Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Malam Pertama


__ADS_3

Setelah pulang dari masjid, seluruh keluarga berkumpul di rumah Adi. Mereka yang belum sempat makan saat di masjid tadi, kemudian makan bersama di rumah dengan menu yang sama dari katering.


Adi yang diambilkan makan oleh Adelia tak berhenti menyunggingkan senyum. Dia terus memandang istrinya yang hari ini tampak sangat cantik sekali. Dia merasa lega sekaligus bahagia karena sudah melewati prosesi akad nikah yang sangat membuatnya tegang. Dan wanita yang sedang mengambilkan dia lauk itu kini sudah halal untuknya.


"Dih, mentang-mentang sudah halal, Mbak Adel dipandangi terus," sindir Dita yang tak pernah puas menggoda kakaknya.


"Kenapa? Adek juga minta dipandangi?" Adi menoleh pada adik semata wayangnya itu.


"Aku mah udah kenyang tiap hari dipandangi sama Mas Rendra, wekkk." Dita menjulurkan lidahnya.


"Kalian berdua ini loh sudah besar dan sama-sama menikah masih aja saling meledek." Ibu Hasna menggelengkan kepala melihat tingkah kedua buah hatinya.


"Adek tuh, Bun, yang mulai."


"Sayang." Rendra memanggil Dita saat istrinya itu hendak menyahut Adi. Dia menggelengkan kepala sebagai tanda agar Dita tidak menggoda Adi lagi. Sebagai istri yang taat pada suami, alhasil Dita hanya membalas dengan mencibir kakaknya.


"Aman, udah ada pawangnya." Adi tertawa melihat Dita yang mencibirnya.


"Mas Adi, ini makanannya." Adelia meletakkan piring dan segelas air putih di depan Adi sambil tersenyum pada suaminya.


"Terima kasih. Ayo makan sekalian, kamu juga belum makan kan." Adi menoleh pada istrinya.


"Iya, saya ambil dulu, Mas."


"Aku tunggu." Adi kembali memandangi Adelia yang sedang mengambil nasi dan lauk pauk untuknya sendiri. Kali ini Dita tidak berani mengusiknya lagi karena Rendra ada di sana.


Setelah Adelia mengambil makanannya, dia duduk di samping Adi. Mereka kemudian mulai makan bersama setelah berdoa.


Saat waktu menunjukkan pukul 09.00 malam, keluarga Pak Lukman pamit pulang. Adelia menyalami dan memeluk papa, mama, Arsenio dan juga Mbok Sum sebelum mereka meninggalkan rumah suaminya. Meski di satu sisi merasa sedih harus tinggal terpisah dengan mereka. Di sisi lain, Adelia bahagia bisa tinggal bersama Adi, yang sekarang sudah menjadi suaminya.


Setelah itu keluarga Ibu Dewi juga ikut pamit hingga tinggal mereka berenam. Pak Wijaya, Ibu Hasna, Rendra dan Dita menginap di sana. Mereka masih ingin menikmati kebersamaan yang jarang mereka lalui karena terpisah jarak.


"Mbak Adelia istirahat dulu sana. Belum beresin baju yang tadi dibawa juga kan," saran Ibu Hasna.


"Nanti saja, Tante. Saya bantu beres-beres dulu," tolak Adelia dengan sopan.


"Panggil bunda saja ya. Mbak Adelia kan sekarang juga sudah jadi anak bunda sama ayah," tutur Ibu Hasna lembut.


"Iya, Bun." Adelia menyengguk.


"Mas, ajak istrinya ke kamar," titah Ibu Hasna.


Adi mengangguk. Dia lalu bangkit menghampiri Adelia yang duduk di samping bundanya.


"Ke kamar yuk." Adi mengulurkan tangan pada istrinya.


"Tapi, Mas, sa- ...."


"Sudah, nanti pasti beres kok. Ayo." Adi meraih tangan Adelia, menggenggamnya lalu mengajak istrinya itu pergi ke kamar.


"Ayah, Bunda, Rendra, Dita, saya ke kamar dulu," pamit Adelia setelah Adi menggenggam tangannya. Adelia berjalan dengan menunduk karena merasa malu pada yang lainnya. Karena pengantin baru, dia jadi diistimewakan.

__ADS_1


"Ayo masuk. Ini sekarang jadi kamar kita." Adi membuka pintu kamar dan mempersilakan istrinya masuk terlebih dahulu. Sesudah mereka masuk, Adi mengunci pintu kamarnya.


Dengan malu-malu Adelia masuk ke kamar. Dia mengamati kamar dengan dinding serba putih dan dekorasi bernuansa serba hitam, termasuk lemari, meja, kursi, nakas dan ranjang. Hanya meja rias, yang sepertinya masih baru, yang berwarna putih.


"Kalau kamu tidak suka dengan dekorasi kamar ini, nanti kamu boleh merubahnya sesuai keinginanmu," ujar Adi setelah melihat istrinya memperhatikan sekeliling kamar.


"Ini sudah bagus kok, Mas," sahut Adelia sambil tersenyum pada suaminya.


"Meja rias ini kemarin Dita yang pilih, semoga kamu suka." Adi menunjuk meja rias yang masih kosong.


"Bagus, saya suka." Adelia duduk di kursi. Dia lalu melepas hijab dan aksesorisnya di depan meja rias.


"Bajumu nanti dimasukkan di sebelah ini, semoga cukup." Adi menunjuk ke lemari yang masih kosong. "Kalau kurang, besok bajuku yang lama dan sudah tidak terpakai diambil saja."


Adelia menoleh ke arah Adi. "Insya Allah cukup, Mas. Baju saya hanya sedikit yang panjang, gamis juga. Ini baru saya bawa beberapa gamis dan baju rumah karena kopernya tidak cukup."


"Besok kita mampir ke rumah papa untuk ambil baju lagi atau kamu bisa belanja baju baru," ujar Adi.


"Iya, Mas." Adelia membuka koper lalu menata bajunya di lemari. Dia menyisakan baju tidur yang nanti akan dipakai. Dia juga menata alat make up di meja rias. Setelah itu dia menaruh koper di samping meja rias.


Adelia tersenyum lebar, dalam hati dia memuji suaminya yang ternyata sudah menyiapkan banyak hal untuknya. Meksipun tidak pandai berkata romantis, baginya perhatian Adi akan kebutuhan dan keinginannya, itu sudah hal yang romantis.


"Kalau mau mandi ada air panas kok," ucap Adi setelah dia keluar dari kamar mandi. Adi terlihat segar dengan kaos oblong pendek dan celana kolor selutut. Baru kali ini dia melihat Adi dengan penampilan seperti itu.


"Adel," panggil Adi yang melihat istrinya bengong.


"Eh, iya, Mas." Adelia tersadar dari lamunannya.


"Jadi mau mandi?" Adi menatap istrinya.


Adi tertawa melihat tingkah istrinya yang salah tingkah. Dia lalu duduk di atas ranjang sambil mengecek pesan dan email yang masuk karena seharian tadi dia enggan membuka gawainya. Dia juga mengecek pesan dari Restu yang mengingatkan kalau besok siang Restu akan menunggunya di lobby sebuah hotel di pusat kota. Segala kata manis Restu tidak akan mempengaruhi emosinya hari ini karena kebahagiaannya mengalahkan segalanya.


Adi menoleh saat Adelia ke luar dari kamar mandi. Dia terpaku menatap istrinya yang memakai gaun tidur merah muda berbahan satin. Meski modelnya tidak seksi tapi cukup bisa membuat Adi menelan ludah karena melihat tubuh mulus wanita yang tadi baru dia halalkan.


"Mas Adi, kenapa melihatnya seperti itu? Apa enggak bagus ya bajunya? Apa aku harus ganti yang lain?" tanya Adelia menatap heran suaminya.


"Bagus kok, aku suka. Enggak perlu ganti. Duduk sini." Adi menepuk kasur di samping duduknya. Dia meletakkan gawai yang dia pegang tadi ke atas nakas.


Dengan langkah pelan, Adelia mendekati Adi. Dia merasa sangat gugup. Meski ini bukan pertama kalinya berdekatan dengan pria, tapi dengan Adi yang belum lama dia kenal dan sekarang menjadi suaminya, rasanya beda. Setelah naik ke atas ranjang, dia duduk di samping Adi.


Adi tersenyum menyambut istrinya. Dia lalu meraih tangan Adelia dan menggenggamnya.


"Kalau di sini ada keluarga yang lain, kamu enggak boleh ya berkeliaran di luar kamar dengan baju ini. Kalau kita sedang berdua tidak apa-apa. Aku enggak rela keindahan tubuhmu dilihat oleh orang lain," kata Adi yang mulai menunjukkan sifat posesifnya.


"Iya, Mas." Adelia mengangguk.


"Kamu boleh tidak pakai hijab di depan ayah, tetapi tidak boleh di depan Rendra. Jadi kalau Rendra di sini, hijabnya dipakai terus ya," lanjut Adi.


"Iya, Mas." Adelia kembali mengangguk.


"Terima kasih ya sudah mau menikah denganku." Adi mengecup punggung tangan istrinya.

__ADS_1


Adelia terkesiap mendapat perlakuan seperti itu. Tapi dia cepat menguasai diri kembali.


"Saya yang harusnya berterima kasih, Mas Adi sudah memiih saya menjadi istri." Adelia menatap mata pria yang kini sudah menjadi imamnya itu.


"Jangan pakai saya lagi. Aku merasa jadi atasanmu loh. Pakai aku ya mulai sekarang," pinta Adi.


Adelia mengiakan.


"Mas Adi, mmmm ... kenapa maharnya ditambah motor. Kan saya ... eh aku cuma minta seperangkat alat salat dan Al-Qur'an saja?" tanya Adelia dengan rasa penasaran.


"Itu hadiahku buat kamu. Hadiah pertamaku. Kenapa? Kamu enggak suka?"


"Suka, tapi apa Mas Adi enggak berlebihan?"


"Enggak. Sebenarnya itu alat transportasi kamu untuk ke kampus atau kalau kamu ada keperluan. Di sini, aku tidak punya motor, adanya sepeda, masa kamu ke kampus mau naik sepeda. Enggak kan?" Adi tersenyum.


"Karena pekerjaan, aku tidak bisa setiap saat mengantar dan menjemput kamu. Jadi aku berikan motor itu buat kamu, atas nama kamu. Motor itu sepenuhnya milikmu. Tapi mungkin sewaktu-waktu aku juga pinjam sih." Adi menerangkan alasannya memberi mahar motor.


"Tapi, aku masih ada motor yang biasa aku pakai, Mas."


"Itu kan motor dari orang tua. Ini motor dari suamimu. Ingat suami!" Adi menegaskan kata suami saat mengucapkannya.


"Iya. Terima kasih, Mas. Aku jadi merasa sangat beruntung dan dihargai sekali sama Mas Adi."


"Sama-sama. Kalau kamu butuh sesuatu bilang saja, tidak boleh sungkan. Karena aku tidak tahu kamu butuh apa saja. Kalau kamu ingin mendekor ulang rumah ini pun, silakan saja. Karena ini sekarang juga rumahmu. Insya Allah selama aku mampu, aku akan memberikan apa pun yang kamu inginkan. Karena aku ini sekarang suamimu yang sepenuhnya bertanggung jawab atas dirimu." Adi mulai berani mengelus pipi halus istrinya.


"Iya, Mas. Tapi, aku minta maaf karena belum bisa memasak. Aku nanti akan belajar masak sama Dita dan bunda."


"Enggak masalah. Lagian aku menikah enggak cari koki kok, aku cari istri. Untuk urusan masak, aku yang masak juga tidak apa-apa. Gampang lah soal itu, jangan dijadikan beban." Adi menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Adelia.


"Iya, Mas."


"Aku minta maaf kalau aku tidak bisa bersikap romantis seperti Rendra. Aku tidak terbiasa mengucapkan kata-kata yang manis. Tapi, aku akan belajar bagaimana caranya jadi pria yang romantis." Adi mengusap dagu wanita yang sudah mencuri hatinya itu.


"Aku mencari suami yang saleh dan bertanggung jawab, Mas. Bukan mencari pria romantis yang suka mengumbar kata-kata manis. Aku menerima Mas Adi apa adanya, seperti Mas Adi yang juga menerimaku apa adanya." Adelia menatap mata suaminya dengan senyum termanis.


Pelan-pelan Adi mendekatkan wajahnya, membuat Adelia terpaku.


"May i kiss you?" bisik Adi.


Adelia tidak menjawab, tetapi dia memejamkan mata. Memberi izin pada suaminya untuk menyentuhnya lebih intim.


Karena mendapat lampu hijau, Adi menempelkan bibirnya di bibir Adelia. Dengan pelan dia mulai menggerakkan bibirnya. Begitu menyentuh bibir lembut itu, tubuh Adi seakan seperti dialiri listrik.


Mereka sama-sama memejamkan mata. Menikmati sentuhan intim pertama mereka. Dengan pelan dan lembut mereka saling menyesap, dan menggigit kecil. Ini pengalaman pertama untuk Adi, tapi bukan untuk Adelia. Meski begitu, Adelia menghormati suaminya, dia mengikuti saja alur yang diciptakan Adi. Dia ingin menikmati sentuhan halal suaminya.


Berulang kali mereka menjeda sejenak untuk mengambil napas. Ciuman Adi pun mulai turun ke leher jenjang istrinya lalu ke dada wanita yang kini berada di bawah kungkungannya. Saat dia akan menyentuh bagian bawah tubuh istrinya, Adelia mencegah dengan tangannya.


"Maaf, Mas, aku baru berhalangan."


...---oOo---...

__ADS_1


Jogja, 150621 23.35


Piss yo ✌️✌️✌️


__ADS_2