Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Mitoni 2


__ADS_3

Adelia masuk ke dalam rumah untuk melakukan gantos busana atau ganti baju. Penata rias sudah menyiapkan tujuh kain dan tujuh kebaya untuk dipakai calon ibu itu. Kain yang pertama kali digunakan bermotif sidomukti yang melambangkan kebahagiaan. Setelah itu Adelia berdiri di hadapan para tamu, lalu Adi bertanya pada mereka, "Sampun pantes dereng?" (Sudah pantas belum?)


Para tamu itu lalu menjawab, "Dereng pantes." (Belum pantas)


Adelia kemudian ganti memakai kain sidoluhur yang melambangkan kemuliaan. Adi bertanya lagi pada para tamu seperti sebelumnya dan dijawab dengan jawaban yang sama. Hal itu dilakukan sampai kain ke enam yang dipakai sang calon ibu.


Kain ketiga yang dipakai parangkusuma, melambangkan perjuangan untuk tetap hidup. Kain selanjutnya bermotif semen rama yang maknanya agar cinta kedua orang tua yang sebentar lagi menjadi bapak dan ibu itu tetap bertahan selama-lamanya/tidak terceraikan. Kain kelima bermotif udan liris yang bermakna agar kehadiran sang anak menyenangkan untuk orang di sekitarnya. Kain berikutnya yang dipakai cakar ayam dengan harapan agar anak yang akan lahir kelak dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.


Kain terakhir yang dipakai Adelia adalah kain lurik bermotif lasem yang melambangkan kesederhanaan. Kain lurik ini sederhana tapi pembuatannya sulit. Membutuhkan kesabaran karena dibuatnya dari lembar per lembar benang. Adi bertanya lagi pada para tamu untuk yang terakhir kali, "Sampun pantes dereng?"


Para tamu dengan kompak menjawab, "Pantes." (Pantas)


Setelah prosesi ganti baju, Adelia dibantu Adi, duduk di atas tumpukan kain-kain yang dianggap kurang pantas tadi. Prosesi ini disebut angrem, posisinya seperti ayam betina yang sedang mengerami telur. Prosesi ini melambangkan sang calon ibu yang menjaga dan memelihara calon bayi dalam kandungannya. Selanjutnya Adi melayani Adelia mengambilkan makanan yang diinginkan. Mereka kemudian makan bersama dalam satu piring, prosesi ini disebut dahar kembul.


Adi kemudian melakukan prosesi memecah cengkir gading yang diberikan oleh Bu Hasna. Cengkir gading tersebut digambari dengan tokoh wayang Kamajaya dan Dewi Ratih yang terkenal dengan ketampanan dan kecantikannya serta mempunyai sifat yang luhur. Adi kemudian memilih salah satu kelapa untuk dipecah tanpa melihat. Jika terpilih Kamajaya, diharapkan si jabang bayi adalah laki-laki, dan jika Dewi Ratih maka perempuan.


Prosesi mitoni ditutup dengan dodol rujak. Adi memayungi Adelia yang menjual rujak buah pada para tamu. Mereka membeli rujak dengan kreweng (uang yang tebuat dari tanah liat). Adi menerima kreweng dari pembeli lalu memasukkannya ke dalam senik (wadah uang) yang dibawa sang istri. Prosesi ini merupakan sebuah harapan agar sang anak mendapat banyak rezeki untuk dirinya dan juga kedua orang tuanya.


Setelah semua prosesi terlewati, pembaca acara menutup acara hari itu. Adi dan Adelia bersama dengan kedua orang tua mereka menerima ucapan selamat dari para tamu. Mereka yang datang kemudian diberi bingkisan untuk dibawa pulang.


Begitu para tamu sudah pulang semua, Adi menuntun Adelia masuk ke dalam rumah. Dia tahu istrinya itu pasti lelah dengan semua prosesi yang dijalani. "Ai, mau istirahat di kamar atau di ruang tengah?" tanya Adi.


"Di kamar saja, Mas. Aku juga pengen berendam sebentar," jawab Adelia.


"Oke, nanti Ai lepas semua ini dulu. Aku siapkan air buat berendam ya."


Adelia pun menganggut, menuruti suaminya. Penata rias mengikuti Adelia masuk ke kamar setelah meminta izin terlebih dahulu. Dia membantu Adelia melepas kebaya, kain, dan juga hijab yang menutupi kepala ibu hamil tersebut. Setelah semuanya terlepas, penata rias ke luar dari kamar itu.


"Ai, airnya sudah siap," ucap Adi yang baru keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Iya, Mas. Makasih. Aku mandi dulu." Adelia beringsut dari meja rias menuju ke kamar mandi.


"Jangan lama-lama ya, Ai. Sepuluh menit cukup. Sebentar lagi juga Magrib."


"Iya. Mas Adi ganti baju dulu. Sudah ditunggu sama penata riasnya," ucap Adelia sebelum menutup pintu kamar mandi.


Setelah melepas lapisan pakaian yang dikenakan, dengan hati-hati Adelia masuk ke dalam bathup. Air yang hangat ditambah dengan aromaterapi yang tadi diteteskan Adi, membuatnya jadi lebih rileks. Ibu hamil itu menyandarkan punggung di dinding bathup sembari memejamkan mata. Menikmati waktu berendamnya untuk melepas rasa lelah.


Sementara itu Adi membuka beskap, kain dan segala perlengkapan yang tadi dia pakai. Sesudah itu ke luar dari kamar dan menyerahkannya pada penata rias. Pakaian tradisional yang dikenakan Adi dan Adelia memang kepunyaan penata rias, jadi harus dikembalikan.


Sepuluh menit kemudian Adi kembali ke kamar. Mengecek istrinya yang sedang berendam di bathup. Karena kalau tidak dicek, seringkali belahan jiwanya itu ketiduran. "Ai, sudah berendamnya?" Adi mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup. Setelah beberapa saat tak ada jawaban, akhirnya dia membuka pintu kamar mandi yang memang sengaja tidak dikunci.


Begitu membuka pintu, dia melihat Adelia memejamkan mata. Sudah diduga pasti istrinya ketiduran lagi. Perlahan Adi mendekati sang belahan hati. Begitu sampai di sisi bathup, dia berjongkok. "Ai, ayo bangun. Sudah berendamnya. Nanti kedinginan." Calon bapak itu mengelus-elus pipi sang istri dengan punggung tangannya.


"Eh, aku ketiduran lagi ya, Mas?" tanya Adelia setelah membuka mata.


"Iya, Ai. Ayo keluar dulu, setelah itu dibilas badannya." Adi membantu istrinya berdiri dan keluar dari bathup. Adelia lalu membilas badan di bawah guyuran shower, sementara suaminya membersihkan bathup. Selesai membilas badan, ibu hamil itu mengeringkan badan dengan handuk. Baru kemudian keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe.


Adelia keluar dari kamar. Para wanita kemudian melaksanan salat Magrib berjemaah di rumah. Bu Hasna yang mengimami Bu Sarah, Adelia, dan juga Dita. Usai salat Magrib, mereka bercengkerama di ruang keluarga sambil makan bersama dengan lesehan. Hanya Adelia yang duduk di atas sofa karena kehamilannya yang sudah besar, membuatnya susah untuk bangun kalau duduk di karpet.


"Capek enggak, Mbak?" tanya Bu Sarah yang duduk di dekat sang putri.


"Enggak terlalu, Ma, tadi sudah berendam jadi sudah enakan," jawab Adelia.


"Nanti setelah Isya langsung istirahat saja kalau capek."


"Iya, Ma. Kalau aku capek pasti istirahat kok."


"Dita, kapan mulai KKN?" Bu Sarah beralih pada ibu muda yang sedang menyuapi anak semata wayangnya.

__ADS_1


"Insya Allah minggu depan, Tante." sahut Dita.


"Terus Ale gimana?"


"Rencananya tinggal sama bunda, Tante. Nanti Mas Rendra yang bolak-balik. Alhamdulillah daerah KKN saya dekat sama rumah ayah, jadi kalau ada apa-apa lebih mudah. Semoga saja teman-teman di sana juga bisa mengerti keadaan saya," ungkap Dita.


"Kemarin sih sama teman-teman kelompok, saya bilang kalau butuh dana atau sponsor Mas Rendra siap menyokong. Kalau ada iuran, saya juga bersedia membayar yang paling besar. Ya, kita sama-sama saling ngerti saja. Teman-teman sudah mengiyakan karena mereka juga senang kalau pengeluaran untuk KKN jadi tidak besar," lanjut ibu muda itu.


"Alhamdulillah kalau begitu. Semoga teman-temannya tidak berubah pikiran."


"Aamiin."


"Bubu, mam," ucap Ale yang ingin disuapi lagi.


---oOo---


Hai, ketemu lagi. Apa kabar teman-teman? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya. Kebetulan di Jogja ini sudah dua hari udaranya dingin banget. Gimana dengan di tempat teman-teman? Apa sama?


Saya ucapkan terima kasih pada teman-teman yang masih setia menanti kelanjutan cerita ini, meskipun jadi kaya jemuran yang digantung. Insya Allah saya akan tetap melanjutkan dan menamatkan cerita ini tapi pelan-pelan ya.


Saya kadang tidak enak hati karena mendapat DM atau inbok dan bertanya kapan cerita dilanjut. Inginnya sih ya bisa rutin seperti dulu, hanya saja kapasitas otak saya yang terbatas dan kesibukan di real life yang menyita waktu jadi tidak bisa fokus menulis di sini.


Seandainya saya menulis cerita baru di sini dengan tema konflik rumah tangga, tentang adanya orang ketiga, yang terinspirasi dari kisah nyata apakah ada yang berkenan membaca?


Kalaupun nanti jadi ceritanya, akan saya infokan lebih lanjut. Sila dicek Instagram atau facebook saya untuk tahu cerita apa saja yang sedang saya tulis saat ini.


Sekian dulu cuap-cuapnya, Insya Allah saya masih up lagi untuk bulan ini.


Salam sayang untuk semua Teman Hati

__ADS_1


Kokoro No Tomo


Jogja, 260722 19.00


__ADS_2