
"Mas, aku haid," ucap Adelia pada suaminya yang baru pulang dari salat Subuh di masjid.
Adi tersenyum seraya mengusap kepala istrinya. "Enggak apa-apa, Ai. Berarti Allah masih ingin kita pacaran dan saling mengenal."
"Maaf ya, Mas." Adelia menampakkan wajah bersalah.
"Hei, kenapa minta maaf? Tidak ada yang salah kok. Ai, jangan merasa bersalah." Adi menangkup wajah wanita yang sudah mencuri hatinya itu.
"Maaf ya, Ai, kalau ucapanku soal memproduksi bayi malah menjadi beban. Walau memang aku ingin, tapi aku tahu kalau semua itu Allah yang menentukan. Mulai sekarang jangan jadikan itu beban ya. Kita jalani dan nikmati saja semua prosesnya. Kalau memang sudah waktunya kita punya anak, pasti Allah akan memberikannya pada kita." Adi mengusap pipi halus istrinya.
"Aku tidak mau melihat Ai sedih dan merasa bersalah. Aku sakit melihat Ai seperti ini." Adi menatap mata Adelia, lalu mengecup keningnya. "Jangan sedih lagi ya, Ai."
"Iya, Mas." Adelia perlahan menyunggingkan senyum manisnya.
"Nah, senyum gini kan cantik, Ai." Adi membalas senyum istrinya. Dia kembali mengecup kening Adelia lalu memeluknya.
"Sekarang kita nikmati saja pacaran yang halal ini kaya Rendra dan Dita. Usia kita juga masih muda. Insya Allah, waktu kita masih panjang. Aku janji enggak akan mengungkit soal anak lagi. Tolong ingatkan kalau aku khilaf ya, Ai." Adi mengurai pelukannya lalu memegang kedua bahu Adelia.
Adelia menganggut. "Iya, Mas."
"Ya udah, aku mau ganti baju dulu. Dekat terus sama Ai, jadi enggak ingin berangkat ke kantor nanti," kelakar Adi yang membuat Adelia menepuk lengannya pelan.
"Aku juga mau ke dapur, Mas." Adelia menjauhkan diri dari suaminya lalu beranjak ke dapur.
"Nanti aku susul, Ai."
Tadi saat Adelia ke kamar mandi sebelum menjalankan salat Subuh, ternyata darah haidnya sudah keluar meski baru sedikit. Pantas saja dia merasa perutnya tidak nyaman saat bangun tadi. Dia merasa sedih dan kecewa karena tidak bisa memenuhi keinginan suaminya yang ingin segera punya anak.
Untung saja saat bilang pada Adi kalau dia haid, suaminya tidak mempermasalahkan hal itu. Dia merasa tenang setelah Adi meyakinkannya kalau tidak akan menuntutnya cepat hamil karena sejatinya anak adalah rezeki dari Allah. Ya, meski dia tahu Adi kecewa, tetapi kembali pada takdir Yang Maha Kuasa yang belum memberi mereka kepercayaan.
Setelah dia pikirkan apa yang diucapkan Adi tadi,βmungkin Allah ingin mereka saling mengenal duluβada benarnya. Ya, karena mereka tidak melalui pacaran yang penuh dosa, yang biasanya dilakukan anak muda dengan dalih proses saling mengenal pasangan. Selama sebulan pernikahan, mereka berdua memang mulai saling mengetahui dan memahami sifat, karakter, kebiasaan masing-masing. Karena sebelum menikah, mereka memang belum saling mengenal lebih jauh.
"Ai, nanti jadi ke kampus?" tanya Adi saat mereka sarapan.
Adelia menggeleng. "Enggak, Mas."
"Kenapa?" Adi mengerutkan keningnya.
"Perutku rasanya enggak enak, Mas. Mending aku tiduran di rumah saja." Adelia memberi tahu alasannya.
Adi menyengguk. "Dita dulu kalau haid juga sukanya malas-malasan di kamar, Ai."
"Bukannya bermaksud buat malas-malasan, Mas. Tapi memang posisi paling enak itu tidur sambil tengkurap biar nyaman perutnya. Karena Mas Adi laki-laki makanya tidak tahu bagaimana rasanya perempuan kalau sedang haid."
__ADS_1
"Kalau aku perempuan, aku enggak mungkin jadi suamimu dong Ai." Adi mengacak gemas rambut istrinya.
"Mas Adi, rambutku kan jadi berantakan kalau begini," protes Adelia sambil merapikan kembali rambutnya.
"Tapi tetap cantik kok, Ai." Adi mengedipkan sebelah matanya.
Adelia mencibir. "Mas Adi ternyata lama-lama genit ya. Kirain dulu yang kalem, dingin, kaku gitu."
"Genitnya kan cuma sama kamu, Ai. Mana pernah aku genit sama wanita lain. Suamimu ini sedang belajar jadi suami yang romantis loh, Ai." Adi meraih tangan kanan istrinya, lalu menciumnya.
"Iyaβiya, Mas. Aku percaya."
"Ai, kalau badannya masih enggak enak nanti sore tidak usah masak. Kita makan di luar saja atau pesan makanan. Jangan memaksakan diri. Oke."
"Iya, Mas."
"Ai, istirahat saja sana, ini biar aku yang beresin." Adi mulai merapikan meja makan.
"Aku masih bisa aktivitas kok, Mas. Biar aku saja yang beresin. Mas Adi ganti baju dan bersiap kerja saja." Adelia mau mengambil alih alat makan dari tangan suaminya.
"Waktuku masih banyak, Ai. Aku bantu Ai dulu. Kita kan harus bekerja sama melakukan pekerjaan rumah tangga."
"Ya udah. Makasih sudah dibantu, Mas." Adelia mengecup kilat pipi suaminya lalu segera bergegas ke dapur. Wajahnya memerah karena malu.
Adi terkesiap karena mendapat kecupan tak terduga di pipinya. Dia tersenyum lebar lalu memegang pipi yang baru saja disentuh bibir tipis Adelia. Istriku sudah mulai agresif. Kalau sedang tidak haid pasti langsung kueksekusi di sini.
"Mas, aku lagi nyuci nih," protes Adelia yang jadi tak leluasa bergerak.
"Ya terusin aja nyucinya. Aku kan diam saja enggak ganggu, Ai." Adi tetep memeluk pinggang Adelia, bahkan menempelkan dagu di atas bahu istrinya.
"Enggak ganggu gimana? Aku kan jadi enggak bisa bergerak. Ini juga bikin berat bahuku, Mas." Adelia mengomel sambil terus mencuci.
Adi terkekeh, dia kemudian melepas pelukannya. Bisa bahaya juga kalau lama-lama memeluk istrinya. Dia akan sakit kepala bila harus menahan hasrat karena ulahnya sendiri. Apalagi dia harus menunggu sampai istrinya selesai datang bulan. Artinya selama seminggu penuh dia akan berpuasa, tidak melakukan hobi barunya.
"Aku ganti baju dan bersiap dulu, Ai."
"Iya, Mas. Tadi bajunya sudah aku siapkan di tempat biasa."
"Makasih, Ai." Kini giliran Adi yang mencuri ciuman di pipi istrinya. Dia tersenyum begitu melihat rona merah muncul di pipi Adelia.
"Mas, ih. Ngagetin saja," ucap Adelia dengan malu-malu.
"Kita impas, Ai." Adi mengedipkan sebelah matanya sebelum beranjak meninggalkan istrinya di dapur. Dia berjalan sambil bersiul riang seperti baru saja mendapat jackpot.
__ADS_1
Setelah berganti baju dan menyiapkan apa saja yang akan dibawa kerja, Adi ke luar dari kamar. Adelia sudah menunggunya di ruang tengah. Dia bangkit dari duduknya begitu Adi mendekatinya.
"Suamiku sudah ganteng." Adelia merapikan kembali krah kemeja Adi.
"Istriku juga selalu cantik." Adi membalas pujian istrinya yang malah mendapat cibiran dari Adelia.
"Kenapa memajukan bibir begitu. Ai, minta dicium?" goda Adi.
"Sudah jam setengah delapan, Mas. Buruan berangkat, nanti terlambat loh." Adelia tak mengindahkan godaan Adi.
"Iya, Ai. Ini juga mau berangkat. Ai, enggak usah antar aku sampai depan rumah. Sampai depan pintu saja, tapi Ai enggak usah ke luar. Baik-baik di rumah. Istirahat kalau badannya enggak enak. Kalau ada apa-apa hubungi aku. Kalau mau makan apa pun, pesan saja. Oke." Adi memberi rentetan pesan pada istrinya.
"Iya, Mas."
Adelia melingkarkan lengannya saat berjalan dari ruang tengah menuju ruang tamu. Dia baru melepaskan lengannya saat ada di depan pintu.
"Aku kerja dulu, Ai."
"Iya, Mas." Adelia mencium punggung tangan suaminya. Adi lalu mengecup kening dan bibir istrinya.
"I love you, Ai."
"Love you too, Mas Adi."
"Kunci pintunya ya setelah aku ke luar," pesan Adi.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut."
"Sini peluk sebentar, kok tiba-tiba aku sudah kangen." Adi menarik Adelia ke dalam pelukannya. Dia kembali mencium kening dan bibir tipis istrinya setelah mengurai pelukan mereka.
"I love you. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Love you too."
Adi membuka pintu depan, setelah itu dia melangkah ke luar rumah. Dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di carport. Adelia segera menutup dan mengunci pintu rumah seperti pesan suaminya. Dia mengamati kepergian suaminya dari balik kaca jendela.
Ya Allah, lindungilah suami hamba. Jadikan lelahnya menjadi pahala karena bekerja untuk menafkahi keluarganya. Jagalah dia di mana pun dia berada.
...---oOo---...
Jogja, 150721 23.59
Mohon maaf karena telat up. Ada anggota keluarga yang sedang diuji dengan sakit jadi harus wara wiri ke sana ke mari. Terima kasih yang sudah setia menunggu πππ
__ADS_1
Untuk teman-teman, tetap jaga kesehatan, patuhi prokes. Jangan lupa minum vitamin, makan yang enak dan bergizi. Jaga hati dan pikiran agar tetap bahagia. Jangan abai karena covid itu nyata.
Untuk teman-teman atau keluarga yang sedang sakit, semoga segera diberi kesembuhan seperti sedia kala. Tetap semangat ya π€π€π€