap saja tidak terbangun, mungkin karena merass kelelahan setelah seharian bermain dan berlarian.
Orangtua Hardi kembali ke kamar mereka untuk beristirahat, begitupun Sarah duduk di sofa samping tempat tidur sedangkan Hardi beranjak ke kamar mandi karena badannya sudah terasa sangat lengket setelah seharian berada di taman.
" Sayang, aku mandi duluan yah, sudah gerah banget." ujar Hardi.
" Iya mas, mas duluan saja, aku ingin merebahkan tubuhku dulu." balas Sarah.
" Daripada nunggu, kenapa kita tak mandi bersama aja kan lebih irit waktu hehehehe" goda Hardi.
" Halah itu sih maunya mas, aku udah bisa menebak otak mesum mas." keluh Sarah.
" Bercanda sayang, jangan di anggap serius tapi kalau serius juga gak apa-apa sih hehehe." lagi-lagi kata-kata godaan keluar dari mulut Hardi dan Sarah hanya bisa mengkerutkan dahinya dan mengerucutkan bibirnya pada Hardi. Setelah melihat mimik wajah istrinya Hardi segera menutup pintu kamar mandi dengan senyum mengembang menghias bibirnya.
Bersambung......
Selamat membaca 😊
__ADS_1