
Dita cemas karena Ale terus rewel sejak terbangun tengah malam tadi. Ale sama sekali tidak mau lepas dari gendongannya. Bahkan saat tertidur, dia akan langsung bangun begitu diletakkan di bok bayinya. Membuat Dita tidak bisa tidur, padahal dia harus magang pagi nanti.
Rendra coba membantu istrinya dengan mengambil alih Ale, tapi putranya itu malah menangis setiap dijauhkan dari Dita. Mau tak mau Dita terus menggendong Ale. Dia sudah coba memberikan asi secara langsung karena biasanya Ale langsung bisa tenang setelah diberi asi. Namun, Ale hanya menyesap sedikit, tidak seperti biasa. Ale terus gelisah, tidak bisa tenang.
"Ale kenapa bisa demam ya, Mas?" Dita menatap suaminya dengan raut khawatir.
"Kecapaian mungkin, Sayang. Tapi, seingatku jadwal tidurnya seperti biasa. Semalam kan juga masih ceria."
"Apa kemarin Ale makan apa minum selain yang aku siapkan, Mas?"
Rendra menggeleng. "Enggak, Sayang. Mana mungkin aku sembarangan kasih Ale makanan dan minuman."
"Ada tingkah Ale yang lain dari biasa enggak, Mas?"
"Ale banyak ngeces (mengeluarkan air liur) kemarin. Dia juga menggigit apa saja yang dipegang."
"Mungkin Ale gigit sesuatu yang kotor, Mas," tebak Dita.
"Dia cuma gigit mainannya kok."
"Ya kali aja itu mainannya kotor, Mas."
"Aku selalu membersihkan mainannya, Sayang."
"Terus Ale kenapa bisa demam, Mas?"
"Aku juga tidak tahu, Sayang. Nanti coba tanya mama atau bunda, mereka pasti lebih paham. Sekarang, Sayang, tidur dulu saja, Ale juga sudah tidur itu."
"Gimana aku bisa tidur, Mas. Ale nangis kalau aku baringkan," keluh Dita.
"Coba dibaringkan di sini saja jangan di boknya. Nanti kalau dia nangis langsung disusuin," usul Rendra sambil menepuk kasur.
Dita pun mengikuti saran suaminya. Benar saja, Ale langsung menangis begitu badannya menyentuh permukaan kasur. Dita coba menenangkan dengan menepuk pelan bokong Ale lalu menawarkan puncak dadanya untuk dihisap sang buah hati. Rendra bantu menenangkan dengan membacakan doa-doa di ubun-ubun Ale sambil mengelus keningnya.
Apa yang mereka lakukan berdua ternyata membuahkan hasil. Ale berhasil tidur dengan tenang. Namun, Dita harus tetap dalam posisi memeluk Ale. Karena dia bergeser sedikit saja, Ale langsung bergerak gelisah.
"Sayang, tidur dulu. Lumayan bisa dapat satu atau dua jam. Nanti kalau sudah Subuh aku bangunkan," titah Rendra.
"Iya, Mas." Dita kemudian memejamkan matanya sambil memeluk Ale.
Rendra tersenyum memandang dua orang yang sangat dia cintai itu. Terkadang dia merasa kasihan dengan Dita yang harus bersusah payah menyiapkan segala keperluannya dan Ale sebelum istrinya itu berangkat kuliah atau magang. Namun, dia bersyukur Dita sama sekali tidak pernah mengeluh capai karena harus kuliah sambil mengurus anak dan suaminya.
Sebagai suami, dia sudah berusaha semaksimal mungkin meringankan beban istrinya. Dia bantu memandikan, menyuapi, mencuci baju, mengganti popok atau pamper, menyiapkan asi di dalam botol, dan lainnya. Kalau Dita sedang mengerjakan tugas kuliah di rumah, Ale selalu bersamanya. Dia hanya tak bisa menangani kalau Ale sakit. Seperti saat ini, Ale tidak mau lepas dari Dita.
Rendra beranjak dari atas ranjang, pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudu. Dia kemudian menjalankan salat Tahajud seperti biasa. Namun, kali ini dia tidak mengajak Dita karena istrinya sangat butuh istirahat. Setelah seharian magang, Dita masih mengurusnya dan Ale di rumah. Sebenarnya, mereka tadi sudah tidur, tapi terbangun karena tangisan Ale.
Usai Tahajud, dia mengambil notebook untuk mengerjakan pesanan desain dari klien. Saat dini hari biasanya idenya mengalir dengan lancar hingga tak butuh lama desainnya langsung jadi. Dia memanfaatkan waktunya sambil menunggu azan Subuh.
"Sayang, bangun. Sudah Subuh." Rendra mencium kening istrinya.
"Iya, Mas," sahut Dita dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku ke masjid dulu ya, Sayang," pamit Rendra.
"Iya, Mas." Dita menyipitkan mata karena masih menyesuaikan dengan cahaya lampu kamar.
Setelah matanya terbuka sempurna, Dita memandang Ale yang tertidur pulas dalam pelukannya. Dengan perlahan, dia menarik tangannya, lalu menempatkan guling di samping Ale. Dia berusaha bangkit dengan pelan agar Ale tidak terbangun karena gerakannya. Dia lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudu. Keluar dari kamar mandi, dia lega karena Ale masih tertidur.
Dita kemudian menjalankan salat Subuh dengan khusyuk. Tak lupa dia berzikir dan berdoa setelah salat. Saat akan mengambil Al-Qur'an, tiba-tiba Ale menangis dengan keras. Akhirnya dia menghampiri Ale.
"Bubu, di sini, Sayang. Maaf tadi bubu ninggalin Ale buat salat. Sekarang Ale minum susu ya, terus bobok lagi. Bismillahirrahmanirrahim." Dita kembali berbaring di samping Ale.
Sesudah Ale menyesap puncak dada Dita, dia kembali tenang.
"Badanmu kok masih panas, Nak." Dita menyentuh kening Ale. Dia kembali merasakan khawatir dengan keadaan putranya.
__ADS_1
Rendra masuk ke kamar setelah mengucapkan salam. "Ale sudah bangun, Sayang?" tanyanya.
"Sudah, Mas. Untung dia bangun pas aku udah salat. Badannya masih panas ini, Mas." Dita menarik tangan Rendra agar menyentuh kening Ale.
"Iya. Coba diukur pakai termometer ya." Rendra kemudian mengambil termometer digital. Dia memasangnya di ketiak Ale. Setelah beberapa saat, Rendra mengecek termometer.
"Suhunya 37,5 derajat, Sayang." Rendra memberi tahu istrinya.
"Ya Allah, tinggi banget, Mas." Dita tampak semakin khawatir.
"Sayang, tenang dulu. Aku panggil mama ya." Tak lama Rendra masuk ke kamar dengan mamanya.
"Ale kenapa?" Ibu Dewi mendekati cucunya yang sedang menyusu.
"Dari tadi rewel, Ma. Badannya juga panas," jelas Dita. "Kenapa ya, Ma?"
"Mau tumbuh gigi mungkin," jawab Ibu Dewi. "Nanti kalau Ale sudah selesai minum susu coba dilihat gusinya yang bawah."
"Iya, Ma. Tapi, panasnya kenapa?"
"Gusinya meradang karena karena mau tumbuh gigi. Banyak beri asi saja, biasanya demamnya cepat turun. Kamu izin saja hari ini, Dita," ujar Ibu Dewi.
"Ale butuh kamu ada di sampingnya. Dia sedang mengalami perubahan di tubuhnya. Temani dia, biar dia lebih tenang dan nyaman. Bagaimanapun ikatan kalian lebih kuat daripada Rendra. Insya Allah demamnya bisa turun dalam sehari," nasihat Ibu Dewi.
"Iya, Ma. Makasih."
"Mama mau siapkan sarapan dulu. Kalian di kamar saja mengurus Ale, biar Nisa atau Shasha yang bantu mama," ucap Ibu Dewi sebelum keluar dari kamar.
"Alhamdulillah, kalau demamnya memang mau tumbuh gigi. Coba deh, Mas, cari info ciri-ciri anak mau tumbuh gigi dan bagaimana mengatasinya," pinta Dita.
Rendra segera mengambil gawai lalu melakukan perintah istrinya. Dia membuka dan membaca satu per satu artikel yang berisi tentang ciri-ciri bayi yang akan tumbuh gigi dan bagaimana cara mengatasinya. Dita sampai terkantuk-kantuk menunggu Rendra selesai membaca banyak artikel.
"Sayang, kayanya Ale memang mau tumbuh gigi. Nih, lihat artikelnya." Rendra menunjukkan salah satu artikel yang menurutnya paling bagus dan komplet.
"Sayang, tidur lagi saja mumpung Ale juga anteng. Nanti aku bangunkan. Tidak apa-apa sekali-sekali tidur habis Subuh. Ini juga demi kesehatan kalian berdua." Rendra tidak jadi menjelaskan apa yang dia temukan. Dia tidak tega melihat istrinya yang terlihat kurang tidur.
"Hmmm," gumam Dita yang sepertinya sudah hampir terlelap sambil menyusui dan memeluk Ale.
Setelah Dita dan Ale tidur, Rendra keluar kamar. Mencuci beberapa buah, lalu menaruhnya dalam wadah yang dimasukkan ke kulkas. Dia kemudian merendam dan mencuci baju mereka bertiga.
Setelah tertidur beberapa saat, Ale mulai tampak gelisah. Dia kembali menangis, membuat Dita bangun dari tidurnya. Dia menepuk pelan bokong Ale dan merubah posisinya untuk menyusui. Namun Ale terus menangis, dia juga tidak mau menyusu.
Dita akhirnya menutup kembali dadanya lalu bangkit. Dia menggendong dan menimang Ale dalam posisi berdiri. Kepala Ale disandarkan di bahunya, berharap putranya itu bisa kembali tenang. Untung saja, tak lama kemudian Ale lebih tenang.
Dita melihat jam dinding di kamar yang sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Dia harus mengirim pesan pada Abimanyu kalau dia izin hari ini. Dia mengambil gawai di atas nakas, mencari nomor Abimanyu lalu mengetik pesan.
'Kak Abim, mohon maaf. Saya izin tidak masuk hari ini karena harus merawat anak yang demam. Insya Allah nanti saya ganti harinya.'
Tak butuh waktu lama Abimanyu membalas pesannya. 'Oke, Nin. Tidak masalah kalau tidak diganti. Jangan khawatir. Semoga keluarga yang sakit cepat sehat kembali.'
'Aamiin. Terima kasih, Kak.'
Dita meletakkan gawainya kembali ke atas nakas. Dia merasa lapar karena belum makan apa pun sejak tadi. Sambil menggendong Ale, dia pergi ke ruang makan.
"Mbak, itu air liurnya Ale banyak banget," kata Nisa.
"Pantes, bahuku rasanya dingin. Tolong ambilkan tisu, Nis," pinta Dita.
Nisa mengambil tisu lalu membersihkan mulut dan tangan Ale yang basah karena air liurnya. Ale kembali menangis saat tangannya dikeluarkan dari mulut.
"Ale, enggak boleh gigitin tangan ya," ucap Nisa.
Dita kembali menenangkan Ale yang menangis.
"Sudah bangun, Sayang?" tanya Rendra yang baru masuk ke ruang makan.
__ADS_1
"Sudah, Mas. Kebangun karena Ale nangis."
"Kak, dulu Mbak Dita nyidam enggak diturutin ya kok Ale ngeces terus," ledek Nisa.
"Hush, jangan sembarang bicara. Itu Ale mau tumbuh gigi makanya ngeces terus," tukas Ibu Dewi.
Rendra mengeluarkan apel dari kulkas lalu memotongnya kecil agar bisa masuk ke mulut Ale.
"Ale, gigit Apel saja ya, jangan tangan yang digigit." Rendra memberikan Apel ke tangan kanan Ale, lalu memasukkan ke dalam mulut mungilnya.
"Kok dikasih apel, Mas?" tanya Dita dengan kening mengerut.
"Itu gantinya tetheer (alat untuk merangsang pertumbuhan gigi bayi), Sayang," jelas Rendra.
"Ale kan sudah ada tetheer, kenapa pakai Apel, Mas?"
"Enggak apa-apa, lebih sehat dan alami. Itu tadi apel sudah aku cuci. Menurut artikel yang aku baca tadi, katanya kalau dikasih tetheer yang dingin bisa mengurangi rasa sakit sama gatal di gusi. Bagusnya dikasih tetheer yang alami, dari buah atau sayur yang didinginkan. Coba lihat, anteng kan sekarang Ale."
Ale memang jadi tenang. Dia menggigiti apel yang ada di tangannya.
"Sarapan dulu, Dita. Pasti kamu lapar kan?" Ibu Dewi menaruh piring berisi nasi di depan menantunya itu.
Dita tersenyum malu. "Mama, tahu aja kalau aku lapar."
"Ya, tahu. Kan biasanya jam segini sudah sarapan," sahut Ibu Dewi sambil tersenyum pada menantunya itu.
"Mama, Nisa, Mbak Shasha, udah makan?" tanya Dita.
"Sudah semua, tinggal Mbak Dita sama Kak Rendra," jawab Nisa. "Aku ke atas dulu ya, Mbak, mau siap-siap. Masuk kelas pagi aku," pamitnya.
"Iya, Nis," sahutnya. "Makan dulu yuk, Mas. Habis itu mandiin Ale, terus aku mandi." Dita beralih pada suaminya.
"Sayang, makan dulu aja. Kita gantian. Biar kugendong Ale." Rendra mengambil Ale dari istrinya. Untung saja putranya itu tidak menangis. Dia juga membersihkan air liur yang membasahi mulut dan leher Ale.
"Nanti habis mandi, Ale pake celemek ya. Biar bajunya enggak basah kaya gini, hummm." Rendra menggelitik perut Ale, yang berhasil membuat buah cintanya itu tertawa.
Mendengar tawa Ale pagi itu rasanya seperti mendapat angin surga, menyejukkan. Akhirnya Ale bisa tertawa setelah semalaman rewel. Membuat kedua orang tuanya kelabakan mencari cara menenangkannya.
Panas Ale berangsur turun, meski masih agak rewel. Dita terus memberikan asinya secara langsung karena dia ingin Ale merasa lebih tenang dan nyaman. Walaupun minumnya tidak sebanyak biasanya. Namun, tidak masalah, yang penting Ale masih mau minum asi agar tidak terkena dehidrasi.
...---oOo---...
Jogja, 170122 23.45
Ada yang nungguin cerita ini up?
Mohon maaf baru bisa up karena sedang fokus riset dan menulis kisah KaiSha. Semoga bisa up sekali lagi untuk membayar hutang minggu kemarin.
Smaradhana per hari ini masuk ke bab 11, di bukulaku.id naskahnya sudah dikunci, jadi hanya bisa dibaca dengan membuka kunci. Dan kuncinya dibuka dengan membeli koin. Silakan baca di bukulaku.id bila ingin memberi pendapatan pada saya š¤š¤š¤
Kalau mau baca yang gratis sampai bab 30, silakan baca di facebook KMO Club.
Apa setelah bab 30 cerita KaiSha selesai?
Saya pastikan belum.
Terus lanjut di mana?
Masih saya pertimbangkan akan lanjut di bukulaku.id atau di platform lain. Nanti akan saya infokan lagi.
Kalau ada yang minta link bukulaku.id bisa DM di IG @kokoro.no.tomo.82 atau FB kokoronotomo82. Link di facebook setiap pagi saya bagikan di story IG setelah saya up bab terbaru. Kalau up di bukulaku tidak bisa dipastikan waktunya karena tergantung jaringan dan webnya sedang eror atau tidak.
Kalau ada yang belum saya konfirmasi pertemanan silakan komentar di sini atau DM saya.
Terima kasih semuanya yang masih setia membaca Cinta Halal dan juga membaca Smaradhana ššš
__ADS_1