Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Interogasi


__ADS_3

"Mas, akuβ€”aku belum siap," ucap Adelia lirih. "Maaf."


Adi tersenyum lalu mengelus punggung tangan istrinya. "Enggak apa-apa, Ai. Tidak perlu minta maaf."


"Tapiβ€”aku jadi menghambat proses penyidikan."


Adi menggeleng. "Bukti CCTV sudah jelas membuktikan kalau Sekar bersalah. Dia ada di tahanan sekarang. Polisi memang perlu keterangan dari saksi. Aku juga akan jadi saksi, Ai. Tapi, polisi akan menunggu sampai Ai siap."


"Ai, sekarang fokus untuk pemulihan saja. Jangan memikirkan yang lain," lanjut Adi menenangkan sang istri.


"Iya, Mas." Dalam hati Adelia merasa tenang karena suaminya sangat pengertian. Dia masih butuh waktu untuk menyiapkan mental, mengingat semua kejadian yang menjadi mimpi paling buruknya.


"Ai, mau makan apa nanti?" tanya Adi untuk mengalihkan perhatian sang istri yang tampak melamun.


"Aku makan yang disediakan rumah sakit saja, Mas," jawab Adelia.


"Benar enggak mau makan sesuatu?" tanya Adi memastikan.


Adelia menggeleng. "Iya, Mas."


"Anak salihah, tidak pernah menyusahkan umi." Adi mencium lalu mengelus perut istrinya yang sudah terlihat membuncit. "Kalau Ai mau makan sesuatu, bilang ya."


"Iya, Mas. Eh, dia bergerak." Adelia meletakkan tangan Adi di mana sang janin merasakan pergerakan.


"Anak abi kuat. Sama kaya Uminya juga kuat. Bantu Umi untuk melewati semuanya ya, Mbak. Abi akan selalu bersama dan mendukung kalian." Adi berbicara di depan kandungan istrinya sambil merasakan pergerakan calon buah hati mereka. Dia sangat bersyukur karena kehadiran janin itu memberi setitik kebahagiaan untuk mereka berdua. Bisa sejenak melupakan peristiwa pahit dan mengerikan tempo hari.


"Mas Adi, panggil anak kita 'mbak'?"


"Iya, kan dia paling tua jadi pasti nanti adik-adiknya manggil dia mbak. Ale juga bakal manggil dia mbak. Kenapa? Ai, tidak suka?"


"Enggak, bukan begitu. Aku kaget saja tadi Mas Adi panggil mbak."


"Apa Ai punya usul panggilan untuk anak kita? Kaya Boy sama Ale juga panggilan saat masih di dalam kandungan."


"Boy itu siapa, Mas?" Adelia mengernyit.


"Ai, tidak tahu ya. Boy itu panggilannya Akhtar. Anak pertama Rendra sama Dita," terang Adi.


"Oh, Rendra sama Dik Dita enggak pernah cerita soal itu. Berarti sama kaya Ale ya, sudah dipanggil Ale sejak Dik Dita hamil dan tahu jenis kelaminnya."


Adi menyengguk. "Iya, Ai. Gimana mau cari nama panggilan untuk anak kita?"


Adelia menggeleng. "Aku enggak ada ide, Mas. Dipanggil mbak juga enggak apa-apa. Dia kan nanti juga akan dipanggil mbak sama adik dan saudara sepupunya."


"Siplah kalau begitu." Adi tersenyum menatap istrinya dengan penuh cinta.


"Ouch." Adelia meringis sambil memegangi bagian perutnya yang terluka.


"Kenapa, Ai?" Adi mengerutkan kening, merasa khawatir.


"Ketendang dekat yang sakit, Mas." Adelia menggigit bibir menahan rasa nyeri yang dirasakan.


"Sabar, Ai. Istighfar." Adi menenangkan istrinya.


"Mbak, nendangnya pelan-pelan ya, kasihan Umi masih sakit. Anak abi yang pintar dan salihah nendangnya jangan di sebelah sini dan sini, di bagian yang lain saja ya, Nak." Adi kembali berbicara dengan calon anak mereka sambil mengelus di samping bagian perut yang sakit dan yang tidak.


"Memangnya dia ngerti, Mas?"


"Anakku kan pintar, pasti ngertilah," sahut Adi penuh percaya diri.


"Aamiin," ucap Adelie sembari tersenyum lebar.


Sementara itu di kantor polisi, Kaisar sedang berada di ruang interogasi. Dia bersama dua anggotanya, satu orang dengan laptop di depannya dan seorang polwan. Ada Sekar Ayu dan juga pengacaranya di sana. Wanita itu baru mau diinterogasi setelah bertemu dan didampingi pengacara.


"Saudari Sekar Ayu, apa yang Anda lakukan pada hari Selasa tanggal 7 Desember 20xx pada pukul 05.00 sore?" tanya petugas.


"Saya pergi ke mal depan," jawab Sekar Ayu.


"Untuk apa Anda pergi ke mal?"

__ADS_1


"Lagi ingin jalan saja, sekalian window shopping sebelum belanja kebutuhan harian di supermarket lantai bawah."


"Apa Anda bertemu dengan Saudara Adi dan Adelia?"


Sekar Ayu menggeleng. "Saya tidak bertemu mereka."


"Kamu jangan bohong, Sekar!" hardik Kaisar.


"Aku tidak bohong. Kamu lihat saja rekaman CCTV apa aku terlihat bicara dengan mereka," balas Sekar sengit.


"Pertanyaannya akan saya ganti, Ndan," ujar petugas yang berhadapan dengan laptop.


"Apa Anda melihat Saudara Adi dan Adelia di mal tersebut?" Petugas itu melanjutkan pertanyaannya.


"Iya, saya tidak sengaja melihat mereka berdua."


"Di mana Anda melihat mereka?"


"Di toko Momcare."


"Di mana posisi Anda saat itu?"


"Di seberang toko."


"Apa Anda sengaja memata-matai mereka?"


"Saya hanya melihat mereka tidak memata-matai. Lagian saya juga bukan mata-mata."


"Berapa lama hal itu Anda lakukan?"


Sekar Ayu tampak berpikir sejenak. "Kurang lebih setengah jam."


"Kenapa Anda terus melihat mereka?"


"Karena saya bahagia bisa melihat Mas Adi. Saya kangen banget sama dia." Sekar Ayu tersenyum sendiri membayangkan wajah pria pujaannya.


"Tapi Saudara Adi sudah punya istri, kenapa Anda masih mengharapkan suami orang?"


"Adi sudah melupakanmu, Sekar. Jangan seperti pungguk merindukan bulan," tukas Kaisar.


"Kamu enggak usah ikut campur urusanku," sahut Sekar Ayu.


"Aku harus ikut campur karena kamu sudah menyakiti istri dari sahabatku. Ini bukan terormu yang pertama kali pada mereka, Sekar. Aku pastikan kamu akan mendapat hukuman yang berat dan setimpal," tekan Kaisar.


Sekar Ayu tertawa. "Aku tidak takut karena aku tidak merasa salah."


"Sebaiknya kita kembali ke proses interogasi. Jangan melebar ke mana-mana," sela sang pengacara.


"Apa Anda mencintai Saudara Adi?" tanya penyidik kemudian.


Sekar Ayu menyengguk. "Tentu saja. Mas Adi cinta pertama dan akan jadi cinta terakhir saya."


"Apa karena cinta buta itu yang membuat Anda mencelakai istrinya?"


"Hei! Saya tidak buta, Pak. Saya masih sehat dan normal. Wanita itu sudah merebut Mas Adi dari saya, jadi saya cuma mengambil apa yang sebenarnya milik saya."


"Jangan mengada-ada, Sekar. Adel tidak merebut Adi dari siapa pun," tampik Kaisar.


"Siapa yang mengada-ngada? Aku bicara kenyataan. Kalau enggak ada wanita itu, pasti Mas Adi sekarang sudah menjadi milikku." Sekar kembali tersenyum sembari membayangkan dirinya menjadi istri Adi.


Kaisar menggelengkan kepala mendengar ucapan Sekar yang begitu percaya diri.


"Kapan Anda berniat mencelakai Saudari Adelia?"


"Saat melihat Mas Adi meninggalkan wanita itu."


"Apa yang Anda lakukan setelah Saudara Adi pergi?"


"Saya ikuti wanita itu masuk ke toilet."

__ADS_1


"Lalu Anda menusuk Saudari Adelia?"


Sekar Ayu menggeleng. "Saya menunggu dia menyelesaikan hajatnya. Terus saya ajak dia bicara."


"Apa yang Anda bicarakan dengan Saudari Adelia?"


"Saya mau dia menyerah dan melepas Mas Adi, tapi wanita itu tidak mau. Terpaksa saya memberinya pelajaran," ucap Sekar Ayu berbohong.


"Memberi pelajaran dengan menusuknya?"


Sekar Ayu mengangguk. "Dia tidak pantas menjadi istri dan mengandung anak Mas Adi. Cuma saya yang pantas jadi istrinya."


"Bangun dari mimpimu, Sekar," desis Kaisar.


Sekar Ayu menatap tajam Kaisar. "Jangan sembarangan bicara ya. Aku tidak sedang bermimpi. Itu kenyataannya."


"Aku sama Mas Adi itu saling cinta. Tidak ada yang bisa memisahkan kami. Aku sekarang akan melawan semua orang yang menghalangi kami bersatu. Aku sudah bukan Sekar Ayu yang dulu, yang hanya menuruti bapak dan ibu," imbuhnya penuh emosi.


"Bu Sekar, tahan emosinya. Sebaiknya menjawab yang ditanyakan penyidik saja jangan melebar ke mana-mana," nasihat sang pengacara yang dibalas dengan anggukan oleh Sekar Ayu.


"Apa berarti Anda berniat membunuh Saudari Adelia dan janin dalam kandungannya?" Polisi melanjutkan lagi interogasinya.


"Saya ingin menyingkirkan mereka, bukan membunuhnya." Sekar Ayu berkelit.


"Lalu menyingkirkan itu maksudnya bagaimana?"


"Ya menyingkirkan. Masa Bapak tidak tahu arti menyingkirkan," seru Sekar Ayu.


"Menyingkirkan bisa bermacam-macam caranya. Bisa dengan memberi pengertian, memintanya pergi, meneror, melukai, membunuh atau yang lainnya. Maksud Anda yang mana?" tanya Polisi sekali lagi.


"Intinya saya tidak ingin melihat dia menjadi istri Mas Adi," jawab Sekar Ayu yang tidak mau mengakui kalau dia berniat membunuh Adelia.


"Dengan apa Anda menusuk Sekar Ayu?"


"Gunting kecil."


"Dari mana Anda mendapatkan gunting tersebut?"


"Gunting itu memang selalu saya bawa setiap hari."


"Untuk apa membawa setiap hari? Apa sengaja untuk melukai kalau bertemu dengan Saudari Adelia?"


"Bapak ini enggak paham kebutuhan dan perlengkapan wanita ya. Gunting itu banyak fungsinya, Pak. Kadang pakaian kita ada benangnya yang keluar, itu bisa digunting. Bisa juga untuk perlindungan diri. Apalagi saya selalu pergi sendiri. Atau untuk menggunting sesuatu saat di luar rumah, kemasan makanan misalnya."


"Jadi gunting itu spontanitas saja dipakai untuk menusuk Saudari Adelia?"


Sekar Ayu menganggut. "Saya ingat bawa gunting, ya saya pakai saja daripada harus membeli pisau di supermarket akan lebih memakan waktu."


"Berarti kalau ada pisau, Anda akan menusuk dengan pisau?"


Sekar Ayu kembali mengangguk. "Saya jadi menyesal kenapa tidak bawa set pisau lipat kemarin."


Kaisar merasa geram dengan jawaban Sekar Ayu. Wajahnya jadi merah karena marah. "Berarti kamu berniat membunuh Adelia kalau begitu," hardiknya.


"Aku mau menyingkirkan untuk memberi pelajaran bukan membunuh," elak Sekar Ayu.


"Berengsek!" Kaisar memukul meja dengan keras membuat semua orang yang ada di sana terkesiap. Kalau saja Sekar Ayu itu seorang pria pasti akan dia hajar sampai tidak berkutik dan mengakui perbuatannya. Namun, perwira itu tidak mau dan tidak bisa memukul wanita meskipun wanita itu adalah seorang penjahat, karena ibu, adik, dan istrinya seorang wanita.


"Tenang, Ndan," ujar polwan yang di sana. "Kita pasti akan menjebloskan dia ke penjara dengan hukuman maksimal," sambungnya.


Sekar Ayu tersenyum sinis mendengar ucapan sang polwan. "Coba saja kalau bisa," tantangnya yang terdengar meremehkan.


"Kamu ...."


...---oOo---...


Jogja, 240322 00.10


Nungguin ya?

__ADS_1


Ya nungguinlah masa enggak 🀭🀭🀭


Eh ada yang nungguin enggak sih πŸ€”πŸ€”πŸ€”


__ADS_2