Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Bubu


__ADS_3

Usai sarapan, sekitar pukul 08.00 pagi, Dedi menjemput Adi dan Adelia untuk mengantarkan mereka menuju Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah. Sebelum ke bandara, Adi dan Adelia meminta Dedi mengantarkan mereka ke pusat oleh-oleh terlebih dahulu. Adi juga ingin membelikan adiknya asam manis sembilang, otak-otak dan juga gonggong. Setidaknya sampai malam nanti, semua makanan itu masih bisa untuk dimakan. Karena itu dia minta diantarkan ke rumah makan yang menjual semua makanan tadi.


Di pusat oleh-oleh, mereka membeli berbagai macam suvenir seperti gantungan kunci, tempelan kulkas dan juga kaos yang bertemakan Pulau Bintan. Selain itu ada kerupuk dan keripik gonggong, kerupuk otak-otak, ikan asin, dan kopi hawaii (sebutan untuk kopi khas Bintan) untuk Rendra.


Otak-otak khas Bintan beda dengan otak-otak di daerah lain. Otak-otak khas Bintan warnanya merah karena memakai cabe dan bumbu rempah lainnya. Otak-otaknya juga dibungkus memakai daun kelapa dan di dalam adonannya ditambah parutan kelapa. Otak-otak ini biasanya dibuat dari ikan atau cumi yang dihaluskan dan dicampur dengan berbagai rempah. Setelah adonannya dibungkus dengan daun kelapa lalu dibakar dengan batok kelapa atau arang hingga matang. Otak-otak ini setelah matang bisa langsung dimakan tanpa harus dicocol sambal.



Setelah membeli semua oleh-oleh, mereka menuju bandara. Dedi membantu menurunkan koper dan barang belanjaan mereka yang dimasukkan ke dalam kardus. Sesudah itu mereka saling meminta maaf bila ada kesalahan, tak lupa Adi mengucapkan terima kasih pada Dedi karena bersedia mengantar mereka ke mana saja. Adi juga memberikan tip pada Dedi sebelum mereka masuk ke area check in pesawat.


Pesawat mereka terbang menuju Jakarta terlebih dahulu dari Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang. Setelah sampai Jakarta, mereka transit selama kurang lebih 1 jam. Menjelang pukul 06.00 sore, mereka akhirnya tiba di bandara Jogja.


Rendra dan Dita sudah menunggu di pintu kedatangan. Dita terlihat antusias menjemput kakaknya. Sejak pagi dia sudah bersemangat pergi. Begitu melihat Adi dari jauh, dia sudah berteriak kegirangan.


"Mas, itu Mas Adi sama Mbak Adel." Dita menunjuk ke arah pintu kedatangan.


Adi terlihat mendorong troli yang berisi koper, kardus dan juga tas. Adelia berjalan di samping sambil menggandeng lengan kanannya.


"Mas, aku ke Mas Adi ya." Dita minta izin pada Rendra.


"Di sini saja, Sayang. Nanti Mas Adi juga ke sini." Rendra memeluk pinggang istrinya.


Dita berubah cemberut setelah Rendra melarangnya.


"Aku cium nih kalau cemberut gitu," kata Rendra sambil mendekatkan wajahnya.


"Enggak—enggak cemberut aku." Dita langsung melebarkan mulutnya daripada menjadi tontonan orang-orang di sana. Rendra tersenyum karena sudah berhasil menggoda istrinya.


"Assalamu'alaikum," salam Adi setelah tiba di depan Rendra dan Dita.


"Wa'alaikumussalam," jawab Rendra dan Dita bersamaan.


"Mas Adi, kangen." Dita langsung memeluk kakaknya dengan erat. Adi pun membalas pelukan adiknya itu.


"Iya, Mas juga kangen Adek. Sekarang Mas sudah pulang." Adi mencium puncak kepala Dita.


"Gimana kabar, Baby?" tanya Adi sambil mengelus perut Dita setelah mengurai pelukan mereka.


"Alhamdulillah, Baby baik, Mas. Sekarang sudah mulai terasa gerakannya," terang Dita.


"Alhamdulillah, sehat-sehat ya keponakan Pakde di dalam," kata Adi seraya memegang perut Dita.


"Dia bergerak, Mas. Dia senang pakde sama budenya pulang." Dita meletakkan tangan Adi di tempat dia merasakan gerakan di perutnya.


"Aku juga mau pegang dan merasakan gerakannya, Dek." Adelia menyahut saat mendengar bayi di dalam kandungan Dita bergerak.


"Sini, Mbak." Dita menyingkirkan tangan Adi lalu meletakkan tangan Adelia di perutnya.


"Baby, ini ada bude. Ayo bergerak Nak, biar bude bisa merasakan gerakanmu."


"Eh, iya dia bergerak. Masya Allah. Tapi enggak kencang ya, Dek." Adelia merasa takjub.


"Nanti makin besar makin terasa, Mbak."


"Sayang, sudah yuk. Ngobrolnya nanti lagi di mobil," kata Rendra seraya mendekat pada istrinya.


"Iya, Mas," sahut Dita, tapi setelah itu masih tetap bicara dengan Adelia.


"Hai, Mas Adi, Adel. Selamat pulang kembali di Jogja," sapa Rendra pada Adi dan Adelia.


"Makasih sudah jemput, Rend." Adi menjabat tangan Rendra, lalu memeluk adik iparnya itu.

__ADS_1


"Sama-sama, Mas. Dita yang semangat banget mau jemput sejak pagi. Kita langsung ke parkiran saja ya, Mas. Sudah Magrib ini, belum salat." Rendra menurunkan barang bawaan Adi dari troli. Dia lalu membawa dua kardus yang berisi oleh-oleh.


"Iya, Rend. Nanti kita mampir masjid saja." Adi mengambil koper. Dia juga menenteng tas plastik di tangannya.


"Dek, Ai, ayo jalan. Kita belum salat Magrib." Adi mengajak istrinya dan Dita yang malah asyik mengobrol berdua.


"Iya, Mas." Adelia dan Dita lalu berjalan bergandengan tangan di belakang Adi dan Rendra.


"Gimana, Mbak, bulan madunya? Tempatnya keren-keren ya?" tanya Dita yang sangat penasaran.


"Menyenangkan, Dek. Iya, keren tempatnya. Pantainya indah-indah. Ada gurun pasir, hutan bakau, wihara, masjid, banyak deh. Nanti aku tunjukkan foto-fotonya ya," kata Adelia.


"Wah, asyik. Kapan-kapan aku juga ingin ke sana, Mbak. Kemarin sekalian jalan ke Singapura enggak?"


"Kita ke Batam, Dek. Kan dekat juga dengan Pulau Bintan. Ada banyak tempat sih di sana jadi tidak bisa semua didatangi."


Dita menganggut mendengar cerita kakak iparnya. Setelah mereka sampai di mobil, Adi dan Rendra memasukkan koper dan barang bawaan lainnya ke bagasi. Tas yang berisi asam manis sembilang, otak-otak dan gonggong diberikan pada Adelia.


"Hmmm, wanginya enak. Apa itu, Mbak?" tanya Dita penasaran.


"Ada asam manis sembilang, otak-otak sama gonggong," jawab Adelia.


"Aku mau dong nyicip otak-otaknya. Boleh ya, Mbak," pinta Dita.


"Tentu boleh. Ambil saja, Dek." Adelia menyodorkan tas plastik yang berisi otak-otak.


Dengan penuh semangat, Dita mengambil satu otak-otak.


"Oh, daunnya pake daun kelapa ya bukan daun pisang," komentar Dita begitu melihat wujud otak-otak.


"Iya, Dek."


"Wah warnanya merah, beda sama otak-otak biasa. Bismillahirahmannirrahim." Dita menggigit otak-otak yang sudah dilepas dari bungkusnya.


"Aku mau, Sayang," kata Rendra pada istrinya. Dita lalu menyuapkan otak-otak yang tadi sudah dia makan setengah pada suaminya yang sedang menyetir mobil.


"Masya Allah, enaknya. Makasih, Sayang," ucap Rendra setelah memakan otak-otak.


"Aku juga belikan kamu kopi khas sana, Rend."


"Alhamdulillah, terima kasih, Mas."


Sebelum pulang ke rumah Pak Wijaya, mereka mampir di masjid untuk menjalankan salat Magrib. Setelah itu, mereka langsung menuju rumah Pak Wijaya.


Ibu Hasna menyambut penuh suka cita kepulangan putra sulung dan juga menantunya dari bulan madu. Mereka sempat mengobrol sebentar sebelum Adi dan Adelia masuk ke kamar lalu membersihkan diri. Ibu Hasna memanaskan asam manis sembilang untuk makan malam nanti.


"Mas, ini ikan lele ya?" tanya Dita pada Adi saat mereka berkumpul di meja makan untuk makan malam.


"Bukan. Bentuknya sama tapi itu ikan laut, Dek. Aku makan itu keingat Adek, makanya aku bawain itu," jawab Adi.


"Makasih, Mas." Dita tersenyum manis pada kakaknya. Dia mulai menyicipi kuah lalu ikannya.


"Wah, kuahnya segar. Daging ikannya juga gurih. Mak nyuss ini, Mas." Dita mengacungkan jempol pada Adi.


"Kalau yang ini namanya gonggong. Makannya dicocol pakai sambal atau saos aja. Agak kurang pas kalau pakai nasi. Cara mengeluarkan dagingnya begini." Adi mempraktekkan cara mengambil daging gonggong dari cangkangnya dengan tusuk gigi.


Mereka berenam makan malam bersama sambil mendengarkan cerita Adi dan Adelia selama berbulan madu. Malam ini mereka menginap di rumah Pak Wijaya. Mereka baru akan kembali ke kota besok pagi karena sorenya Dita akan memeriksakan kehamilannya ke dokter Lita sebelum minggu depan pergi umrah.


Setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang tengah untuk membuka dan membagi oleh-oleh yang dibawa Adi dan Adelia. Selain membeli oleh-oleh untuk keluarga, mereka membeli untuk teman kerja dan teman dekat Adi dan Adelia.


Menjelang pukul setengah sepuluh malam, Dita sudah sangat mengantuk. Dia masuk ke kamar lebih dahulu dengan Rendra setelah membersihkan diri dan berwudu. Meski sebenarnya Rendra ingin lebih banyak mengobrol dengan kakak ipar dan mertuanya, tetapi dia harus menemani istrinya agar Dita tidak mengambek.

__ADS_1


"Mas," panggil Dita saat Rendra sedang mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.


"Apa, Sayang." Rendra beringsut mendekati istrinya yang sudah berbaring di atas ranjang. Kemudian dia berbaring di samping istrinya. Satu tangannya berada di bawah kepala Dita.


"Aku ingin punya panggilan khusus kaya Mbak Adel." Dita memiringkan badannya, dia menatap mata suaminya.


"Panggilan khusus?" Kening Rendra mengkerut.


"Iya, Mas."


"Kan aku sudah manggil Sayang, itu panggilan khusus aku untuk kamu, Sayang." Rendra mengelus pipi istrinya yang semakin berisi.


"Tapi sayang itu terlalu umum, Mas," gerutu Dita.


"Terus, Sayang maunya dipanggil apa? Cinta? Love? Darling? Baby?" Rendra semakin mengerutkan keningnya demi menuruti keinginan wanita yang tengah mengandung buah cinta mereka.


"Ya, Mas cari gitu. Mas, kan kreatif. Pengetahuan juga luas. Cari ide apa gitu," titah Dita.


"Aku lagi nge-blank kalau sekarang, Sayang. Tadi katanya Sayang juga sudah ngantuk, kenapa malah ngajak ngobrol hummm." Rendra memegang dagu wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.


"Ya, enggak harus sekarang. Aku beri waktu Mas seminggu buat nyari nama panggilan khusus yang beda sama yang lain," kata Dita yang tetap bersikukuh meminta nama panggilan khusus.


"Iya, besok aku cari. Sekarang, kita tidur dulu ya. Kasihan tadi Baby pasti capai." Rendra mencoba membujuk Dita.


"Tapi benar ya. Mas harus cari. Kalau enggak dapat aku marah sama, Mas."


"Iya, Sayang. Aku janji. Tidur ya sekarang." Rendra kembali membujuk istrinya.


"Iya, tapi aku dipeluk biar cepat tidur." Dita merajuk manja pada Rendra.


"Iya, Sayang. Apa aku boleh bicara dulu sama Baby sebelum tidur?"


"Iya, boleh dong. Baby kayanya juga kangen ayahnya."


Rendra bangkit lalu duduk. Dia menunduk di atas perut Dita yang sudah tampak menyembul.


"Assalamu'alaikum, Baby. Ini ayah. Baby, istirahat ya, sekarang sudah malam. Ibu sudah mengantuk. Baby, anak yang saleh, tidak menyusahkan ibu. Baik-baik dan sehat di dalam perut ibu. Ayah dan ibu menunggu kelahiranmu. I love you, Baby." Rendra mengecup perut Dita setelah bicara dengan calon buah hati mereka. Rutinitas yang tidak pernah dia lupakan sebelum tidur.


"Mas, Mas. Aku mau dipanggil bubu," kata Dita tiba-tiba yang membuat Rendra kaget.


"Bubu?" Rendra mengernyit. Dia lalu kembali berbaring di samping belahan hatinya itu.


"Iya, bubu." Mata Dita tampak berbinar-binar saat mengatakannya.


"Bubu artinya apa, Sayang." Rendra membelai kepala istrinya.


"Kan aku Insya Allah sebentar lagi mau jadi ibu. Jadi bubu itu dari kata ibu, diambil suku kata belakangnya saja, bu. Kan kalau dua kali nyebutnya jadi bubu." Dita menerangkan alasannya pada Rendra.


"Yakin, Sayang mau dipanggil bubu?" tanya Rendra memastikan.


"Iya, nanti Mas bisa dipanggil Yayah." Dita mengikik geli sendiri.


Rendra mengernyit tapi tidak menanggapi istrinya.


"Besok kita bahas lagi soal itu. Sekarang tidur dulu ya," kata Rendra dengan lembut.


"Iya, Mas."


"Jangan lupa berdoa dulu," titah Rendra.


Dita kemudian berdoa. Setelah itu dia mendekatkan badan, memeluk erat suaminya sampai akhirnya terlelap dalam dekapan Rendra.

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 160821 01.00


__ADS_2