
"Aku cinta pertamanya Mas Adi." Sekar Ayu mengatakannya dengan penuh rasa percaya diri. Dia menunjukkan senyum bangga pada Adelia.
"Oh, Mbak Sekar ini yang dulu nolak lamaran karena Mas Adi belum mapan ya, Mas." Adelia memberi balasan menohok seraya menoleh pada suaminya, meminta jawaban.
Sekar Ayu terkesiap mendengar ucapan Adelia. Wajah putihnya langsung memerah, antara menahan malu dan marah.
"Ai." Adi menggelengkan kepala, mencegah istrinya berkata yang lebih menyakitkan lagi.
"Kenapa, Mas? Itu memang kenyataannya kan. Buat apa juga ditutup-tutupi."
"Orang tuaku yang menolak, bukan aku," sanggah Sekar Ayu dengan napas memburu karena menahan emosi.
Adelia tersenyum sinis mendengar sanggahan Sekar Ayu. Saat dia ingin membuka mulutnya kembali, Adi menahannya.
"Ai, sudah cukup," tukas Adi dengan nada lembut.
Dia meremas tangan istrinya, memberi isyarat kalau mereka harus menahan diri dan emosi. Dia ingin Adelia percaya penuh padanya. Walau menahan rasa dongkol, Adelia tetap menuruti suaminya.
"Sekar, memang benar kamu adalah cinta pertamaku. Akan tetapi, rasa cintaku sudah hilang sejak keluarga kalian menolak lamaranku. Itu artinya kita memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Karena kalau memang takdir kita berjodoh, entah bagaimana caranya kita pasti sudah bersama."
"Adelia, istriku ini, insya Allah adalah cinta terakhirku. Meski bukan yang pertama, tapi Adelia sudah mencuri seluruh hati dan cintaku. Alhamdulillah, Allah menakdirkan kami berjodoh dengan jalan yang tidak terduga."
Adi tersenyum lalu mengecup punggung tangan Adelia yang dia genggam.
"Alhamdulillah, Adelia mau menerimaku apa adanya. Begitu pun aku juga menerimanya apa adanya. Kami saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing."
"Sekar, aku sudah bahagia dengan Adelia dan kehidupanku saat ini. Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi padamu. Dengan tulus aku mendoakan, semoga kamu menemukan lelaki saleh yang akan menjadi suamimu kelak."
"Pesanku, jangan pernah memilih suami lagi karena harta, pilihlah karena agama dan akhlaknya. Meski tanpa harta berlimpah, insya Allah dia pasti akan membuatmu bahagia dan bisa memuliakanmu sebagai istrinya."
"Apa yang terjadi dengan kita di masa lalu biarlah menjadi kenangan, atau kalau perlu dibuang jauh. Mari kita berjalan masing-masing seperti sebelumnya. Aku dengan kehidupanku dan kamu dengan kehidupanmu."
"Enggak, Mas." Sekar Ayu menggeleng berulang kali.
"Aku masih mencintai Mas Adi. Aku ingin menjadi istri Mas Adi. Aku ingin menebus kesalahanku dahulu."
Adi tersenyum. "Aku sudah punya istri, Sekar. Dan, aku tidak mungkin menduakan istriku. Aku mencintainya sepenuh hatiku. Istri yang dipilihkan Allah untukku."
"Aku yakin apa yang kamu rasakan itu bukan cinta. Kamu hanya terobsesi denganku, apalagi melihat kehidupanku sekarang. Kisah kita sudah lama usai sejak aku dan keluargaku pulang dari rumahmu."
Sekar Ayu kembali menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar mencintai Mas Adi. Dari dulu perasaanku tidak berubah. Karena menuruti orang tuaku terpaksa aku menikah dengan Anton."
Adi kembali tersenyum. "Seandainya Anton tidak berbuat kasar dan tidak berselingkuh, kamu pasti masih menikah dengan dia kan? Kalian pasti sudah bahagia dengan keluarga dan anak-anak kalian."
"Itu--itu." Sekar Ayu kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan Adi. Dalam hati, dia mengakui bahwa apa yang diucapkan Adi memang benar.
"Benar kan apa yang aku katakan?" Adi kembali menegaskan.
"Tapi, kenyataannya kan tidak seperti itu, Mas. Aku bercerai dengan Anton. Mas Adi juga sudah berpaling dari aku."
Adelia tertawa mengejek. "Mas Adi berpaling dari Mbak Sekar? Yang benar saja kalau ngomong, Mbak. Sejak keluarga Mbak Sekar menolak Mas Adi memang sudah seharusnya kan Mas Adi melupakan Mbak Sekar. Egois sekali Mbak Sekar kalau meminta Mas Adi tetap mencintai Mbak, sedangkan Mbak Sekar sudah menikah dengan laki-laki lain. Memangnya perempuan cuma Mbak Sekar saja di dunia ini."
"Ai, sudah." Adi kembali mencegah istrinya berbicara lebih banyak. "Jangan terpancing emosi."
"Sekar, maafkan kalau ada kata-kata Adelia yang menyakiti hatimu. Tetapi, memang benar apa yang dikatakan istriku, sejak hari itu aku sudah melupakan perasaanku padamu. Kalaupun misalnya sampai hari ini aku belum menikah, tidak berarti juga aku akan menikah denganmu meski kamu sudah bercerai dengan suamimu."
"Kenapa begitu, Mas?" Sekar Ayu menatap Adi dengan intens.
"Karena kita memang tidak berjodoh, Sekar."
"Bagaimana Mas Adi tahu kalau kita tidak berjodoh?" Kening Sekar Ayu semakin mengerut.
"Karena kenyataannya seperti itu, Sekar."
"Tapi bukankah Allah akan merubah nasib manusia kalau manusia mau berusaha untuk merubahnya, Mas."
"Iya, tapi itu persoalan lainnya. Kita tidak berjodoh, Sekar. Sadari itu. Kamu jangan coba melawan takdir Allah. Jangan memaksakan diri melawannya karena nanti kamu yang akan sakit sendiri."
"Aku yakin kamu akan menemukan seseorang yang bisa mencintaimu dengan tulus dan juga membuatmu bahagia, Sekar. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran dan pengalaman yang berharga."
"Jadi, aku sudah benar-benar tidak ada harapan lagi, Mas?" tanya Sekar Ayu dengan wajah sendu dan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Sekar. Aku sangat mencintai Adelia. Aku tidak mungkin bisa membuka hatiku untuk orang lain, apalagi memberi harapan palsu. Aku tidak mau menyakiti hati Adelia yang dengan tulus menerimaku apa adanya."
"Kita masih bisa berteman, kan?" Sekar Ayu bertanya penuh harap.
Adi menggeleng seraya tersenyum. "Maaf, Sekar, aku tidak mau menanam biji yang mungkin akan merusak rumahku. Dengan aku berteman denganmu, itu berarti aku menyakiti perasaan Adelia. Seperti yang aku katakan tadi, aku tidak mau menyakitinya. Karena aku sudah berjanji akan membahagiakan Adelia saat aku menikahinya."
"Bukan maksudku untuk memutus silaturahim, tetapi ini lebih baik, untuk kebaikan kita semua. Kita masih bisa bertegur sapa saat tidak sengaja bertemu seperti hari ini. Tanpa harus berteman atau berhubungan setiap hari, kita masih tetap saudara sesama muslim."
"Aku jadi semakin menyesal karena pernah menolak Mas Adi. Pasti sangat bahagia menjadi istri Mas Adi yang selalu memuliakan istri," ratap Sekar Ayu dengan wajah sedih.
"Tidak ada yang perlu disesali, Sekar. Semua sudah terjadi. Yang lalu biarlah berlalu. Tinggal sekarang kita jelang hari dan masa depan dengan semangat yang baru."
"Aku tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Aku ambil hikmahnya saja. Karena penolakan itu, aku bisa bertemu dan menikah dengan Adelia." Adi mempererat genggaman tangannya pada Adelia.
"Mas Adi, bisa bilang begitu karena Mas Adi sudah bahagia, sedangkan aku sama sekali tidak merasakan bahagia," tukas Sekar Ayu.
__ADS_1
"Benarkah? Bukankah kamu pernah bahagia saat menikah dengan Anton? Jangan bohongi hatimu, Sekar. Seandainya kalian hidup bahagia, pasti kamu juga sudah melupakan aku dan tidak pernah menyesal menolakku."
"Sekarang kita jalani hidup kita masing-masing. Terima kasih pernah memberi warna hidupku di masa lalu. Alhamdulillah, aku bersyukur karena itu membuat hidupku jadi lebih berwarna, apalagi dengan kehadiran Adelia, warnanya menjadi lebih indah."
Adi melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah malam, kami mau pulang dahulu. Kalau kamu masih ingin di sini silakan. Jangan pulang terlalu malam, tidak baik seorang wanita pergi malam hari tanpa mahramnya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Sekar Ayu pelan.
Adi mengajak Adelia pergi dari gerai kopi tersebut. Dia menggenggam erat tangan istrinya dan berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia memang sudah lama melupakan masa lalunya, cinta pertamanya.
Sekar Ayu masih duduk di gerai kopi tersebut. Dia melihat kepergian Adi dan Adelia dengan rasa perih di hatinya. Memang benar apa yang dikatakan Adi, penyesalan tidak ada gunanya karena semua sudah terjadi dan tidak bisa diulang kembali.
Dia memang pernah bahagia dengan Anton di awal pernikahan mereka. Dia membangun mimpi indah bersama Anton. Namun, semua berubah setelah satu tahun pernikahan karena dia belum juga hamil. Anton sering mengatai dia mandul karena belum hamil. Anton dengan tanpa memikirkan perasaannya, bilang akan mencari perempuan yang bisa memberinya anak. Sejak itu mungkin Anton mulai selingkuh.
Sekar Ayu sampai memeriksakan kesuburannya ke dokter kandungan, dan dia terbukti subur. Setiap dia mengajak Anton untuk memeriksakan diri ke dokter, agar mereka tahu kenapa dia belum juga hamil, Anton selalu menolak. Anton sangat percaya kalau yang bermasalah adalah Sekar Ayu, bukan dirinya. Karena itu Anton sering marah-marah dan bersikap kasar bila Sekar Ayu mengajaknya ke dokter spesialis andrologi atau menyinggung soal itu.
Sekar Ayu menghela napas panjang dan mengembuskan dengan kasar. Dia mengambil gawai di dalam tas lalu menelepon seseorang.
"Tolong secepatnya carikan aku orang yang bisa menyelidiki dan mencari tahu info apa pun," ucapnya setelah orang yang dia telepon menjawab panggilannya. Begitu selesai bicara, dia langsung menutup teleponnya.
"Aku akan merubah takdir kita, Mas Adi," gumamnya dengan senyum licik menghiasi bibirnya. Dia lalu menyeruput kopi yang tadi dibayarkan Adi.
"Kamu sudah mapan dan sukses sekarang, Mas. Penampilanmu sangat jauh berbeda dari saat itu. Pasti bapak dan ibu akan menerimamu kali ini." Sekar Ayu bangkit dari duduknya lalu meninggalkan gerai kopi tersebut.
Sementara itu di tempat lain.
"Mas, kenapa sih aku enggak boleh membalas omongannya Mbak Sekar?" protes Adelia setelah mereka di dalam mobil.
"Buat apa, Ai? Mau jadi tontonan orang-orang di sana?"
"Tapi tadi omongannya seolah cuma dia saja perempuan di dunia ini, bikin kesal banget," omel Adelia.
"Biarkan saja dia bicara apa pun. Yang penting Ai tidak ikut terpancing. Aku ingin melindungi muruah Ai. Jangan sampai merendahkan diri hanya karena terpancing emosi. Hadapi dengan elegan, Ai."
"Kalau dia tidak mau menyerah bagaimana, Mas?"
"Kita doakan saja semoga Allah membukakan pintu hatinya. Kita juga terus meminta perlindungan pada Allah dari segala perkara yang tidak baik. Kita pikirkan saja hal yang positif, Ai."
"Tapi, aku takut, Mas." Adelia menoleh pada suaminya.
"Takut kenapa?" Adi mengernyit.
"Aku takut Mbak Sekar nekat seperti Restu."
"Tenang saja, Ai. Everything will gonna be alright."
Adi tertawa kecil. "Kenapa harus kesal? Yang penting kan hati dan cintaku hanya untuk Ai. Insya Allah aku enggak akan berpaling dari Ai."
Pipi Adelia bersemu merah begitu mendengar kata-kata manis dari sang suami.
"Ai, harus percaya sejak aku mengucapkan kabul sama papa, saat itu aku berjanji untuk selalu mencintai, membahagiakan dan melindungi, Ai. Pernikahan itu perjanjian yang agung, Ai. Pernikahan bukan perjanjian yang bisa dipermainkan."
"Iya, aku percaya kok sama Mas Adi. Aku tidak percaya sama Mbak Sekar dan Lisa."
"Sudah jangan membahas lagi Lisa, Sekar atau perempuan lain, Ai. Lebih baik membahas hal yang lebih bermanfaat."
"Contohnya apa, Mas?" Adelia kembali menoleh pada Adi.
"Tentang kita, mungkin." Adi sekilas melirik Adelia sambil tersenyum.
"Oh iya, aku ingat sesuatu, Mas."
"Ingat apa, Ai?"
"Syarat yang untuk umrah sudah dikirim sama ayah belum, Mas?"
"Astaghfirullah, aku lupa, Ai. Besok pagi, bakda Subuh, ingatkan aku telepon ayah ya."
"Kenapa enggak sekarang saja, Mas?"
"Ini sudah di atas jam 09.00 malam, Ai. Pasti ayah sama bunda sudah tidur."
"Oh iya." Adelia menepuk keningnya karena lupa.
Adi terkekeh-kekeh melihat tingkah lucu sang istri.
"Mas Adi, kenapa ketawa? Memangnya apa yang lucu?" tanya Adelia dengan ekspresi heran.
"Ai, lucu tadi pas tepok jidat."
Adelia berdecak. "Ck, masa kaya gitu aja lucu."
"Di mataku terlihat lucu dan imut, Ai." Adi kembali tertawa kecil.
Adelia mencibir tanpa membalas suaminya. Dia melihat jalanan sembari mendengarkan musik dari lagu yang diputar di radio.
...Saat menjelang...
__ADS_1
...Hari-hari bahagiamu...
...Aku memilih 'tuk diam dalam sepiku...
...Saat mereka tertawa di atas pedihku...
...Tentang, tentang cintaku...
...Yang telah pergi tinggalkanku...
...Aku tak peduli...
...Sungguh tak peduli...
...Inilah jalan hidupku...
...Ini aku, kau genggam hatiku...
...Simpan di dalam lubuk hatimu...
...Tak tersisa untuk diriku...
...Habis semua rasa di dada...
...S'lamat tinggal, kisah tak berujung...
...Kini ku kan berhenti berharap...
...Perpisahan kali ini untukku...
...Akan menjadi kisah sedih yang tak berujung...
.........
...(Glenn Fredly - Sedih Tak Berujung)...
"Mas," panggil Adelia pada sang suami.
"Apa, Ai?"
"Mas Adi, dulu merasakan kaya lirik lagu ini enggak pas ditinggal nikah sama Mbak Sekar?" tanya Adelia sambil menoleh pada Adi.
Adi mengedikkan bahu. "Entah, Ai. Aku sudah lupa."
"Masa Mas Adi tidak ingat gimana sakitnya dikhianati? Aku saja rasanya masih sakit kalau ingat," kata Adelia.
Adi tersenyum. "Prinsipku untuk apa mengingat hal yang membuat sedih. Apalagi hanya masalah cinta. Rasa sedih, sakit, kecewa pasti ada saat itu, tapi aku enggak mau larut dalam kesedihan. Aku terus berusaha bangkit dan sibuk bekerja agar tidak ada yang bisa menolakku lagi karena aku masih belum punya apa-apa. Alhamdulillah, aku dipertemukan dengan Ai yang tidak menuntut materi, padahal keluarga Ai bukan kalangan orang biasa."
"Terus kalau bukan orang biasa apa, Mas? Alien?" Adelia tertawa geli.
"Kan masih ada keturunan darah biru. Mama sama papa juga pejabat semua."
"Mas, coba diiris tanganku keluar darahnya merah apa biru?" seloroh Adelia. "Darah kita sama-sama merah. Kita sama-sama makan nasi, tidak ada bedanya dengan yang lain."
"Ini yang paling aku suka dari, Ai. Tidak sombong, low profile." Adi memuji istrinya.
"Cuma itu saja, Mas?"
"Ya enggaklah. Semuanya dari Ai aku suka. Kan tadi aku bilang yang paling aku suka."
"Kalau yang paling disuka Mas Adi dari Mbak Sekar apa?" Adelia tiba-tiba iseng bertanya pada sang suami.
Adi mengerutkan kening. Dia terkejut dengan pertanyaan istrinya.
"Buat apa? Tidak penting, Ai. Itu sudah masa lalu." Adi menolak menjawab pertanyaan iseng istrinya.
"Kan aku ingin tahu, Mas."
"Kalau sudah tahu terus mau ngapain, Ai?"
"Ya, enggak ngapa-ngapain. Cuma penasaran saja. Mbak Sekar kan cantik, putih, badannya juga bagus, apa itu yang membuat Mas Adi tertarik?"
"Ai, lebih cantik dan seksi. Sekar saja sampai memuji Ai seperti model kan."
"Ck, itu karena aku lebih tinggi saja dari Mbak Sekar, Mas."
"Sudah jangan membandingkan diri lagi sama Sekar. Ai, sudah jadi istriku, sudah pasti yang terbaik untukku. Aku sudah sepenuhnya milik, Ai. Jangan pernah ragukan itu."
"Iya, Mas. Terima kasih sudah memilihku." Adelia menatap suaminya penuh cinta.
Adi tersenyum. "Allah yang sudah menggerakkan hatiku, Ai. Bukan aku yang memilih, tapi Allah yang memilih Ai menjadi jodohku. Ai, memang bukan yang pertama, tapi insya Allah menjadi yang terakhir untukku."
Senyum Adelia mengembang. "I love you, Mas Adi."
"I love you too, Ai."
...---oOo---...
__ADS_1
Jogja, 151021 23.00