
Tiga hari sebelum akad nikah, Adelia pulang ke rumah Pak Lukman. Sama seperti Dita dan Rendra dulu, Adi dan Adelia juga dipingit sebelum pelaksanaan akad nikah. Selama Adelia di rumah orang tuanya, Dita dan Rendra menemani Adi di rumahnya.
Meski merasa rindu, tapi Adi bisa menahan dirinya. Dia tidak seperti Rendra dulu, yang hampir setiap saat menghubungi Dita lewat pesan atau pun telepon. Adi menyibukkan diri dengan pekerjaan untuk menepis rasa rindunya. Dia juga membuat daftar pekerjaan yang harus dilakukan asistennya selama dia cuti satu minggu nanti.
Jumat pagi, Pak Wijaya dan Ibu Hasna sudah tiba di rumah Adi. Sore nanti bakda Asar, mereka akan mengadakan acara pengajian di sana. Tujuan acara pengajian untuk meminta doa agar prosesi akad dan resepsi berjalan lancar, serta mendoakan kedua mempelai agar dapat membentuk keluarga yang sakinah ma waddah wa rahmah.
Sementara itu di rumah Pak Lukman, pada pagi hari mereka mengadakan acara pengajian. Lalu sorenya dilakukan acara siraman Adelia. Pak Lukman dan keluarganya menghendaki adat Jawa dalam prosesi dan resepsi pernikahan Adelia dan Adi. Meski begitu, Pak Wijaya tidak menghendaki acara siraman untuk Adi, jadi acara siraman hanya untuk Adelia saja.
Ritual siraman bertujuan membersihkan calon pengantin secara lahir dan batin. Selain kedua orang tua calon pengantin, ada beberapa sesepuh yang memandikan calon pengantin, termasuk neneknya. Ada tujuh orang yang memandikan. Makna tujuh atau pitu (dalam bahasa Jawa) berarti orang yang memberikan pertolongan (pitulungan).
Alat dan perlengkapan yang digunakan untuk prosesi siraman disediakan oleh penata rias terkenal, yang dulu juga merias keluarga orang nomor satu di negara ini. Air yang digunakan dalam prosesi siraman ini berasal dari 7 mata air yang jernih dan bersih. Air tersebut diletakkan dalam pengaron (wadah yang digunakan untuk menampung air) yang ditaburi dengan bunga mawar, melati dan kenanga.
Sebelum acara siraman dimulai, Adelia melakukan sungkeman pada kedua orang tuanya untuk memohon doa restu. Setelah itu Adelia diantar ke tempat siraman. Dia duduk di atas bangku yang beralaskan tikar pandan. Yang menyiram pertama kali dari kerabat yang paling sepuh (tua), dari pihak papa maupun mamanya. Sesudah para sesepuh baru Pak Lukman dan Ibu Sarah, kemudian yang terakhir juru rias pengantin.
(ilustrasi acara siraman, kredit foto sesuai yang tertera di foto)
Usai acara siraman, Adelia dibawa ke kamar pengantin dengan digandeng papa dan mamanya untuk mengeringkan tubuh. Selanjutnya Adelia melalui prosesi dikerik (dihilangkan) rambut bulu halus di atas dahi dengan alat khusus. Usai dikerik Adelia kembali dibawa ke depan para tamu untuk memohon doa restu.
Bersamaan dengan prosesi siraman, ada acara jual dawet. Kedua orang tua Adelia memakai pakaian adat Jawa. Pak Lukman memakai beskap landhing, udheng (blangkon), nyamping (kain batik yang diwiru untuk bawahan). Ibu Sarah memakai kebaya, nyamping. Dalam acara ini, Ibu Sarah sebagai penjual, sedangkan Pak Lukman membantu dengan memayungi istrinya. Para tamu kemudian berkerumun membeli dawet. Alat pembayaran untuk membeli dawet berupa uang yang dibuat dari kreweng (koin yang terbuat dari tanah liat) berbentuk bulat dan gepeng. Prosesi ini melambangkan semoga rezeki kedua pengantin kelak banyak seperti dawet.
Malam hari setelah siraman diadakan acara midodareni. Kata midodareni berasal dari bahasa Jawa ‘widodari’ yang artinya bidadari. Konon pada malam ini, para bidadari dari kayangan akan turun ke bumi dan menyambangi kediaman calon pengantin perempuan. Para bidadari itu akan memberi wahyu yang dapat menyempurnakan dan mempercantik pengantin perempuan.
Keluarga Adi datang berkunjung ke rumah Adelia untuk mempererat tali silaturahim. Mereka menghantarkan seserahan pada Adelia. Malam ini Adi mengenakan busana kasatrian yaitu baju surjan, blangkon, kalung karset, dan mengenakan keris ketika datang ke rumah Adelia.
Sedangkan Adelia mengenakan kebaya polos dan dilarang mengenakan perhiasan apa pun kecuali cincin saat lamaran. Adelia hanya diperbolehkan berada di dalam kamar pengantin dan yang bisa melihatnya hanya saudara serta tamu perempuan saja. Bahkan, Adi dilarang melihatnya.
...---oOo---...
Adelia bangun sebelum Subuh lalu langsung mandi. Setelah salat Subuh nanti, dia akan langsung dirias oleh juru rias. Akad nikah akan dilangsungkan pukul 09.00 pagi di Masjid Kampus UGM karena itu, jam 08.00 pagi dia harus sudah siap.
Adelia mengenakan kebaya brokat putih sepanjang lutut yang dirancang oleh Ibu Dewi dan dibuat di butiknya. Rambutnya dibalut hijab putih dengan berlapis kerudung panjang putih dan hiasan melati dan beberapa aksesoris lain.
(ilustrasi kebaya dan riasan Adelia saat akad, kredit foto sesuai yang tertulis di foto)
Adi memakai beskap putih yang didesain dan dibuat oleh rekanan Ibu Dewi dalam membuat baju pengantin. Kain bawahan yang dipakai Adi dan Adelia sama motifnya.
Sebelum berangkat ke tempat akad nikah, Adi dirias dan dipakaikan baju adat oleh tim juru rias yang semalam juga ke rumahnya.
Setelah Adelia tiba di lokasi, dia ditempatkan di area yang tidak dapat dilihat Adi. Tak lama kemudian keluarga besar Adi datang yang disambut keluarga besar Adelia. Kedua orang tua pengantin mengenakan baju adat dengan warna dan motif yang sama. Sementara kerabat dekat lain mengenakan seragam dengan corak dan warna yang juga sama.
__ADS_1
Seharusnya Jingga dan Dita yang menggandeng Adelia ke luar setelah prosesi akad nikah nanti. Tapi karena pagi tadi dia merasa mual dan agak pusing, akhirnya Shasha yang menggantikan Dita. Rendra dan yang lainnya tidak mengizinkan Dita banyak bergerak.
Bara dan Kaisar pun juga datang. Kaisar sengaja cuti dua hari demi menghadiri pernikahan sahabatnya itu. Dia akan mengikuti prosesi akad dan juga resepsinya. Sebenarnya tadi dia mau mengajak Tirta, tapi adiknya ternyata sudah ada acara lain. Nanti saat resepsi, Tirta janji akan menemaninya jadi dia tidak akan datang sendiri.
Di acara resepsi nanti Bara dan band-nya menjadi homeband. Itu kado untuk sahabatnya yang sudah berbahagia dan move on dari Restu. Dia bahagia karena kedua sahabatnya sudah bahagia dengan pasangan masing-masing.
Setelah acara dibuka, Rendra melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan suara merdunya. Dita mendengarkan suaminya dengan khusyuk. Sesekali dia mengusap perut, mengajak calon anaknya untuk ikut mendengarkan ayahnya membaca kitab suci. Meski setiap hari Rendra tak pernah lupa mengaji di depan perutnya.
Selanjutnya acara sambutan dari kedua keluarga. Kemudian dilanjutkan dengan khotbah nikah oleh Ustaz Wijayanto. Khotbah nikah ini sebagai pembekalan sekaligus pengingat bagi calon mempelai untuk menjaga keutuhan pernikahan.
Acara selanjutnya adalah prosesi ijab kabul. Setelah penghulu memastikan data kedua mempelai, orang tua dan juga saksi, serta mahar, penghulu menyuruh Adi untuk membaca surat Ar-Rahman sebagai mahar sesuai permintaan Adelia.
Adi mengambil mikrofon. Dia mengambil napas panjang, lalu mulai membaca surat Ar-Rahman.
"A'udzubillah himinas syaiton nirojim Bismillahirrahmanirrahim. Ar-raḥmān. 'Allamal-qur`ān. Khalaqal-insān. 'Allamahul-bayān ... Fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān. Tabārakasmu rabbika żil-jalāli wal-ikrām."
Adi menghela napas lega setelah selesai membacanya. Meski dia hafal tapi dia tetap membawa Al-Qur'an kecil, berjaga-jaga kalau dia terlupa.
Pak Lukman lalu duduk di depan Adi. Tangan mereka saling bersalaman.
"Bismillahirrahmanirrahim. Adindra Kusuma bin Wijaya Kusuma."
"Saya," jawab Adi.
“Saya terima nikah dan kawin putri Papa, Adelia Putri Permana binti Lukman Permana dengan mas kawin surat Ar-Rahman dan uang sejumlah sepuluh juta delapan ratus ribu rupiah dibayar tunai.”
"Sah," ucap para saksi dan semua orang yang ada di sana. Meski ini hanya pernikahan ulang, tetapi suasananya tetap membuat haru. Ibu Hasna dan Ibu Sarah terlihat beberapa kali mengusap sudut matanya dengan tisu.
"Barakallahu lakuma wa baa raka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoiir," doa Ustaz Wijayanto yang di-aamiin-kan semua orang.
(Artinya: Semoga Allah karuniakan barokah kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barokah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan.)
Adelia kemudian berjalan menghampiri suaminya dengan digandeng Jingga dan Shasha yang memakai kebaya dengan warna senada. Adi bangkit menyambut istrinya. Sebelum duduk kembali, dia membantu Adelia untuk duduk.
Acara akad mereka diselenggarakan di lantai satu. Tempat yang biasa dilaksanakan untuk salat jemaah pria. Jadi siapa pun yang ada di sana bisa ikut menyaksikan dan mendoakan kedua mempelai.
"Kamu cantik sekali, Ai. I miss you like crazy," bisik Adi saat mereka baru saja duduk bersisian.
Adelia menanggapinya dengan wajah tersipu dan senyum malu tanpa mengatakan apa pun.
Penghulu kemudian memulai proses penandatanganan berbagai dokumen pernikahan. Usai penandatanganan, penghulu memberikan buku nikah pada Adi baru kemudian Adelia.
Adi kemudian memberikan maharnya pada Adelia. Mereka juga saling memasangkan cincin di jari manis kanan pasangannya. Sesudah itu, Adelia mencium punggung tangan suaminya. Adi kemudian mencium kening lalu pucuk kepala istrinya. Setelah itu dia memegang ubun-ubun istrinya sembari berdoa.
__ADS_1
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
(Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.)
Adi kemudian mengajak Adelia untuk sujud syukur. Mereka bersyukur akhirnya bisa menikah secara resmi. Mereka bersyukur karena masalah restu sudah terlewati. Mereka juga bersyukur masih diberikan kesehatan, rezeki dan umur yang panjang. Mereka juga berdoa semoga keluarga mereka sakinah dan segera diramaikan dengan kehadiran anak-anak mereka.
Usai kedua mempelai melakukan sujud syukur, Ustaz Wijayanto memberikan nasihat pernikahan. Isi nasihat pernikahan tentang hak dan kewajiban sebagai suami dan istri. Pada kesempatan ini kedua mempelai akan mendapatkan nasihat tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebagai pasangan suami istri.
Acara selanjutnya yaitu sungkeman pada kedua orang tua mereka. Adi dan Adelia meminta doa agar mereka bisa mengarungi rumah tangga dengan baik dan biss melewati semua ujian rumah tangga. Mereka juga minta doa agar cepat diberikan keturunan yang saleh dan salehah.
Usai sungkeman, acara kemudian ditutup oleh pembaca acara. Para tamu yang hadir kemudian dipersilakan untuk memberi selamat pada mempelai dan sesudahnya bisa menikmati hidangan yang sudah disediakan di sisi luar masjid.
Setelah memberi selamat, dan doa serta berfoto bersama mempelai, Shasha menuju ke tempat prasmanan.
"Sha, tunggu aku," panggil seseorang yang ada di belakangnya.
Shasha kemudian menghentikan langkah dan berbalik. Dia tersenyum saat melihat sosok yang memanggilnya.
...---oOo---...
Jogja, 070821 00.15
Hai, apa kabar?
Semoga kabar teman-teman baik dan juga sehat. Bagi yang sedang sakit semoga segera diberi kesembuhan dan pulih seperti sedia kala.
Hari ini ada yang baru lho, ada yang tahu apa?
Ya, cover "Cinta Halal Sang Senior" baru. Tadi pagi saya mendapat notifikasi kalau Noveltoon membuatkan cover baru. Dan, alhamdulillah ya covernya sesuai dengan tema ceritanya.
"Apa dua orang di cover itu Adi dan Adelia?" Ya, anggap saja begitu. Jujur, saya juga tidak tahu siapa mereka 😂😂😂
Dan, karena saya ini tipe yang tidak suka dengan visual, jadi silakan memvisualisasikan sendiri karakter mereka sesuai imajinasi teman-teman.
Wah udah kepanjangan ngomongnya. Intinya saya berterima kasih pada teman-teman semua yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini dari awal dan juga yang rela maraton demi mengejar ketertinggalan bab.
Terima kasih atas semua dukungan dalam bentuk apa pun. Saya tidak bisa membalas semua kebaikan teman-teman, insyaAllah ada Allah yang akan membalasnya.
Oke, deh segitu dulu cuap-cuapnya. Jangan lupa tetap jaga kesehatan, minum vitamin, jauhi kerumunan. Lebih baik di rumah saja bila tidak ada kepentingan yang mendesak. Jaga hati dan pikiran agar tetap bahagia ya 😉😉😉
Salam sayang untuk para Teman Hati 🤗🤗🤗
__ADS_1