
Sarah sudah bersiap untuk pulang walau dia masih menggunakan kursi rodanya, bu Rahma ikut membantu packing semua barang-barang yang ada di sana. Senyuman tak lepas dari wajah Sarah yang masih terlihat cantik walau tanpa makeup sedikitpun. Hardi sedang membereskan administrasi, cukup lama menunggu karena mengantri dan akhirnya Hardi kembali ke ruangan Sarah untuk segera membawa istrinya pulang.
Di dalam mobil Sarah sudah sangat tidak sabar ingin segera sampai rumah karena dia sudah amat sangat merindukan anak-anaknya.
" Mas, apa yang di rumah sudah di beritahu jika kita pulang hari ini?" tanya Sarah.
" Sudah sayang, mas sudah memberitahu orang rumah dari semalam." balas Hardi.
" Aku kangen banget sama anak-anak." ucap Sarah.
" Iya sayang, sebentar lagi kita sampai." balas Hardi.
Tak sampai 10 menit mobilpun masuk ke gerbang rumah mereka, di depan rumah sudah ada orangtua Hardi dan ketiga buah hatinya yang sudah menunggu kedatangan Hardi dan Sarah. Belum juga turun dari mobil, Sarah sudah berlinang air mata melihat buah hatinya tengah menantinya.
" Kamu kenapa menangis?" tanya Hardi.
" Tidak apa-apa mas, aku hanya terharu bisa melihat anak-anak kita lagi setelah sekian lama." balas Sarah menyeka airmata di pipinya.
Hardi turun terlebih dahulu lalu menyiapkan kursi roda yang di ambilnya dalam bagasi, pak Maman hendak menolongnya namun Hardi tolak karena ia ingin melakukannya sendiri. Hardi mendorong kursi rodanya sampai depan mobil lalu menggendong Sarah dan mendudukkannya di kursi roda tersebut.
" Pak Maman, tolong bawa kedalam rumah barang-barang yang ada di dalam mobil." pinta bu Rahma dan langsung di iyakan oleh pak Maman.
Sarah di dorong mendekati orang rumah, terpancar senyum cerah di wajahnya, Cilla dan si kembar setengah berlari menghampiri Sarah dan Hardi.
" Bunda... Cilla kangen...." Cilla memeluk Sarah dan di sambut oleh Sarah dengan hati senang.
Lalu Arka dan Arsa pun meleminta ingin di peluk Sarah, lalu Hardi menggendong keduanya dan mendekatkannya pada Sarah lalu mereka pun berpelukan dengan penuh rasa haru.
" Bunda kenapa? kok kakinya di perban?" tanya Cilla yang memang tak di beritahu jika selama ini Sarah di rawat di rumah sakit.
" Oh ini, bunda tidak apa-apa hanya terluka sedikit nanti juga sembuh, Cilla tak usah khawatir." balas Sarah mengecup kening putrinya.
" nda... nda....nda..." ucap Arka dan Arsa yang memanggil Sarah dengan nada bicara yang masih belum pasih.
__ADS_1
" Iya sayang, bunda kangen banget sama kalian, ayo kita masuk saja di luar panas." ujar Sarah.
Cilla mendorong kursi bundanya yang di bantu oleh bu Rahma sedangkan Hardi menggendong kedua putranya yang sudah sangat ia rindukan. Setelah masuk terlihat sambutan yang sangat indah, di ruangan keluarga sudah di hias layaknya sebuah pesta, di sana juga tertera ucapan selamat datang kembali dari balon-balon huruf yang di susun. Banyak balon-balon dan hiasan yang mempercantik ruangan, Sarah sangat terkagum-kagum dan terharu dengan apa yang di lihatnya. Hatinya sangat bahagia tengah lembali ke rumah dan kembali pada keluarga yang hangat yang sangat ia sayangi.
" Siapa yang menyiapkan ini semua?" tanya Sarah dengan tampang sumringah.
" Ini idenya Cilla, dia ingin menyambut bundanya dengan sangat meriah dan akhirnya kami menyiapkan ini semua." balas bu Yesi.
" Wah, terimakasih sayang, bunda sangat senang melihatnya. Sekali lagi terimakasih." lagi-lagi Sarah mencium pipi Cilla.
Arka yang terlihat iri ingin di gendong oleh Sarah namun memang Sarah tidak bisa melakukannya dan akhirnya Hardi mendudukan Arka di pangkuan Sarah.
" Arka tidak rewel kan? di tinggal bunda lama." tanya Sarah dan Arka hanya menggelang dengan senyuman.
" Anak-anak anteng dan pada nurut selama kalian tidak ada, mamah dan papah juga tak merasa kesulitan menjaga mereka." ucap bu Yesi.
" Yang terpenting bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya bu Yesi.
" Alhamdulillah mah, aku sudah baikan hanya perlu kontrol saja untuk memantau keadaan kaki Sarah." balas Sarah.
" Semoga kamu cepat sembuh yah Sarah, yang terpenting kalian sudah pulang lagi ke rumah." ucap pak Herman.
" Oh iya, ayo kita sekarang makan makanan pesta penyambutan ini, sudah waktunya makan siang juga dan biar makanannya belum dingin." ujar bu Yesi dan mereka pun akhirnya menuju meja makan yang telah tersedia berbagai macam makanan.
Tak lama terdengar bell pintu pertanda adanya tamu yang datang, bi entin segera membuka pintunya yang ternyata itu adalah Rio dan Sita yang datang karena memang mereka di undang oleh keluarga Hardi.
" Akhirnya kalian datang, ayo duduk kita makan bersama." ucap bu Yesi.
" Iya terimakasih." balas Rio.
Sita yang melihat keadaan Sarah langsung menghampiri sahabatnya tersebut.
" Sarah, kamu tak apa-apa? aku sangat khawatir ketika mendengar kamu kecelakaan, aku bahkan memaksa untuk segera menjengukmu pada mas Rio tapi mas Rio tak mengijinkannya." ujar Sita seraya memeluk Sarah.
__ADS_1
" Tidak apa-apa Sita, aku juga sudah baikan, buktinya sekarang aku kan sudah pulang." ujar Sarah membalas pelukan Sita.
Pandangan Sarah terarah kepada perut Sita yang terlihat sedikit membuncit setelah mereka melepaskan pelukan mereka.
" Ini! kamu!" ujar Sarah membelalak.
" Iya... aku sedang hamil, makanya mas Rio melarang aku menjenguk kamu karena di luar kota." jawab Sita tersenyum.
" Wah... aku turut bahagia, sudah berapa bulan?" tanya Sarah.
" Udah udah, duduk dulu baru lanjut mengobrolnya." Sahut pak Herman.
Sita pun duduk berhadapan dengan Sarah lalu ia menjawab pertanyaan Sarah.
" Sudah 3 bulan jalan." jawab Sita.
" Akhirnya aku bakalan punya keponakan." ujar Sarah senang.
" Yasudah kita makan dulu, nanti saja ngobrolnya setelah makan." ucap Hardi.
Mereka menikmati makanannya yang memang sangat lezat, memang ini makanan restoran mewah langganan keluarga Hardi karena memang hari ini adalah hari spesial sehingga makanan yang di hidangkan pun harus yang spesial.
Setelah makan, mereka duduk di ruang keluarga, mereka bercanda gurau penuh kehangatan. Hardi mendudukan Sarah di sofa agar terasa nyaman, Sarah bermain-main dengan buah hatinya sambil mengobrol dengan Sita. Berbagi cerita terutama tentang kehamilan, Sita banyak bertanya pada Sarah yang tengah terlebih dahulu berpengalaman dalam mengandung. Kelompok terbagi dua antara para ibu dan para bapak sebab apa yang di bahas berbeda satu sama lain.
Terkadang Sarah merasakan nyeri di tengah obrolannya namun ia mencoba menahannya dan tersenyum untuk menutupi apa yang ia rasakan. Yang lainnya jelas tidak menyadari mimik Sarah yang terkadang berubah karena terlalu asiknya mengobrol pembahasan yang sangat seru.
Tak terasa hari sudah menjelang malam, Sita dan Rio berpamitan kepada Sarah dan keluarga, mereka berjanji lain kali akan mampir kembali. Sita memeluk Sarah dan mendoakan agar Sarah segera pulih agar mereka bisa shopping bersama seperti dulu. Sarahpun meng iyakan, ia akan berusaha menjalankan pengobatan dan terapi secara rutin agar bisa berjalan seperti semula.
___________
Berminggu-minggu pun berlalu namun kaki kanan Sarah belum ada perkembangan, memang luka kakinya sudah sembuh total bahkan bekas lukanya sudah mulai samar karena memang di obati agar tak membekas. Terapi selalu dia jalankan dengan rutin, saat ini Sarah mulai putus asa, memang ia sudah bisa menggunakan tongkat untuk berjalan namun hanya mengandalkan tongkat dan kaki kirinya sementara kaki kanan Sarah masih tak bisa di gerakkan dengan sempurna. Terkadang Sarah merasa tersiksa dengan rasa sakit yang selalu ia rasakan ketika ia memaksakan menggerakkan kakinya. Sarah sering menangis dalam pelukkan Hardi, memang Hardi tidak bisa berbuat apa-apa. Hardi hanya bisa memberi dukungan dan semangat agar Sarah tidak menyerah, Hardi selalu mengingatkan bahwa anak-anak akan selalu menyayangi bundanya dengan tulus sehingga Sarah tidak perlu memikirkan hal lain hanya perlu fokus pada pengobatannya saja.
Dokter hanya bisa menyarankan untuk mengikuti segala prosedur seperti biasa, dokter memang tak bisa menjamin kapan Sarah akan normal kembali namun tak menutup kemungkinan kaki Sarah akan normal kembali dilihat dari hasil scan X-ray nya. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya, yang terpenting keluarga harus selalu mendukung Sarah agar Sarah tak menyerah dengan keadaan.
__ADS_1
Bersambung.......