Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Bertemu Lisa


__ADS_3

Sabtu pagi, Adi dan Adelia pulang ke rumah Pak Wijaya. Sebelumnya, Adi mengajak istrinya pergi ke kantor untuk mengambil berkas penting yang tertinggal. Kebetulan di sana ada beberapa anak magang, termasuk Lisa. Adi kemudian mengenalkan Adelia pada mereka.


"Kenalkan ini istriku, Adelia," ucap Adi dengan senyum bangga.


Adi memang sengaja mengajak Adelia ikut masuk ke kantor, tidak menunggu di mobil seperti biasa. Dia menggandeng mesra istrinya sejak turun dari mobil sampai di dalam kantor. Dia ingin menunjukkan kalau istrinya sangat cantik dan dia tidak akan tergoda dengan perempuan lain.


"Wah, bening banget istrinya, Pak," puji Zaky, salah satu anak magang yang ada di bawah bimbingan Adi.


"Duh, potek hatiku, Pak," sahut Tiara dengan nada bercanda dan mimik yang lucu.


"Serasi sekali, Pak Adi ganteng, istrinya cantik. Cewek-cewek, jangan berharap lagi ya sama Pak Adi. Kalian sudah kalah sebelum bertanding," celetuk Aldo yang magangnya juga dibimbing Adi.


Adi tersenyum mendengar celetukan mereka semua. Dia lalu menyebutkan nama mereka satu-persatu yang dia tahu. Yang dia tidak tahu, dia minta untuk menyebutkan sendiri namanya.


"Ai, yang ini namanya Lisa." Adi menunjuk pada sosok perempuan dengan paras hitam manis dan rambut panjang yang diurai.


Adelia menatap Lisa dengan pandangan dingin meski mulutnya tetap tersenyum manis. Dia menyadari sejak kedatangannya dengan Adi, Lisa sudah menunjukkan raut tak suka. Sebelum Adi menyebutkan nama Lisa, dia sudah menduga kalau perempuan yang terlihat kurang ramah itu adalah Lisa. Dan, memang benar perkiraannya.


Mendapat tatapan dingin dari Adelia, membuat Lisa menjadi salah tingkah. Di dalam hati, dia mengakui kalau Adelia sangat cantik dan anggun. Tidak banyak bicara, tapi tatapannya bisa membuatnya merasa diintimidasi.


"Apa istri Pak Adi tahu kalau aku mengirim pesan pada Pak Adi? Kenapa tatapannya terasa sangat menusuk seolah dia mau membunuhku?" batin Lisa.


"Pak, nama Ibu kan tadi Adelia, tapi Pak Adi tadi panggilnya Ai. Apa kami juga harus memanggil Ibu dengan nama itu?" tanya Zaky yang suka kepo.


"Kalian panggil istriku Bu Adel, atau Bu Adelia. Tidak ada yang boleh memanggil Ai, karena itu panggilan spesial dariku," titah Adi dengan mimik serius.


"Wah, ternyata Pak Adi romantis sekali," ucap Tiara sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi. "Masih ada stok laki-laki seperti Pak Adi tidak ya? Kalau ada, aku mau pesan satu."


"Kamu pikir Pak Adi barang dagangan apa pakai ada stok segala? Ngaco aja kamu." Aldo menoyor kepala Tiara.


"Heh, rese banget sih kamu, Do." Tiara balas memukul lengan Aldo dengan keras.


"Sakit, Ra," protes Aldo sambil mengelus lengannya yang terasa panas setelah dipukul Tiara.


"Kalian berdua ini kalau ketemu kaya Tom dan Jerry, jangan-jangan kalian berjodoh nanti," goda Adi pada Aldo dan Tiara.


"Cih, kaya enggak ada cowok lain saja Pak. Saya maunya yang kaya Pak Adi, bukan kaya Aldo. Ih, amit-amit jabang bayi sama Aldo." Tiara mengetuk meja tiga kali sembari menatap sinis Aldo.


"Memangnya aku juga mau sama kamu. Jangan ngarep ya," balas Aldo tak mau kalah.


"Kalian tahu, adikku itu nikah sama orang yang paling dia sebelin loh. Jadi, hati-hati kalian berdua," kata Adi sambil tersenyum, sebelum meninggalkan mereka menuju ke ruang kerjanya bersama Adelia.


Anak-anak magang yang lain langsung heboh menggoda Aldo dan Tiara, sementara Lisa tetap diam.


"Kenapa kamu jadi diam, Lis?" tanya Zaky yang kembali kepo setelah menggoda Aldo dan Tiara.


"Enggak apa-apa," jawab Lisa datar.


"Lisa baru patah hati, Zak," celetuk Aldo.


"Aku kan sudah bilang jangan menggayuh bintang di langit. Pak Adi itu sudah punya istri. Kamu bisa lihat sendiri kan gimana Pak Adi sama istrinya. Hentikan semua tingkahmu yang coba mendekati Pak Adi," nasihat Aldo pada Lisa.


"Apa sih kamu, Do." Lisa kesal karena Aldo justru menyudutkannya.


"Cukup jadikan Pak Adi sebagai penyemangat kita magang saja, jangan lebih dari itu, Lis. Coba bayangkan kalau kamu jadi istrinya Pak Adi, gimana perasaanmu kalau ada perempuan lain yang mendekati suaminya?" Tiara ikut bersuara menasihati Lisa.


"Ya--pasti aku enggak suka," sahut Lisa.


"Begitupun Bu Adel, Lis. Aku yakin Bu Adel tahu kamu pernah mengirim pesan sama Pak Adi. Makanya Pak Adi sampai bawa motor biar kita enggak bisa nebeng ke proyek lagi. Sekarang, kamu juga kalau ada apa-apa harus ke Pak Gilang kan konsultasinya bukan ke Pak Adi lagi," kata Tiara.


"Pak Adi enggak profesional dong kalau begitu, hanya karena masalah pribadi jadi begitu," gerutu Lisa.


"Ck, bandel nih anak kalau dibilangin. Kan kamu yang mulai enggak profesional, Lis. Sadar diri woi. Butuh kaca biar kamu tahu diri di mana posisimu?"


"Apaan sih kalian semua malah menyudutkan aku," protes Lisa tak terima.


"Angel wes angel kandanane bocah iki (susah banget dikasih tahu anak ini)." Aldo sudah menyerah menasihati Lisa.


"Bang Zaky obati sini luka hati Dek Lisa," goda Zaky.


"Ih, males banget." Lisa memutar kedua bola matanya.


"Sudah abaikan saja Lisa. Terserah kalau dia masih nekat. Kalau ada apa-apa kita lepas tangan." Tiara kembali fokus pada pekerjaannya sebelum Adi datang tadi.


"Kalian memang tidak setia kawan," gerutu Lisa dengan bibir cemberut. Dia lalu pergi meninggalkan teman-temannya.


Tak lama Adi keluar dari ruangannya bersama Adelia.

__ADS_1


"Aku mau pacaran dulu sama istriku. Baik-baik kalian di sini meski tidak ada aku. Kalau ada apa-apa hubungi Gilang. Oh ya, Tiara sama Aldo, kalau kalian menikah jangan lupa undang kami, ya kan, Ai," ujar Adi yang mendapat anggukan dari Adelia.


"Siap, Pak," sahut Zaky.


"Pak Adi, jangan mengada-ada," protes Tiara.


Adi tertawa, sedangkan Adelia hanya tersenyum simpul mendengar protes Tiara.


"Sudah ya, kami pulang dulu. Assalamu'alaikum," salam Adi sebelum keluar dari kantor.


"Wa'alaikumussalam."


"Gimana Ai, sudah lega kan sekarang? Sudah ketemu sama semua anak magang," tanya Adi setelah mereka masuk ke dalam mobil.


Adelia menyengguk. "Iya, Mas. Lisa kelihatan banget enggak suka lihat aku tadi. Dia juga tidak ada pas kita pulang."


"Biarkan saja. Yang penting dia sudah melihat sendiri bagaimana cantik dan salehahnya istriku."


Adelia tersipu begitu mendengar kata-kata manis Adi.


"Ai, coba video call Ale. Sudah bangun belum dia. Tiba-tiba kangen Ale," ucap Adi.


Adelia melihat jam digital di atas dashboard. "Pas nih jadwal dia menyusu. Moga-moga sudah selesai menyusunya."


Adelia kemudian mencari kontak Dita lalu melakukan panggilan video. Setelah dering ke lima baru diangkat Dita.


"Assalamu'alaikum, Ale," salam Adelia sambil memposisikan kamera agar mereka berdua tampak di layar gawai Dita.


"Wa'alaikumussalam, Bude, Pakde. Mau ke mana ini kok Ale enggak diajak?" Dita mengarahkan kamera ke arah Ale yang sedang digendong Rendra.


"Mau ke tempat yangkung sama yangti. Ale liburan enggak ngajak pakde sama bude." Kali ini Adi yang bicara.


Dita meringis di kamera. "Spontanitas kemarin, Mas."


"Ale udah minum susu, Dek?" tanya Adelia.


"Sudah, barusan. Makanya sekarang digendong baba-nya. Ale sudah kenyang Bude, sekarang ngantuk karena kekenyangan." Ale terlihat memejamkan mata di bahu Rendra.


"Jangan-jangan kamu kasih obat tidur biar Ale ngantuk terus, Dek," goda Adi.


"Ya udah, Dek. Nanti aku video call lagi kalau sudah sama ayah sama bunda."


"Iya, Mbak. Besok tolong bawakan bothok mlanding ya, nanti aku pesan sama bunda biar dibikinkan."


"Memangnya kalian pulang kapan, Dek?"


"Insya Allah besok, Mbak."


"Oke. Aku tutup ya. Assalamu'alaikum." Adelia melambaikan tangan ke kamera sebelum mengakhiri panggilannya.


"Wa'alaikumussalam." Dita juga melambaikan tangan Ale ke kamera.


"Senang ya Mas kalau sudah punya anak," celetuk Adelia setelah meletakkan kembali gawainya ke dalam tas.


"Hmmmm," deham Adi.


"Mas, seandainya selama setahun ini aku belum juga hamil apa Mas Adi juga akan mencari perempuan lain yang bisa mengandung anak Mas?" tanya Adelia.


Ckitttt.


Adi mengerem mendadak. Untung saja jalanan tidak begitu ramai hingga tidak terjadi kecelakaan dan mobilnya ada di lajur paling kiri. Dia sangat terkejut dengan pertanyaan istrinya.


"Astaghfirullah, Ai. Jangan ngomong sembarangan. Mana mungkin aku akan mencari perempuan lain, yang aku cintai kan cuma Ai." Adi kembali menjalankan mobilnya setelah bisa menguasai diri.


"Tapi, bagaimana kalau aku tidak bisa punya anak." Wajah Adelia berubah sendu.


"Jangan mendahului takdir Allah, Ai. Memang salah satu tujuan menikah adalah mempunyai keturunan. Tapi, itu bukan hal yang mutlak. Aku menikah karena aku ingin beribadah dan menyempurnakan separuh agama."


"Kalau memang qadarullah kita tidak bisa punya anak, kita bisa mengasuh anak yatim piatu atau dari orang yang tidak mampu, Ai. Aku juga tidak akan mencari perempuan lain. Kita tidak tahu siapa yang bermasalah, bisa jadi aku," ujar Adi.


"Kalau memang Mas sangat menginginkan anak, tapi aku tidak bisa memberikannya, aku ikhlas Mas Adi menikah dengan perempuan lain."


"Ai, cukup. Jangan bicara sembarangan lagi. Ingat ini, aku tidak akan menikah dengan perempuan lain apa pun yang terjadi nanti," tegas Adi.


"Jangan bicarakan hal yang belum terjadi dan tidak bermanfaat, Ai. Lebih baik kita berusaha, berdoa, bertawakal dan selalu berpikir positif," lanjut Adi.


"Iya, Mas." Adelia memalingkan wajahnya ke jendela samping. Ada bulir bening yang mendesak keluar dari matanya. Dia tidak mau Adi melihat hal tersebut.

__ADS_1


"Maaf, Ai, kalau aku salah bicara," ucap Adi begitu menyadari istrinya menyembunyikan tangisnya.


Adelia menggeleng. "Mas Adi enggak salah. Aku yang salah, sudah membuat Mas Adi marah. Aku minta maaf karena sudah bicara yang tidak-tidak, Mas."


"Iya, kita saling memaafkan, Ai. Tolong jangan bicara seperti tadi lagi, Ai."


Adelia menganggut. "Iya, Mas."


Sekitar satu jam kemudian, mereka tiba di pekarangan rumah Pak Wijaya. Mereka datang bertepatan saat azan Zuhur berkumandang. Setelah memasukkan barang bawaan mereka, Adi langsung bergegas pergi ke masjid.


Sementara itu, Adelia menjalankan salat Zuhur berjemaah dengan Ibu Hasna di musala rumah. Usai salat dan berdoa, Adelia membantu ibu mertuanya menyiapkan makan siang.


"Mbak Adel, istirahat saja. Biar bunda yang menyiapkan," kata Ibu Hasna pada sang menantu.


"Aku enggak capai kok, Bun. Oh ya, tadi Dek Dita pesan katanya minta dibikinkan bothok mlanding."


"Iya, Mbak. Tadi bunda sudah minta Mbok Darmi mencari mlanding (lamtoro), kelapa muda sama daun pisang."


"Bun," panggil Adelia dengan sedikit sungkan.


"Iya, kenapa, Mbak?" Ibu Hasna menoleh pada Adelia.


"Apa bunda sudah kenal akrab dengan Mbak Sekar?" tanya Adelia dengan hati-hati, takut menyinggung ibu mertuanya.


Ibu Hasna mengernyit. Dalam hati dia bertanya bagaimana Adelia bisa tahu Sekar padahal mereka sama sekali tidak pernah membicarakan apalagi menyebutkan namanya.


"Bunda pasti kaget ya karena aku tahu Mbak Sekar?"


"Iya, Mbak." Ibu Hasna kembali meneruskan kegiatannya menggoreng lauk.


"Beberapa hari yang lalu kami tidak sengaja bertemu Mbak Sekar di mal, Bun." Adelia akhirnya menceritakan pertemuannya dengan Sekar tempo hari.


Ibu Hasna diam seraya mendengarkan cerita dari Adelia.


"Mbak Adel sama Mas tidak ada masalah kan setelah ketemu Sekar?" tanya Ibu Hasna usai Adelia bercerita dengan raut khawatir.


"Alhamdulillah, kami baik-baik saja, Bun. Kalau ada apa-apa pasti kami tidak ada di sini sekarang," jelas Adelia seraya tersenyum simpul.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Bunda lega mendengarnya."


"Jadi, bagaimana pertanyaanku tadi, Bun?"


"Yang mana, Mbak? Maaf bunda lupa."


"Apa Bunda kenal akrab dengan Mbak Sekar?" Adelia mengulangi lagi pertanyaannya.


"Oh itu, bunda sekedar tahu saja, Mbak. Kita memang tetangga desa, tapi hanya sebatas tahu dan bersapa saat ketemu. Mas dan Sekar kan juga tidak pacaran, jadi bunda tidak akrab dengan Sekar."


Adelia manggut-manggut mendengar jawaban sang ibu mertua.


"Mbak Sekar cantik ya, Bun?" Adelia coba memancing Ibu Hasna.


"Semua perempuan itu cantik. Mbak Adel juga cantik, sangat cantik malahan. Bunda tidak menyangka bisa punya menantu secantik Mbak Adel. Mas memang pintar cari istri." Ibu Hasna tersenyum. Dia berusaha menjawab pertanyaan sang menantu dengan bijak.


"Bunda, tahu enggak gimana Mas Adi dan Mbak Sekar bisa kenalan?"


Ibu Hasna menggeleng. "Bunda tidak tahu. Coba saja tanya Mas"


"Mas Adi tidak mau menceritakan soal Mbak Sekar, Bun. Katanya buat apa? Toh sekarang aku sudah jadi istrinya."


"Memang benar kata-katanya, Mas. Buat apa Mbak Adel mengorek masa lalu yang bisa dibilang tidak menyenangkan. Sekar sudah masa lalu, Mbak Adel itu masa depan."


"Bunda sudah dicegah Mas Adi cerita soal Mbak Sekar, ya?" tebak asal Adelia.


"Bunda saja baru ketemu sebentar sama Mas, bagaimana Mas bisa mencegah bunda bicara." Ibu Hasna tertawa kecil.


"Eh, iya--ya. Aku lupa. Maaf ya, Bun."


Ibu Hasna mengangguk sebagai jawaban.


"Saran bunda, Mbak jangan terlalu memikirkan Sekar atau mengulik tentang dia. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang Mas sudah nikah sama Mbak, fokus saja dengan pernikahan kalian, tidak perlu memikirkan hal yang tidak bermanfaat."


"Iya, Bun."


...---oOo---...


Jogja, 181021 01.25

__ADS_1


__ADS_2