Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Rentetan Pesan


__ADS_3

Adi masuk ke kamarnya setelah memastikan semua pintu terkunci dan memadamkan lampu yang tidak terpakai. Malam ini dia di rumah sendiri karena Dita dan Rendra pulang ke rumah sebelah, sesudah dari rumah Adelia.


Dia duduk di depan meja kerja dan membuka salah satu laci tempat menyimpan gawai lamanya. Dia mengambil simcard Adelia dari dalam dompet lalu dipasang ke gawainya. Dia lalu mengaktifkan gawai sambil mengecek kondisi baterai yang ternyata masih tersisa 50%.


Dia membuka aplikasi WhatsApp dan mengetik nomor Adelia untuk masuk ke akun WhatsApp. Setelah dipastikan masuk dan mengatur beberapa pengaturan, dia meletakkan gawai di atas nakas. Kemudian dia beranjak mengambil baju tidur dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan juga berwudu.


Sepuluh menit kemudian dia ke luar dari kamar mandi dan langsung naik ke atas ranjang king size-nya. Dia duduk sambil bersandar di headboard usai mengambil gawai lamanya. Keningnya berkerut karena mendapati beberapa pesan masuk yang sepertinya dari Restu.


'Malam, Yank. Apa kabar? Aku kangen.'


'Aku ingin ketemu kamu, Yank. Besok Sabtu aku pulang, kita ketemu ya.'


'Aku masih cinta kamu, Yank.'


'Please jangan blokir nomorku lagi, Yank.'


Adi membaca satu per satu pesan yang dia yakini dari Restu. Dia merasa geram pada Restu tapi tetap berusaha mengendalikan dirinya. Dia tidak akan membalas pesan itu atau memblokir nomornya. Dia ingin melihat apa yang akan dikirim Restu lagi nanti.


Dia lalu ingat akan mengirim pesan pada Arsenio ingin meminta nomor Pak Lukman. Sebelum nanti lupa lagi, dia segera mengambil gawai barunya dan mengetik pesan untuk Arsenio lalu mengirimnya. Tanpa menunggu jawaban, dia meletakkan kedua gawainya di atas nakas kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang untuk tidur.


...---oOo---...


'Pagi, Yank. Aku hepi nomorku enggak kamu blokir lagi. Apa ini pertanda baik, Yank?'


'Aku jadi semangat kerja hari ini, Yank.'


'Enggak apa-apa enggak dibalas. Udah kamu buka dan baca aja aku udah seneng, Yank.'


'Miss you, Yank. See you on Saturday 😘.'


Adi mendengkus kesal membaca semua pesan yang dikirim Restu pagi ini. Tadi selepas mandi, dia hanya iseng mengecek gawainya, ternyata ada pesan dari Restu. Dia lalu melempar gawainya sembarangan ke atas ranjang. Jangan sampai mood-nya hancur hanya gara-gara pria berengsek itu.


Dia mengecek gawai yang satu lagi, ada balasan pesan dari Arsenio yang memberinya nomor Pak Lukman. Segera dia balas Arsenio dengan ucapan terima kasih, setelah itu dia menyimpan nomor ponsel Pak Lukman. Nanti saat istirahat siang, dia akan menghubungi calon mertuanya itu.


"Assalamu'alaikum, selamat siang Om. Ini saya Adi," salam Adi setelah Pak Lukman menerima panggilannya usai menjalankan salat Zuhur.


"Wa'alaikumussalam, siang Nak Adi," balas Pak Lukman dari seberang telepon.


"Maaf sebelumnya, apa saya menganggu pekerjaan Om?"


"Oh, enggak. Lagian ini juga jam istirahat. Ada apa, Nak Adi?"


"Begini Om, ini ada kaitannya dengan masalah Restu. Saya ingin bertemu dengan Om sendiri atau berdua dengan Tante tapi tanpa Adelia. Ada yang ingin saya bicarakan." Adi mengungkapkan alasannya menelepon Pak Lukman.

__ADS_1


"Berarti kita bertemu di luar ya, tidak di rumah?"


"Iya, Om. Bisa sekalian saat buka puasa kalau Om berkenan."


"Bisa, bisa. Kapan dan di mana ya?"


"Saya ikut Om saja waktu dan tempatnya."


"Oke, nanti Om bicarakan dulu dengan mamanya Adelia. Nanti Om hubungi untuk waktu dan tempatnya."


"Baik, terima kasih, Om." Mereka masih mengobrol beberapa saat sebelum mengakhiri panggilan.


Adi merasa lega, dalam hati dia berdoa semoga saja bisa segera bertemu dan bicara dengan kedua orang tua Adelia. Karena semakin cepat akan semakin baik. Selama dia belum menikah dengan Adelia, dia masih belum merasa tenang.


Hari ini dia pulang kerja tepat waktu tanpa lembur seperti biasa. Sebelum pulang dia membeli makanan untuk buka puasa. Dia sudah menghubungi adik semata wayangnya untuk menemaninya berbuka di rumah. Entah kenapa rasanya dia malas buka puasa sendiri. Untung saja adiknya mau menemaninya.


Sebenarnya tadi dia juga menghubungi Bara, mengajaknya buka puasa bersama sekaligus ingin mengorek keterangan soal Restu. Tapi karena Bara sudah ada janji dengan orang lain, jadi tidak menyanggupinya. Meski begitu Bara janji akan datang nanti sekitar pukul 08.00 malam ke rumahnya.


Saat Adi sampai di rumah, ternyata Dita sudah ada di sana, duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Setelah mengucap salam dan melakukan ritual setiap baru bertemu, Adi duduk di samping Dita. Dia meletakkan makanan yang tadi dia beli di atas meja.


"Kok sendiri, Dek. Rendra mana?" Adi celingukan mencari adik iparnya.


"Mas Rendra buka puasa sama teman-teman seangkatan yang satu jurusan."


"Mbak Adel enggak ikut, Mas. Dia jadi takut pergi-pergi sekarang."


Adi menghela napasnya. "Mas salah ya, Dek, jadi buat Adelia takut."


"Enggak, Mas. Kan semua juga demi kebaikan." Dita tertarik membuka kantong makanan yang tadi Adi beli. "Ini beli apa aja, Mas?"


"Lihat aja, Dek. Habis ini disiapin ya. Mas mau mandi dulu." Adi membelai kepala adiknya.


"Siap, Mas." Dita segera membawa kantong makanan ke dapur setelah Adi masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti baju.


Adi dan Dita buka puasa berdua. Mereka menikmati quality time yang sangat jarang mereka dapatkan sekarang.


"Mas, boleh lihat pesannya Restu?" tanya Dita setelah makanan di piring mereka ludes tanpa sisa.


"Lihat aja, Dek, kalau mau. Mas ambilin hp-nya dulu." Adi beranjak dari duduknya setelah minum segelas air putih hingga tandas.


Sementara menunggu kakaknya, Dita membereskan alat makan mereka dan langsung dicuci di wastafel. Setelah itu dia duduk di sofa ruang tengah.


"Mas, ngapain? Kok lama?" teriak Dita karena Adi belum juga keluar kamar.

__ADS_1


Adi tidak menjawab, dia ke luar kamar dengan wajah memerah sambil menggenggam gawainya.


Dita melihat ada yang tidak beres karena ekspresi kakaknya yang terlihat menahan amarah. Dia menghampiri kakaknya, lalu merangkul lengan kirinya, menuntun untuk duduk di sofa.


"Mas, kenapa?" tanya Dita dengan wajah khawatir.


Adi tidak menjawab, dia menyerahkan gawainya pada Dita. "Baca, Dek."


Dita segera membaca pesan yang baru saja dibuka kakaknya.


'Sore, Yank. Lagi ngapain? Aku kangen.'


'Aku kangen ngabuburit bareng kamu, Yank.'


Restu mengirim foto saat pipinya dicium Adelia.


'Aku juga kangen dicium kaya gini, Yank.'


'Can't wait to see you on Saturday, Yank 😘.'


Dita terkejut membaca semua pesan Restu dari awal. Pantas saja kalau kakaknya sampai menahan amarah karena melihat foto dan pesan terakhir Restu. Pria mana yang rela calon istrinya dirayu dan didekati pria lain.


"Mas ini dihapus saja ya foto sama chat-nya?" Dita meminta persetujuan kakaknya.


Adi menggeleng. "Udah, biarkan begitu saja, Dek. Mas mau ngumpulin bukti, siapa tahu nanti berguna. Mas ingin tahu sejauh mana dia coba merayu dan mendekati Adelia lagi."


"Meski Mas nanti akan sakit hati dan cemburu?"


Adi mengangguk. "Enggak apa-apa. Insya Allah, mas masih bisa menahannya."


"Terus ini mau dibalas enggak, Mas?"


"Enggak perlu. Biarkan dia merasa senang dulu."


...---oOo---...


Jogja, 100621 23.59


Cerita ini mengikuti kontes You Are A Writer Seasons 5, mohon dukungannya šŸ™šŸ¤—


Kalau ada masukan, kritik dan saran yang membangun, boleh via kolom komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82


Jangan lupa ritual jempol atau like-nya setelah membaca ya, Kak. Karena satu jempol atau like sangat berarti. Terima kasih šŸ™šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2