
Satu minggu sebelum pernikahan Adi dan Adelia digelar, Rendra dan Dita mengadakan acara pengajian dalam rangka syukuran empat bulan kehamilan Dita. Sekalian juga meminta doa agar perjalanan umrah keluarga mereka nanti berjalan lancar dan bisa kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan selamat.
Rencana umrah keluarga Ibu Dewi yang rencananya akan dilakukan akhir tahun, dimajukan karena keadaan Dita yang sedang hamil. Akhir tahun nanti Dita sudah hamil besar dan mendekati waktu kelahiran jadi tidak memungkinkan untuk bepergian jauh. Setelah melakukan pembicaraan dan berkonsultasi dengan dokter, akhirnya diputuskan mereka berangkat setelah pelaksanaan resepsi Adi dan Adelia. Sesudah umrah, mereka akan langsung berwisata ke Dubai.
Di acara pengajian, Rendra juga mengundang Kaisar, Bara, Baim, Bella dan semua karyawan kafe selain jemaah masjid, kelompok pengajian mamanya serta anak-anak yatim piatu. Mereka berharap dengan didoakan lebih banyak orang, kehamilan Dita lancar sampai melahirkan nanti. Dita dan bayinya juga sehat dan selamat.
Sebelum acara pengajian dimulai, Kaisar dan Bara mampir dulu ke rumah Adi. Kebetulan tenda untuk acara pengajian juga sampai di depan teras rumah Adi. Bara lebih banyak mengobrol dengan Adelia, sementara Kaisar dengan Adi.
"Kai, kamu sudah enggak suka adikku lagi kan?" tanya Adi pelan sambil memandang Kaisar.
"Menghilangkan rasa dalam sekejap itu bukan hal yang mudah, Di. Yang jelas, aku sudah tidak mengharapkan dia lagi. Aku sudah lihat dia bahagia dengan suaminya. Nanti seiring waktu juga pasti akan hilang dengan sendirinya," jawab Kaisar.
"Kamu mau aku kenalin sama kakaknya Rendra? Kenalan saja, Kai. Siapa tahu cocok terus kalian ada jodoh. Kalaupun tidak cocok, kamu jadi tambah teman," tawar Adi.
Kaisar tertawa sambil menggelengkan kepala. "Segitunya kamu ingin aku melupakan Dita, Di."
"Bukan begitu, Kai. Tapi aku kasihan saja sama kamu," kata Adi.
"Kasihan?" Kaisar mengernyit. "Why? I'm fine. I'm okay."
"Nanti kalau kita jalan bareng, kamu enggak punya gandengan, Kai," ejek Adi.
"Ealah, gitu doang. Kirain apaan." Kaisar tertawa lebar.
"Nanti habis pengajian jangan langsung pulang. Mau ya aku kenalin, Kai. Dia juga masih sendiri. Nasibnya sama kaya aku dilangkahi sama adiknya," bujuk Adi.
"Iya—iya."
Saat para tamu mulai berdatangan, Adi dan Kaisar bergabung dengan jemaah pria, sedangkan Adelia bergabung dengan jemaah wanita. Adelia duduk di samping mamanya yang bersebelahan dengan Ibu Hasna.
Acara pengajian dibuka oleh Bara yang bertindak sebagai pembawa acara. Sebelum acara pengajian dimulai, dibacakan ayat suci Al-Qur'an yang dibawakan oleh seorang hafiz cilik—yang merupakan salah satu anak yatim dari yayasan yang biasa disumbang keluarga Ibu Dewi.
Setelah itu Rendra memberi ucapan selamat datang. Dia mengucapkan terima kasih atas kedatangan semua orang. Dia meminta doa agar kehamilan dan kelahiran Dita nanti lancar. Dita dan anaknya juga sehat dan selamat saat proses persalinan. Selain itu dia juga meminta maaf dan doa agar keluarganya bisa menjalankan ibadah umrah dengan lancar, serta tiba kembali di rumah dalam keadaan sehat dan selamat.
Ustaz Faharudin kemudian memberikan tausiahnya. Isi tausiah kali ini yaitu tentang tata cara merawat dan mendidik anak menurut Islam. Usai tausiah, Ustaz Faharudin mendoakan Dita dan bayinya, serta keluarga Ibu Dewi yang akan berangkat umrah.
Setelah itu acara ditutup oleh Bara. Para tamu kemudian dipersilakan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh tuan rumah.
Acara selesai tepat waktu sebelum azan Zuhur berkumandang. Para tamu yang datang, pulang dengan membawa bingkisan kue chiffon dari salah satu bakeri yang terkenal di Jogja. Tak lupa Rendra dan Dita juga memberi santunan pada setiap anak yatim piatu yang datang.
Saat azan berkumandang, para pria pergi ke masjid untuk menjalankan salat Zuhur. Sementara para wanita salat berjemaah di rumah. Usai salat mereka masih bercengkerama di rumah Ibu Dewi.
"Ai, sini," panggil Adi pada istrinya yang sedang duduk mengobrol dengan Shasha.
Adelia lalu bangkit dan menghampiri suaminya. "Ada apa, Mas?"
"Tolong ajak Shasha ke sini, Ai. Mau aku kenalkan sama Kai," jawab Adi.
Adelia mengangguk lalu tersenyum. Dia kembali berjalan ke arah Shasha. Setelah dia bicara dengan Shasha, mereka berjalan menghampiri Adi.
"Ada apa cari aku, Mas?" tanya Shasha pada Adi.
"Kenalkan ini temanku, Kai," kata Adi sambil menepuk bahu Kaisar yang sedang menunduk, mengetik sesuatu di gawainya.
"Kai, kenalkan ini Shasha. Shasha kenalkan ini Kaisar." Adi saling memperkenalkan mereka.
Kaisar mendongak. Dia dan Shasha sama-sama terkejut saat saling melihat.
"Ini Mas Kai, kakaknya Tirta kan?" tanya Shasha tak yakin.
"Iya, aku kakaknya Tirta. Bukannya namamu Alesha?" Kaisar mengerutkan keningnya.
"Iya namaku Alesha, tapi di rumah aku dipanggil Shasha," terang Shasha.
Kaisar mengangguk. "Oh, ya—ya."
__ADS_1
"Lho, kalian berdua sudah saling kenal ternyata." Adi melongo melihat Kaisar dan Shasha yang sudah terlihat akrab.
"Iya, Mas Adi. Mas Kai ini kakaknya Tirta, temanku kuliah. Dulu aku sering main ke kontrakan mereka saat masih kuliah. Kadang aku ketemu Mas Kai kalau sedang tidak dinas," terang Shasha.
"Wah, kebetulan dong kalau sudah saling kenal jadi gampang," kata Adi.
"Gampang apanya, Mas?" Shasha mengernyit tidak memgerti apa yang dimaksud Adi.
"Gampang akrab lah," sahut Adi sambil melirik Kaisar.
"Gabung sini Sha kita ngobrol bareng," ajak Adi.
"Iya, Mas." Shasha lalu duduk di dekat Kaisar.
"Gimana kabarnya Tirta, Mas Kai?" tanya Shasha yang tampak antusias membicarakan teman kuliahnya.
"Alhamdulillah baik. Memangnya kalian tidak pernah berhubungan?" Kaisar menatap Shasha.
"Nomornya Tirta hilang, Mas. Dulu aku simpan di ponsel lamaku. Aku lupa back up ke email. Pas ponselku rusak, hilang semua kontaknya." Shasha mengungkapkan alasannya dengan rasa bersalah.
"Aku nanti minta nomornya Tirta ya, Mas," lanjut Shasha.
Kaisar mengangguk. "Boleh, nanti aku kasih."
"Tirta kerja di mana, Mas? Dia sudah nikah apa belum?" Shasha memberondong pertanyaan pada Kaisar.
"Tirta sudah jadi ASN sekarang. Belum lama sih dia selesai pra jabatannya dan diangkat jadi ASN. Dia belum nikah," jawab Kaisar dengan kalem.
"Wah keren Tirta. Dia di Jogja kan Mas dinasnya?" tanya Shasha lagi.
Kaisar menggeleng. "Bukan di Jogja tapi di Magelang."
"Oh, dekat kalau gitu," gumam Shasha.
"Mas Kaisar jadi sendiri dong di kontrakan," tebak Shasha.
"Makanya ditemani biar dia tidak sendirian lagi, Sha." Adi menyela pembicaraan Kaisar dan Shasha.
Shasha menoleh pada Adi. "Maksudnya apa ya, Mas?"
"Ya, kamu bisa main ke sana kan temani Kaisar," sahut Adi sambil tertawa usil.
Shasha mencibir Adi setelah dia sadar kalau sedang digoda kakak ipar Rendra itu.
"Kamu sendiri kerja di mana, Sha?" tanya Kaisar untuk mencairkan suasana.
"Aku kerja di kantor akuntan publik, Mas," jawab Sasa.
"Pekerjaanmu juga keren," puji Kaisar dengan tulus.
"Biasa saja, Mas. Jadi buruh swasta aku, bukan pegawai negara," seloroh Shasha.
"Aturan di swasta ketat, Mas. Tidak boleh nikah selama 2 tahun. Siap ke luar kota kalau ada tugas. Bisa sebulan perginya, bisa juga cuma sehari. Tergantung hal yang ditangani." Shasha menerangkan pekerjaannya.
Kaisar mengangguk-angguk saat mendengar Shasha bicara. "Ada gitu di kontrak tidak boleh nikah?"
"Iya, ada, Mas. Memang kan dituntut untuk fokus pada pekerjaan selama dua tahun. Kalau sudah dua tahun ya bebas sih."
"Sekarang masih terikat kontrak?" tanya Adi yang kembali menyela Shasha dan Kaisar.
"Bulan November besok pas dua tahun," jawab Shasha.
"Wah sebentar lagi dong, Kak." Adelia ikut menyahut.
"Iya, enggak sampai 4 bulan lagi."
__ADS_1
"Sudah ada calon belum ini?" tanya Adi dengan bercanda.
"Calon apa, Mas?" Shasha balik bertanya sambil tertawa.
"Ya, calon suami lah," balas Adi.
"Belum. Kenapa? Mas Adi mau kenalin aku sama seseorang?" Shasha menatap Adi.
"Lha itu ternyata kamu sudah kenal. Rencananya aku mau kenalin kalian. Setahuku kalian sama-sama jomlo jadi enggak masalah kan. Umur kalian juga sudah cukup untuk menikah," ujar Adi.
Shasha tertawa lebar setelah mendengar kata-kata Adi. Bagaimana mungkin Adi berpikiran mau menjodohkan dia dengan Kaisar. Lagian dia juga belum berpikir untuk menikah. Dia ingin mengejar karir mumpung masih muda dan bebas bergerak ke mana saja.
"Kenapa tertawa?" tanya Adi dengan kening berkerut.
"Mas Adi lucu," jawab Shasha.
"Apanya yang lucu, Sha. Aku serius. Kalian sudah sama-sama dewasa. Setidaknya kalian bisa lebih saling mengenal. Kalau cocok ya dilanjut, enggak ya berteman saja," kata Adi dengan mimik serius.
Shasha menghentikan tawanya. Dia lalu menoleh pada Kaisar.
"Apa Mas Kai juga berpikiran sama seperti Mas Adi?" tanya Shasha tanpa basa basi.
"Itu sih keinginannya Adi. Setelah aku pikir-pikir ya bisa dicoba kalau kamu mau," jawab Kaisar.
Shasha tersenyum. "Aku membuka pertemanan dengan siapa saja. Tapi aku tidak bisa dengan mudah membuka hatiku."
"Ya sudah, kalau begitu kita berteman," Kaisar mengulurkan tangannya.
Shasha juga mengulurkan tangan. Mereka kemudian bersalaman sebagai tanda mereka mulai berteman. Mereka lalu mengobrol lagi seperti biasa.
"Nomornya Tirta berapa ya, Mas Kai?" tanya Shasha saat Kaisar pamit mau pulang.
"083—," kata Kaisar tapi disela Shasha.
"Duh Mas, maaf. Aku lupa kalau ponselku ada di kamar." Shasha menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Oh, ya sudah kamu sebutkan saja nomormu, nanti aku kirim," kata Kaisar memberi solusi.
"08384033xxxx." Shasha menyebutkan nomornya.
"08384033xxxx." Kaisar mengulang menyebut nomor Shasha agar tidak salah.
"Iya, benar."
"Oke, ini langsung aku kirimkan," kata Kaisar sambil mengetik di gawainya.
"Makasih, Mas Kai." Shasha tersenyum pada Kaisar.
"Sama-sama." Kaisar membalas senyum Shasha.
"Uhuk, kemajuan sudah tukeran nomor nih," goda Adi.
Kaisar hanya tertawa menanggapi godaan Adi, sementara Shasha mencibir kakak kandung Dita itu.
"Aku pulang dulu ya, maaf enggak bisa lama-lama. Ada tugas negara," kata Kaisar.
"Makasih ya, Mas Kai, sudah mau datang ikut mendoakan Dita," ucap Shasha.
"Rendra sama Dita mana ya? Aku mau pamit sama mereka." Kaisar celingukan mencari dua sejoli itu.
"Kayanya mereka di dalam. Masuk saja yuk Mas, aku antar ke dalam." Shasha mengajak Kaisar masuk ke dalam rumah menemui Rendra dan Dita serta keluarga yang lain.
...---oOo---...
Jogja, 030821 00.30
__ADS_1