
"Mas Adi, besok Dek Dita pulang ya?" tanya Adelia di pelukan suaminya usai aktivitas membakar kalori mereka.
"Iya, kenapa?" Adi mengusap lalu mencium kening istrinya yang tadi basah karena keringat.
"Enggak apa-apa. Aku juga ingin sekali waktu pergi umrah, Mas." Adelia mendongak menatap suaminya.
"Insya Allah tahun depan ya, Ai. Sekarang kita menabung dulu. Jatah cutiku juga hanya tinggal beberapa hari," kata Adi.
"Aamiin. Semoga ada rezeki dan dimudahkan ya, Mas."
"Aamiin. Insya Allah, Ai."
"Mas," panggil Adelia pelan.
"Kenapa, Ai?" Adi mengerutkan kening, menatap wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya itu.
"Kalau misalnya aku bulan ini belum hamil gimana?" tanya Adelia dengan tatapan khawatir.
"Ya, kita usaha lagi bulan depan," jawab Adi sambil mengelus pipi istrinya.
"Mas Adi, enggak marah? Enggak kecewa?" tanya Adelia lagi.
"Kenapa harus marah dan kecewa? Jodoh, hidup, mati, rezeki ada di tangan Allah. Tugas kita berusaha dan berdoa, selanjutnya berserah diri pada Allah. Kalau apa yang kita inginkan belum terkabul, berarti Allah punya rencana lain yang indah untuk kita," jawab Adi.
"Ai, jangan terlalu memikirkan soal anak. Kita nikmati saja kebersamaan kita. Anggap saja kita sedang pacaran, tapi pacaran yang halal. Kalau sudah tiba waktunya kita punya anak, pasti Allah akan memberi," lanjut Adi.
"Tapi omongan orang, Mas."
"Sssttt, tidak perlu dengar omongan orang. Kita yang menjalani hidup kita sendiri. Ai, sekarang fokus saja pada skripsi dan ujian pendadaran, tidak usah mengurusi hal lain. Apalagi memikirkan omongan orang yang negatif." Adi meletakkan jari telunjuk di depan bibir istrinya.
Adelia mengangguk. "Iya, Mas."
"Sudah malam ini, Ai. Mau tidur atau mau satu ronde lagi?" Adi mengedipkan sebelah mata menggoda istrinya.
"Mas, ih." Adelia menepuk dada bidang dan keras suaminya sambil tersenyum malu.
...---oOo---...
Setelah kepulangan keluarga Ibu Dewi dari umrah dan liburan, mereka kembali ke kegiatan masing-masing. Ibu Dewi kembali mengurus butiknya. Shasha kembali bekerja seperti biasa. Rendra menyiapkan ujian skripsi dan mengurus kafenya. Dita menikmati liburan semester sambil membantu suaminya mengurus kafe. Dan Nisa mulai sibuk persiapan menjadi panitia orientasi mahasiswa baru di kampusnya.
Hubungan Shasha dengan Arjuna maupun Kaisar juga masih seperti semula. Kesibukan bekerja membuat hubungan mereka masih berjalan di tempat, sebagai teman. Apalagi Arjuna bekerja di luar kota, membuatnya tidak bisa sering-sering pulang ke Jogja bertemu dengan Shasha. Meski hampir setiap hari mereka selalu berkirim pesan. Sementara Kaisar juga sibuk dengan berbagai macam kasus yang dia tangani. Kadang dia juga tidak pulang ke kontrakannya. Kalau ada waktu senggang biasanya dia menyempatkan untuk mengirim pesan pada Shasha.
Kasus Restu sudah masuk ke sidang putusan. Adi, Adelia, Rendra, Dita, Arsenio, Pak Lukman dan Ibu Sarah datang ke pengadilan untuk mendengarkan keputusan hakim. Kedua orang tua Restu juga datang dengan membawa anak Restu yang sekarang di bawah pengasuhan mereka. Kaisar pun menyempatkan datang ke pengadilan meski hanya sebentar.
Siang itu Restu mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan bawahan celana kain berwarna hitam. Di kepalanya bertengger manis peci hitam yang menutupi sebagian rambutnya yang biasanya klimis. Saat dia masuk ke ruang sidang dan melihat Adelia ada di sana, senyumnya mengembang sempurna. Meskipun dia tahu, Adelia sekarang pasti sangat membencinya. Tapi melihat wanita yang masih dicintainya itu ada di sini saja, membuatnya merasa bahagia.
Setelah semua siap, sidang dibuka oleh Hakim Ketua. Dia menjelaskan kalau acara sidang hari ini adalah pembacaan putusan. Sebelum membacakan putusan, Hakim Ketua meminta para pihak yang hadir supaya memperhatikan isi putusan dengan saksama.
Restu diminta berdiri saat Hakim Ketua akan membacakan amar putusan.
Hakim Ketua kemudian membacakan putusannya. "... Menyatakan terdakwa Restu Prasetyo tersebut di atas terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Pengancaman dan Percobaan Melakukan Pembunuhan. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 10 (sepuluh) tahun, ...."
Setelah putusan dibacakan, Restu diminta duduk kembali. Hakim Ketua menjelaskan mengenai isi putusan yang dijatuhkan pada Restu secara singkat. Kemudian Hakim Ketua menerangkan hak-hak pada Restu dan Jaksa Penuntut Umum terhadap putusan tersebut.
Selanjutnya, Hakim Ketua menawarkan pada Restu untuk menentukan sikapnya. Apakah dia akan menerima putusan tersebut, menerima dan mengajukan grasi, naik banding atau pikir-pikir dahulu. Hakim memberi waktu pada Restu untuk berkonsultasi dengan penasihat hukumnya. Hakim Ketua juga menawarkan hal yang sama pada Jaksa Penuntut Umum.
Restu kemudian berdiri menghampiri pengacaranya dan melakukan diskusi. Dia tampak berpikir dalam saat berbicara dengan penasihat hukumnya. Setelah sekitar 10 menit, dia kembali duduk di kursi terdakwa.
"Saya menerima putusan tersebut dan akan mengajukan grasi, Yang Mulia," kata Restu pada Hakim Ketua.
Jawaban Restu seketika membuat suasana ruang sidang menjadi riuh. Ada yang pro dan ada yang kontra hingga membuat Hakim Ketua mengetukkan palu agar semua tetap menjaga ketenangan ruang sidang. Setelah situasi kembali tenang, Hakim Ketua kembali melanjutkan sidang.
Jaksa Penuntut Umum juga menyatakan menerima putusan. Setelah itu mereka menandatangani berita acara pernyataan menerima putusan yang telah disiapkan oleh panitera pengadilan. Sesudah semua proses selesai, Hakim Ketua menutup jalannya persidangan.
" ... Sidang dinyatakan ditutup.β Hakim Ketua mengetukkan palu sebanyak tiga kali.
"Majelis hakim akan meninggalkan ruang sidang, hadirin dimohon untuk berdiri," ucap panitera.
Semua yang hadir di ruang sidang tersebut kemudian berdiri. Majelis hakim meninggalkan ruang sidang melalui pintu khusus. Lalu Restu keluar ruang sidang dengan dikawal oleh petugas.Β Setelah itu para pengunjung, Jaksa Penuntut Umum, kuasa hukum Restu berangsur-angsur meninggalkan ruang sidang.
"Adelia," panggil seorang wanita saat Adelia dan Adi akan ke luar dari ruang sidang.
Adelia menolehkan kepala ke belakang. Dia terkejut saat melihat siapa yang menyapanya. Tapi kemudian dia langsung menyunggingkan senyum pada wanita yang telah melahirkan Restu itu.
"Mas, aku boleh kan bicara sebentar dengan orang tua Restu?" Adelia meminta izin pada Adi sebelum menghampiri kedua orang tua Restu.
Adi menyengguk. "Boleh. Aku juga ingin kenalan sama mereka, Ai."
Adi dan Adelia lalu berjalan menghampiri kedua orang paruh baya tersebut.
__ADS_1
"Om, Tante, bagaimana kabarnya?" sapa Adelia dengan senyum ramah.
"Alhamdulillah kabar kami baik. Kamu semakin cantik saja sekarang memakai hijab," puji ibunda Restu.
"Tante, bisa saja. Oh ya, Om, Tante, kenalkan ini Mas Adi, suami saya." Adelia langsung memperkenalkan Adi pada mereka. Adi pun bersalaman dengan kedua orang tua Restu.
Kedua orang tua Restu terkesiap mendengar ucapan Adelia.
"Ka--mu sudah menikah?" tanya ibunda Restu sambil menatap intens Adelia.
Adelia tersenyum. "Alhamdulillah sudah, Tante. Bulan puasa kemarin kami menikah."
"Tapi, Restu tidak pernah mengatakannya pada kami. Tante mengira kamu masih berpacaran dengan suamimu," ujar ibunda Restu.
"Mungkin belum sempat mengatakannya, Tante," sahut Adi.
"Ya, mungkin begitu." Ayah Restu manggut-manggut.
"Ini siapa, Tante?" tanya Adelia sambil menunjuk bayi yang ada dalam stroller.
"Ini anaknya Restu dan Claudia," jawab ibunda Restu.
"Oh, perempuan ya, Tante. Cantik sekali." Adelia mengelus pipi lembut bayi yang sedang tertidur nyenyak itu.
"Iya, namanya Adelia. Katanya dia ingin anaknya secantik dan sebaik kamu," terang ibunda Restu.
Mata Adi dan Adelia membola saat mendengar nama anak Restu bernama Adelia. Tapi, mereka hanya diam tak berkomentar apa pun.
"Kasihan anak ini. Papanya dipenjara. Mamanya tidak bisa mengurus karena harus bekerja. Jadi Restu meminta kami untuk mengasuh dia."
"Semoga dia tumbuh menjadi anak yang cantik, kuat, pintar dan salehah," doa Adi dengan tulus.
"Aamiin. Terima kasih, Nak. Kami atas nama Restu meminta maaf atas segala perbuatannya yang ingin mencelakai Nak Adi dan juga Adelia," kata ayah Restu.
"Insya Allah, kami sudah memaafkan, Om, Tante." Adi tersenyum pada kedua orang tua Restu.
"Terima kasih, Nak. Kami juga mendoakan semoga pernikahan kalian bahagia, sampai maut memisahkan," kata ayah Restu.
"Aamiin," ucap Adi dan Adelia bersamaan.
"Mas Adi, masih lama? Sudah ditunggu Dita di mobil." Rendra datang dengan setengah berlari. Dita sudah mengomel terus karena lama menunggu Adi dan Adelia.
"Om, Tante, maaf kami permisi dulu. Adik saya sudah menunggu di mobil," pamit Adi dengan sopan pada kedua orang tua Restu.
"Iya, silakan, Nak. Maaf kami jadi menahan kalian berdua di sini," kata ayah Restu.
"Tidak apa-apa, Om. Assalamualaikum," salam Adi sebelum beranjak meninggalkan kedua orang tua Restu. Dia menggenggam erat tangan Adelia saat berjalan menuju ke tempat parkir.
"Dita ngamuk ya, Rend?" tanya Adi seraya menoleh pada adik iparnya.
"Iya, Mas. Panas, lapar, katanya. Padahal AC juga sudah dinyalakan. Snack bar-nya juga masih ada," jawab Rendra sambil meringis.
"Kehamilan yang ini lebih rewel daripada Akhtar ya, Rend. Dulu bawaannya ngantuk sama makan terus. Anteng meski ditinggal KKN. Sekarang sensitif, rewel," kata Adi sambil mendesah.
"Iya, Mas. Tapi memang bawaan masing-masing anak berbeda-beda." Rendra menuju ke kursi supir begitu tiba di dekat mobil.
"Mas Adi ngapain sih di sana, lama banget. Panas tahu di sini. Aku juga sudah lapar banget." Dita mengomeli kakaknya begitu Adi membuka pintu mobil.
"Maaf ya, Dek. Tadi kami mengobrol sebentar dengan orang tuanya Restu." Adelia yang menjawab Dita.
"Oh, iya enggak apa-apa, Mbak." Dita langsung tak enak hati karena kakak iparnya yang menyahut dia.
"Adek sama Ale mau makan apa?" tanya Adi sambil menoleh ke belakang.
"Aku mau makan yang serba jamur, Mas," jawab Dita.
"Di mana itu, Dek?" Adi mengerutkan keningnya.
"Tanya Mas Rendra itu yang tahu." Dita menunjuk Rendra dengan dagunya.
"Tapi, agak jauh loh, Sayang. Nanti keburu kelaparan," kata Rendra sambil fokus menyetir. "Lain kali saja ya kita ke sana," bujuknya.
"Ya udah, deh. Kalau gitu ke hotplate yang di Jalan Mosez Gatotkaca saja, Mas."
"Siap, Bubu Sayang." Rendra mengarahkan kemudi ke arah Jalan Gejayan.
"Memangnya kalian pernah ke sana?" Adi mengernyit heran.
"Pernah dong, Mas. Memangnya Mas Adi jarang makan di luar," sahut Dita dengan nada sombong.
__ADS_1
"Kapan?" Adi masih penasaran.
"Sudah lama, Mas. Ingat enggak Mas Adi pas minta aku ngajak Dita makan sekalian? Waktu itu Dita pulang bareng sama aku," jelas Rendra.
"Oh, ya ya. Aku ingat. Jadi ceritanya ke tempat first date kalian ini?" Adi menggoda adiknya.
"Apaan first date? Mas Adi jangan mengarang indah ya," omel Dita.
"Eh, apa first date-nya di sop kaki kambing itu ya yang sepulang dari Gelex." Adi kembali menggoda adiknya.
"Mas Adi, ngeselinnnnn." Dita mencubit lengan kanan Adi.
"Awww, sakit, Dek." Adi mengusap lengannya yang bekas dicubit Dita.
"Rasain, makanya jangan suka menggoda." Dita melipat tangan di depan dada dengan mulut mengerucut.
"Sayang, hayo dijaga bicaranya. Jangan kasih contoh yang tidak baik untuk Ale," tegur Rendra seraya menatap istrinya lewat rear view mirror.
"Iya, Mas. Maaf," sahut Dita.
"Loh ada cerita apa setelah Gelex?" tanya Adelia. "Seingatku Rendra pamit pulang dulu katanya mau beli pesanan Tante Dewi."
"Waktu itu aku jemput Dita di Bundaran. Terus kami makan di sop kaki kambing. Kok ya jodoh, Rendra juga ke sana. Jadi kami makan bertiga di sana," terang Adi.
"Ternyata, aku banyak ketinggalan ya kisah cinta kalian," gumam Adelia.
"Kampus juga sempat heboh dulu waktu Rendra ketahuan membonceng cewek. Ternyata ceweknya, Dek Dita ya. Sampai tiap ketemu orang, aku ditanya apa aku yang dibonceng Rendra. Padahal belum pernah sekali pun dia mau memboncengkan cewek," cerita Adelia.
"Cieee, jadi Adek nih yang pertama dibonceng Rendra. Dulu aja selalu sewot tiap ngomongin Rendra, sekarang jadinya bucin." Adi tertawa tergelak karena berhasil menggoda adiknya.
"Tahu enggak, dulu Dita itu sama sekali enggak mau manggil nama Rendra?"
"Memangnya manggilnya gimana, Mas?" Rendra sampai menoleh ke samping kiri, ke arah Adi.
"Manggilnya 'dia'. Kalau cerita nyebutnya selalu 'dia'. Sampai aku sama bunda gemas banget." Adi kembali tergelak.
Muka Dita semakin bertambah merah karena menahan kesal pada kakaknya.
"Buka aja semuanya, sampai Mas Adi puas." Dita memalingkan wajah ke arah luar jendela.
"Uluh-uluh, Adek mengambek nih." Adi masih coba menggoda adik semata wayangnya itu.
"Sudah, Mas. Bahaya kalau diteruskan," kata Rendra pelan, begitu melihat wajah istrinya yang sudah merah padam.
Adi lalu menghentikan tawanya. Dia mengusap sudut mata yang berair karena terlalu banyak tertawa. Rendra menghentikan mobil di seberang kedai hotplate langganannya itu.
"Sudah sampai ini, Rend?" tanya Adi sambil melepas sabuk pengamannya.
"Sudah. Mas Adi, duluan saja sama Adel. Nanti aku menyusul. Pilih meja yang di luar ya, Mas, " jawab Rendra yang juga melepas sabuk pengamannya. Dia turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk belahan jiwanya itu.
"Bubu Sayang, turun yuk. Sudah sampai nih," bujuk Rendra pada istrinya yang mengambek.
"Enggak mau. Aku udah enggak lapar," sahut Dita dengan bibir cemberut.
"Kalau Bubu enggak mau, buat Ale ya. Kasihan Ale lapar nanti." Rendra mengusap perut Dita yang membuncit.
"Nih, Ale bergerak. Lapar ya, Nak? Bantu Baba bujuk Bubu ya." Rendra menunduk, bicara di depan perut istrinya.
"Ale nendang lagi nih, Sayang. Lapar dia. Apa aku pesankan dulu nanti Sayang baru turun kalau sudah siap?" tawar Rendra.
"Enggak mau. Panas di mobil," tolak Dita.
"Nanti aku nyalakan AC-nya kaya tadi."
"Enggak, aku turun aja," ucap Dita yang akhirnya menuruti suaminya karena sejatinya dia sudah sangat lapar.
"Yang mau dibawa apa saja, Sayang?" tanya Rendra setelah membantu istrinya turun.
"Kipas elektrik sama tisu basah, Mas."
"Yang ini?" Rendra menunjukkan kipas eletrik mini berwarna hijau dan tisu basah yang dia ambil dari tas bekal Dita.
"Iya." Dita mengangguk.
"Yuk, ke sana. Mas Adi sudah menunggu tuh." Rendra merangkul pinggang istrinya saat mereka menyeberang jalan di depan kedai.
...---oOo---...
Jogja, 010921 23.30
__ADS_1