
Lima hari telah berlalu, terasa singkat bagi Hardi dan Sarah menghabiskan waktu berduanya. Sebenarnya mereka ingin lebih lama di sana, untuk sekedar menghabiskan waktu hanya untuk mereka berdua tanpa ada gangguan dari siapapun termasuk putrinya ataupun pekerjaannya.
Namun itu semua hanya angan semata, mereka harus segera pulang dan kembali pada kehidupannya. Mereka juga sangat merindukan Cilla, putri mereka yang menggemaskan. Terutama celotehan cerewetnya yang masih terus terngiang di ingatan mereka.
Setelah 1 jam perjalanan akhirnya Hardi dan Sarah sampai di bandara xxxx, mereka menuju mobil dimana pak Tono telah menunggu mereka karena pak Tono disuruh menjemput mereka di bandara. Pak Tono memasukan koper mereka ke bagasi mobil. Sarah dan Hardi pun langsung masuk kedalam mobil tersebut.
Mobil pun melaju menuju ke rumah mereka.
Selama perjalanan, Hardi terus menggenggam tangan Sarah seakan tak mau melepaskan. Sesekali ia tersenyum genit ke arah istrinya membuat Sarah salah tingkah dibuatnya. Pak Tono yang berada di balik kemudi sekilas melihat tingkah mereka di kaca dan ikut tersenyum.
Setelah kurang dari 1 jam perjalanan mereka akhirnya sampai di rumah. Hardi dan Sarah masuk ke dalam rumah sedangkan koper mereka di bawa oleh pak Tono. Bi Sumi membuka pintu rumah dan terlihat senang karena majikannya telah kembali.
Sarah dan Hardi melihat Cilla yang berlarian di kejar oleh Lia untuk makan, kelihatan Lia sangat kesusahan menyuruh Cilla makan. Karena Cilla tak mau berhenti, masih saja berlarian dengan tawa riangnya.
"Cilla, kok makannya lari-lari begitu?" ucapan Sarah membuat Cilla berhenti lalu menatap Sarah kemudian berlari ke arah orangtuanya.
"Bunda.... Ayah...." Cilla langsung memeluk mereka bersamaan karena Sarah dan Hardi berjongkok berdekatan untuk menyambut putrinya.
"Cilla kangen" Cilla mengecup pipi Sarah dan Hardi bergantian.
"Bunda dan ayah juga kangen banget sama Cilla" ujar Hardi mencubit gemas pipi anaknya.
"Kalian sudah pulang, cepat banget sih" ucap Pak Herman ketika melihat Hardi dan Sarah telah berada di rumah lalu berjalan menghampirinya.
"5 hari sudah cukup kok pah" ucap Hardi padahal ia ingin waktu lebih lama bersama Sarah.
"Oh iya pesanan mamah udah dapat belum yah!" bu Yesi tersenyum penuh arti, ia baru saja ikut bergabung.
"Maksud mamah apa yah?" pura-pura gak ngerti.
__ADS_1
"Halah jangan sok ngeles kayak gitu, cucu baru bagaimana nih?" ucap Bu Yesi.
"Tenang saja mah, proses sudah di mulai." Hardi tersenyum manis.
"Dari roman-romannya sih kayaknya kita bakalan cepet dapat cucu nih, mah." ucap pak Herman cengengesan.
"Tenang pah, mau berapa? satu, lima bahkan sebelas pun Hardi bakalan kasih. Iya gak sayang!" ujar Hardi tanpa rasa malu, Sarah hanya tersenyum malu mendengar perkataan suaminya.
"Pantesan dari tadi wajah kamu sumringah gitu, kesenengan pastinya selama bulan madu yah" ujar pak Herman menggoda putranya.
"Iya donk pah, kan baru dapat jatah pas bulan madu ini. Jadi aku bahagia banget." Hardi keceplosan ngomong.
"Apa? yang bener? kalian menikah sudah 7 bulan baru ngelakuin. Selama ini kalian ngapain aja! pantas saja belum dapat-dapat cucu di kira mamah kalian menunda." bu Yesi sangat kaget mendengar pernyataan Hardi.
Hardi merasa malu karena keceplosan begitupun Sarah yang tersenyum-senyum merasa tambah malu.
"Udah gak usah gitu mah, lihat tuh Sarah jadi malu. Hardi cuma terlalu sibuk kerja jadi gak ada waktu untuk bermesraan" Hardi mencoba menutupi hal sebenarnya tentang trauma Sarah selama ini.
"Yaudah kalian istirahat gih, biarkan Cilla bersama kami" ujar bu Yesi.
Sementara Lia yang mendengar pembicaraan majikannya itu tersenyum tipis, karena selama ini ia tahu di awal pernikahan Hardi dan Sarah tak begitu akur, namun Lia bersyukur sekarang kedua majikannya itu sudah terlihat seperti pasangan suami istri yang sesungguhnya.
Sarah dan Hardi pun naik ke kamarnya lalu mereka langsung berbaring di atas tempat tidur karena merasa sangat lelah. Hardi memiringkan tubuhnya menatap lekat istrinya, Sarah yang merasa risih di tatap seperti itu lalu menyembunyikan dirinya di dalam selimut.
"Kenapa di tutup sayang, mas kan sedang menikmati keindahan wajahmu! emangnya gak kepanasan!" ucap Hardi.
"Mas ini, kenapa menatapku terus sih? kan saya jadi malu." ucap Sarah masih menutupi dirinya.
"Sini sayang, dekat mas jangan jauh-jauh gitu dong" Hardi menarik turun selimutnya sehingga wajah Sarah terlihat.
__ADS_1
"Sepertinya mas mau lagi!" bisik Hardi pada Sarah, lagi-lagi membuat Sarah merona. Namun Sarah mencoba menolaknya dengan halus.
"Nanti aja mas, saya capek. Kita tidur aja dulu yah" pinta Sarah.
"Yasudah kalau begitu"
Hardi pun memeluk erat istrinya, ia tidak ingin melepaskan tubuh istrinya di dekatnya. Ia mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Tiba-tiba Cilla menerobos masuk kedalam kamar membuat Hardi dan Sarah terkejut, secara refleks mereka melepaskan dirinya lalu menjauh membuat mereka salah tingkah.
Dengan wajah yang masih terkejut, "Cilla ngapain sayang! ingat yah kata bunda jika masuk kamar orangtua, Cilla harus ketuk pintu dulu" ucap Sarah dengan senyum canggung.
"Cilla udah ketuk pintu tapi tak ada yang nyaut, jadi Cilla masuk deh" balas Cilla polos.
"Kamu tuh yah, bikin orangtua jantungan. Sini biar ayah cubit pipi chubby nya." Hardi gemas kepada putrinya.
Cilla berusaha menghindar dari ayahnya dengan memeluk tubuh Sarah dan menyusupkan kepalanya ke tubuh Sarah agar ayahnya tak bisa mencubit pipinya.
"Udah lah mas, namanya juga anak kecil" ucap Sarah menghentikan suaminya.
"Awas kamu yah, ngapain meluk-meluk bunda. Itu bundanya ayah, Cilla minggir" Hardi senang sekali mengerjai putrinya, menarik tangan Cilla pelan seolah ingin menjauhkannya dari bundanya.
"Gak mau, ini bundanya Cilla, ayah pergi aja sana" Cilla menolak dan malah mempererat pelukannya pada Sarah.
"Yeh... enak aja, ini kan kamar ayah, Cilla aja yang pergi" gerutu Hardi masih tetap menarik pelan tangan putrinya.
"Cilla mau disini, ini kan kamar bunda juga jadi Cilla mau sama bunda" tolak Cilla meninggikan suaranya yang cempreng.
Hardi dan Cilla terus saja memperebutkan Sarah, saling adu argumen antara ayah dan anak itu tak ingin mengalah satu sama lain. Tak hentinya Sarah pun mencoba melerai mereka agar salah satunya bisa mengalah, namun semua usahanya itu sia-sia. Tawa mereka pun pecah memenuhi seluruh ruangan kamar tersebut. Mereka begitu senang satu sama lain maka dari itu sekarang mereka benar-benar menjadi keluarga yang sebenarnya.
Bersambung...... 😁
__ADS_1
Jangan lupa selalu dukung Author dengan Like, vote dan juga tulis komentar baik itu kritik ataupun Saran...
Terimakasih 😊