
"Mas, besok kita pulang ke rumah ayah ya," pinta Adelia setelah mobil melaju meninggalkan cluster perumahan mereka.
Malam ini mereka akan makan malam di luar karena Adelia sedang malas memasak. Kebetulan, dia juga menginginkan makanan yang berkuah panas.
Adi menoleh ke samping dengan kening mengerut. "Tumben minta pulang ke ayah?"
"Jamu yang dari Mbah Suro sudah mau habis, Mas. Aku juga mau dipijat lagi."
"Ai, merasa ada perubahan setelah dipijat dan minum jamu?"
"Iya, badan rasanya lebih enak, Mas. Memangnya Mas Adi tidak merasa berubah setelah minum jamu?" Adelia menoleh pada suaminya.
"Kalau aku biasa saja, Ai. Ya sudah, Sabtu besok kita pulang. Tapi Ale tidak di sana loh, nanti Ai kangen sama Ale."
"Ale aja baru liburan kok, Mas. Makanya aku kesepian enggak ada Ale," keluh Adelia.
Adi tertawa. "Ale liburan? Yang benar saja, Ai."
"Ih, Mas Adi, kok enggak percaya sih. Tadi sore mereka bertiga pergi liburan."
"Ale mana ngerti juga diajak liburan, Ai." Adi masih tertawa geli.
"Tahu tuh, honey moon lagi kayanya Rendra sama Dek Dita."
"Mereka memang sering sih pergi liburan berdua sejak menikah. Ternyata setelah punya anak masih liburan juga," gumam Adi.
"Mungkin biar mereka bisa menikmati waktu berdua saja, Mas. Kalau di rumah kan banyak orang, tidak bisa bebas bersikap romantis."
Adi mengangguk-angguk, sependapat dengan istrinya.
Dddrtt ... dddrttt ....
Gawai Adi yang diletakkan di dekat persneling bergetar.
"Ai, tolong dicek siapa yang kirim pesan."
Adelia mengambil gawai suaminya dan membuka pesan yang baru saja masuk. Keningnya mengerut saat membaca pesan itu.
"Dari siapa, Ai?" tanya Adi yang penasaran karena istrinya hanya diam saja.
"Lisa," jawab Adelia pendek.
Adi mengernyit. "Lisa? Bilang apa dia?"
"Pak Adi, terima kasih tumpangannya tadi. Besok boleh ya menumpang lagi." Adelia membacakan pesan dari Lisa.
"Oh," hanya itu kata yang keluar dari bibir Adi tanpa berniat menjelaskan siapa Lisa.
"Lisa itu siapa, Mas?" tanya Adelia dengan nada sewot.
"Anak magang di kantor," jawab Adi pendek.
"Mas Adi, sekarang pegang anak magang cewek?"
"Enggak. Dia yang pegang Budi, cuma Budi kan sedang cuti, jadi sementara aku yang pegang. Cuma seminggu saja, Ai."
"Memangnya tadi Mas Adi sama Lisa pergi ke mana berdua?"
"Ke proyek. Enggak berdua, Ai. Rombongan sama anak magang lainnya ke proyek. Mana mungkin aku berduaan sama perempuan lain selain Ai, Dita dan bunda."
"Tapi, dari pesannya kaya berduaan saja." Adelia melipat kedua tangan di depan dada. Pandangannya lurus ke depan.
"Astaghfirullah, Ai. Sumpah, demi Allah, aku tidak pernah pergi berduaan dengan Lisa atau perempuan lain. Itu tadi ramai-ramai, Ai."
"Kenapa Lisa saja yang hubungi, Mas?"
"Mana aku tahu, Ai."
"Mas, kasih nomor hp ke semua anak magang?"
"Iya, tapi cuma yang aku pegang, Ai."
"Berarti Lisa juga Mas Adi kasih?"
"Enggak, Ai. Aku enggak tahu siapa yang kasih dia nomorku. Itu kan juga bisa dilihat nomornya enggak aku simpan. Kalau anak magang yang aku pegang langsung pasti aku simpan nomornya, Ai."
__ADS_1
Adelia mendengus kesal. Dia tidak puas dengan jawaban suaminya.
"Ai, cemburu ya." Bukannya mencoba menenangkan istrinya, Adi justru menggoda Adelia.
"Enggak," sahut Adelia dengan ketus.
"Masa sih?" Adi terus menggoda Adelia.
Adelia diam, tidak membalas suaminya. Dia menatap lurus ke depan masih dengan tangan terlipat di depan dada.
"Blokir saja nomornya Lisa, Ai." Adi menyerahkan gawainya pada Adelia.
"Ngapain diblokir? Kan besok mau nebeng lagi pergi ke proyek."
"Aku besok bawa motor, tidak bawa mobil ke kantor, Ai."
"Naik motor malah bisa boncengan kan berdua, bisa mepet-mepet duduknya."
"Astaghfirullah, Ai. Bisa-bisanya kamu berpikiran seperti itu. Kamu tidak ingat dari awal aku kenal sama kamu sampai kita menikah, apa pernah aku berduaan dan boncengan dengan kamu?"
"Suamimu tidak serendah itu, Ai. Sejak kita menikah, aku tidak pernah berhubungan dengan perempuan lain selain urusan pekerjaan. Kalau ada mahasiswa magang pun, aku minta yang laki-laki." Adi berusaha meyakinkan istrinya.
"Nyatanya, Lisa sekarang dipegang Mas Adi. Dia juga kirim pesan."
"Lisa hanya aku pegang sementara saja sampai Budi selesai cuti, Ai. Soal pesan, dia kan yang kirim duluan, bukan aku. Makanya blokir saja nomornya biar Ai enggak curiga lagi sama aku."
"Besok, aku minta Gilang, asistenku, yang pegang Lisa sampai Budi selesai cuti. Besok Ai ikut aku ke kantor biar Lisa tahu gimana cantiknya istriku. Biar semua orang tahu kalau hatiku sudah dimiliki sama istriku, jadi tidak mungkin lagi ada orang lain yang mengisinya."
"Gombal," sahut Adelia dengan pipi bersemu merah. Tanpa sadar dia tersenyum.
"Nah, gitu dong tersenyum, kan jadi lebih cantik, Ai," puji Adi.
"Siapa yang tersenyum?" Adelia memalingkan wajahnya ke samping kiri. Menghindar dari Adi.
"Tentu saja istriku yang paling cantik, Adelia Putri Permana."
"Memang biasanya tidak cantik?"
"Cantik dong. My wife is the most beautiful woman in the world. Kalau enggak cantik mana mungkin aku jatuh cinta sama, Ai."
Adi tersenyum lebar. "Aku tidak menggombal, Ai. Memang kenyataannya seperti itu."
Adelia tidak menyahut, senyumnya melebar mendengar ucapan suaminya.
"Nah, kita sudah sampai, Ai." Adi melepas sabuk pengaman, setelah mobil terparkir sempurna.
Mereka pergi ke sebuah mal yang terletak di Jalan Laksda Adisucipto. Mereka langsung menuju ke lantai 3 di mana restoran yang spesialisnya menyajikan suki berada.
Setelah memilih tempat duduk, Adi menyerahkan pada Adelia untuk memilih bahan makanan yang akan dimasukkan ke dalam kuah suki. Ada banyak piring dengan warna dan isian bahan makanan yang berbeda di salah satu sudut restoran. Adelia memilih beberapa piring, sesuai dengan apa yang dia dan Adi sukai. Selesai memilih, dia meminta Adi membawa ke meja mereka.
Adelia memasukkan beberapa sayur dan daging yang tadi dia pilih, ke dalam kuah suki yang sudah tersaji di atas meja mereka. Sambil menunggu sayuran dan daging matang, mereka kembali mengobrol.
"Mas Adi, sering ya ke sini?"
"Enggak, baru beberapa kali. Itu pun diajak teman. Sudah lama banget sebelum Dita masuk kuliah. Dita malah belum pernah aku ajak ke sini."
"Kapan-kapan kita ajak Dek Dita ke sini ya, Mas."
Adi mengangguk. "Ai, sudah berapa kali ke sini?"
"Baru dua kali sama sekarang. Itu juga sama mama dan papa. Mahasiswa seperti aku mana mungkin sering makan di sini, Mas. Palingan di kantin atau penyetan utara kampus kalau sama teman-teman."
Adi tertawa kecil mendengar jawaban istrinya. "Itu sudah mulai matang, Ai. Makan dulu yuk."
Mereka kemudian makan sambil sesekali bercerita dan bercanda. Usai makan mereka berjalan mengelilingi mal sambil sesekali mampir ke gerai pakaian atau kosmetik. Sebelum pulang mereka ke supermarket yang ada di lantai bawah. Saat sedang menunggu Adelia memilih ikan dan daging, ada seseorang menyapa Adi.
"Mas Adi." Seorang perempuan dengan paras cantik, berhijab dan memakai pakaian serba ketat mendekatinya.
Adi yang merasa dipanggil namanya menoleh ke sumber suara. Dia terkesiap saat melihat sosok perempuan itu.
"Se--kar Ayu," ucap Adi tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mas Adi, apa kabar?" Perempuan yang dipanggil Sekar Ayu itu sudah berdiri di dekat Adi.
"Alhamdulillah kabarku baik," jawab Adi yang tidak dapat menutupi kegugupannya.
__ADS_1
"Sendirian saja, Mas?" tanya Sekar Ayu yang terus menyunggingkan senyum manisnya.
"Oh, eh, aku sama istriku." Adi mencari-cari sosok Adelia yang terakhir dia lihat tadi ada di konter ikan dan daging. Namun, sosok istrinya sudah tidak ada lagi di sana. Matanya berkeliling lagi, dan akhirnya menemukan istrinya di konter buah-buahan.
"Itu istriku yang sedang memilih buah." Adi mengarahkan telunjuknya pada Adelia.
"Mas Adi, sudah menikah ternyata?" tanya Sekar Ayu dengan nada sendu.
"Alhamdulillah, sudah." Adi menjawab dengan penuh percaya diri. Dia sudah menguasai dirinya kembali.
"Aku pikir Mas Adi belum menikah. Setiap hari aku berdoa semoga bisa dipertemukan lagi dengan Mas Adi dan bisa meneruskan kembali niat kita dahulu."
Adi mengernyit. "Maksudmu apa, Sekar?"
"Aku sudah bercerai dengan suamiku, Mas. Dia ternyata suka main tangan dan sering selingkuh di belakangku. Untung saja aku masih belum punya anak dari dia."
"Aku turut prihatin, Sekar," ujar Adi.
"Kalau saja dulu bapak dan ibu tidak menolak lamaran Mas Adi, pasti sekarang kita sudah bahagia dengan anak-anak kita, Mas."
"Itu semua sudah masa lalu. Kita memang ditakdirkan tidak berjodoh." Adi menjawab dengan bijak.
"Selama aku menikah, aku selalu memikirkan Mas Adi. Aku mau menikah dengan mantan suamiku hanya karena menuruti bapak dan ibu. Aku tidak mau dibilang anak durhaka, Mas. Mereka bilang, Anton yang terbaik untukku karena mapan dan kaya. Tapi, kenyataannya, dia pria yang berengsek."
"Anton berani memaki-maki dan menamparku di depan bapak dan ibu. Bahkan, dengan santai membawa selingkuhannya ke rumah kami. Aku sakit dan merasa terhina, Mas."
"Anton selalu merendahkan keluargaku. Katanya aku cukup diam saja karena dia sudah memenuhi semua kebutuhanku. Dia memang memberiku dan keluargaku kemewahan. Tetapi, sikapnya padaku dan keluargaku seperti seolah kami ini tidak berharga."
"Lama-lama aku tidak tahan, Mas. Selain menyakiti badanku, dia juga menyakiti hatiku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta cerai. Meski bapak dan ibu awalnya tidak mengizinkan dan memintaku untuk bersabar, akhirnya mereka menyetujui setelah melihat Anton menamparku di depan mereka." Mendadak Sekar Ayu menangis. Dia berdiri, menangis sesenggukan di samping Adi.
"Sekar, tolong jangan menangis. Aku tidak mau orang-orang salah paham melihat kita."
Adi merasa panik karena melihat Sekar Ayu menangis. Dia bingung harus melakukan apa. Dia takut orang salah mengira dia yang sudah membuat Sekar Ayu menangis.
Adi hanya diam berdiri sambil terus memandang istrinya yang masih sibuk memilih buah. Tidak mungkin dia merangkul dan menenangkan perempuan yang bukan mahramnya itu. Dia sangat berharap Adelia segera datang padanya karena dia tidak bisa meninggalkan Sekar Ayu begitu saja.
Untung saja Adelia menoleh pada Adi walau dengan wajah masam. Adi lalu melambaikan tangan, memberi kode pada istrinya untuk mendekat. Meski dengan raut cemberut, Adelia tetap mematuhi suaminya. Dia menghampiri Adi yang berdiri dengan sosok perempuan yang tidak dia kenal. Perempuan cantik yang menangis di samping suaminya.
"Ai, kenalkan ini Sekar. Sekar Ayu, kenalkan ini istriku, Adelia." Adi memperkenalkan kedua perempuan yang ada di kedua sisinya. Walaupun situasinya kurang pas untuk berkenalan, tetapi dia tetap harus melakukannya agar tidak ada kesalahpahaman. Dia tahu istrinya pasti merasa sangat kesal padanya saat ini.
Kedua perempuan itu lalu bersalaman. Mereka diam, tak bicara. Adelia kemudian mengambil tisu dari dalam tasnya lalu mengangsurkan pada Sekar Ayu.
"Dihapus dulu air matanya, Mbak," ucap Adelia, mencoba bersikap ramah. Entah apa yang terjadi di antara suaminya dan perempuan itu, tapi dia merasa tidak tega melihat sesama perempuan yang menangis.
"Terima kasih." Sekar Ayu menerima tisu dari Adelia. Dia menghapus sisa air matanya.
Adelia mengagumi kecantikan Sekar Ayu. Meski menangis, tetapi tetap terlihat cantik, bahkan tampak lebih menarik dengan hidung yang memerah.
"Maaf, Mas. Aku terbawa suasana," ucap Sekar Ayu setelah bisa menguasai dirinya.
"Iya, tidak apa-apa," sahut Adi.
"Istrimu cantik sekali seperti model, Mas," puji Sekar Ayu usai mengamati Adelia dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Pantas Mas Adi sudah melupakan aku dan lebih memilih dia. Aku berarti sudah tidak punya harapan lagi ya, Mas." Wajah Sekar Ayu menjadi sendu lagi.
"Maksudnya apa ini, Mas? Mbak Sekar ini siapa?" Adelia mulai tersulut emosinya.
"Ai, tenang, istighfar. Lebih baik kita mencari tempat yang nyaman untuk bicara, biar semuanya jelas. Kalau di sini kita menjadi tontonan orang-orang. Ai, sudah selesai kan belanjanya?" Adi berkata lembut pada istrinya sembari memeluk bahu perempuan yang sudah menjadi belahan jiwanya itu.
Adelia terpaksa mengangguk. Sebenarnya masih ada yang mau dia beli tapi dia malas bicara dengan suaminya. Lagipula, dia juga tidak mau menjadi tontonan gratis pengunjung supermarket. Dia berjalan cepat di depan. Adi dan Sekar Ayu mengikutinya dari belakang. Mereka bertiga diam, tak ada satu pun yang mengeluarkan suara.
Setelah melakukan pembayaran di kasir, mereka naik ke lantai dasar menuju ke gerai kopi dengan logo warna hijau bergambar seorang wanita. Usai memesan minuman, mereka bertiga duduk di salah satu sudut gerai tersebut.
Adi duduk berdampingan dengan Adelia. Sedangkan Sekar Ayu, duduk di depan mereka.
Sejak keluar dari supermarket, Adi selalu menggandeng tangan Adelia. Sementara tangan satunya membawa tas belanja. Dia ingin menunjukkan pada Sekar Ayu kalau dia sangat mencintai istrinya dan sudah hidup bahagia dengannya. Adi hanya melepas tangan Adelia saat melakukan pembayaran di gerai kopi. Saat duduk pun Adi terus menggenggam tangan istrinya.
"Oke, kita sudah bisa bicara dengan tenang tanpa harus menjadi tontonan orang-orang lagi. Sekarang, aku akan menjelaskan semuanya. Ai, jadi Sekar ini adalah---."
"Aku cinta pertamanya Mas Adi." Belum sempat Adi menyelesaikan kalimatnya, Sekar Ayu sudah memotongnya.
...---oOo---...
Jogja, 131021 00.10
__ADS_1