
Setelah menentukan waktu akad nikah, Pak Lukman, Ibu Sarah dan Adi membahas teknis pelaksanaannya. Akad tidak akan dilaksanakan di rumah Pak Lukman tetapi di masjid dekat rumah Adi agar Restu tidak bisa mengendus rencana mereka. Adi sangat berhati-hati dengan rencana yang sudah dia susun.
Pada kesempatan itu, Adi juga minta izin untuk membawa Adelia tinggal bersamanya setelah nanti mereka menikah. Meski sedih karena harus tinggal terpisah dengan putri mereka, Pak Lukman dan Ibu Sarah mau tidak mau mengizinkan. Karena setelah menikah nanti, otomatis tanggung jawab Adelia akan berpindah pada Adi.
Mereka mengakhiri pertemuan hari itu sekitar pukul 08.00 malam karena terjeda salat Magrib dan makan. Saat Adi akan membayar tagihan, Pak Lukman menahannya. Karena Pak Lukman yang reservasi jadi menurutnya sudah sepantasnya dia yang membayar semua tagihan. Adi menolak hal itu dengan alasan dia yang mengajak untuk bertemu.
Di saat Adi dan Pak Lukman berdebat untuk menentukan siapa yang akan membayar, diam-diam Ibu Sarah menyodorkan kartu debit pada kasir. Sesudah kasir memproses pembayaran, Ibu Sarah mengambil kartunya kembali.
"Pa, Mas Adi, ayo kita pulang," ajak Ibu Sarah pada kedua pria di sampingnya yang masih saja beradu argumen.
"Biar saya bayar dulu, Tante," sahut Adi.
"Tante sudah bayar kok," ujar Ibu Sarah sambil tersenyum.
"Eh, kok malah Tante yang bayar," protes Adi.
"Sudah, enggak apa-apa. Lain waktu saja Mas Adi yang traktir kami." Ibu Sarah memegang lengan Adi.
"Saya jadi enggak enak, kan saya yang mengajak bertemu, Tante."
"Dibawa enak saja, Mas," seloroh Ibu Sarah.
Mereka bertiga lalu ke luar dari restoran. Adi mengantar kedua calon mertuanya sampai ke samping mobil mereka. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Pak Lukman melajukan mobilnya.
Dalam perjalanan pulang, Adi menelepon adiknya agar datang ke rumahnya. Dia ingin membicarakan tentang rencana akad nikahnya. Sesudah itu, dia mengabari ayah dan bundanya mengenai hasil pembicaraannya dengan Pak Lukman dan Ibu Sarah. Kedua orang tuanya menyambut gembira rencana ijab kabulnya yang akan dilaksanakan dua hari lagi. Nanti setelah Adi sampai di rumah, mereka akan membicarakannya lebih lanjut.
...---oOo---...
Sepulang dari restoran, Ibu Sarah segera membersihkan diri. Setelah tadi berunding dengan suaminya, mereka sepakat, dialah yang akan bicara dengan Adelia mengenai rencana ijab kabul yang akan dipercepat.
Ibu Sarah kemudian mengajak Adelia bicara berdua di kamar putrinya itu, sebelum mereka beranjak tidur.
"Ada apa sih, Ma?" Adelia mengernyit heran pada mamanya, tak biasanya mengajak dia bicara berdua di kamar.
Ibu Sarah tersenyum pada putrinya. "Mbak, tadi mama dan papa ketemu sama Mas Adi."
"Kok enggak bilang-bilang sih, Ma." Adelia berubah cemberut.
"Kenapa? Mbak, kangen ya sama Mas Adi?" goda Ibu Sarah.
"Apaan sih, Ma." Adelia tersipu malu.
__ADS_1
Ibu Sarah terkekeh melihat Adelia.
"Mbak, mau tahu enggak apa yang tadi kami bicarakan?" tanya Ibu Sarah setelah menghentikan tawanya.
"Memangnya apa, Ma?" Adelia menopang dagu dengan tangan kanan seraya menatap mamanya.
"Mas Adi ingin segera menikahi Mbak."
Seketika Adelia menegakkan badan. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya, terkejut.
"Me ... nikah, Ma?" Adelia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Ibu Sarah menganggukkan kepala. "Iya, menikah. Mbak, menikah dengan Mas Adi."
Adelia terpaku. Otaknya masih mencerna apa yang dia dengar. Dita sama sekali tidak pernah menyinggung soal ini apalagi Mas Adi. Dan sekarang tiba-tiba Mas Adi ingin segera menikah dengannya. Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata.
"Mbak, kok malah melamun. Mbak enggak mau menikah sama Mas Adi?" Ibu Sarah khawatir karena Adelia terdiam lama.
"Eh ... enggak, Ma. Ini ... bukan mimpi kan, Ma?" Adelia menatap mata mamanya.
"Tentu saja bukan." Ibu Sarah menggeleng.
"Mama, enggak lagi ngeprank aku kan?" tanya Adelia lagi.
"Tapi ... kenapa?" Adelia menaikkan sebelah alisnya.
"Karena Mas Adi ingin melindungi dan menjaga Mbak dari Restu," kata Ibu Sarah dengan lugas.
"Iya, tapi kenapa harus secepatnya menikah?"
"Posisi Mas Adi sebagai calon suami belum cukup kuat untuk melindungi, Mbak. Karena itu Mas Adi ingin segera menikah agar bisa benar-benar melindungi, Mbak. Mas Adi itu kayanya cinta banget sama Mbak sampai meminta izin langsung papa dan mama. Jarang ada pria seperti Mas Adi, Mbak."
"Berarti booking di maskam dibatalkan dong, Ma?"
"Enggak. Kalian akan menikah secara agama dulu, resminya sesuai rencana semula. Apa Mbak enggak mau?" tanya Ibu Sarah.
"Bukan masalah mau apa enggak, Ma. Tapi kenapa Mas Adi enggak membicarakan dulu soal ini sama aku. Kenapa Mas Adi memutuskan sendiri?" gerutu Adelia.
"Mas Adi punya alasan sendiri, Mbak. Restu masih terus mengirim pesan. Mas Adi jadi tidak tenang. Dia enggak mau Mbak jadi kepikiran dan sampai takut pergi ke mana-mana." Ibu Sarah coba menenangkan putrinya.
"Tapi enggak begini juga, Ma. Katanya apa saja harus dibicarakan dulu. Nyatanya Mas Adi malah ambil keputusan sendiri. Gimana sih?" omel Adelia.
__ADS_1
"Mama dan papa juga langsung setuju saja ya waktu Mas Adi minta izin? Kenapa enggak tanya pendapatku dulu?" Adelia masih terus menggerutu.
Ibu Sarah cukup terkejut dengan reaksi putrinya itu. Dia mengira Adelia akan senang karena bisa segera menikah dengan Adi. Tetapi ternyata putrinya itu malah merasa kesal karena tidak dilibatkan dalam mengambil keputusan.
Di satu sisi Ibu Sarah mengerti karena bagaimanapun Adi dan Adelia yang akan menjalani kehidupan rumah tangganya. Seharusnya memang mereka membicarakan hal yang penting ini sebelum memutuskan untuk segera menikah. Mungkin putrinya kesal karena merasa tidak dilibatkan padahal ini mengenai mereka berdua.
Tetapi di sisi lain, Ibu Sarah juga mendukung keputusan Adi yang bergerak cepat untuk melindungi Adelia. Sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan Adelia, tentu saja dia tidak ingin putrinya hidup dengan rasa cemas karena gangguan dari mantan kekasihnya. Dengan adanya Adi sebagai suami, tentu saja Ibu Sarah akan lebih tenang karena sudah ada yang melindungi dan memberi kebahagiaan pada putri yang sangat dicintainya itu.
Ibu Sarah menghela napasnya. Dia meraih tangan Adelia dan menggenggamnya.
"Mama dan Papa mengizinkan kalian segera menikah juga dengan banyak pertimbangan, Mbak. Kami tidak semata-mata langsung mengiyakan. Dan, perkara menikah itu suatu hal baik yang harus disegerakan, Mbak. Bukankah dengan menikah juga akan menyempurnakan separuh agama." Ibu Sarah memandang mata putrinya.
"Mama tahu, mungkin Mbak merasa kesal karena tidak dilibatkan. Tetapi, kami melakukan ini semua juga demi kebaikan, Mbak. Mama dan papa juga akan lebih tenang kalau Mbak sudah menikah," tutur Ibu Sarah penuh kelembutan.
"Tapi, bukankah dulu papa dan Mas Adi menentang kami menikah secara agama lebih dulu?" Adelia kembali meradang.
"Itu karena belum ada masalah Restu, Mbak. Sekarang keadaannya berbeda, dan menikah jadi salah satu solusi untuk mengatasi Restu. Menurut kami, ini hal yang sangat mendesak, harus segera dilakukan agar Mbak bisa hidup dengan tenang." Ibu Sarah tersenyum lebar pada putrinya.
"Mbak sudah dewasa, sudah bisa berpikir jernih. Coba Mbak pikirkan lagi kalau Mbak ada di posisi Mas Adi apa yang akan Mbak lakukan? Apa Mbak akan diam saja kalau orang dari masa lalu Mas Adi datang menganggu kalian yang masih belum terikat pernikahan? Apa Mbak punya hak penuh untuk mengusirnya?"
"Apa ada jaminan dengan menikah masalah akan selesai begitu saja?" Adelia masih saja bersikeras.
"Memang tidak ada jaminan, Mbak. Tapi setidaknya dengan menikah, orang akan berpikir dua kali untuk mengusik hubungan kalian. Ada hal yang harus Mbak tahu. Sabtu besok Restu pulang dan mengajak Mbak bertemu. Mas Adi berencana menemui Restu bersama Mbak, dengan status sebagai suami, bukan calon suami."
"Coba Mbak renungkan dan pikirkan lagi apa yang mama katakan tadi. Bukankah Mbak juga sudah memutuskan untuk berhijrah? Mbak pasti juga lebih paham daripada mama dan papa soal hukum agama."
Adelia menunduk dan diam, tidak menyahut lagi ucapan mamanya.
"Apa Mbak tidak ingin segera menikah dengan Mas Adi setelah apa yang mama katakan tadi?" Ibu Sarah mengangkat wajah putrinya agar mereka bisa saling berpandangan.
"Kalau Mbak memang tidak mau, nanti mama akan bilang papa agar menyampaikannya pada Mas Adi."
"Aku ...."
...---oOo---...
Jogja, 130621 02.00
Cerita ini mengikuti kontes You Are A Writer Seasons 5, mohon dukungannya šš¤
Kalau ada masukan, kritik dan saran yang membangun, boleh via kolom komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82
__ADS_1
Jangan lupa ritual jempol atau like-nya setelah membaca ya, Kak. Karena satu jempol atau like sangat berarti. Terima kasih šš¤