Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
The Storm 3


__ADS_3

Setelah Rendra berhasil membujuk Dita agar tetap di rumah, dia segera pergi ke Masjid Syuhada. Dengan motor sport 250 cc-nya, dia membelah jalanan dengan kecepatan tinggi layaknya seorang pembalap yang sedang bertanding di arena balap. Menyalip kiri kanan kendaraan yang menghalangi jalannya agar cepat sampai di tujuan.


Tak sampai 10 menit dia sudah sampai di TKP. Keadaan di sana sudah tidak begitu ramai dengan kerumunan. Ada beberapa sosok polisi yang sedang meminta keterangan pada beberapa orang. Dia memarkirkan motor di dekat mobil Adi yang masih terparkir di pinggir jalan depan masjid.


"Mas, parkirnya jangan di dekat sini. Ini untuk olah TKP," tegur salah seorang polisi yang bernama Dhafinβ€”dari bordiran nama di seragamnya.


"Saya, adiknya yang ditabrak tadi, Pak," kata Rendra pada polisi tadi.


Ada seorang yang berpakaian bebas kemudian menghampirinya. Sosoknya tinggi, tegap dengan wajah tampan dan berambut cepak. "Adiknya Adi?" tanya pria itu dengan kening berkerut.


"Iya, saya Rendra. Adik iparnya Mas Adi," jawab Rendra sambil menatap pria itu.


"Oh, suaminya Dita?" tanya pria itu lagi.


"Iya." Rendra menganggukkan kepala.


"Aku Kaisar, temannya Adi." Kaisar mengulurkan tangan mengajak Rendra bersalaman. Meski mereka berada di satu grup WhatsApp yang dibuat Adi, tetapi mereka belum pernah resmi berkenalan.


Rendra menyambut uluran tangan Kaisar. Mereka kemudian bersalaman sambil saling melempar senyum.


'Lumayan juga suaminya Dita, sepertinya bukan orang sembarangan.'


'Untung aku sudah menikah dengan Dita, kalau tidak, pria ini pasti jadi sainganku.'


"Bagaimana kronologinya, Mas?" tanya Rendra pada Kaisar, mengesampingkan semua rasa cemburunya.


"Kata saksi mata, Adi ditabrak mobil dari arah belakang. Setelah menabrak mobilnya terus lari. Katanya tadi sempat dikejar sama beberapa orang. Aku masih belum dapat info terkejar atau tidak. Tapi, aku sudah mengumumkan untuk mencari mobil karimun hitam dengan plat nomor yang tadi dikasih Adi," jelas Kaisar.


"Kejadiannya di sebelah mana, Mas?" tanya Rendra penasaran.


"Pas di depan mobil. Menurut saksi mata, tadi Adi jatuh di sini." Kaisar menunjuk aspal di samping mobil Adi.


"Mobil ini ada dashcam-nya, Mas. Kalau mau bisa dilihat rekaman kejadiannya," kata Rendra. (dashcam : kamera dashboard)


"Wah, bagus kalau begitu. Kunci mobilnya mana?"


"Coba saya tanya Arsen dulu." Rendra kemudian menelepon Arsenio menanyakan di mana kunci mobil Adi.


"Mas Kai, ternyata kuncinya dibawa Arsen. Apa saya ambil dulu ke rumah sakit?"


"Kalau begitu, aku ikut. Sekalian aku juga mau lihat keadaan Adi," kata Kaisar.


Rendra dan Kaisar lalu berboncengan dengan motor menuju ke rumah sakit yang terletak di Jalan Jend. Sudirman. Sepanjang perjalanan yang hanya ditempuh dalam lima menit itu, mereka berdua sama sekali tidak saling bicara.


Sesampai di rumah sakit, Rendra memarkirkan motor, sedangkan Kaisar langsung masuk ke IGD, mencari keberadaan Adi.


"Sus, pasien atas nama Adi yang tadi dibawa ke sini dengan ambulans dari masjid di Kotabaru di sebelah mana?" tanya Kaisar di bagian informasi.


"Di ujung sana, Pak. Maaf bapak ini siapa?"


"Saya polisi yang menangani kasus tabrak larinya," ucap Kaisar.


"Silakan, Pak. Tadi pasien ditunggu istri dan adiknya."


"Terima kasih." Kaisar bergegas menuju ke tempat Adi dirawat.


"Selamat malam," sapa Kaisar begitu tiba di ruangan Adi.


"Malam, maaf bapak siapa?" tanya Arsenio.


"Saya Kaisar, polisi, temannya Adi," jawab Kaisar.


"Oh, Mas Kaisar. Kenalkan saya Arsenio, adik iparnya Mas Adi. Dan itu kakak saya, Mbak Adelia, istrinya Mas Adi." Arsenio mengulurkan tangan pada Kaisar. Mereka kemudian bersalaman.


"Bagaimana keadaan Adi?" tanya Kaisar setelah melihat Adi yang masih terbaring dengan mata terpejam. Ada selang oksigen di hidungnya. Sementara di sisi ranjang, duduk seorang wanita berhijab yang terus menggenggam tangan dan membelai kepala Adi. Bahkan kehadirannya pun sama sekali tidak dihiraukan.


"Masih belum sadar, Mas. Alhamdulillah tanda vitalnya bagus. Tapi tadi kadar oksigennya di bawah normal makanya terus dikasih oksigen," terang Arsenio.


"Bisa kita bicara di luar?" tanya Kaisar pada Arsenio.


"Bisa, Mas. Saya pamit dulu sama kakak saya." Arsenio mendekat Adelia.

__ADS_1


"Mbak, aku ke depan sebentar ya." Arsenio memegang bahu kakaknya.


Adelia menoleh, lalu menganggukkan kepala tanpa menjawab.


Arsenio mengikuti Kaisar ke depan. Kebetulan Rendra baru saja masuk IGD setelah memarkirkan motor.


"Mumpung kita bertiga bertemu, sekarang kita bicarakan tentang kasus Adi ini," kata Kaisar pada Rendra dan Arsenio.


"Iya, bagaimana, Mas?" tanya Arsenio.


"Kalau memang nanti terbukti Restu yang melakukan, nanti kita bisa menjeratnya dengan pasal berlapis. Kasus pengancaman, tabrak lari dan percobaan pembunuhan. Kalian siap kan membantu?" Kaisar memandang Rendra dan Arsenio bergantian.


"Insya Allah, kami siap," sahut Rendra.


"Nanti kita coba lihat rekaman kejadian dari dashcam. Semoga plat nomornya juga terekam biar lebih jelas. Untuk sementara ini, kami baru bisa meminta keterangan dari saksi mata. Adi dan istrinya jelas belum bisa memberi keterangan," ujar Kaisar.


"Mbak Adel masih sangat syok. Dari tadi hanya menangis dan diam. Tidak bicara sama sekali. Dia tidak mau jauh dari Mas Adi," jelas Arsenio.


"Kamu sudah hubungi papa dan mama?" tanya Rendra pada Arsenio.


"Sudah, Mas. Mungkin sebentar lagi datang," jawab Arsenio.


"Syukurlah. Adel sangat butuh dukungan dari semua orang sekarang. Kalau saja Dita tidak sedang hamil muda, tadi sudah aku ajak ke sini. Ya Allah, aku sampai belum mengabari ayah dan bunda." Rendra menepuk keningnya karena lupa menghubungi mertuanya. Bagaimanapun mereka harus tahu apa yang terjadi pada putra sulungnya.


Rendra menelepon ayah mertuanya. Dalam dering ke lima akhirnya teleponnya diangkat.


"Assalamu'alaikum, Ayah. Bagaimana kabar Ayah dan Bunda?" sapa Rendra.


"Wa'alaikumussalam, alhamdulillah kabar kami baik dan sehat," balas Pak Wijaya dari seberang telepon.


"Ayah, ini mau mengabarkan kalau Mas Adi kecelakaan. Sekarang masih ada di IGD rumah sakit."


"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kapan kejadiannya, Nak?"


"Tadi bakda Magrib, Yah. Maaf baru sempat mengabari karena baru tiba di rumah sakit. Tadi saya mengecek ke tempat kejadian dahulu sebelum ke sini."


"Tidak apa-apa, Nak. Bagaimana keadaan Adi?"


"Apa Dita juga ikut ke rumah sakit sekarang?"


"Dita di rumah sama mama. Kasihan kalau dia ikut karena saya harus wara-wiri."


"Syukurlah kalau Dita tidak ikut. Tolong diuruskan dulu keperluan rawat inap Adi ya, Nak. Nanti ayah ke sana sama bunda."


"Iya, Yah. Kalau begitu saya tutup dulu. Ayah dan bunda hati-hati di perjalanan. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam."


Rendra menyimpan lagi gawainya. Dia menghampiri Arsenio dan Kaisar yang dari tadi bicara berdua.


"Kamu sudah urus kamar buat Mas Adi belum?" tanya Rendra pada Arsenio.


"Belum, Mas. Tadi baru daftar saja."


"Kalau begitu aku urus ruangannya dahulu. Kalian lanjutkan mengobrol." Rendra menuju ke bagian informasi dan pendaftaran.


"Mas Kai, tadi katanya mau ambil kunci mobil Mas Adi ya?" tanya Arsenio.


"Iya, mau lihat rekaman dashcam," jawab Kaisar.


"Nanti aku boleh ikut lihat tidak, Mas?" Arsenio memandang Kaisar.


"Boleh. Ayo kita ke TKP," ajak Kaisar.


"Bisa tunggu sebentar lagi, Mas. Aku masih menunggu papa dan mama. Kasihan Mbak Adel kalau ditinggal sendiri."


Kaisar mengangguk. "Iya, enggak apa-apa. Tunggu Rendra juga mengurus ruangannya Adi."


"Kamu kenal sama Restu juga?" tanya Kaisar setelah beberapa saat mereka diam.


"Iya, kenal banget, Mas. Hampir setiap hari dahulu Restu datang ke rumah. Sudah kenal juga dengan para tetangga," jelas Arsenio.

__ADS_1


"Kalau misalnya nanti orang yang menabrak tertangkap kamera, kamu bisa mengenali dari postur tubuhnya?" Kaisar memastikan keyakinan Arsenio.


"Insya Allah bisa kalau memang itu Restu, Mas." Arsenio mengangguk dengan mantap.


"Apa kamu tahu rumahnya di mana?" tanya Kaisar lagi.


"Jelas tahu, Mas. Beberapa kali kami sekeluarga ke sana. Tapi satu tahun terakhir ini dia kerja di luar kota. Mungkin kalau sekarang dia di Jogja berarti sedang ambil cuti atau memang sengaja pulang karena tanggal merah."


"Bisa jadi dia sengaja ingin membuntuti Adi. Isi pesannya juga sudah mulai bernada ancaman akhir-akhir ini," ujar Kaisar.


"Berarti Mas Adi sudah cerita semua ke Mas Kai?"


Kaisar menganggut. "Aku juga sudah baca pesan-pesannya."


"Apa bisa kena pasal itu, Mas?"


"Bisa kalau mau dilaporkan. Menjeratnya pake Undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik). Tapi kemarin katanya diputuskan untuk memberi peringatan dahulu."


"Iya, Mas. Tapi ternyata kok kejadiannya malah seperti ini," Arsenio menghela napas panjang.


"Sakit jiwa memang si Restu itu," geramnya.


"Dia terobsesi sama kakakmu. Tidak rela kakakmu bersama pria lain. Akhirnya dia jadi meneror kakakmu," kata Kaisar.


"Untung saja Adi terus mengambil alih nomornya. Walaupun sebenarnya nomor itu bisa dinonaktifkan. Tapi kemungkinan dia akan tetap mencari jalan lain untuk meneror," lanjut Kaisar.


"Itu nanti dia bisa dibebaskan enggak Mas dengan alasan mengalami gangguan jiwa?" tanya Arsenio.


"Tetap dihukum karena bukan gangguan jiwa yang bertindak di luar nalar. Dia melakukan semuanya juga pasti direncanakan bukan yang spontanitas," jawab Kaisar.


"Aku lebih takut efeknya ke kakakmu. Katanya kemarin sempat tidak mau ke luar." Kaisar menoleh pada Arsenio.


"Iya, Mas. Tapi sejak Mas Adi tahu Restu meneror Mbak Adel, tidak pernah sekali pun Mas Adi mengizinkan Mbak Adel pergi sendiri. Awalnya dulu Mbak Adel sempat protes karena tidak bisa bebas ke mana-mana sendiri. Apa Mas Kai tahu penyebab Mas Adi mempercepat menikahi Mbak Adel?"


Kaisar menyengguk. "Adi sudah cerita."


"Aku sudah mengurus kamar Mas Adi. Nanti kalau kamarnya sudah siap, Mas Adi akan dipindahkan ke kamar. Tadi aku juga sudah bicara sama dokter. Aku minta Mas Adi dicek semuanya, takutnya ada pendarahan di dalam." Rendra bergabung kembali dengan Kaisar dan Arsenio setelah selesai mengurus ruang rawat inap Adi.


"Kita tengok Mas Adi dulu sebelum lihat rekaman dashcam," ajak Rendra pada Kaisar.


"Mas Rendra, aku nanti ikut," kata Arsenio.


"Terus nanti Adelia sama siapa?" Rendra mengerutkan kening.


"Mama sama Papa sudah otw ke sini kok, Mas," jelas Arsenio.


"Ya, sudah kalau begitu. Kita perginya tunggu mama papamu dulu," kata Rendra.


Mereka kemudian pergi ke tempat Adi dirawat. Adelia masih dengan setia menunggu Adi di sampingnya.


"Del, aku sudah urus kamarnya Mas Adi. Aku pesankan yang VIP biar kamu juga bisa istirahat. Bajunya nanti atau besok pagi aku bawakan," kata Rendra pada Adelia.


"Makasih, Ren. Di mobil juga ada baju yang baru dibeli tadi. Nanti tolong dibawa ke sini," sahut Adelia seraya menoleh pada Rendra.


"Mbak, nanti ditemani mama sama papa dulu ya. Aku sama Mas Rendra sekalian mau ambil mobil," ujar Arsenio.


Adelia hanya mengangguk pelan pada adiknya. Dia kembali fokus pada suaminya lagi.


"Mas Adi, bangun dong. Katanya kita mau makan. Mas Adi belum makan kan. Apa Mas Adi enggak lapar?" Adelia mengajak Adi bicara.


"Ini sudah ada Rendra, Arsenio dan Mas Kaisar. Apa Mas Adi enggak mau ngobrol sama mereka?" Adelia mengelus rahang suaminya.


"Mas Adi, ayo bangun. Jangan diam begini. Aku kesepian. Aku kangen ngobrol sama Mas Adi." Adelia kembali menangis.


Arsenio mendekati kakaknya. Dia berdiri di belakang Adelia lalu memegang kedua bahu kakaknya untuk memberi kekuatan. Dia merasa sedih dan miris melihat Adi dan Adelia. Seharusnya mereka sedang menikmati manis dan indahnya pernikahan, tetapi ternyata Allah sedang menguji mereka berdua.


Kesunyian kembali menghampiri mereka berempat. Kaisar dan Rendra sibuk dengan gawainya masing-masing. Sedangkan Arsenio dengan setia berdiri di belakang kakaknya.


Tiba-tiba semua menjadi panik saat mendengar Adelia berteriak. "Mas Adi!!!"


...---oOo---...

__ADS_1


Jogja, 250721 23.30


__ADS_2