
Bakda Asar, Adi mengantar sang istri pijat ke rumah Mbah Suro sesuai permintaan wanita yang sudah menjadi belahan jiwanya itu. Setelah memperkenalkan diri dan berbasa-basi sebentar, Adelia diminta masuk ke sebuah kamar yang khusus dipakai untuk memijat.
Sementara menunggu istrinya dipijat, Adi nongkrong di pos ronda yang berada di depan rumah Mbah Suro. Di pos ronda itu ada beberapa pemuda desa yang sedang berkumpul dan mengobrol.
Sebelum dipijat, Adelia diminta untuk menanggalkan semua pakaian yang dia pakai kecuali pakaian dalam. Dia lalu menutup tubuhnya dengan kain yang tadi dibawa dari rumah, yang sudah disiapkan oleh Ibu Hasna. Setelah itu dia bertelungkup di atas ranjang kecil yang ada di sana.
(Percakapan Adelia dan Mbah Suro dalam bahasa Jawa, tetapi karena saya sedang malas menulis dalam dua bahasa jadi langsung ke bahasa Indonesia āļø)
"Sudah berapa lama menikah dengan Adi?" tanya Mbah Suro mengawali pembicaraan sambil tetap memijat Adelia.
"Kurang lebih tujuh bulan, Mbah," jawab Adelia.
"Masih belum terlalu lama," gumam Mbah Suro.
"Iya, Mbah. Tapi, saya ingin segera hamil, Mbah."
"Semoga pijat di sini bisa menjadi jalan untuk hamil," kata Mbah Suro.
"Aamiin."
"Alhamdulillah banyak yang jodoh pijat di sini. Ada yang sudah puluhan tahun menikah belum juga punya anak. Dokter sudah angkat tangan, terus mereka ke sini. Setelah itu biasanya mereka terus hamil. Bukan mbah yang membuat hamil, tapi Gusti Allah. Mbah hanya sebagai perantara saja."
"Iya, Mbah. Makanya saya ikhtiar di sini."
"Sudah pernah pijat sebelumnya?"
"Paling pijat capek, Mbah. Sekalian sama luluran di salon."
"Pantas kulitnya bagus, halus begini. Adi memang pintar cari istri yang cantik," puji Mbah Suro.
"Mbah, bisa saja." Adelia tersipu malu.
"Ouch," pekik Adelia karena merasa sakit saat dipijit di titik tertentu.
"Karena baru pertama jadi sakit. Jangan ditahan, santai saja. Mbah sedang membuka jalan ini," ujar Mbah Suro.
"I--ya, Mbah." Dia menyembunyikan wajah di atas bantal untuk menahan rasa sakitnya.
Mbah Suro mengoleskan semacam minyak dengan aroma rempah di badan Adelia yang dipijat, yang membuat badannya terasa hangat. Mereka terus mengobrol selama proses pemijatan. Mbah Suro yang ramah membuat Adelia tidak begitu merasakan sakit saat dipijat di titik tertentu.
Sementara itu di pos ronda.
"Wah, ada orang kota pulang ke desa. Kapan datang, Di?" sapa Bowo, salah satu tetangganya.
"Orang kota apa? Aku ya tetap orang desa sini. Aku kemarin siang datang. Gimana kabar semuanya?" Adi menyalami semua yang ada di sana.
"Alhamdulillah, apik-apik (baik). Kamu tambah kinclong saja sejak menikah." Bowo merangkul bahu Adi. Mereka memang teman masa kecil yang sejak TK hingga SD satu sekolah, jadi sudah sangat akrab.
"Kan sekarang sudah ada yang mengurus. Apa-apa sudah disiapkan istriku. Makanya kamu buruan nikah jangan pacaran terus." Adi menyikut pelan perut Bowo.
"Mau aku kasih makan apa istriku, Di? Kerjaku masih serabutan. Kamu enak, sudah mapan kerjanya. Mau apa-apa tinggal beli," sahut Bowo.
Adi tertawa. "Katanya nikah itu bisa membuka pintu rezeki selama niat kita untuk menjaga kesucian diri. Rezeki halal kalau dicari pasti ada jalannya. Cuma kadang kita yang tidak sabar. Maunya yang instan, ingin punya uang banyak tanpa kerja keras."
"Jangan dikira dalam semalam aku bisa seperti sekarang. Aku kerja dari pagi sampai malam. Lembur hampir setiap hari. Rumah sama kos cuma buat tempat mandi sama tidur saja, selebihnya di kantor dan proyek. Kebanyakan orang hanya melihat hasil, tidak tahu bagaimana prosesnya. Aku yakin kalau kamu telaten dan rajin pasti juga bisa berhasil." Adi merangkul Bowo lalu menepuk bahunya, memberi dukungan.
"Wah, sudah kaya motivator saja kamu sekarang, Di."
Adi tergelak mendengar ucapan Bowo. "Aku cuma ngomong sesuai pengalamanku saja."
"Mas Adi, ke sini sama Dita juga?" tanya Reza menyela obrolan Adi dan Bowo.
"Iya, Rez. Kebetulan di rumah ada pertemuan keluarga besar, sekalian syukuran kelahiran anaknya Dita."
Reza terkesiap mendengar jawaban Adi. Dia tidak menyangka Dita sudah punya anak lagi. "Oh, anaknya Dita jadi sudah dua sekarang?"
"Baru satu, yang pertama dulu meninggal dalam kandungan. Kok kamu tahu Dita sudah dua kali hamil?" tanya Adi seraya menatap heran pada Reza.
"Oh, itu, tahun lalu aku enggak sengaja ketemu Dita di hotel. Dia baru nungguin suaminya yang ngisi acara di sana. Pas itu sudah hamil tapi belum terlalu besar perutnya," jelas Reza.
Adi menganggut-anggut mendengar penjelasan Reza. "Pantas kamu tahu, soalnya banyak yang tidak tahu."
"Suaminya Dita memang kerjanya apa kok ngisi acara di hotel?" Bowo merasa penasaran.
"Bisa dibilang pengusaha kafe dan barista kopi. Desainer grafis juga. Dia sering mengisi pelatihan barista atau cerita pengalamannya membangun usaha dan mengembangkannya."
"Wih pasti kaya ya suaminya Dita."
Adi tersenyum. "Kamu ini selalu melihat hasil saja, Wo. Kaya, miskin itu relatif. Yang jelas berkecukupan. Dia sudah jadi desainer grafis sejak kelas tiga SMP. Kursus jadi barista kopi, baru setelah itu buka kafe. Dia bekerja keras karena terdesak keadaan. Papanya meninggal saat dia SMA dan dia ingin meringankan beban mamanya."
"Wah, keren ya suaminya Dita. Pantas saja adikmu mau sama dia, enggak sama kunyuk satu ini." Bowo menunjuk Reza dengan dagunya.
"Ngejak gelut iki (ngajak berantem ini)." Reza menatap kesal pada Bowo.
__ADS_1
Adi dan yang lainnya tertawa melihat Bowo yang meledek Reza. Hampir semua orang tahu kalau Reza sudah lama naksir Dita.
Mereka mengobrol selama kurang lebih satu jam. Adi baru pamit setelah Adelia mengirimkan pesan kalau dia sudah selesai dipijat.
"Pulang dulu ya, nyonya sudah selesai dipijat Mbah Suro." Adi bangkit dari duduknya.
"Semoga istrimu bisa segera hamil, Di," doa tulus Bowo.
"Aamiin, makasih semuanya. Assalamu'alaikum." Adi meninggalkan pos ronda lalu menuju rumah Mbah Suro untuk menjemput istrinya.
Selesai dipijat dan memakai pakaiannya kembali, Adelia memberikan amplop yang berisi uang pada Mbah Suro sebagai upah jasa memijat. Mbah Suro tidak pernah memasang tarif, jadi tergantung keikhlasan orang-orang yang memberi. Adelia juga diberi dedaunan yang harus direbus untuk terapinya dan Adi. Setelah itu dia dan Adi pamit pulang.
"Gimana rasanya dipijit?" tanya Adi saat mereka sudah melaju di atas motor, kembali ke rumah Pak Wijaya.
"Agak sakit, Mas. Katanya karena belum pernah jadi belum terbiasa. Tadi perutku dibenerin posisinya," jawab Adelia.
"Apa kata Mbah Suro?"
"Katanya peranakanku turun, Mas. Itu tadi daun-daunnya direbus dari 6 gelas air sampai jadi 2 gelas air. Kita disuruh minum berdua sekali sehari."
"Kalau begitu nanti minta tempat buat merebus jamu sama bunda."
"Kenapa harus minta sama bunda, Mas. Di rumah kan banyak panci."
"Kalau untuk merebus jamu, yang bagus dari tanah liat, Ai."
"Oh, gitu, Mas. Memangnya bunda punya?"
"Bunda pasti punya, Ai."
"Kalau kita minta nanti bunda jadi tidak punya lagi, Mas."
"Biar bunda beli lagi besok di pasar. Ai, tenang saja. Eh, ada tamu, Ai." Adi mulai melajukan motor masuk ke halaman rumah Pak Wijaya. Dia melihat ada motor yang terparkir di samping teras rumah.
"Siapa, Mas?"
"Aku juga tidak tahu, tapi kayanya aku kenal motornya. Kaya punya Kai."
"Aku masuk lewat belakang saja ya, Mas."
"Iya." Adi menghentikan motor di depan garasi. Adelia turun dari motor, lalu berjalan ke pintu belakang yang ada di dekat dapur.
Setelah memasukkan motor ke garasi, Adi berjalan ke teras.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabakatuh."
"Eh, ada tamu jauh ini." Adi menghampiri sahabatnya yang sedang duduk di ruang tamu dengan Rendra dan Pak Wijaya.
"Dari mana, Di?" tanya Kaisar saat melakukan salaman khas mereka.
"Antar Adel ke Mbah Suro. Sudah lama datangnya?" Adi mendudukkan diri di dekat Kaisar.
"Lumayan, sekitar 1 jam."
"Mas Kai datang, tidak lama setelah Mas Adi pergi," jelas Rendra.
"Oh, ada perlu apa nih?" Adi menatap sang sahabat.
"Ada perlu sama Rendra dan Pak Wijaya."
"Hmmm, sekarang sudah tidak ada perlu sama aku ya, mentang-mentang sudah mendapatkan hati Shasha. Berapa kali kamu ke sana enggak mampir rumahku." Adi berpura-pura marah pada Kaisar.
"Sorry, Di. Waktuku selalu mepet kalau pas di sana. Insya Allah dua minggu lagi aku pasti mampir ke rumahmu."
"Nak Kaisar, ini sudah selesai belum bicara soal lamaran? Bapak mau mandi soalnya." Pak Wijaya menyela Adi dan Kaisar.
"Oh, sudah, Pak. Besok bapak akan ke sini, membicarakan lebih lanjut detailnya dengan Pak Wijaya. Saya hanya diminta memastikan kapan Pak Wijaya bisa untuk melamar Shasha," ujar Kaisar.
"Kalau begitu bapak masuk dulu. Kalian juga bisa lebih bebas mengobrol." Pak Wijaya kemudian meninggalkan ruang tamu.
"Jadi kapan acara lamarannya?" Adi memandang sang sahabat.
"Insya Allah dua minggu lagi. Nanti kami transit di rumahmu ya, Di."
"Siap. Aku malah senang ada banyak tamu."
"Mas Ren, tolong gendong Ale dulu. Bunda sama Mbak Adel baru repot. Bajuku basah ini kena ompol Ale." Dita memanggil Rendra dari ruang tengah karena dia sedang tidak memakai hijab.
"Sebentar ya, Mas." Rendra segera beranjak dan mengambil alih Ale dari Dita. Dia lalu kembali ke ruang tamu sambil menggendong Ale yang baru berganti baju.
"Memangnya Ale tidak memakai pamper?" tanya Kaisar yang heran kenapa Ale bisa mengompoli Dita.
"Kalau malam saja dia pakai pamper, Mas. Tidak bagus juga kalau setiap saat pakai pamper takut kulitnya iritasi. Kalau sakit kan kasihan, masih kecil gini," terang Rendra.
__ADS_1
"Betul juga, ya. Tapi, kebanyakan sekarang dari bayi sudah pakai pamper terus. Mungkin mereka malas nyuci popok dan baju yang terus diompoli." Kaisar tertawa kecil.
"Secara pengeluaran, pasti lebih boros kalau pakai pamper terus, Mas. Bisa menambah banyak sampah juga. Ini Ale pampernya yang bisa dipakai ulang, produk dari teman UKM di Jogja," ujar Rendra.
"Masa buat anak berat mengeluarkan duit, Ren." Kaisar mengerutkan kening.
Rendra tersenyum. "Harga pamper yang bisa dipakai ulang lebih mahal dari yang biasa dijual umum per satuannya. Bukan masalah berat mengeluarkan uang untuk anak, tapi kalau kita bisa berhemat sekaligus menyelamatkan bumi dan membantu teman UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) kan lebih baik, Mas. Sebaik-baiknya manusia, bukankah yang memberi manfaat bagi sekitarnya."
"Wih, keren-keren pemikirannya, Ren." Kaisar mengacungkan jempolnya pada Rendra.
"Babanya siapa dulu? Ale. Ya kan, Nak." Rendra tertawa sambil mengajak Ale bercanda.
"Balik kapan kamu, Kai?" tanya Adi kemudian.
"Balik ke mana?" Kaisar mengernyit bingung.
"Ke kota."
"Ini nanti langsung balik."
"Bareng sama aku aja," kata Adi.
"Kamu kan naik mobil, aku naik motor. Gimana ceritanya? Aku jadi pengawalmu gitu." Kaisar melirik Adi.
Adi tergelak. "Ya biar sekali-sekali bisa merasakan dikawal sama polisi."
"Bisa saja kamu."
Mereka bertiga mengobrol sampai menjelang Magrib. Kaisar ikut salat berjemaah di masjid dekat sana. Dia juga turut makan malam dengan keluarga Pak Wijaya.
Usai mengikuti salat Isya berjemaah, Kaisar pamit pulang. Dia tidak mau terlalu malam sampai di rumahnya karena perjalanan paling tidak memakan waktu 1 jam.
Adi dan Adelia juga bersiap-siap pulang. Tak lupa Ibu Hasna memberi tahu Adelia cara merebus jamu dengan wadah bulat yang terbuat dari tanah liat. Adelia mendengarkan dengan saksama penjelasan sang ibu mertua.
Sebelum pergi, Adelia menyempatkan diri bermain dan menggendong Ale. Dia menciumi pipi bulat Ale dengan gemas. Dia merasa sedih karena harus kembali berpisah dengan bayi mungil tampan yang sangat menggemaskan itu. Mereka tidak akan bertemu selama beberapa hari sampai Dita kembali ke rumah Ibu Dewi.
Adi dan Adelia lalu berpamitan dan menyalami semua anggota keluarga. Adi dengan dibantu Rendra memasukkan barang-barang mereka ke bagian tengah mobil. Setelah semua siap, Adi dan Adelia masuk ke dalam mobil. Secara perlahan, fortuner hitam Adi meninggalkan halaman rumah Pak Wijaya.
"Aku kok rasanya sudah ngantuk banget ya, Mas," keluh Adelia yang tidak berhenti menguap sejak masuk ke dalam mobil.
"Badannya dah keenakan dipijat itu makanya bawaannya ingin tidur," sahut Adi.
"Iya mungkin, Mas." Adelia kembali menutup mulutnya yang menguap.
"Tidur aja kalau ngantuk, Ai," titah Adi.
"Enggak, ah. Nanti Mas Adi jadi berasa sendirian, sepi," tolak Adelia.
"Enggak apa-apa. Aku kan sudah lama hidup sendiri, Ai. Jadi, sudah biasa sendiri." Adi tersenyum kecil.
"Makanya sekarang sudah punya istri kan, masa masih sendiri terus. Kita mengobrol saja buat menghilangkan rasa kantuk, Mas. Dengar lagu-lagu romantis kaya gini malah makin ngantuk aku." Adelia mematikan musik romantis yang mengalun dari music player yang terpasang di dashboard mobil.
Adi tertawa kecil melihat istrinya yang kesal karena musik romantis yang mengalun di dalam mobil membuatnya semakin ingin tidur.
"Ya sudah, Ai cerita saja gimana pengalamannya dipijat sama Mbah Suro?" Adi melirik melihat eskpresi kesal sang istri.
"Ya, enak lah. Mbah Suro juga ramah selalu mengajak aku cerita. Apalagi kalau aku kesakitan pasti perhatianku akan dialihkan sama dia."
"Terus disuruh balik lagi enggak?" tanya Adi.
"Kalau mau balik ke sana lagi, harus nunggu dedaunannya habis."
"Ai, kira-kira ingin balik ke sana lagi enggak?"
"Kalau aku belum juga hamil ya tetap ke sana, Mas. Tidak ada salahnya ikhtiar sekalian berbagi rezeki dengan Mbah Suro."
"Istriku semakin pintar dan salehah saja sekarang," puji Adi yang membuat munculnya rona merah di pipi sang istri.
"Mulai deh menggombal," gumam Adelia.
Adi tertawa kecil mendengar istrinya menggumam.
"Kalau kita minum jamu terus vitaminnya bagaimana, Ai?"
"Ya, tetap diminum, Mas. Misal jamunya diminum pagi, vitaminnya bisa siang atau malam. Tidak boleh barengan minumnya. Kaya tadi kan kita minum vitamin pagi, terus tadi sore kita minum jamu."
"Ya, Ai saja yang atur jadwal minum vitamin dan obat. Ini mau beli jajanan dulu enggak sebelum pulang?"
"Enggak, Mas. Aku mau tidur sampai rumah, tidak mau nyemil lagi."
"Oke."
...---oOo---...
__ADS_1
Jogja, 300921 00.35