Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Bedrest


__ADS_3

"Mas Adi," panggil Adelia dari dalam kamar mandi.


"Iya. Ada apa, Ai?" tanya Adi yang langsung mendekat ke kamar mandi begitu mendengar panggilan Adelia. Dia mengurungkan niatnya berpakaian dan masih berbalut handuk di pinggang.


"Bisa minta tolong ambilkan aku panty liners?" sahut Adelia.


Adi mengernyit, dia tidak tahu apa yang diminta sang istri. "Pan-- apa\, Ai?"


"Panty liners, Mas. Tahu enggak?" tanya Adelia dari balik pintu kamar mandi.


Adi menggeleng meski Adelia tidak melihatnya. "Aku enggak tahu, Ai."


"Itu loh Mas, pembalut yang tipis dan kecil. Aku taruh di laci tempat aku menaruh pembalut. Mas Adi, tahu kan di mana lacinya?"


"Iya, tahu."


"Di dalam laci itu ada beberapa pembalut, Mas. Nah, Mas Adi cari yang paling tipis dan kecil. Yang bungkus luarnya berwarna pink," jelas Adelia.


"Oke, Ai. Aku ambilkan berapa?"


"Satu saja, Mas. Sekalian sama cawat ya."


"Yang warna apa, Ai?"


"Terserah Mas Adi."


"Oke. Tunggu sebentar, Ai."


Adi beranjak ke tempat Adelia menyimpan pembalut sekaligus mencari cawat untuk istrinya itu. Setelah mendapatkan apa yang dicari, dia menyerahkan pada Adelia. Sesudah itu, dia lalu berpakaian.


"Mas, tadi aku keluar flek merah," cerita Adelia setelah keluar dari kamar mandi.


Adi yang sedang membaca Al-Qur'an, terhenyak mendengar ucapan istrinya. Dia menghentikan kegiatannya, dan menyimpan Al-Qur'an di atas nakas.


"Astaghfirullah. Banyak tidak, Ai?" Raut wajah Adi menjadi cemas.


"Cuma sedikit, Mas." Adelia melepas bathrobe yang dia pakai dan mulai berpakaian.


"Perutnya sakit tidak, Ai?" tanya Adi tanpa melepas pandangan dari Adelia dengan tatapan khawatir.


"Enggak sakit kok, Mas," jawab Adelia seraya tersenyum pada sang suami. "Nanti aku hubungi dokter Lita untuk konsultasi."


"Kalau ada yang sakit bilang loh, Ai. Semalam aku sudah pelan-pelan, kok bisa keluar flek ya. Semalam Ai tidak merasa sakit dan nyaman-nyaman saja, kan?"


"Iya, Mas. Kalau sakit, aku pasti bilang."


"Aku telepon bunda dulu ya, Ai."


Adelia mengerutkan kening. "Mau apa telepon bunda, Mas? Lagian jam segini, nanti menganggu istirahat bunda sama ayah."


"Ya, tanya apa yang sebaiknya dilakukan. Ayah sama bunda tidak pernah absen salat Tahajud, Ai. Mereka pasti sudah bangun sekarang." Adi segera mencari gawainya lalu menelepon sang bunda.


"Assalamu'alaikum, Bun," salam Adi begitu sang bunda menerima panggilannya.


"Wa'alaikumussalam. Ada apa kok pagi-pagi telepon, Mas?"


"Adel keluar flek, Bun."


"Kapan mulai keluar? Banyak tidak?"


"Baru tadi. Katanya cuma sedikit, Bun."


"Apa Mbak Adel kecapaian, Mas?"


"Enggak, Bun. Ehmm, semalam kami ng--." Adi menggantung kalimatnya.


"Oh, apa Mas terlalu semangat seperti biasanya?" Ibu Hasna langsung memotong omongan Adi setelah paham apa yang dimaksud putra sulungnya tersebut.


"Mas sudah pelan kok, Bun. Sebenarnya mau puasa sampai kandungannya empat bulan, tapi Mas sudah tidak tahan, Bun."


"Padahal kalau Mbak Adel nanti melahirkan, puasanya lama loh, Mas." Ibu Hasna malah menggoda putranya.


"Iya, Bun. Mas juga tahu. Jadi Adel harus bagaimana ini sekarang?"


"Sementara Mbak Adel bedrest dulu, Mas. Kurangi aktivitas berjalan. Tiduran atau duduk saja. Kalian juga jangan berhubungan lagi. Kalau masih keluar flek, hubungi dokter Lita."


"Iya, Bun. Rencananya Adel nanti juga mau konsultasi sama dokter Lita. Kalau sekarang kan masih pagi buta, tidak enak mau konsultasi, Bun."


"Begitu memang lebih baik konsultasi dengan ahlinya. Semoga hanya karena efek kalian berhubungan bukan karena hal lain," harap Ibu Hasna.


"Aamiin. Jadi, Adel kalau mau aktivitas di kamar saja ya, Bun?"


"Iya, berbaring di kamar. Salat juga duduk atau berbaring saja. Jangan beraktivitas berat dulu."


"Siap, Bun. Kalau begitu Mas tutup teleponnya ya. Sudah hampir Subuh, kami belum Tahajud."


"Iya, Mas."


Adi meletakkan kembali gawainya di atas nakas setelah mengakhiri panggilannya dengan sang bunda. Setelah itu, dia beralih pada Adelia.


"Kalau begitu, Ai, salatnya di kamar saja sambil duduk atau berbaring. Jangan banyak bergerak. Tadi dengar kan apa yang dibilang bunda." Saat menelepon bundanya tadi Adi mengaktifkan loud speaker, jadi Adelia pun bisa mendengar mertuanya bicara.


Adelia menganggut. "Iya, Mas. Kalau begitu aku ambil mukena dulu."


Adelia hendak bangkit dari duduknya, tapi Adi menahannya.


"Ai, di sini saja. Aku ambilkan mukena sama Al-Qur'an."

__ADS_1


"Terima kasih, Mas. Maaf sudah merepotkan." Adelia tersenyum manis pada Adi.


"Hei, ini tidak merepotkan. Kehamilan Ai kan tanggung jawabku. Aku ikut andil sampai Ai kaya gini." Adi membalas senyum Adelia. Sesudah itu dia pergi ke musala kecil di rumahnya. Dia mengambil mukena dan Al-Qur'an milik calon ibu dari anak-anaknya itu.


Mereka berdua kemudian menjalankan salat Tahajud di dalam kamar. Usai salat dan berdoa, mereka membaca Al-Qur'an bersama sambil menunggu azan Subuh berkumandang.


Setelah azan berkumandang, Adi bergegas pergi ke masjid, sementara Adelia tetap di dalam kamar menjalankan salat sunat dua rakaat sebelum melakukan salat Subuh (*).


Begitu pulang dari masjid, Adi langsung menghampiri istrinya di kamar. Dia melihat Adelia sedang merapikan tempat tidur mereka.


"Loh, Ai, kenapa beres-beres? Sudah Ai duduk saja, biar aku yang membereskan." Adi langsung mengambil alih merapikan tempat tidur.


"Aku terus ngapain, Mas? Bosan lah tiduran terus," protes Adelia.


"Ai, duduk atau tiduran saja di ruang tengah kalau mau nonton film atau drama atau bisa baca buku di kamar."


"Masa aku enggak ngapa-ngapain, Mas." Adelia mendudukkan dirinya di kursi.


"Ai kan disuruh bedrest biar tidak keluar lagi fleknya. Apa perlu bedrest di rumah sakit kalau Ai tetap mau beraktivitas seperti biasa?"


"Enggak mau. Buang-buang uang saja numpang tidur di rumah sakit."


"Kalau Ai enggak mau bedrest di rumah, ya harus di rumah sakit. Ini semua demi kesehatan Ai dan calon anak kita, Ai. Tolong ya menurut apa yang dibilang bunda." Adi menghampiri sang istri lalu membelai dengan lembut kepala Adelia.


"Iya, Mas. Maafkan aku."


Adi membungkuk hingga dia bisa menatap wajah cantik istrinya. Dia meletakkan kedua tangannya di pipi Adelia. Dia tersenyum seraya memandang mata bening belahan hatinya itu.


"Ai, enggak salah. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Ai, seperti ini juga karena aku. Aku yang seharusnya minta maaf hingga membuat Ai merasa kepayahan karena mengandung calon anak kita. Maaf kalau aku jadi terlalu keras, karena itu juga demi kebaikan kalian berdua, Ai."


"Iya, Mas. Aku tahu. Mas Adi tidak perlu minta maaf, memang aku yang bandel tidak mau menurut."


"Jadi, sekarang Ai mau menurut?"


Adelia menyengguk. "Iya, Mas."


"Ai mau duduk di kamar saja atau mau di ruang tengah?" tanya Adi.


"Mas Adi, habis ini mau ngapain?" Adelia balik bertanya tanpa menjawab suaminya.


"Aku mau masak buat sarapan kita." Adi tersenyum seraya mengelus pipi halus sang istri.


"Kalau begitu aku mau lihat Mas masak. Aku duduk di ruang makan saja," ujar Adelia.


"Oke. Aku ganti baju dulu. Ai, duduk di sini tunggu aku."


Adelia mengangguk. Adi mencium kening Adelia sebelum berganti pakaian rumah.


Adelia duduk dengan tenang sembari melihat pemandangan indah di depan matanya. Entah sejak kapan itu dimulai, dia senang saat melihat suaminya berganti pakaian. Dia bisa melihat otot-otot yang terbentuk di tubuh tegap suaminya itu.


Usai berganti pakaian, Adi kembali menghampiri sang istri. Dia membungkuk lalu membopong tubuh langsing Adelia.


"Katanya mau lihat aku masak, Ai." Adi menghentikan langkahnya keluar dari kamar.


"Iya, tapi kan aku enggak harus digendong juga, Mas. Aku kan bisa jalan sendiri," protes Adelia.


"Tuh kan sudah lupa janjinya padahal belum ada sepuluh menit. Katanya mau menurut." Adi mengingatkan istrinya.


"Eh iya." Adelia tersenyum malu.


"Jadi mau lihat aku masak enggak?" tanya Adi memastikan sebelum dia kembali berjalan.


Adelia mengangguk penuh antusias. "Jadi--jadi."


Adi kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari kamar. Setelah mendudukkan Adelia di kursi ruang makan, dia pergi ke dapur.


"Ai, mau makan apa?" tanya Adi saat melihat isi kulkas.


"Apa saja yang Mas Adi masak, aku mau," jawab Adelia sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Matanya awas, melihat setiap pergerakan sang suami.


"Benar, mau apa saja?" Adi menoleh pada sang istri.


"Iya, aku lagi enggak ingin makan sesuatu, Mas."


"Oke." Adi kemudian memilih berbagai bahan makanan yang ada di dalam kulkas.


Setelah mengeluarkan semua bahan makanan yang diperlukan, dan meletakkan semuanya di dapur. Adi mengambil gelas untuk membuat minum.


"Ai, mau minum apa?"


"Teh manis panas kaya Mas Adi. Tapi, aku maunya segelas berdua," sahut Adelia.


Adi tersenyum. "Oke, kalau gitu pakai gelas yang besar saja."


Adi menukar gelas yang tadi dia ambil dengan gelas jumbo. Kalau dulu Adelia selalu minum air putih, sejak hamil memang dia suka minum teh manis seperti dirinya.


"Minum susunya kapan, Ai?" tanya Adi seraya menyendokkan gula ke dalam gelas.


"Nanti malam saja, Mas. Aku maunya teh manis sekarang," jawab Adelia dengan nada manja.


"Baik, Nyonya Adi."


Adelia mengikik mendengar sang suami memanggilnya Nyonya Adi.


Usai membuat teh manis panas, Adi duduk di samping Adelia. Dia meletakkan gelas jumbo di depan Adelia. Menyeruput sedikit dengan sendok untuk menghangatkan perut.


"Diminum tehnya, Ai. Pakai sendok biar tidak terlalu panas," ucap Adi. Dia lalu mengelus perut sang istri. "Abi mau masak dulu. Temani Umi ya, Nak."

__ADS_1


"Iya, Abi," sahut Adelia menirukan suara anak kecil.


Adi kembali ke dapur. Dia mulai mengolah bahan makanan yang tadi diambil dari kulkas. Adelia duduk diam, mengamati sang suami yang tampak lincah memasak. Sesekali dia tersenyum seraya mengelus perutnya, seolah mengatakan pada calon anaknya kalau dia harus bangga punya abi yang pandai memasak.


Satu jam kemudian, Adi sudah selesai memasak. Dia menyajikan masakannya di atas meja makan. Ada sup dengan isian wortel, brokoli dan bakso ikan, ada juga telur dadar, dan tak ketinggalan sambal tomat matang.


"Mhhh, tampilan dan wanginya menggoda selera, Mas," puji Adelia.


"Kalau begitu kita makan sekarang, Ai."


"Suapin ya, Mas," rengek Adelia.


Adi tertawa sambil menggelengkan kepala.


"Mas Adi enggak mau suapin aku?" Adelia berubah jadi cemberut.


"Siapa yang tidak mau? Aku mau kok menyuapi, Ai." Adi menatap istrinya penuh cinta.


"Bohong, tadi Mas Adi menggeleng."


"Aku menggeleng karena kaget, Ai. Kan baru sekarang, Ai, minta disuapi."


"Benar, Mas, enggak bohong?" Adelia menatap intens Adi, mencari kejujuran di mata sang suami.


"Benar, Ai. Mau seberapa nasinya?"


"Terserah, Mas. Yang penting cukup untuk kita bertiga."


Kening Adi mengerut. "Kita bertiga?"


"Iya, kita makan sepiring bertiga. Mas Adi, aku sama dedek yang di perut," terang Adelia.


"Oh, oke." Adi segera mengambil nasi sesuai porsi dia makan. Nanti baru akan ditambah kalau masih kurang.


Pagi itu mereka sarapan dengan memakai piring dan gelas minum yang sama. Adelia tampak senang setiap mengunyah makanan yang disuapkan oleh Adi. Entah itu keinginan Adelia sendiri atau calon anak yang ada di perutnya, Adi tidak mau ambil pusing. Dia hanya ingin menuruti keinginan istrinya selama dia mampu. Karena dia tahu kalau hamil itu tidak mudah, jadi sebisa mungkin, dia menyenangkan sang istri agar suasana hatinya tetap bahagia.


"Ai, nanti ditemani Mbak Surti dulu ya. Aku tidak bisa izin hari ini karena ada rapat. Nanti selesai rapat aku terus pulang," ucap Adi setelah mereka selesai sarapan.


"Kenapa harus ditemani Mbak Surti? Aku bisa di rumah sendiri, Mas," tolak Adelia.


"Mbak Surti kan hari ini ke sini bersih-bersih rumah, cuci baju sama setrika. Sekalian kan menemani dan membantu Ai kalau butuh sesuatu," jelas Adi.


"Aku jadi kaya pasien saja, apa-apa harus dilayani, Mas," keluh Adelia.


Adi tersenyum pada belahan hatinya itu. "Ini kan hanya untuk sementara. Demi kebaikan Ai dan calon anak kita yang ada di dalam sini." Adi memegang perut Adelia.


"Mau ya ditemani Mbak Surti, atau sama Dita." Adi menatap mata sang istri.


"Iya deh, sama Mbak Surti saja. Jangan Dek Dita, kasihan nanti kecapaian. Dek Dita kan harus mengurus Ale. Masa harus mengurus aku juga."


"Good. Nah kalau begini kan enak, aku bisa tenang kerjanya. Sebentar lagi pasti Mbak Surti datang."


Ting tong


Bel rumah Adi berbunyi.


"Itu pasti Mbak Surti. Aku buka pintu dahulu. Ai, tetap di sini, jangan ke mana-mana."


Adelia menanggapi suaminya dengan anggukan.


Adi beranjak meninggalkan Adelia, pergi ke ruang tamu untuk membuka pintu. Seperti dugaannya, memang Mbak Surti, asisten rumah tangganya, yang datang.


"Mbak, nanti tolong temani Adel sampai aku pulang ya. Aku mungkin cuma sampai jam sebelas atau dua belas saja. Nanti juga tolong bantu Adel kalau butuh sesuatu," pinta Adi pada sang ART begitu masuk ke dalam rumah.


"Nggeh, Mas. Apa Mbak Adel baru sakit?"


"Tadi keluar flek sedikit. Sama bunda disuruh bedrest. Mungkin nanti sore baru ke dokter."


"Oh, nggeh, Mas. Kalau begitu saya merendam cucian dulu, baru nanti bersih-bersih rumah. Permisi, Mas."


"Ya, Mbak."


Setelah menyapa Adelia di ruang makan, Mbak Surti pergi ke ruang mencuci, mulai melakukan pekerjaannya.


"Mas, aku mau telepon dokter Lita," kata Adelia pada sang suami yang sedang mencuci piring.


"Oke. Aku ambilkan hp dulu." Adi menghentikan kegiatannya, lalu mengelap tangan yang basah.


"Nanti saja. Mas, selesaikan dulu cuci piringnya."


"Benar?" Adi menoleh pada Adelia.


"Iya." Adelia menyengguk.


Adi segera menyelesaikan pekerjaannya. Dia lalu membopong Adelia ke ruang tengah. Istrinya itu mau menemani dia menyiapkan berkas yang diperlukan untuk rapat nanti sembari menelepon dokter Lita. Sesudah itu dia masuk ke kamar untuk mengambil gawai dan juga tas kerjanya.


"Terima kasih, Mas," ucap Adelia setelah menerima gawai dari suaminya. Dia langsung mencari nomor telepon dokter Lita. Begitu ketemu, dia segera melakukan panggilan.


...---oOo---...


Jogja, 211121 21.30


Catatan :


(*) Hadis tentang keutamaan salat sunat dua rakaat sebelum Subuh


-    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu diam antara adzannya muadzin hingga sholat subuh. Sebelum           sholat subuh dimulai, beliau dahului dengan dua raka’at ringan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

__ADS_1


-    "Aisyah RA berkata, "Nabi SAW tidaklah menjaga sholat sunah yang lebih daripada menjaga sholat sunah dua     rakaat sebelum subuh." (HR Muslim)


-    “Dua rakaat fajar (sholat sunah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim).


__ADS_2