
Bella dan Dita berjalan keluar dari ruangan akademik setelah bertemu dengan dosen wali. Mereka berkonsultasi mengenai mata kuliah yang bisa mereka ambil di semester 6 ini.
"Ale sama siapa sekarang, Ta?" tanya Bella.
"Sama Mas Rendra. Enggak tahu di rumah apa di butik sekarang. Tadi Mas Rendra sekalian antar mama soalnya," terang Dita.
"Aku mau ketemu sama Ale. Boleh kan, Ta?" pinta Bella.
"Aku telepon Mas Rendra dulu, lagi di mana posisinya." Dita mengambil gawai dari dalam tas. Dia segera melakukan panggilan video dengan sang suami.
"Assalamu'alaikum, Bubu," salam Rendra begitu dia menerima panggilan video dari Dita. Dia tampak berbaring dengan Ale di atas kasur, tempat istirahat Ibu Dewi di butik.
"Wa'alaikumussalam, Baba, Ale. Kangen sama bubu enggak, Nak?" Dita tersenyum seraya melambaikan tangan ke arah kamera.
"Kangen, Bubu. Tadi Ale nangis, ngambek enggak mau minum susu pakai botol."
"Terus mau minum susu enggak, Mas?" Dita terlihat khawatir dan merasa bersalah pada Ale.
"Mau kok setelah capai nangis. Mungkin karena lapar, jadi mau."
"Syukurlah. Mas, lagi di mana sekarang?"
"Aku sama Ale lagi di butik. Sayang, udah selesai?"
"Sudah, Mas."
"Aku beresin perlengkapan Ale dulu, baru jemput ya."
"Aku sama Bella saja ke sana, Mas. Bella mau ketemu sama Ale. Boleh kan, Mas?"
"Iya, boleh. Bilang hati-hati sama Bella. Jangan mengebut apalagi kalau ada polisi tidur."
"Siap, Kak Rendra," sahut Bella yang ada di samping Dita.
"Aku tutup dulu ya, Mas. Ale tunggu bubu ya, Nak. Assalamu'alaikum." Dita mengakhiri panggilan videonya.
"Ya Allah, makin ganteng saja calon menantuku. Sudah gede ya Ale sekarang, Ta."
"Ya iyalah, makin gede, Bel. Dia sekali minum susu banyak. Lagian kamu terakhir lihat Ale saat akikahnya kan."
Bella menyengguk. "Iya, Ta. Jadi kita ke butik mertuamu berboncengan kan?"
"Ya, iyalah. Apa aku harus naik ojol?"
"Eh, jangan. Bisa dimarahin aku sama Kak Rendra nanti. Enggak mau lagi deh dijudesin sama Kak Rendra. Seram." Bella bergidik.
Dita tertawa kecil. "Masih ingat kamu dijudesin sama Mas Rendra?"
"Enggak bakal aku lupa seumur hidup, Ta. Karena itu pengalaman pertama aku dijudesin cowok, terus juga pertama kalinya kamu ketemu Kak Rendra."
"Iya--iya. Kamu mau bilang kalau kamu berjasa kan," sindir Dita.
Bella tergelak. "Nah itu kamu tahu. Makanya Ale jangan boleh nikah sama orang lain, harus sama anakku. Anggap sebagai balas budi kalian sama aku."
Dita mencibir. "Ale juga masih bayi, kejauhan halumu, Bel."
"Ck, enggak asyik kamu, Ta. Selalu mematahkan angan-anganku."
"Lagian hidup harus realistis, Bel. Bermimpi boleh, tapi harus sewajarnya dan dibarengi usaha juga doa. Biar kalau tidak tercapai tidak terlalu sakit dan kecewa."
"Iya, Bu Rendra. Yuk naik." Bella sudah siap di atas motor matic-nya. Mereka kemudian berboncengan menuju ke butik Ibu Dewi yang berada di samping kafenya Rendra.
Sesampai di butik Ibu Dewi, Dita dan Bella menyapa karyawan yang ada di sana. Mereka lalu naik ke lantai atas di mana Rendra dan Ale berada.
"Assalamu'alaikum," salam Dita pada ibu mertuanya yang sedang tampak serius di meja kerjanya.
"Wa'alaikumussalam. Eh, Dita, sama siapa ke sini?" Ibu Dewi mendongak, menoleh pada menantunya.
"Sama Bella, Ma." Dita menghampiri Ibu Dewi. Dia mencium punggung tangan sang mertua sebelum mencium kedua pipinya.
"Siang, Tante." Bella ikut menyalami Ibu Dewi dengan takzim.
"Siang juga, Bella," balas Ibu Dewi dengan senyum ramahnya.
"Ale sama Mas Rendra di mana, Ma?" tanya Dita.
"Ada di ruang istirahat," jawab Ibu Dewi sambil menunjuk ruangan untuk beristirahat.
"Yeah, Bubu sudah pulang." Setelah mendengar suara Dita, Rendra segera keluar dengan menggendong Ale.
Dita tersenyum melihat kedua orang yang dicintainya keluar. Dia segera mencuci tangan sebelum menghampiri suami dan anaknya.
"Oeekk, oeekk." Ale menangis begitu mendengar suara Dita.
"Ale kangen sama bubu ya. Tunggu sebentar, bubu baru cuci tangan." Rendra berusaha menenangkan Ale.
"Apa kabar, Kak Rendra?" sapa Bella.
"Alhamdulillah, baik. Kapan balik ke sini?"
"Minggu kemarin, Kak."
Rendra mengangguk mendengar jawaban Bella.
Selesai membersihkan diri, Dita menyalami Rendra lalu mengambil alih Ale.
__ADS_1
"Ale kangen sama bubu ya. Bubu juga kangen sama Ale. Maaf ya bubu ninggalin Ale." Dita mengajak Ale bicara setelah berada dalam gendongannya. Perlahan Ale mulai reda tangisnya. Dia lalu mengajak Ale bercanda.
"Ta, aku boleh gendong Ale?" tanya Bella pada sang sahabat.
"Boleh, tapi cuci tangan dulu." Rendra yang menjawab.
"Siap, Kak." Bella lalu mencuci kedua tangannya. Sesudah itu, dia menghampiri Dita yang duduk di sofa dengan Rendra dan Ale.
"Aku sudah cuci tangan, Kak." Bella menunjukkan kedua tangannya yang sudah bersih.
"Ale, digendong sama Tante Bella dulu ya." Dita menyerahkan Ale pada Bella.
Dengan sedikit gugup, Bella menggendong Ale. Dita membenarkan posisi Ale dalam gendongan sahabatnya itu.
"Hai, Ale. Ini Tante Bella."
Ale sepintas melihat Bella yang menggendongnya, tak berapa lama dia menangis.
"Kok Ale malah nangis sih." Bella terlihat kecewa.
"Mungkin karena belum kenal kamu, Bel," sahut Dita. "Tapi Ale kalau sama cewek emang agak susah Bel. Kalau digendong cowok, anteng dia."
"Mmmhhh, like father like son (anak yang sangat mirip dengan ayahnya)," gumam Bella.
"Ya jelas. Ale kan anakku," tukas Rendra penuh percaya diri.
"Iya--iya. Aku percaya, Kak," ucap Bella.
"Coba deh kamu timang-timang, Bel," usul Dita.
Bella pun menimang Ale mengikuti saran Dita, tetapi Ale terus menangis. Akhirnya Dita mengambil alih Ale kembali. Ale kembali diam setelah dalam gendongan Dita.
"Ale saja kamu gendong enggak mau, Bel. Pasti dia juga enggak mau jadi menantumu," ledek Dita.
"Siapa calon menantu Bella, Sayang?" Rendra mengernyit, menatap sang istri minta penjelasan.
"Ale katanya mau dijadikan calon menantunya Bella, Mas," terang Dita sambil tertawa kecil.
Kening Rendra semakin mengerut. "Hah. Aku enggak salah dengar kan, Sayang?"
"Enggak, Mas."
"Peace, Kak Rendra. Aku cuma bercanda." Bella mengangkat tangan kanannya. Jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V. Dia takut kalau Rendra akan marah.
Rendra menoleh pada Bella dengan wajah datar, tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Kak Rendra, marah ya? Maaf Kak, aku cuma bercanda tadi sama Dita." Bella memandang Rendra dengan rasa was-was.
"Aku enggak marah, cuma kaget. Ale masih bayi kok sudah diklaim jadi calon menantu. Bicara dan jalan saja belum bisa," sahut Rendra datar.
"Jangan dianggap serius, Mas. Bella cuma bercanda tadi." Dita ikut menimpali agar suasana menjadi cair lagi.
"Menurut Sayang bagusnya di mana?"
"Kayanya mending di sini, Mas. Nanti bisa dibuat kid's corner di sini. Ale juga bisa main kalau ke sini. Lantai bawah kan sudah penuh."
"Baju apa, Ta?" tanya Bella.
"Kita mau buat clothing line buat anak laki-laki, Bel," terang Dita. "Nanti mereknya pakai nama Ale."
"Ale's wear, mereknya," sahut Rendra.
"Wih keren. Kapan launching-nya, Ta?"
"Insya Allah bulan ini, ya kan Mas?" tanya Dita memastikan.
"Insya Allah nanti di ulang tahunnya Bubu," jawab Rendra.
"Serius, Mas?" Dita memandang intens suaminya.
"Insya Allah, kado ulang tahun buat Bubu." Rendra merangkul bahu Dita.
"Halo, masih ada orang di sini," seru Bella yang mulai terganggu dengan sifat bucin Rendra.
"Siapa juga yang bilang patung," ketus Rendra.
"Aku diam saja lah," gumam Bella. Dia merasa sikap Rendra berubah menjadi dingin.
"Mas, jangan begitu dong." Dita menegur suaminya, tapi Rendra tetap cuek. Dia malah asyik bermain dengan tangan Ale.
"Coba tanya mama, Mas. Boleh enggak kalau display bajunya di sini. Mama nanti terganggu enggak kerjanya." Dita kembali ke topik pembicaraan mereka tadi.
Rendra menghampiri sang mama dan membicarakan tentang usulan Dita. Ibu Dewi lalu bangkit dari duduknya. Dia ikut duduk di sofa.
"Kalau mau dipajang di sini juga boleh. Di sini juga lebih lebar, jadi anak-anak bisa bermain. Tapi nanti harus dipastikan aman untuk anak-anak," ujar Ibu Dewi.
"Siap, Ma. Apa Mama nanti tidak terganggu kerjanya di sini?" tanya Dita.
"Nanti mama dibuatkan ruangan saja yang tersambung dengan ruang istirahat," jawab Ibu Dewi.
"Oke, Ma. Aku nanti minta ukuran dan denah lantai ini ya, Ma. Biar nanti aku utak atik desainnya," pinta Dita.
"Nanti ruangan mama tertutup saja tapi dibatasi dengan kaca, jadi mama bisa tetap melihat ke luar." Dita mengeluarkan ide-idenya untuk mendesain ulang butik mertuanya.
"Sekalian sama lantai bawah saja, biar ada penyegaran. Bisa kan, Dita?"
__ADS_1
"Insya Allah bisa, Ma." Dita tersenyum.
"Untung Mama punya menantu calon arsitek, jadi tidak perlu membayar jasa desainer interior yang mahal," celetuk Rendra.
"Alhamdulillah, mama juga punya desainer grafis yang mumpuni." Ibu Dewi tersenyum lebar, memandang bangga putra dan juga menantunya.
"Nanti mama carikan ukuran dan denah lantai 1 dan 2 biar bisa segera dibuat. Waktunya kan sudah dekat mau launching."
"Mama mau konsep yang seperti apa nanti?" tanya Dita.
Ibu Dewi mengutarakan konsep yang ingin dibuat. Mereka berempat larut dalam diskusi. Bella juga ikut memberikan masukan untuk desainnya, meski nanti yang akan mengerjakan Dita.
Diskusi mereka sempat terjeda saat Ale menangis karena pup dan juga lapar. Dengan cekatan Rendra mengganti pamper Ale. Dia sama sekali tidak merasa jijik karena memang sudah terbiasa.
Bella hanya bisa memandang kekompakan Dita dan Rendra dengan rasa iri. Dalam hati dia berdoa, ingin seperti mereka berdua setelah dia menikah nanti. Entah dengan siapa pun jodohnya.
Diskusi mereka selesai saat azan Zuhur berkumandang. Rendra berangkat ke masjid, dan Bella pamit pulang karena pukul 04.00 sore nanti dia harus bekerja di kafe. Ibu Dewi dan Dita salat berjemaah setelah memastikan Ale tertidur pulas.
Usai keduanya salat Zuhur, Rendra dan Dita pamit pulang. Tapi sebelumnya, mereka mampir dulu ke kafe. Sudah cukup lama Dita tidak datang ke kafe, hingga dia disambut dengan antusias oleh para karyawan. Kalau Rendra masih sesekali datang, meski tidak rutin setiap minggunya. Ale pun sempat menjadi pusat perhatian, meski dia tertidur dengan lelap di stroller -nya.
Karena saat itu jam makan siang, jadi mereka hanya sebentar di sana. Sebenarnya Dita ingin membantu di kasir, tapi Rendra melarangnya. Dia tidak mau Ale dilihat dan disentuh banyak orang karena gemas melihat ketampanannya.
"Sayang, mau makan apa?" tanya Rendra setelah mereka berdua di mobil.
"Apa saja, Mas," jawab Dita.
"Benar nih, enggak mau sesuatu?" Rendra memastikan lagi pada istrinya.
"Iya, benar. Aku kan enggak lagi nyidam, Mas."
"Terserah aku ya ini berarti?"
"Iya, Baba."
Rendra melajukan mobil ke sebuah restoran ayam tulang lunak yang ada di Jalan Kaliurang. Setelah memarkirkan mobil, Rendra mengeluarkan stroller untuk Ale. Dita lalu menempatkan Ale dalam stroller setelah tadi dia gendong selama di dalam mobil.
Rendra berjalan mendorong stroller. Dita berpegangan pada lengan suaminya saat mereka masuk ke dalam restoran.
Setelah memilih tempat duduk, mereka memesan makanan.
"Aku pesan ayam presto telur asin, orak arik jagung, sama es campur, Mas."
"Bebek presto sambal ijo sama es cincau kelapa muda. Sama satu botol air mineral ya, Mbak," pesan Rendra pada pramusaji yang melayani mereka.
"Iya, Pak. Ada tambahan lainnya?" tanya pramusaji tersebut.
"Sementara itu dulu, Mbak. Nanti kalau ada tambahan, saya panggil lagi," jawab Rendra.
"Baik, Pak. Saya ulangi pesanannya ya." Pramusaji tersebut menyebutkan menu apa saja yang mereka pesan. Setelah dikonfirmasi, benar. Dia meninggalkan mereka.
"Mas, sering ke sini ya?" tanya Dita setelah pramusaji pergi.
"Beberapa kali diajak kolega, Sayang," jawab Rendra.
"Oh, memang kalau bertemu kolega atau klien enak sambil makan ya," gumam Dita.
Rendra tersenyum. "Tidak perlu cemburu, Sayang. Aku tidak pernah kok pergi berdua sama perempuan lain."
"Duh, kebiasaan ge er nih. Buat apa aku cemburu? Enggak ada gunanya juga, Mas," sahut Dita.
"Ada dong gunanya, Sayang. Katanya cemburu itu menandakan kalau kita cinta. Aku saja cemburu kalau lihat laki-laki lain melihat Sayang."
"Itu namanya cemburu buta, Mas," cibir Rendra.
"Karena aku sudah dibutakan dengan cintamu, Sayang," ucap Rendra.
"Ya Allah, aku merinding loh dengar ucapan, Mas."
Rendra tergelak mendengar ucapan istrinya.
Tak lama pesanan mereka datang. Mereka pun makan dengan lahap sambil sesekali bercerita.
"Dek Dita, kan?" tanya seorang perempuan yang tiba-tiba datang ke meja mereka.
Dita dan Rendra sontak menoleh pada perempuan cantik dengan hijab dan pakaian pas badan yang berdiri di samping meja mereka.
"Iya benar, saya Dita. Maaf, Mbak siapa ya?"
"Masa sih kamu lupa sama aku, Dek," ucap perempuan itu.
Dita coba terus berpikir, tapi entah kenapa sepertinya memorinya sama sekali tidak mengingat sosok perempuan cantik itu. Dia menggelengkan kepala.
"Maaf, saya tidak ingat," sesal Dita.
"Aku Sekar Ayu, Dek. Apa sudah ingat?"
"Mbak Se--Kar," gumam Dita tanpa sadar. Untung saja dia tidak sedang mengunyah makanan, bisa-bisa dia tersedak karena kaget.
"Iya, benar. Aku Sekar Ayu yang dulu--,"
"Menolak lamaran Mas Adi kan," tukas Dita tanpa basa-basi.
...---oOo---...
Jogja, 081121 00.50
__ADS_1
Saya ucapkan terima kasih pada teman-teman yang sudah membantu mempromosikan cerita ini hingga membuat orang datang untuk membaca. Siapa pun itu, saya benar-benar merasa terharu. Ternyata masih ada orang-orang baik di sekitar saya, tanpa saya tahu siapa dia. Mohon maaf saya tidak bisa memberikan balasan apa-apa, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan dan ketulusan kalian.
Sekali lagi terima kasih ššš