
Setelah semalam bertemu dan mengobrol dengan Bara soal Restu, Adi mulai bisa sedikit tahu karakter pria berengsek itu. Sebagai mantan ketua OSIS dan pengurus BEM tentulah Restu bukan orang yang biasa saja. Dia pastinya bukan orang gegabah yang melakukan sesuatu tanpa dipikir dahulu. Orang yang pasti selalu punya rencana dan strategi dalam setiap apa yang dilakukan. Jadi dia juga harus punya rencana yang matang dan beberapa rencana cadangan.
Pagi ini Restu kembali mengirim pesan.
'Pagi, Yank. Gimana tidurnya tadi malam? Mimpiin aku enggak?'
'Semalam aku mimpiin kamu loh Yank, sampai aku harus keramas tadi š.'
'Nih aku kirimin fotoku yang habis keramas karena kamu, Yank.'
Restu mengirim foto selfie dengan rambut yang masih terlihat basah. Sepertinya dia mengambil foto setelah mandi.
'Aku kerja dulu, Yank. Enggak sabar nunggu Sabtu, miss you š.
Adi menghela napas panjang berkali-kali sambil beristighfar. Dia harus bisa menahan emosi agar tidak berkurang pahala puasanya. Percuma kan kalau hanya menahan lapar saja tanpa mendapat pahala puasa.
Adi meletakkan gawai itu di atas meja kerja, tidak membawanya. Setelah itu dia mengambil kunci mobil dan tas ransel untuk bekerja.
Saat dalam perjalanan ke proyek, Pak Lukman menelepon. Calon mertuanya itu mengabari kalau mereka bisa bertemu nanti sore sepulang kerja di sebuah restoran bersama dengan Ibu Sarah. Tentu saja Adi merasa senang, berarti kesempatannya untuk segera menikahi Adelia semakin besar.
Adi segera menelepon ayah dan bundanya. Dia memberi tahu kalau akan bertemu dengan kedua calon mertuanya untuk meminta izin agar bisa segera menikahi Adelia. Dia juga meminta restu dan doa agar diberi kelancaran. Seperti dugaannya, ayah dan bundanya menyambut gembira keinginan Adi untuk segera menikah meski secara agama terlebih dahulu.
Perasaan Adi yang tadi sempat agak bete langsung berubah bahagia. Dia terus tersenyum selama perjalanan menuju ke proyek. Tak berhenti dia mengucap syukur atas semua nikmat yang sudah Allah berikan padanya hari ini.
Adi bekerja dengan penuh semangat hari ini. Dia juga tak sabar menanti jam pulang kerja. Berkali-kali dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dia merasa sepertinya waktu berjalan lambat. Padahal biasanya dia bekerja tak pernah peduli waktu, tahu-tahu sudah jam pulang kerja. Mungkin karena dia terlalu antusias akan bertemu dengan Pak Lukman dan Ibu Sarah hingga seperti ini, entahlah.
Begitu jam kerja selesai, Adi langsung merapikan barang-barangnya. Setelah pamit dengan teman-teman kerja, dia bergegas menuju ke mobilnya. Tak mengapa bila dia sampai di restoran lebih dahulu, daripada kedua calon mertuanya harus menunggunya.
Sesampai di restoran, dia menanyakan reservasi atas nama Pak Lukman. Seorang staf restoran kemudian mengantarnya ke tempat yang sudah dipesan calon mertuanya. Setelah mengucapkan terima kasih dia duduk di salah satu kursi. Dia mengambil gawai untuk mengirim pesan pada ayah, bunda dan adiknya, meminta doa mereka agar semuanya dilancarkan.
Sekitar 10 menit kemudian, Pak Lukman dan Ibu Sarah tiba di restoran. Mereka langsung menuju meja reservasi dengan diantar staf restoran yang tadi juga mengantar Adi.
Adi segera berdiri begitu melihat kedua calon mertuanya mendekat. Dia langsung memberi salam dan mencium punggung tangan mereka dengan takzim. Setelah Pak Lukman dan Ibu Sarah duduk, dia baru duduk di depan mereka.
"Sudah lama, Mas Adi?" tanya Ibu Sarah dengan senyum ramahnya.
"Belum, Tante. Saya juga baru datang," jawab Adi juga sambil menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Kita pesan dulu saja, jadi nanti pas buka tinggal membatalkan puasa." Pak Lukman memanggil salah satu staf restoran untuk mencatat pesanan mereka.
Ibu Sarah memesan beberapa menu makanan dan minuman untuk mereka setelah sebelumnya menawarkan menu apa yang diinginkan. Setelah staf itu mencatat dan mengkonfirmasi kembali pesanan, dia meninggalkan meja mereka.
"Bagaimana kabar ayah dan bunda, Mas?" tanya Ibu Sarah.
"Alhamdulillah baik dan sehat, Tante. Ayah dan bunda mengirim salam tadi untuk Om dan Tante," jawab Adi.
"Wa'alaikumussalam," jawab Ibu Sarah dan Pak Lukman bersamaan.
"Nak Adi, ada apa sebenarnya ingin bertemu kami berdua tanpa Adelia? Sepertinya sangat penting." Pak Lukman menatap Adi dengan serius.
"Om dan Tante pasti sudah mengetahui soal pesan dari Restu sampai membuat Adelia mengganti nomor ponselnya." Adi memandang kedua orang di depannya bergantian.
"Iya, kami sudah tahu, Mas," sahut Ibu Sarah.
"Saat ini nomor ponsel Adelia yang lama saya bawa. Restu masih terus mengirimi pesan karena memang sengaja tidak saya blokir agar saya tahu apa saja yang ingin dia katakan dan lakukan pada Adelia. Tapi maaf, ponselnya tidak saya bawa. Karena dari proyek saya langsung ke mari."
"Tidak apa-apa, Mas," kata Ibu Sarah bijak.
"Saya sangat ingin melindungi dan menjaga Adelia. Posisi saya sebagai calon suami tidak cukup kuat untuk menghadapi Restu. Karena itu pada kesempatan ini saya ingin mohon izin pada Om dan Tante untuk segera menikahi Adelia agar saya bisa total melindunginya. Menikah secara agama dulu tidak apa-apa. Untuk resminya sesuai yang sudah direncanakan." Adi memandang kedua calon mertuanya dengan tatapan memohon.
Pak Lukman dan Ibu Sarah terlihat terkejut setelah mendengar keinginan Adi. Mereka terdiam dan saling berpandangan. Adi juga diam sambil menunggu jawaban mereka dengan perasaan campur aduk.
Pak Lukman menarik napas panjang. Dia menatap Adi yang tampak gugup menunggu jawabannya. Pria muda di depannya itu benar-benar mencintai putrinya karena sangat ingin melindungi Adelia.
"Om sangat menghargai niat baik, Nak Adi. Kalau melihat situasi saat ini, sepertinya menikah adalah solusi terbaik. Menurut, Mama, bagaimana?" Pak Lukman menoleh pada istrinya.
Tanpa diduga Ibu Sarah tampak mengusap sudut matanya.
"Mama kenapa?" tanya Pak Lukman sambil merangkul bahu istrinya.
"Mama terharu, Pa. Mama bahagia karena ternyata Mas Adi sangat mencintai Mbak Adel dan ingin melindunginya. Mama merasa Mas Adi memang pria yang paling tepat untuk putri kita." Ibu Sarah menatap mata suaminya.
"Mama ikhlas kalau Mas Adi ingin segera menikahi Mbak Adel." Ibu Sarah kembali mengusap sudut matanya.
"Nak Adi, sudah mendengar sendiri jawaban mamanya Adelia. Kami mengizinkan kalau Nak Adi ingin segera menikah dengan putri kami."
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih, Om, Tante." Wajah Adi saat itu juga langsung berubah ceria. Dia bersyukur karena semuanya dilancarkan.
"Tante yang harusnya berterima kasih pada Mas Adi karena sudah menerima Adelia apa adanya dengan semua masa lalunya. Tante sempat takut kalau hari ini Mas Adi mau mundur atau menunda pernikahan karena masalah Restu." Ibu Sarah memandang Adi penuh rasa haru.
"Saat saya sudah memantapkan hati untuk melamar Adelia, saya sudah berjanji tidak akan mundur apa pun yang terjadi, kecuali Adelia yang memang tidak ingin meneruskan dengan alasan yang masuk akal." Adi meyakinkan kedua calon mertuanya.
"Lalu kapan rencana Nak Adi untuk menikah dengan Adelia?" tanya Pak Lukman.
"Kalau bisa secepatnya, Om. Sebelum hari Sabtu besok. Karena saya berencana menemui Restu bersama Adelia saat saya sudah sah sebagai suaminya. Semoga setelah itu dia tidak akan mengganggu Adelia lagi."
"Sekarang sudah hari Rabu, kalau sebelum Sabtu hanya tinggal 2 hari. Bagaimana, Ma?" Pak Lukman minta pertimbangan lagi pada istrinya.
"Mungkin bisa hari Jumat. Tapi kalau malam bagaimana, Mas?"
Adi mengangguk. "Insya Allah, saya siap. Nanti akan saya sampaikan pada ayah dan bunda."
"Maaf Om, Tante, kalau acaranya sederhana saja bagaimana? Cukup mengundang Pak RT dan Pak RW sebagai saksi. Karena saya menduga ada tetangga yang menjadi mata-mata Restu. Saya ingin memberi kejutan pada Restu," pinta Adi seraya mengungkapkan alasannya.
"Soal mata-mata itu Arsen juga sudah bilang sama Om. Dia juga sedang mencari tahu siapa oknumnya. Om setuju saja dengan Nak Adi. Mama gimana?"
"Mama juga setuju, karena semua juga demi kebaikan. Nanti kita bisa syukuran setelah Mas Adi dan Mbak Adel bertemu Restu," ujar Ibu Sarah.
"Alhamdulillah, terima kasih Om dan Tante. Lalu untuk mahar bagaimana? Apa Om dan Tante ingin sesuatu?"
"Semampu dan sepantasnya menurut Nak Adi saja. Toh kalian masih harus menikah secara resmi lagi nanti. Jangan sampai mahar memberatkan, Nak Adi. Atau Nak Adi bisa bertanya sendiri pada Adelia ingin mahar apa."
"Baik, Om."
...---oOo---...
Jogja, 110621 23.59
Cerita ini mengikuti kontes You Are A Writer Seasons 5, mohon dukungannya šš¤
Kalau ada masukan, kritik dan saran yang membangun, boleh via kolom komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82
Jangan lupa ritual jempol atau like-nya setelah membaca ya, Kak. Karena satu jempol atu like sangat berarti. Terima kasih šš¤
__ADS_1