
Hari ini adalah hari dimana Adrian akan bertemu dengan keluarga Cilla, ia tak menyangka akan secepat ini padahal hubungannya dengan Cilla baru saja di mulai. Ia telah mengenakan pakaian yang telah ia pilih beberapa hari sebelumnya, berulang kali Adrian bercermin untuk memastikan jika dia benar-benar berpenampilan rapi.
" Sudahlah bang, udah keren kok." Reza risih karena tingkah laku Adrian.
" Gue udah keren kan?" sambil terus merapikan pakaiannya yang kenyataannya sudah sangat rapi.
" Good looking, abang gue. Yang penting percaya diri aja bang dan tunjukkan ketulusanmu." Reza memberi semangat kakaknya.
" Ok, thanks bro, Yasudah gue berangkat yah."
" Good luck."
Reza merapikan pakaiannya yang sebelumnya belum sempat ia rapikan karena kecapekan, semua ia tata dengan sempurna, begitupun dengan barang-barang lain. Lalu ia terhenti ketika tangannya memegang sebingkai kecil foto dirinya yang tersenyum ke arah kamera, Reza bukan melihat potret dirinya sendiri namun dia melihat orang yang berada tepat di belakangnya dalam foto tersebut. Yang tak lain adalah Cilla, Reza memang selalu menjahili atau usil kepada Cilla namun dengan begitu ia bisa berada dekat dengan Cilla, bukan karena benci atau tak suka dia selalu mempermainkan Cilla namun karena rasa sukanya yang sulit ia ungkapkan hingga dia rela di anggap orang jahil asalkan bisa sekedar mengobrol dengan Cilla. Reza membayangkan masa lalu ketika dia selalu menjahili Cilla, sampai tak sadar dia tersenyum sendiri.
' Cuma foto ini yang aku punya, bagaimana kabarmu sekarang Cilla! Aku sangat ingin bertemu denganmu lagi.' gumam Reza.
__________
Cilla sedang menatap ke arah cermin, perasaannya tak karuan, cemas dan gelisah. Ini pertama kalinya ia akan memperkenalkan pacarnya, iya pacar! padahal Hardi hanya tahu jika Adrian tengah dekat dengannya namun reaksinya sungguh berlebihan, padahal ini kali pertama ia memiliki pacar dan ayahnya langsung ingin bertemu dengan pacarnya. Cilla takut Adrian akan merasa tak enak hati dan nanti malah meninggalnya, Cilla berharap semoga ayahnya tak berbuat hal yang aneh-aneh.
Cilla terlihat cantik dengan gaun yang ia kenakan, sederhana namun terkesan menawan. Terdengar suara bell berbunyi pertanda Adrian pasti telah tiba, dengan sedikit merapikan pakaiannya ia segera turun menuju ruang tamu. Terlihat Adrian sudah berdiri di sana lalu Hardi dan Sarah pun datang, mereka berempat pun duduk. Adrian terlihat sangat sungkan dan gugup, ia sungguh tak bisa berkata apa-apa, hanya diam dengan pandangan yang menunduk tak berani menatap ke arah Hardi.
" Namamu benar Adrian, kan? Kamu salah satu orang yang masuk di jajaran manajemen di perusahaan saya!" tegas Hardi
" Betul pak!" Adrian masih menunduk.
" Tatap orangnya kalau di ajak bicara." pinta Hardi membuat Adrian langsung memandangnya walau dengan rasa canggung.
" Sejak kapan kamu kenal putri saya?"
" Sejak 2 bulan yang lalu, di sebuah Cafe."
" Apa sebelumnya kamu tahu jika Cilla adalah putriku hingga kamu mendekatinya?" lagi-lagi Hardi meninggikan nada suaranya.
" Tidak pak, saya ..... Saya.... be...benar-benar tidak tahu jika Cilla adalah putri bapak .... sampai Cilla be.. beberapa hari yang lalu memberitahu saya. Sa...saya bicara sungguh-sungguh." Jelas Adrian yang terbata-bata.
" Benarkah? Sebenarnya aku mengapresiasi kinarjamu yang lumayan bagus namun ini masalah putri saya satu-satunya, aku hanya ingin mengenal orang yang sedang dekat dengan putriku, aku tak ingin terjadi hal-hal buruk padanya. Aku hanya ingin melindunginya, kamu paham." tegas Hardi membuat Adrian semakin gugup.
" Sudah lah mas, jangan terlalu seperti itu." Sarah menenangkan Hardi.
" Tak bisa begitu, ini menyangkut putri kita jafi mas harus tegas." ujar Hardi tak bergeming.
" Jadi apa hubungan kalian sekarang?"
Sebelum sempat Adrian menjawab, Cilla segera menjawab pertanyaan dari Ayahnya. " Kami pacaran, ayah."
" Apa? Kalian sudah sampai ke tahap itu!" geram Hardi.
" Sayang, tak masalah kan jika Cilla punya pacar lagi pula dia kan sudah 18 tahun jadi wajar kan bagi gadis seusianya memiliki kekasih." Ujar Sarah.
" Tapi dia baru saja akan kuliah, aku tak mau pendidikannya terganggu dengan urusan asmara, apalagi pergaulan jaman sekarang itu mengkhawatirkan." tekan Hardi.
" Tapi mas, aku lihat Adrian itu orangnya baik dan bisa di percaya." tambah Sarah.
" Ayah, aku mohon ayah jangan terlalu mengekang Cilla, aku berjanji akan berpacaran dengan sehat, tidak akan merusak nama baik keluarga, aku janji ayah." Ujar Cilla sedikit memelas.
" Iya pak, saya tak akan berbuat macam-macam pada Cilla, saya akan melindunginya karena saya sangat mencintainya." tegas Adrian.
" Ok... ok... baik, untuk saat ini aku akan mengijinkan kalian berpacaran tapi jika kamu melukai Cilla baik itu hatinya apalagi fisiknya, jangan harap kamu akan hidup tenang. Jaga Cilla seperti kamu menjaga nyawamu sendiri." ujar Hardi merendahkan nada suaranya.
" Baik pak, saya berjanji. Saya sungguh berterimakasih, sekali lagi terimakasih banyak." Adrian tersenyum ke Arah Cilla, ia senang karena telah mendapatkan ijin dari ayahnya Cilla.
" Yasudah, pembicaraannya sampai disini saja, makan siang sudah siap, kita makan dulu yah." Ujar Sarah mengajak semuanya kemeja makan.
Adrian dan Cilla duduk berhadapan, sesekali Adrian menatap ke arah Cilla dan begitupun Cilla yang membalasnya dengan senyuman, Hardi yang melihatnya sedikit tak suka.
" eemmmhhh.... Ini waktunya makan bukan waktunya senyum." ujar Hardi hingga Cilla dan Adrian kembali menyantap makanannya.
Setelah beberapa lama Adrian pun pamit pulang, ia mencium tangan Hardi dan Sarah. Cilla mengantar Adrian ke depan rumahnya, hingga ke depan mobil Adrian.
__ADS_1
" Maaf yah Adrian dengan sikap ayah."
" Tak apa-apa sayang, yang penting kita sudah mendapatkan ijin darinya, aku juga jadi tenang."
" Sejak kapan kamu bilang aku sayang?"
" Sejak saat ini." ujar Adrian yang membuat Cilla merona.
" Yasudah pulangnya hati-hati yah." ujar Cilla lalu Adrian masuk kedalam mobil dan mulai melajukan mobilnya keluar gerbang rumah Cilla dan Cilla melambaikan tangan ke arah kekasihnya tersebut.
Ketika Cilla masuk kedalam rumah, Cilla berpapasan dengan ayahnya namun Hardi tak berkata apa-apa malah melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.
" Udah jangan hiraukan ayahmu, mungkin dia terlalu sayang pada Cilla hingga bersikap seperti itu." Sarah menjadi penengah antara Cilla dan Ayahnya.
" Ita bunda, tapi Cilla bersyukur ayah tak menyuruh kami berpisah. Semoga kedepannya ayah akan menerima jika putrinya sekarang sudah beranjak dewasa dan tak menganggapku anak kecil terus."
_________
Sesampainya di apartemen, Adrian langsung menjatuhkan dirinya di sofa di samping Reza yang sedang bermain games di ponselnya.
" Kenapa loe, bang! lemes gitu? di tolak camer yah hehe." ejek Reza.
" Yah gak lah, gue udah dapat ijin untuk pacaran dengan anaknya."
" Tapi kenapa loe gak bersemangat kayak gini?"
" Gak, gue cuma capek, sampai perang batin, bokapnya killer banget." Adrian menghela nafasnya.
" Lah, emangnya umur pacar loe berapa? Sampai bokapnya over protective kayak gitu."
" Dia seumuran sama loe." jawab Adrian lalu membaringkan tubuhnya di sofa.
" Eh buset, berarti dia baru 18 tahun. Apa gak kejauhan sama umur loe?" ujar Reza yang sedikit terkejut.
" Nama cinta, tak memandang usia. Dia cantik, pintar dan bodynya idaman gue banget. Gue gak bakalan lepasin dia, gue akan jadiin dia istri gue." Adrian sangat serius dengan perkataannya.
" Emangnya dia mau nikah sama loe gitu!" lagi-lagi Reza mengejek kakaknya.
" Iya... iya.... gue doakan semoga dia mau nikah sama loe hehehe."
" Halah dasar jones, cari pacar sana biar gak seneng mengejek orang yang lagi kasmaran." Adrian bangun lalu melempar bantal ke arah Reza.
" Sialan loe." Reza melempar kembali bantal ke arah Adrian namun Adrian berhasil menghindar.
Adrian merebahkan tubuhnya di tempat tidur lagi-lagi dia menghela nafas panjang, terdengar ponselnya berbunyi ada panggilan masuk.
Adrian : ' Halo!'
Cilla : ' Halo Adrian! Kamu kok jawabnya lemas banget, kamu gak suka yah aku telpon.'
Adrian langsung bangkit dan duduk di tepi ranjang. ' Eh gak, aku cuma sedikit lelah, aku malah senang kamu nelpon.'
Cilla : ' Beneran? Kamu gak kecewa kan dengan apa yang di lakukan ayah? Aku minta maaf karena ayah bersikap seperti itu padamu.'
Adrian : ' Tidak apa-apa, aku tak masalah kok, lagipula kita kan sekarang sudah di ijinkan pacaran, bagus juga kan! Daripada backstreet.'
Cilla : ' Iya, aku takut saja kamu jadi mundur karena ayah kurang menyukaimu.'
Adrian : ' Jangan berkata seperti itu, aku tak akan meninggalkanmu sampai kapanpun. Masa susah-susah untuk mendapatkanmu ketika sudah di tangan malah di lepas, mungkin aku adalah lelaki bodoh jika aku melakukan itu.
Cilla : ' Terimakasih Sayang!'
Adrian : ' Wah.... udah berani bilang sayang nih, kan aku jadi senang hehehe'
Cilla : ' Iya... aku akan pastikan kamu mendengar kata sayang setiap hari.'
Adrian : ' Aku terima dengan senang hati hehehehe, yasudah sayang, aku mau mandi dulu. I love you.'
Cilla : ' I love you too.'
__ADS_1
Cilla merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memeluk ponselnya di atas dadanya. ' Untung saja Adrian tak merasa tersinggung dengan perlakuan ayah tadi, masa baru saja menjalin hubungan sudah kandas! Aku tak mau kehilangannya, yah... walau saat pertama kali aku menerimanya hanya untuk mengisi kekosongan dalam hatiku namun lama-kelamaan aku malah menjadi menyukainya. Terimakasih Adrian, kamu telah menjadi kekasih pertamaku.' pikir Cilla sambil senyum-senyum sendiri.
____________
Hardi sedang duduk membaca buku di atas tempat tidur sampai Sarah datang naik ke atas tempat tidur dan duduk di sampingnya.
" Apa mas tak terlalu keterlaluan dengan sikap mas tadi siang?"
" Memangnya mas salah apa? Mas hanya bersikap selayaknya seorang ayah yang ingin melindungi istrinya."
" Tapi sikap mas itu bisa membuat setiap pria yang dekat dengan Cilla, mundur."
" Bagus dong, biar Cilla bisa mencari pria yang lebih baik."
" Seharusnya mas juga memikirkan perasaan Cilla, ini kan pacar pertama Cilla masa baru saja berhubungan sudah di ajak bertemu keluarga seperti sudah ingin menikah saja."
Hardi meletakkan buku yang di pegangnya, " Kamu tuh yah, orang berpacaran pasti punya tujuan, kalau hanya untuk main-main itu namanya orang br*ngs*k. Aku tak ingin Cilla di permainan oleh pria dan tak ingin Cilla terjerumus ke hal yang dapat merugikan dirinya, maka mas akan terus menggali informasi dan mengawasi siapapun yang mendekatinya."
" Iya aku setuju dengan hal itu, tapi tak harus menempatkan 2 bodyguard juga kan."
" Itu harus, sebagai antisipasi jika terjadi kejadian yang tak di inginkan. Yasudah tak usah di bahas lagi, aku ngantuk mau tidur. Sini mendekat padaku, malam ini aku ingin tidur sambil memelukmu." Sarah pun masuk kedalam pelukkan suaminya dan ikut terlelap.
__________
Hari pertama masuk kuliah Cilla pun tiba, Cilla udah berdandan rapi dan merias diri dengan cantik namun wajahnya murung karena ada hal yang tak ia inginkan. Terdengar pesan masuk di ponselnya, Cilla mengambil ponsel di tasnya lalu membaca isi pesannya.
' Hari ini kuliah hari pertama, kan! Biar aku antar, boleh kan?' dari Adrian.
' Sepertinya sulit, ayah menyediakan supir dan 2 orang bodyguard untuk menjagaku, aku tak bisa membantah jika ayah sudah memutuskan.' balas Cilla.
' Yasudah, tak apa-apa. Terus nanti jika kita ingin berkencan bagaimana?'
' Nanti akan aku cari cara untuk bisa kabur dari pengawasan, namun untuk sementara paling kita bisa bertemu tapi tetap di dampingi bodyguard.'
' Ok deh, yang penting kita bisa bertemu kamu dulu saja sudah senang. Yasudah, hati-hati berangkatnya, Miss U.'
' Miss U too.'
Cilla menghela nafasnya, ia sangat tidak suka dengan apa yang ayahnya lakukan. Percuma ayahnya memberikan ijin pacaran namun seperti di kekang dengan adanya orang suruhan ayahnya. ' Aku harus mencari cara untuk bertemu Adrian tanpa di lihat oleh kedua bodyguard suruhan ayah, Adrian juga pasti tak akan leluasa jika terus di awasi.' gumam Cilla.
Supir telah membuka pintu mobilnya lalu Cilla pun masuk, di hari pertama yang harusnya antusias namun Cilla merasa tak bersemangat. Cilla menoleh ke belakang, dilihatnya sebuah mobil hitam mengikutinya yang ia tahu jika mobil itu adalah mobil kedua orang suruhan ayah. ' Sudah 2 minggu ini aku tak bertemu Adrian, aku sangat rindu dia dan ingin melepas rasa rindu dengan jalan berdua tapi semua itu kandas begitu saja, hah.' keluh Cilla dalam hatinya.
Tak berapa lama sampailah Cilla di kampusnya lalu ia turun dari mobil setelah sopirnya membukakan pintu, Cilla berjalan menuju kelasnya. Semua mata tertuju padanya, bukan tanpa alasan, semua melihat Cilla karena di belakangnya dimana kedua bodyguard bertumbuh tinggi besar dengan setelan serba hitam mengikuti Cilla dari belakang membuat Cilla merasa risih dan tidak bebas.
" Hai Cilla!" sapa Dona dan Citra.
" Hai! Kalian juga kuliah disini? Wah senangnya." Cilla memeluk kedua sahabatnya.
" Tapi, Amel mana? Apa dia tak kuliah di sini?" tanya Cilla tak melihat Amel.
" Amel tak lanjut kuliah, dia mau cari kerja katanya dan loe tahu gak, kalau Amel sekarang berpacaran dengan guru olahraga kita dulu." balas Citra.
" Benarkah?" Cilla sangat terkejut tak percaya.
" Loe tahu sendiri kan bagaimana gencarnya Amel deketin pak guru, yah pak guru juga lama kelamaan pasti luluh atau malah menyerah hehehehee" ujar Dona.
" Semoga saja mereka berjodoh yah."
" BTW kedua orang yang ada di belakang loe itu siapa?" tanya Citra sambil berbisik di telinga Cilla.
" Itu bodyguard suruhan ayah gue, buat lindungi gue katanya tapi itu malah bikin gue risih tahu." balas Cilla berbisik juga.
" Ayo kita ke kantin sebelum ada kelas." ajak Cilla.
" Ayo!" ucap Dona dan Citra serentak.
Mereka pun menuju ke kantin, kedua bodyguard pun selalu mengikuti kemana Cilla pergi.
Bersambung.....
__ADS_1
Selalu dukung Author dengan cara memberi Hadiah, Vote, Like dan komen.... Terimakasih ☺️