
"Sayang, jangan marah lagi ya. Aku kan cuma bercanda." Rendra memeluk istrinya dari belakang setelah mereka masuk ke dalam kamar dan Dita sudah melepas hijab yang hampir seharian tadi menutupi kepalanya.
"Aku janji enggak akan mengulangi lagi. Maafkan suamimu yang tidak peka ini ya, Sayang." Rendra menciumi tengkuk Dita, berharap istrinya akan luluh dengan sentuhannya.
"Lepas, Mas." Dita berusaha melepas tangan Rendra dari pinggangnya seraya menggerakkan lehernya, coba menghindar dari godaan suaminya.
"Enggak mau. Aku lepas kalau Sayang sudah maafin aku." Rendra terus mencium leher belakang, telinga dan bahu istrinya secara bergantian.
"Ah—Mas—udah." Dita menggelinjang karena sentuhan suaminya.
"Sudah maafin aku belum, Sayang?" Rendra berbisik di telinga calon ibu dari anaknya itu.
"Iya—udah." Dita menggigit bibir bawahnya.
"Benar?" bisik Rendra lagi. Dita menyengguk.
Rendra mengendurkan pelukannya. Dia memutar tubuh wanita yang sangat dicintainya itu hingga mereka berdiri berhadapan. Rendra tersenyum sambil menatap mata Dita.
"Makasih sudah maafin aku, Sayang. Aku janji enggak akan omong kaya gitu lagi. Mana nih senyuman untuk suaminya?" Rendra menangkup wajah belahan jiwanya itu.
Dita mulai menarik sudut bibirnya ke atas membentuk bulan sabit.
"Kok enggak ikhlas gitu senyumnya," protes Rendra. "Maafin suaminya enggak sih?"
Dita menganggut. "Iya."
"Iya, apa?"
"Iya, aku maafin Mas."
"Tapi kok kaya enggak ikhlas tadi senyumnya, hummm."
"Ikhlas kok, Mas." Dita memutar-mutar dan memainkan telunjuk di dada suaminya dengan ekspresi malu-malu.
"Sayang, kenapa? Ingin itu ya?" tebak Rendra dengan senyum menggoda.
Dita mengangguk dengan wajah tersipu. "Mas, tadi mancing-mancing aku."
Rendra tertawa kecil melihat ekspresi istrinya, membuatnya gemas.
"Tapi kita enggak bisa lama-lama, sebentar lagi Magrib." Rendra menyelipkan anak rambut Dita di belakang telinga. "Bagaimana kalau nanti malam saja," usulnya.
Dita bergeleng dengan cemberut. "Aku maunya sekarang."
"Okay, your wish is my command." (Keinginanmu adalah perintah untukku mewujudkannya.)
Rendra mengangkat tubuh Dita lalu membaringkannya di atas ranjang. Kemudian aktivitas menyenangkan dan melenakan itu terjadi.
"Cie, yang sudah baikan terus keramas," goda Adi saat melihat adiknya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.
Dita menatap kesal kakaknya. "Apaan sih, Mas Adi."
"Pasti rasanya lebih wow ya kalau habis marahan, Dek," kata Adi pelan di dekat telinga adiknya.
"Resek ih. Sudah sana Mas Adi pergi ke masjid. Mas Rendra sudah azan tuh." Dita mendorong Adi agar segera beranjak dari tempatnya berdiri. Dia sedang malas meladeni kakaknya itu.
__ADS_1
Adi tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda Dita. Dia kemudian berlalu dari hadapan adiknya untuk pergi ke masjid.
Di saat para pria pergi ke masjid, Ibu Hasna, Dita dan Adelia salat berjemaah di rumah dengan Ibu Hasna sebagai imam. Setelah semua menjalankan salat Magrib, mereka berenam makan malam bersama. Kebersamaan berkumpul bersama dengan seluruh anggota keluarga merupakan hal yang membahagiakan. Sambil makan mereka saling mengobrol tentang berbagai hal. Adi dan Dita tentu saja tetap saling usil satu sama lain selama mereka makan.
Bakda Isya banyak tamu yang berdatangan di rumah Pak Wijaya. Mereka datang silih berganti untuk bersilaturahim dan mengucapkan selamat Idul Fitri. Rendra, Adi dan Adelia ikut membantu Ibu Hasna menjamu para tamu, sedangkan Dita hanya duduk manis di ruang tengah sambil menikmati mangga yang tadi sore dipetik kakaknya. Bukannya dia tidak mau membantu, tetapi semua orang melarangnya terlalu banyak bergerak.
Pak Wijaya baru bisa beristirahat setelah tamu terakhir pulang sekitar pukul setengah sepuluh malam. Dia lalu duduk di samping putri bungsunya di ruang tengah, yang sudah tampak mengantuk dan menyandarkan kepalanya di bahu sofa.
"Dek, kalau sudah ngantuk tidur di kamar saja." Pak Wijaya membelai kepala Dita.
"Aku tunggu Mas Rendra, Yah." Dita bangkit lalu menyandarkan kepala di bahu ayahnya.
"Sekarang enggak berani tidur sendiri, Dek?" tanya Pak Wijaya dengan nada bercanda.
"Ayah, ih. Bukan begitu. Enggak tahu nih sejak hamil yang ini, enggak bisa tidur kalau enggak dipeluk sama Mas Rendra. Padahal waktu hamil Akhtar dulu bisa sewaktu-waktu tidur," terang Dita.
"Adiknya Akhtar berarti ingin dapat perhatian lebih ini." Pak Wijaya memegang perut putrinya yang masih rata. "Baik-baik dan sehat di sana ya," ucap Pak Wijaya.
"Iya, Yangkung (eyang kakung/kakek). Doakan aku dan ibu terus ya." Dita menyahut dengan menirukan suara anak kecil.
"Pasti Yangkung dan Yangti (eyang putri/nenek) doakan." Pak Wijaya masih memegang perut putrinya sambil mendoakan kebaikan untuk calon cucu dan juga ibunya.
"Sayang, tidur yuk, sudah malam." Rendra menghampiri istrinya yang sedang berbicara dengan ayah mertuanya.
"Tuh, Nak Rendra sudah selesai," kata Pak Wijaya pada putrinya.
"Iya, Yah. Aku ke kamar dulu ya," pamit Dita.
"Iya. Ayah juga mau tidur. Ayah capai. Hari ini tamunya banyak sekali." Pak Wijaya juga bangkit dari duduknya setelah Dita berdiri.
...---oOo---...
"Alhamdulillah, Bude. Ini juga berkat doa Bude dan keluarga yang lain," sahut Adi.
Hari ini ada acara pertemuan halalbihalal trah keluarga besar Pak Wijaya. Ini merupakan acara rutin setiap tahun yang dilaksanakan pada hari kedua lebaran. Tujuan acara ini tentu saja untuk menjalin tali silaturahim dengan keluarga lainnya. Selain itu juga untuk memperkenalkan semua anggota keluarga baru, baik menantu atau cucu yang baru lahir pada kerabat dekat. Jangan sampai anak dan cucu mereka tidak kenal dengan kerabat yang masih satu keturunan.
"Sesuk nek pas resepsi bude oleh nyumbang lagu to." (Besok saat resepsi bude boleh menyumbang lagu kan.)
"Ya, pasti boleh. Bude mau nyanyi lagu apa?"
"Ya, rahasia. Bude mau kasih kejutan buat kalian berdua," kata Bude Lastri dengan mimik sok misterius.
"Kami tunggu kejutannya ya, Bude," ucap Adi sambil tersenyum lebar pada budenya yang cukup unik itu.
"Iyo. Wes yo, bude arep goleki Dita disik. Bude kangen durung ketemu ket mau."(Sudahya, bude mau mencari Dita dulu. Bude kangen belum ketemu dari tadi.)
"Nggeh, monggo, Bude."
Setelah Bude Lastri berlalu dari hadapannya dan Adelia, Adi menghela napas lega.
"Itu siapa sih, Mas?" tanya Adelia yang sejak tadi hanya diam.
"Bude Lastri. Tadi Ai kan sudah berkenalan sama Bude," jawab Adi.
"Iya, aku tahu namanya Bude Lastri. Maksudku saudara dari siapa?" Adelia memperjelas maksud pertanyaanya.
__ADS_1
"Kakak sepupunya ayah."
Adelia mengangguk setelah mendapat jawaban dari suaminya.
"Lain waktu kalau Ai bertemu dan bisa ngobrol sama Bude Lastri lagi, Ai harus menebalkan telinga dan jangan dimasukkan hati kalau kata-katanya mungkin ada yang tidak mengenakan di hati Ai. Bude Lastri itu agak unik soalnya."
"Iya, Mas."
"Tuh lihat, sekarang Dita dan Rendra yang jadi sasaran Bude Lastri." Adi mengekeh pelan sambil menunjuk ke arah adik perempuannya.
"Dita, Bude kangen. Piye wes isi durung (Gimana, sudah isi/hamil apa belum)?" Bude Lastri langsung merangkul Dita begitu melihatnya.
"Dita juga kangen, Bude. Alhamdulillah berkat doa Bude dan semuanya, saat ini saya hamil lagi. Mohon doanya ya bude biar saya dan calon bayi di dalam kandungan sehat dan lancar sampai lahiran." Dita mengusap perutnya saat bicara dengan Bude Lastri.
"Wah selamat ya. Suamimu memang tokcer." Bude Lastri mengacungkan dua jempol pada Rendra.
"Alhamdulillah, Bude. Allah memberi kami amanah lagi, tidak lama setelah operasi Dita." Rendra menyahut.
"Bude doakan semoga kehamilannya sehat dan juga lancar sampai melahirkan nanti," doa Bude Lastri dengan tulus.
"Aamiin, terima kasih, Bude," sahut Dita dan Rendra bersamaan.
Bude Lastri menganggut kemudian beralih menemui saudaranya yang lain.
"Fyuh, Alhamdulillah," Dita dan Rendra sama-sama menghela napas lega. Mereka bersyukur karena Bude Lastri kali ini tidak menyudutkan mereka tetapi justru mendoakan kehamilan Dita.
"Mas," panggil Dita dengan manja.
"Ya, Sayang. Ada apa?" sahut Rendra sambil mengelus kepala istrinya yang tertutup hijab.
"Nanti sore, kita jalan ke pantai ya." Dita memandang suaminya dengan tatapan memohon.
Rendra tersenyum lalu mengiakan. "Siap, Sayang. Your wish is my command."
Rendra mengecup punggung tangan istrinya. "Tapi nanti ke pantainya bawa mobil ya."
"Kenapa? Enakan naik motor, Mas. Aku bisa memeluk Mas Rendra dari belakang." Dita mencoba merayu suaminya.
"Kamu masih hamil muda, Sayang. Masih riskan. Aku hanya ingin menjaga Sayang dan Baby biar aman dalam perjalanan." Rendra memberi pengertian pada istrinya dengan kata-kata yang sudah dia atur sedemikian rupa agar tidak menyinggung Dita yang sedang super sensitif.
"Sayang, kan juga kadang masih pusing dan lemas. Kalau naik motor nanti akan bahaya. Mau ya pakai mobil, Sayang? Nanti aku turuti apa saja keinginan Sayang kalau mau naik mobil." Rendra kembali mencium punggung tangan istrinya.
"Benar ya, apa saja yang aku mau?" tanya Dita dengan antusias.
"Iya. Insya Allah, akan aku kabulkan," jawab Rendra.
"Oke. Tapi kita pergi berdua saja enggak usah ajak Mas Adi dan Mbak Adel." Dita mengiakan tapi memberi syarat pada Rendra.
"Oke, deal." Mereka lalu saling menautkan jari kelingking sebagai pengikat janji.
...---oOo---...
Jogja, 100721 02.00
Mungkin setelah bab ini saya akan up cerita receh ini dua atau tiga hari sekali. 🙏🙏🙏
__ADS_1