Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Bertemu Orang Tua Sekar Ayu 2


__ADS_3

"Kenapa berterima kasih? Bukannya dulu kamu sangat ingin jadi suaminya Sekar?" Pak Gatot memandang lekat Adi.


"Itu dulu, Pak. Sudah lama sekali dan saya tidak ambil pusing karena yakin kalau Allah sudah menyiapkan jodoh untuk saya. Alhamdulillah sekarang saya sudah dipertemukan dengan jodoh saya, Adelia, putri dari Pak Lukman. Insya Allah Adelia itu istri salihah yang lembut hatinya. Keluarga Pak Lukman juga mau menerima saya apa adanya meski beliau orang yang berada," papar Adi seraya melirik pada sang papa mertua.


"Saya juga berterima kasih pada Pak Gatot. karena sudah menolak lamaran Mas Adi. Putri saya jadi mendapatkan suami yang saleh seperti Mas Adi. Alhamdulilah, mereka mau saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing." Pak Lukman ikut menambahi.


Wajah Pak Gatot jadi merah padam mendengar kata-kata Adi dan Pak Lukman. Antara malu dan tersentil. Kalau disandingkan dengan Pak Lukman, kekayaannya tidak ada apa-apanya. Apalagi mertua Adi itu masih ada keturunan darah biru. Namun, Pak Lukman tetap sederhana dan tidak pernah merendahkan status dan membandingkan kekayaan orang lain.


"Saya memang salah dan terlalu sombong waktu itu. Sekarang saya sudah sadar kalau kekayaan tidak akan mendatangkan kebahagiaan sejati. Saya bahagia punya banyak uang, tapi hanya sesaat. Perceraian Sekar membuka pikiran saya kalau kebahagiaan itu tidak bisa dibeli dengan uang, tapi bahagia itu dari hati," aku Pak Gatot.


"Betul, Pak. Karena itu saya membebaskan anak-anak saya melakukan apa saja yang mereka suka asalkan bersifat positif. Anak-anak kita punya pemikiran masing-masing yang mungkin berbeda dengan kita. Masa muda mereka beda dengan masa muda kita. Biarlah mereka berkembang sesuai zaman. Tugas kita mengarahkan dan mengawasi mereka agar tidak keluar dari jalur yang semestinya," balas Pak Lukman.

__ADS_1


"Saya benar-benar malu dengan Pak Lukman dan Adi," ucap Pak Gatot.


"Kenapa harus malu, Pak?" Pak Lukman tersenyum pada Pak Gatot.


"Malu karena kelakuan anak saya. Malu karena kesombongan saya. Malu karena semuanya." Pak Gatot menundukkan kepala.


"Tidak perlu begitu, Pak Gatot. Saya ini juga manusia biasa yang punya banyak salah. Kalau memang kita pernah berbuat salah, sudah menyadari dan bertobat, ya tinggal kita merubah sikap dan sifat kita agar lebih baik lagi. Saya pun sedang proses memperbaiki diri, Pak," ujar Pak Lukman.


"Allah memang selalu memberikan yang terbaik pada hamba-Nya, Pak. Alhamdulilah, saya mendapat menantu terbaik yang membawa keluarga saya jadi lebih baik. Saya benar-benar bersyukur punya menantu seperti Mas Adi," sambung Pak Lukman seraya mengerling pada Adi.


Pak Lukman tertawa kecil lalu merangkul bahu menantu kesayangannya itu. Pak Gatot dan Bu Suci yang melihat keakraban mereka berdua merasa tersentil. Andai saja dulu mereka tidak menolak Adi pasti keadaannya tidak seperti ini. Mereka sadar telah membuang berlian, tapi nasi sudah menjadi bubur. Waktu yang sudah berlalu tidak bisa diulang lagi.

__ADS_1


Sesudah bertemu dengan kedua orang tua Sekar Ayu, Pak Lukman, Adi, dan Kaisar bicara bertiga.


"Mas Kai, biarpun bapak dan ibu Sekar sudah bertemu kami dan minta maaf, saya tetap mau Sekar diproses sesuai prosedur. Minta maaf 'kan hanya hubungan antar manusia saja, kalau untuk tindak kejahatannya tetap tidak bisa dibiarkan begitu saja," pinta Pak Lukman.


"Saya pastikan Sekar akan mendapatkan hukuman sesuai dengan apa yang dia lakukan. Om, dan keluarga tenang saja, saya akan mengawal ketat prosesnya. Kalau sampai keluarga mereka ketahuan menyuap jaksa atau hakim, saya pasti akan langsung bertindak," timpal Kaisar.


"Terima kasih, Kai. Untung saja ada kamu jadi kami bisa lebih tenang." Adi menepuk bahu sang sahabat.


"Kaya sama siapa saja, Di. Kita ini 'kan saudara, sudah selayaknya saling membantu." Kaisar balas menepuk bahu Adi. "Sekarang tinggal siapkan mental Adelia untuk jadi saksi di persidangan minggu depan."


"Siap, Kai."

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 280522 18.30


__ADS_2