
Pagi ini, Sarah sudah terlihat rapi dengan pakaiannya yang sederhana namun terlihat cantik.
Sarah berniat mendatangi rumah mertuanya, ia ingin menyampaikan niatan mereka untuk pergi bulan madu. Sarah ke sana untuk meminta mertuanya menjaga Cilla selama dirinya dan suaminya berangkat bulan madu. Sebenarnya ini bukan kemauan Sarah tapi Hardi meminta Sarah untuk berbicara pada kedua orangtuanya. Jika Hardi yang datang kesana, telinganya akan penuh dengan banyaknya kata-kata yang akan di ucapkan oleh orangtuanya.
Sarahpun sampai di rumah mertuanya, memang rumahnya dan rumah mertuanya tak begitu jauh. Sarah menekan bell pintu rumahnya lalu bi Yuyun membukanya.
"Nyonya Sarah!" ucap bi Yuyun.
"Mamah ada bi?" tanya Sarah. Sebelum bi Yuyun sempat menjawar, bu Yesi sudah menghampiri terlebih dahulu.
"Sarah, sudah lama sekali kamu tak kesini! Hardi mana?" bu Yesi menyambut Sarah dengan sangat baik.
"Pak Hardi masih di kantornya, soalnya masih banyak yang harus ia kerjakan. Jadi aku pergi kesini sendiri." balas Sarah dengan tersenyum.
"Yaudah, kita duduk disini. Sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan!" ucap Bu Yesi menarik tangan menantunya dan duduk berdampingan.
"Begini mah, saya dan pak Hardi rencananya akan berangkat bulan madu dan......" belum selesai Sarah berbicara bu Yesi memotongnya.
"Benarkah! wah gak nyangka bocah itu mau di ajak bulan madu. Padahal dulu sama mantan istrinya gak pernah mau. Eh maaf, mamah malah memotong perkataanmu" bu Yesi kaget dan tersenyum senang.
"Iya, bukan saya kok yang mengajak tapi pak Hardinya sendiri yang mengajak saya. Dan kami ingin menitipkan Cilla untuk sementara selama kami bulan madu, bisa kan mah!" ucap Sarah sungkan.
"Pasti, pasti mamah jaga. Kalian bersenang-senang saja berdua disana dan hanya 1 pesanan kami. Pulang bawa cucu baru yah, mamah udah pengen banget gendong bayi lagi." bu Yesi malah yang antusias dengan rencana mereka.
Sarah tersenyum malu mendengar perkataan ibu mertuanya.
"Kalian akan bulan madu kemana? Jepang, korea, eropa atau amerika?" tanya bu Yesi penasaran.
"Tak sejauh itu mah, kami akan pergi ke bali saja" balas Sarah tersenyum.
"Bali! kenapa tak ketempat yang jauh saja sekalian. Biar bulan madunya bisa lama kan. Apalagi tempat yang dingin, pasti gak mau jauh-jauhan." bu Yesi semakin antusias.
"Tidak apa-apa mah, soalnya pak Hardi tak bisa pergi lama-lama karena pekerjaannya" balas Sarah.
"Dasar Hardi, selalu saja kerjaan lebih penting daripada kesenangan dirinya sendiri" bu Yesi menggerutkan wajahnya, Sarah hanya tersenyum.
"Yaudah mah, saya pamit yah. Soalnya belum menjemput Cilla" Sarah bersalaman kepada bu Yesi.
Sarah pun keluar dari rumah mertuanya, dia tersenyum geli melihat ekspresi ibu mertuanya yang malah lebih antusias di banding Sarah dan Hardi. Sarah memikirkan perkataan ibu mertuanya soal memberinya cucu baru. "Apa aku bisa melakukannya yah? Aku harus berusaha menahan atau menghilangkan rasa trauma ini, agar bisa menjalankan kewajibanku" batin Sarah.
_____________
__ADS_1
Triinnggg triinnggg triinnggg
Suara ponsel Sarah berdering.
"Halo! Sarah, apa kau sudah berbicara pada orangtuaku?" Hardi.
"Udah pak Hardi" Sarah.
"Pantas saja mamah tadi meleponku dengan sangat girang dan cerewet juga" Hardi.
"Benarkah! dia bilang pak Hardi selalu menolak jika di suruh bulan madu dulu" Sarah.
"oh itu, karena dulu aku lebih mementingkan pekerjaan dari pada keluarga, tapi sekarang aku ingin berubah, ingin membahagiakan keluarga. Terutama kau yang telah mengisi hatiku" Hardi.
"Wahh... pak Hardi sudah bisa gombal sekarang" Sarah.
"Loh kok gombal sih, gak lah. Tapi saya tulus padamu 100%" Hardi.
"Iya iya, saya percaya. Yaudah pak, saya sudah sampai sekolah Cilla, saya tutup ya" Sarah.
"Ok, aku sayang kamu" Hardi.
________
Dikantor.
Selama menelpon, Hardi tak menyadari jika di depannya telah ada Rio yang dari tadi mendengarkannya berbincang di telpon. Hardi langsung kembali memasang tampang serius setelah daritadi senyum-senyum sendiri.
"Oh iya, mana berkas File yang harus saya tanda tangani" Hardi mengalihkan pembicaraan namun masih menahan malu.
"ini pak, ada beberapa berkas yang perlu bapak tandatangani." Rio memberikan berkasnya sambil mencoba menahan senyumnya.
"Rio, tolong pesankan tiket pulang pergi ke Bali selama 5 hari. Dan reservasi hotelnya yang mewah dengan pemandangan yang indah. Secepatnya..... Tolong selama aku pergi, handle semua pekerjaan saya" pinta Hardi.
"Baik pak" balas Rio dengan tatapan penuh arti.
"Oh iya, buat suasana kamarnya terlihat romantis dan beda. Kau bisa melakukan yang aku perintahkan, kan" ujar Hardi.
"Baik pak, saya akan menyiapkan sesuai dengan apa yang pak Hardi ingingkan. Kalau begitu saya pamit dulu" Rio menjawab sambil menahan senyum setelah keluar dari ruangan Hardi baru ia bisa mengembangkan senyumnya.
Pak Hardi kalau sudah cinta, kelakuannya berbanding terbalik dengan kehidupan pekerjaannya. Pikir Rio.
__ADS_1
Melihat Rio keluar ruangannya, Hardi menghela nafasnya keras, menyenderkan kepalanya di senderan belakang kursinya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Apakah Rio melihat dan mendengar semuanya? Lihat ekspresinya, dia memang melihat dan mendengarnya. Arrrkkkhhh... Mau taruh di mana mukaku" batin Hardi merasa malu.
_________
Malam hari di kediaman Hardi.
Hardi dan Sarah sudah siap untuk tidur, namun mereka duduk bersandar di kepala ranjangnya untuk sekedar berbincang sebentar.
"Sarah, persiapkan semua keperluan untuk lusa. Kita pergi ke Bali untuk bulan madunya. Maaf yah tak bisa ke luar negeri, karena pekerjaan saya tak bisa di tinggal lama-lama" ucap Hardi..
"Iya pak tak apa, saya juga sudah senang pak Hardi sudah bisa meluangkan waktu untuk bulan madu bersama, lagipula pak Hardi pasti susah mengosongkan waktu untuk sekedar bulan madu kan!" balas Sarah.
"Kau kesini!" Hardi menyuruh Sarah mendekat lalu meletakan kepala istrinya untuk bersandar di dada bidangnya. Cup... Hardi mencium pucuk kepala Sarah.
"Sekarang aku harus terbiasa meluangkan waktu buatmu dan buat keluarga kecil kita. Aku tak ingin melakukan kesalahan yang sama" Lanjut Hardi.
"Apakah nanti kau siap?" tanya Hardi.
"Siap untuk apa?" balas Sarah bingung.
"Yah siap untuk 'itu'" Hardi malu-malu.
"Itu apa maksudnya?" balas Sarah pura-pura tak mengerti.
"Yasudah lah, ayo kita tidur" Hardi sedikit ngambek.
"Begitu saja ngambek, jadi gemas" Sarah mencubit pipi suaminya.
"Kau sekarang sudah berani yah pegang-pegang, awas yah nanti kau akan habis" ancam Hardi.
Sarah langsung terdiam tak bereaksi lalu pura-pura tertidur. Hardi yang melihatnya malah terkekeh.
**Bersambung.....
Baca juga karya Author
"Terpikat pesona janda kembang"
terimakasih 😊**
__ADS_1