Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Tak Seperti Kemarin


__ADS_3

"Mas," panggil Adelia dari dalam kamar mandi.


Adi yang sedang berganti pakaian langsung mendekat ke kamar mandi. "Ada apa, Ai?" tanyanya.


"Aku keluar darah lagi, Mas," sahut Adelia.


Adi terkesiap mendengar jawaban sang istri. "Banyak tidak, Ai?"


"Lebih banyak dari yang kemarin, Mas."


"Astaghfirullah, sakit tidak, Ai?"


"Tidak, Mas."


"Mau aku ambilkan sama kaya yang kemarin?" Adi menawarkan bantuan.


"Iya, tapi yang sekarang pembalut bukanΒ panty liners, Mas. Nanti ambil yang bungkusnya warna biru." Adelia memberi instruksi pada suaminya agar tidak salah mengambil.


"Oke, Ai." Adi lalu mengambilkan seperti apa yang istrinya minta. Setelah mendapatkan apa yang dicari, dia menyerahkan pada Adelia.


"Ai, nanti kalau sudah selesai bilang ya, jangan jalan sendiri ke kamar," pesan Adi sebelum menjauh dari kamar mandi.


"Iya, Mas."


Usai membersihkan diri, Adelia memanggil suaminya. Adi yang sudah siaga langsung membopong istrinya setelah pintu kamar mandi dibuka Adelia. Dengan hati-hati Adi membaringkan Adelia di atas ranjang.


"Aku panggilkan bunda ya."


"Jangan, Mas. Bunda pasti juga capai. Ayah dan bunda pastinya sudah beristirahat."


"Apa kita ke dokter saja sekarang, Ai?" tanya Adi.


"Tidak usah, Mas. Kayanya ini karena aku capai saja. Padahal aku juga enggak ngapa-ngapain loh," jawab Adelia.


Adi duduk di samping istrinya. Dia membelai kepala Adelia dengan penuh cinta. "Ai, kan lagi hamil. Pasti kondisi tubuh berbeda dari sebelum hamil. Ai, pasti capai pergi siang dan malam meski di sana hanya duduk saja."


"Mungkin juga, Mas. Semoga besok tidak keluar lagi darahnya. Tolong besok pagi aku diingatkan untuk menghubungi dokter Lita."


"Aamiin. Iya, insya Allah besok aku ingatkan. Sekarang kita tidur ya." Adi mematikan lampu utama lalu mengganti dengan lampu tidur hingga suasana kamar menjadi remang-remang.


"Iya, Mas." Adelia berdoa sebelum memejamkan mata. Mungkin memang kelelahan, dia langsung tertidur pulas.


Adi menyelimuti Adelia. Dia mengecup kening sang istri sebelum berbaring di sampingnya. Dia berbaring miring, tangan kanannya menyentuh perut Adelia sembari berdoa dalam hati, semoga Adelia dan calon anak mereka baik-baik saja.


Pukul 03.00 dini hari, Adi membangunkan Adelia untuk salat Tahajud seperti biasa.


"Ai, salat Tahajud yuk." Adi mengelus lembut pipi istrinya.


"Jam berapa sekarang, Mas?" tanya Adelia dengan suara serak khas bangun tidur.


"Jam tiga, Ai. Bangun yuk." Adi kembali mengajak Adelia untuk bangun.


"Badanku rasanya lemas, Mas," ucap Adelia dengan mata yang masih tertutup rapat.


Adi tersenyum. "Ai, tidak mau salat Tahajud?" tanyanya kemudian.


"Aku mau, Mas. Tapi badanku rasanya lemas banget," jawab Adelia yang perlahan membuka mata.


"Sambil tidur saja salatnya kalau lemas, Ai," saran Adi.


"Nak, ajak Umi bangun untuk Tahajud ya," ucap Adi seraya mengelus perut Adelia.


Adelia tersenyum tipis. Adi tahu kelemahannya biar mau melakukan sesuatu. "Iya, Abi," balasnya.


"Tolong ambilkan pembalut sebelum gendong aku ke kamar mandi, Mas," pinta Adelia.


"Siap, Ai." Tanpa perlu instruksi lagi, Adi mengambilkan perlengkapan yang dibutuhkan Adelia. Setelah itu dia membopong istrinya ke kamar mandi.


"Pintunya tidak usah ditutup rapat ya," ucap Adi setelah istrinya masuk ke kamar mandi.


"Iya, Mas."


Sambil menunggu istrinya membersihkan diri dan berwudu, seperti biasa Adi akan membaca Al-Qur'an. Dari dalam kamar, sayup-sayup terdengar suara ayah dan bundanya yang juga akan menjalankan salat Tahajud di musala rumahnya.


"Mas," panggil Adelia dengan suara terengah setelah sepuluh menit berada di kamar mandi.


Adi segera berhenti membaca Al-Qur'an setelah mendengar suara istrinya yang terdengar ganjil. Dia membuka pintu kamar mandi dan melihat Adelia menyandarkan diri di dinding. Wajah istrinya terlihat pucat pasi. Tanpa bicara, dia langsung membopong Adelia dan membaringkan istrinya di atas ranjang.


Dia merasa ada yang tidak beres. Tangan dan kaki Adelia terasa dingin.


"Ai, tunggu sebentar ya. Aku panggilkan bunda," tanpa menunggu jawaban Adelia yang tergolek lemah, Adi keluar dari kamar. Untung saja Ibu Hasna tidak sedang salat, jadi dia langsung memanggil sang bunda.


"Bun, Adel lemas, kaki sama tangannya dingin sekali," ucap Adi dengan raut cemas yang tidak bisa dia sembunyikan.


Tanpa melepas mukena, Ibu Hasna bangkit dari duduknya. Dia langsung masuk ke kamar Adi diikuti putra sulungnya itu.


"Mas, tolong ambilkan minyak kayu putih buat dioles ke kaki dan tangan Mbak Adel," titah Ibu Hasna.


Adi langsung mengambil minyak kayu putih, lalu dia berikan pada sang bunda.


"Tolong buatkan teh manis panas juga buat Mbak Adel, Mas," pinta sang bunda lagi.

__ADS_1


"Iya, Bun."


Adi pergi ke dapur untuk membuat teh, sementara Ibu Hasna membalurkan minyak kayu putih pada kedua kaki, tangan, perut dan juga punggung sang menantu.


"Apa yang dirasakan, Mbak?" tanya Bu Hasna sambil membalurkan minyak kayu putih.


"Lemas, pusing, Bun," jawab Adelia lirih.


"Apa keluar flek lagi?" Bu Hasna memandang wajah sang menantu yang pucat pasi.


"Iya, Bun," sahut Adelia lemah.


Dengan telaten Ibu Hasna membalurkan minyak kayu putih agar tubuh sang menantu tidak terasa dingin lagi. Usai membalur, Ibu Hasna menyelimuti tubuh Adelia. Dia memijat kaki menantunya sambil menunggu Adi membawa teh panas ke kamar.


Rendra yang mendengar suara gaduh di luar, segera keluar dari kamar. Dia melihat Adi sedang di dapur.


"Ada apa, Mas?" tanya Rendra.


"Adel lemas, Rend. Tangan sama kakinya dingin. Wajahnya pucat. Sekarang lagi diolesi minyak kayu putih sama bunda di kamar," jawab Adi yang tidak bisa menyembunyikan kecemasan di wajahnya.


"Apa mau dibawa ke rumah sakit? Biar aku siapkan mobil," tanya Rendra.


"Nanti aku tanya bunda dulu, perlu tidak ke rumah sakit. Kamu salat Tahajud saja dulu," jawab Adi.


"Oke, Mas. Ini habis menidurkan Ale, baru selesai menyusu tadi. Nanti panggil aku kalau mau ke rumah sakit, Mas."


"Iya, Rend."


Rendra kembali masuk ke kamar. Adi yang sudah selesai membuat teh manis panas, kemudian membawanya ke kamar.


"Mbak Adel, bisa duduk?" tanya Ibu Hasna pada menantunya setelah melihat Adi masuk membawa segelas teh manis panas. "Kalau tidak bisa, bantalnya ditinggikan saja biar mudah minum tehnya."


"Iya, Bun," jawab Adelia lemah.


Ibu Hasna kemudian menaruh bantal lagi di atas kepala Adelia dengan dibantu Adi yang mengangkat kepala istrinya. Setelah posisi Adelia setengah duduk, Ibu Hasna mulai meminumkan teh manis panas dengan sendok. Adi duduk di samping Adelia sambil menggenggam erat tangan istrinya yang sudah tidak sedingin tadi.


"Mas, sudah Tahajud?" tanya Ibu Hasna pada putra sulungnya.


"Belum, Bun," jawab Adi.


"Mas, sebaiknya salat dulu. Biar bunda yang menjaga Mbak Adel," kata Ibu Hasna.


"Iya, Bun." Adi lalu beralih pada istrinya. "Ai, sama bunda dulu ya. Aku mau salat."


"Iya, Mas." Adelia tersenyum tipis pada suaminya. Meski wajahnya sudah tidak sepucat tadi, tapi masih terlihat lemas.


Adi membalas senyum istrinya. Dia beranjak dari ranjang lalu kembali mengambil wudu. Setelah itu dia ke musala untuk melakukan salat Tahajud.


"Gimana? Sudah enakan, Mbak?" tanya Ibu Hasna pada Adelia.


"Minum tehnya lagi ya, biar badannya lebih hangat dan berkurang lemasnya."


"Iya, Bun."


Ibu Hasna kembali memberi teh manis panas pada menantunya.


"Sudah, Bun. Sudah kenyang," kata Adelia setelah menghabiskan setengah gelas teh manis panas.


"Mbak Adel, tidur lagi saja ya," tutur Ibu Hasna seraya mengelus kepala Adelia penuh sayang. Layaknya seorang ibu pada anaknya.


"Aku belum salat Tahajud, Bun," kata Adelia.


"Kalau Mbak tidak mampu tidak apa-apa. Itu kan salat sunat, bukan salat wajib," ujar Ibu Hasna.


"Tapi, aku mau salat. Bun. Dua rakaat saja," kata Adelia.


"Tayamum saja ya, Mbak."


"Aku sudah wudu, Bun. Belum batal."


"Ya sudah. Kalau begitu bunda ambilkan atasan mukenanya."


Adelia menyengguk. "Terima kasih, Bun."


Setelah mengambilkan atasan mukena, Ibu Hasna membantu Adelia memakainya hingga aurat menantunya tertutup dan bisa menjalankan salat. Sesudah itu, dia keluar dari kamar dan duduk di ruang tengah agar Adelia tidak terganggu salatnya.


"Gimana Mbak Adel, Bun?" Pak Wijaya menghampiri sang istri lalu duduk di dekatnya.


"Alhamdulillah, sudah agak mendingan. Yah, kalau bunda tidak ikut Ayah pulang bagaimana? Mbak Adel keluar flek lagi. Kasihan Mas sama Mbak Adel tidak ada yang menemani," ujar Ibu Hasna.


"Tidak apa-apa, Bun. Temani mereka dulu. Bunda tidak ada acara kan di rumah?"


"Tidak ada, Yah."


"Nanti baju ayah ditinggal di sini saja ya, Bun. Jumat sore, ayah ke sini lagi."


"Iya, Yah. Sarapan di sini saja sekalian. Ayah nanti tinggal ganti baju di rumah."


"Ya, Bun."


"Bunda mau lihat Mbak Adel dulu, Yah. Kayanya sudah selesai salat."

__ADS_1


Ibu Hasna kembali masuk ke kamar Adi. Dia melihat Adelia sedang berdoa, menangkupkan tangan di atas dada. Tak lama kemudian Adelia selesai berdoa.


"Sudah, Mbak?" tanya Ibu Hasna dengan lembut.


"Alhamdulillah sudah, Bun." Adelia tersenyum pada sang ibu mertua.


"Mau dilepas mukenanya?"


"Tidak usah, Bun. Hangat begini."


"Ya, sudah. Kalau masih lemas istirahat lagi saja, Mbak. Atau mau periksa ke rumah sakit?"


Adelia menggelengkan kepala. "Tidak usah ke rumah sakit dulu, Bun. Mungkin ini efek kecapaian kemarin. Bedrest sehari atau dua hari, insya Allah nanti baikan. Aku mau coba tidur, Bun. Nanti tolong dibangunkan kalau sudah Subuh."


Ibu Hasna menyengguk. "Iya, Mbak." Dia merapikan kembali selimut Adelia agar bisa menutupi tubuh sang menantu dengan sempurna.


"Terima kasih, Bun." Adelia tersenyum pada Ibu Hasna, lalu memejamkan matanya.


Ibu Hasna meninggalkan kamar Adi. Dia melepas dan merapikan mukena yang sedari tadi dipakai. Dia sampai lupa melepas mukena karena sibuk merawat menantunya. Setelah itu Ibu Hasna ke dapur, mulai menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Dita keluar dari kamar langsung menuju ke dapur. Dia melihat sang bunda di sana.


"Bun, apa benar Mbak Adel sakit?" tanya Dita sembari mengambil wadah susu untuk ibu menyusui.


"Iya, Dek. Mbak Adel keluar flek lagi. Badannya juga lemas. Tadi badannya sampai dingin sekali," jawab Ibu Hasna yang sedang mencuci beras.


"Apa Mbak Adel kecapaian ya, Bun?" tebak Dita.


"Mungkin, Dek. Tadi bunda tawarkan ke rumah sakit tidak mau."


"Sudah telepon dokter Lita, Bun?"


"Belum kayanya, Dek. Mbak Adel ngomong saja suaranya lirih." Ibu Hasna mulai menanak nasi di panci. Dia lebih suka memasak nasi dengan cara manual, tidak menggunakan magic com yang lebih praktis.


"Aku mau lihat Mbak Adel setelah minum susu, Bun," ucap Dita seraya mengaduk susu di dalam gelas.


"Mbak Adel sedang tidur, Dek. Jangan diganggu."


"Kok Bunda masak nasi sih? Bukannya mau pulang bakda Subuh?" Dita baru menyadari kalau bundanya sedang menanak nasi.


"Bunda tidak pulang, Dek. Ayah nanti pulang sendiri. Kasihan Mbak Adel sama Mas tidak ada yang membantu dan menemani." Ibu Hasna kini mulai mengupas bawang merah dan bawang putih.


"Oh, kalau begitu aku bantu Bunda saja. Tapi, aku minum susu dulu, Bun."


"Urus Ale saja, Dek. Nanti Adek kan juga kuliah."


"Ale tidur, Bun. Mas Rendra yang jaga Ale sambil baca Al-Qur'an. Tidurnya nyenyak kalau dibacakan Al-Qur'an sama baba-nya. Aku juga masuk jam kedua kok, jadi bisa santai."


Dita lalu duduk di ruang makan. Dia minum susu sambil makan beberapa snack bar. Menyusui membuat dia jadi gampang lapar. Usai minum susu, dia kembali ke dapur, membantu bundanya memasak.


Bakda Subuh, Pak Wijaya sarapan dengan masakan yang sudah disiapkan istrinya. Dia akan pulang karena harus masuk ke kantor. Jumat nanti, dia akan kembali untuk menjemput istrinya.


Sesudah sarapan, Pak Wijaya, pamit pada semua anggota keluarganya, termasuk Ale yang masih tertidur pulas. Dia mencium kening dan ubun-ubun cucunya itu sembari mendoakan Ale sebelum pergi.


Adi juga berangkat kerja seperti biasanya. Dia kini merasa lebih tenang karena ada sang bunda yang menemani istrinya.


Saat Dita kuliah, Ibu Hasna yang menjaga Ale. Sebenarnya Rendra ingin membawa Ale ke butik agar tidak merepotkan mertuanya, yang juga sedang menjaga Adelia. Namun, Ibu Hasna bilang masih kangen Ale dan ingin menjaga cucu semata wayangnya itu. Mau tidak mau Rendra mengalah dan menyerahkan Ale pada Ibu Hasna.


Ale selalu tidak pernah rewel bila sedang dengan yangti-nya. Asal tidak lama dicuekin saat terjaga, Ale akan tetap tenang. Apalagi bila ada mainan di tangannya. Dia hanya akan menangis kalau lapar, pipis dan pup.


Sambil menjaga Ale, sesekali Ibu Hasna menengok Adelia di dalam kamar. Karena pendarahannya agak banyak kali ini, jadi Adelia mau tidak mau harus tiduran terus. Makan dan minum dia lakukan dalam posisi setengah duduk. Namun, dia tetap bersikeras ke kamar mandi kalau ingin mengganti pembalut, buang air kecil maupun besar. Ibu Hasna akan membantu Adelia duduk di kursi roda, dan juga bangkit dari kursi roda.


Badan Adelia sudah tidak dingin, tetapi wajahnya masih agak pucat dan juga masih agak lemas. Tadi Adi dengan dibantu Ibu Hasna sudah konsultasi dengan dokter Lita.


Sebenarnya dokter Lita menyarankan Adelia periksa saja karena kondisinya yang lemas. Namun karena merasa yakin tidak apa-apa, Adelia ingin bedrest dulu, sambil berharap pendarahannya bisa segera berhenti seperti sebelumnya. Yang penting dia disiplin tidak banyak bergerak, pikirnya.


Dokter Lita akhirnya menuruti keinginan Adelia. Namun, Adelia harus berjanji, kalau merasa ada sesuatu yang tidak biasa, dia harus segera ke rumah sakit agar dapat penanganan yang lebih cepat.


Sesudah salat Zuhur, Adelia merasa perutnya agak sakit.


"Bun," panggil Adelia pada ibu mertuanya.


"Iya, Mbak, tunggu sebentar." Ibu Hasna datang sambil menggendong Ale yang sedang menyusu dari botol yang berisi asi Dita.


"Ada apa, Mbak?" tanya Ibu Hasna setelah berada di dekat Adelia.


"Perutku kok agak sakit ya, Bun," jawab Adelia.


Ibu Hasna mengerutkan kening. "Sakit gimana? Mulas atau yang lain?"


"Bukan mulas. Sakit kaya agak nyeri, Bun." Adelia menggigit bibir menahan sakit.


"Perutnya mau dioles minyak kayu putih, Mbak?"


"Iya, coba tolong dioles, Bun. Siapa tahu bisa meredakan sakitnya."


Untung saja tadi Ibu Hasna menggendong Ale dengan kain, jadi dia bisa mengoleskan minyak kayu putih ke atas perut Adelia.


"Coba Mbak tarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan pelan. Insya Allah bisa meredakan sakit. Sembari berzikir juga lebih baik, Mbak," saran Ibu Hasna.


"Iya, Bun. Astaghfirullah hal'adzim." Adelia mulai melafalkan zikir mengikuti saran dari ibu mertuanya. Wajahnya kini kembali pucat. Sesekali dia juga menggigit bibir saat rasa sakit menyerang perutnya.

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 291121 00.45


__ADS_2