Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Assalamu'alaikum. Selamat pagi, Dokter Lita. Maaf menganggu pagi-pagi," ucap Adelia setelah dokter Lita menerima panggilannya.


"Wa'alaikumussalam. Pagi juga, Bu Adelia. Tidak mengganggu kok. Apa ada yang bisa saya bantu, Bu?" Seperti biasa dokter Lita selalu menjawab dengan ramah meski tidak bertemu secara langsung.


"Begini, Dok. Tadi malam, saya dan suami berhubungan. Kami sudah melakukannya dengan hati-hati dan pelan-pelan, tapi pagi ini saya keluar flek, Dok. Apa itu berbahaya?" tanya Adelia setelah bercerita pada dokter Lita.


"Fleknya banyak atau sedikit, Bu?"


"Hanya sedikit, Dok."


"Tidak seperti saat haid kan?"


"Tidak, Dok."


"Ada yang terasa sakit tidak di sekitar perut atau punggung?"


"Tidak ada, Dok."


"Kemungkinan itu efek dari berhubungan kalau hanya sedikit dan tidak sakit, Bu. Karena selama hamil, pasokan darah ke organ reproduksi meningkat drastis. Darah itu digunakan untuk menyalurkan nutrisi yang optimal bagi perkembangan dedek bayi. Untuk memenuhi peningkatan suplai darah tersebut, tubuh membentuk banyak pembuluh darah halus di sekitar organ intim."


"Nah, karena banyaknya gerakan saat berhubungan bisa menyebabkan pembuluh darah halus tersebut pecah. Hal itu mengakibatkan keluar sedikit bercak darah setelah berhubungan saat hamil. Banyak kok yang mengalami hal tersebut saat hamil," jelas dokter Lita.


"Jadi, tidak berbahaya ya, Dok?"


"Insya Allah tidak berbahaya, selama flek tidak berkelanjutan dan tidak ada rasa sakit di sekitar perut. Tapi, kalau Bu Adelia mau lebih yakin lagi, silakan kalau mau periksa. Nanti akan kita periksa lebih lanjut dengan tes darah dan usg transvaginal (*)."


"Apa saya tunggu dulu satu atau dua hari, Dok? Kalau flek masih berlanjut baru saya periksa."


"Kalau ingin seperti itu juga tidak apa-apa, Bu. Kalau mau periksa, nanti bilang saja sama bagian pendaftaran kalau sudah ada janji dengan saya. Jadi, bisa masuk ke daftar antrian bila kuota sudah penuh. Untuk sementara, Bu Adelia harus bedrest sampai fleknya hilang. Dan tidak boleh berhubungan dulu dengan Pak Adi."


"Iya, Dok. Ini tadi juga langsung disuruh bedrest sama ibu mertua."


"Sudah bagus itu saran dari ibu mertua. Apa saat ini Ibu pakai pembalut atau panty liners?"


"Iya, Dok. Bagaimana? Apa ada yang salah?"


"Tidak, Bu, justru bagus jadi bisa mengukur banyaknya darah yang keluar. Perhatikan warna darahnya ya, Bu. Apakah berwarna merah cerah, merah tua, atau cokelat? Ibu juga harus memperhatikan bila dalam darah yang keluar ada gumpalan yang menyerupai daging."


"Selain itu, Ibu harus cukup minum air putih agar terhindar dari dehidrasi. Kalau ada rasa sakit di bagian bawah perut, panggul, atau punggung bawah, mual, kontraksi, demam, pusing atau bahkan pingsan, langsung periksa saja ya, Bu."


"Baik, Dok. Jadi saya harus bedrest selama berapa lama, Dok?"


"Bisa satu atau dua hari ini. Nanti dilihat apa masih keluar flek atau tidak. Sabar ya, Bu Adelia, bedrest memang tidak enak, tetapi demi kesehatan mau tidak mau harus dijalani."


"Baik, Dok. Kalau ke kamar mandi boleh kan, Dok?"


"Sebenarnya kalau total bedrest semua aktivitas harus di atas tempat tidur, Bu. Namun, kalau tidak memungkinkan, boleh ke kamar mandi. Dan ingat, harus selalu hati-hati ya, Bu."


"Iya, Dok." Adelia mengangguk meski dokter Lita tidak bisa melihatnya.


"Jadi, mau periksa nanti atau menunggu perkembangan, Bu Adelia?"


"Sepertinya menunggu perkembangan dulu, Dok. Tidak apa-apa kan?"


"Iya, tidak apa-apa. kalau begitu saya minta tolong terus lapor ke saya perkembangannya."


"Baik, Dok. Kalau untuk makanan ada pantangan tidak selain yang dulu Dokter sebutkan?"


"Tidak ada, Bu. Pantangannya hanya bergerak."


"Baik, Dok. Terima kasih penjelasannya. Maaf sudah mengganggu waktu Dokter Lita."


"Sama-sama, Bu Adelia. Tidak menggangu kok, kebetulan saya sedang senggang waktunya."


"Sekali lagi terima kasih, Dok. Wassalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Setelah mengakhiri panggilannya pada dokter Lita, Adelia memandang suaminya yang tampak sibuk dengan banyak berkas.


"Mas, aku perlu kasih tahu mama enggak ya?" Adelia meminta pendapat Adi.


"Memberi tahu juga bagus, Ai. Sekalian minta doa biar tidak keluar flek lagi," sahut Adi.


"Kita tidak usah ke dokter Lita dulu, Mas. Katanya kalau flek cuma sedikit dan tidak sakit, itu sudah biasa saat hamil muda."


Adi menghentikan kegiatannya. Dia mengalihkan perhatiannya pada sang istri. "Dokter Lita bilang begitu?"


"Iya, Mas. Yang penting aku harus bedrest. Malah disuruh bedrest total kalau bisa."


"Apa Ai mau pulang ke rumah papa? Di sana ada Mbok Sum yang selalu ada di rumah," tawar Adi.


Adelia menggelengkan kepala. "Enggak mau. Aku di sini saja."

__ADS_1


"Kalau di sini, Ai, cuma sendiri kalau siang. Siapa yang mau menemani dan membantu, Ai? Aku tidak bisa izin kerja setiap hari."


"Aku nanti minta Mbak Surti temani selama aku bedrest, Mas."


"Ya sudah kalau itu kemauan, Ai. Janji harus disiplin ya, tidak boleh bandel."


"Iya, Mas."


"Aku mau siap-siap dulu. Ai, mau tunggu di sini apa ikut ke kamar?" tanya Adi sambil memasukkan berkas yang dia butuhkan ke dalam ransel kerjanya.


"Ikut ke kamar. Aku belum siapkan baju Mas Adi buat ke kantor," jawab Adelia.


"Oke. Kalau baju, aku bisa siapkan sendiri, Ai."


"Enggak boleh. Aku yang pilih pakaian yang nanti dipakai Mas Adi."


Adi tersenyum mendengar ucapan istrinya. Kalau mau aman dan damai, lebih baik dia menuruti kemauan istrinya kan?


"Siap, Nyonya Adi." Adi kembali membopong Adelia ke kamar mereka. Adi kemudian mendudukkan sang istri di atas tempat tidur yang sudah tertata rapi.


Adi mengeluarkan beberapa kemeja dan celana panjang yang diminta Adelia. Dia meletakkannya di atas ranjang agar memudahkan sang istri memilih mana yang akan dia pakai hari ini. Sementara Adelia memilih, dia membersihkan diri dahulu sebelum berganti pakaian kerja.


Usai membersihkan diri, Adi memakai pakaian yang sudah dipilih Adelia. Pakaian yang tidak dipilih, dia kembalikan lagi ke dalam lemari. Sesudah berpakaian rapi, dia menghampiri istrinya.


"Ai, mau di sini atau di ruang tengah?" tanya Adi.


"Di ruang tengah saja biar enggak bosan, Mas. Bisa ngobrol sama Mbak Surti juga di sana."


Adelia dibopong Adi lagi ke ruang tengah. Dia merapikan kemeja Adi sebelum suaminya itu pergi bekerja. Memang sejak mereka menikah, Adelia lah yang menata gaya berpakaian sang suami, sehingga Adi tampak lebih bergaya sekarang.


Setelah Adi berangkat kerja, Adelia mengirim pesan pada mamanya. Tak butuh waktu lama, sang mama melakukan panggilan video. Tampak kekhawatiran di raut wajah Ibu Sarah saat melihat putri sulungnya. Adelia meyakinkan mamanya kalau dia baik-baik saja. Meski begitu, Ibu Sarah berjanji akan datang menjenguk Adelia saat makan siang nanti. Ibu Sarah juga akan menyuruh Arsenio datang sepulang kuliah.


Adelia merasa haus setelah video call dengan Ibu Sarah. Dia berdiri dari duduknya, mau mengambil minum di dapur.


"Loh, Mbak Adel mau ke mana?" tanya Mbak Surti yang sedang mengepel lantai.


"Mau ambil minum, Mbak," jawab Adelia.


"Mbak Adel duduk lagi saja. Mbak Adel mau minum apa? Saya akan ambilkan. Tadi Mas Adi sudah pesan, Mbak Adel tidak boleh ke mana-mana selain ke kamar mandi." Mbak Surti langsung berhenti mengepel dan menghampiri Adelia.


"Air putih saja, Mbak. Tolong taruh airnya di botol sekalian biar Mbak Surti tidak bolak balik."


"Nggeh, Mbak. Ada lagi?"


Adelia menggeleng. "Makasih ya, Mbak."


"Mbak Surti, mau kan menemani aku selama bedrest?" tanya Adelia pada sang ART.


"Nggeh, Mbak. Insya Allah," jawab Mbak Surti.


Mbak Surti kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Adelia memilih-milih drama dan film yang akan dia tonton untuk mengisi waktunya. Setelah menemukan film yang dia sukai, dia mulai fokus menonton.


Ting tong


Adelia memencet tombol pause agar tidak tertinggal film yang sedang ditonton. Dia segera mengecek CCTV begitu mendengar bel berbunyi. Dia terkesiap saat melihat sosok yang tampak di layar televisi.


"Saya bukakan pintu ya, Mbak," kata Mbak Surti.


"Jangan, Mbak. Biarkan saja, tidak perlu dibuka pintunya," sahut Adelia.


"Kok tidak dibuka? Siapa tahu tamu penting, Mbak."


"Tidak ada yang penting dari perempuan itu, Mbak. Besok kalau dia datang lagi, biarkan saja. Perempuan tidak tahu diri itu," jelas Adelia.


"Mbak Adel, kenal sama dia?" Mbak Surti menunjuk sosok perempuan yang berdiri di depan pintu rumah.


"Aku tahu dia, Mbak. Dia itu mau merebut Mas Adi."


"Astaghfirullah. Serius, Mbak?"


Adelia menganggut.


"Cantik-cantik begitu kok mau merebut suami orang, kaya enggak ada laki-laki lain saja," gumam Mbak Surti.


"Makanya aku bilang dia tidak tahu diri. Mbak Surti melanjutkan pekerjaan saja, biar aku mengamati dia dari sini."


"Nggeh, Mbak."


Adelia matanya tidak pernah lepas dari layar televisi yang memperlihatkan sosok Sekar Ayu. Keningnya mengerut, memikirkan dari mana Sekar Ayu bisa tahu alamat rumah ini.


Berkali-kali Sekar Ayu memencet bel. Dia terlihat gelisah sambil mengamati keadaan sekitar. Kadang dia duduk di kursi teras, kadang dia berdiri mondar-mandir di teras. Lima belas menit sudah berlalu, tapi Sekar Ayu masih tetap bertahan di teras rumah.


Adelia tidak mungkin menghubungi suaminya yang sedang ada rapat. Dia tidak mau mengganggu konsentrasi kerja Adi. Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Rendra. Sayangnya, Rendra dan Dita sedang berada di butik Ibu Dewi untuk mempersiapkan launching clothing line mereka.

__ADS_1


Dia mau menghubungi Arsenio, tapi adiknya itu sedang kuliah sekarang. Dia tidak tahu harus menghubungi siapa lagi, semua sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tiba-tiba dia teringat Bara, tapi apa dia masih boleh meminta tolong pada sahabatnya itu. Rasanya tidak pantas kalau dia menghubungi Bara hanya saat dia membutuhkan bantuannya saja.


Akhirnya, dia memutuskan terus mengamati Sekar Ayu. Nanti dia akan mengambil potongan rekaman CCTV yang menampakkan sosok perempuan tak tahu diri itu. Pengalaman dengan kasus Restu, mengajarkan dia untuk terus waspada. Dia menyimpan segala bukti yang bisa memberatkan bila terjadi sesuatu di kemudian hari.


Mungkin karena lelah dan juga efek hamil, lama kelamaan Adelia tertidur di sofa meski Sekar Ayu masih berada di teras.


Arsenio yang baru selesai kuliah, langsung meluncur ke rumah Adi. Dia tadi diminta sang mama untuk menjenguk kakaknya. Saat tiba di jalan cluster, dia mengernyit karena melihat mobil asing yang terparkir di depan rumah kakak iparnya.


"Apa ada temannya Mbak Adel?" gumam Arsenio.


Begitu tiba di depan rumah, Arsenio memarkirkan motor di carport. Dia kembali mengernyit karena ada sosok perempuan cantik yang sedang duduk dengan gelisah di kursi teras. Perempuan itu tersenyum saat melihat dia.


"Maaf, Mbak cari siapa ya?" tanya Arsenio setelah melangkahkan kaki ke teras.


"Saya mencari rumah Mas Adi, Mas," jawab Sekar Ayu.


Kening Arsenio mengerut. Dalam hati dia bertanya-tanya siapa sosok perempuan cantik yang mencari Mas Adi. Kenapa tidak ke kantor kalau memang ada keperluan? Kenapa kakaknya juga tidak membukakan pintu? Padahal kakaknya jelas ada di dalam.


"Maaf, Mbak ini siapa? Dan ada keperluan apa sama Mas Adi?" tanya Arsenio lagi.


"Saya teman lama Mas Adi. Saya ingin bersilaturahim saja, Mas," jawab Sekar Ayu.


Arsenio mengangguk. Dia tidak begitu saja percaya dengan Sekar Ayu. Kasus Restu juga membuatnya lebih mawas diri, apalagi dengan orang yang baru dia temui.


"Kalau memang sudah janjian, kenapa tidak ditelepon saja?"


"Ehmm, saya tidak punya nomornya Mas Adi," sahut Sekar Ayu.


"Maaf, Mas, dari tadi kita ngobrol soal Mas Adi. Apa benar ini rumahnya Mas Adi?" tanya Sekar Ayu.


"Adi siapa ya? Banyak orang punya nama Adi," ucap Arsenio.


"Nama lengkapnya Adindra Kusuma, nama istrinya Adelia kalau tidak salah," jelas Sekar Ayu.


"Coba Mbak cek lagi alamatnya, mungkin salah yang memberi alamat." Arsenio mengalihkan pembicaraan.


"Apa Mas-nya tinggal di sini?" tanya Sekar Ayu.


Arsenio mengangguk. "Iya."


"Oh, berarti alamat yang dikasih ke saya benar-benar salah. Kalau begitu, saya permisi dulu, Mas." Sekar Ayu akhirnya berpamitan. Dia merasa sia-sia menunggu selama berjam-jam di sana.


"Ya, silakan." Arsenio melihat Sekar Ayu sampai masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia berbalik dan memencet tombol bel rumah.


Tidak berapa lama, pintu terbuka. Mbak Surti menyambut kedatangan Arsenio setelah tadi Adelia memintanya membuka pintu depan.


Sementara itu, Sekar Ayu yang merasa kecewa, berubah menjadi kesal. Pasalnya dari rear view mirror, dia bisa melihat Arsenio memencet bel dan pintu rumah terbuka dari dalam. Berarti ada orang di dalam rumah, tapi kenapa dia tadi tidak dibukakan pintu? Pasti ada yang disembunyikan di rumah itu.


Saat mobil Sekar Ayu meninggalkan cluster perumahan itu, mobil Adi masuk ke jalanan cluster. Sekar Ayu yang hafal dengan merek mobil Adi, memutuskan untuk mengikuti. Untung saja jalanan sepi, jadi dia langsung bisa memutar arah dan langsung membuntuti mobil Adi.


Sekar Ayu tersenyum saat melihat mobil fortuner hitam berhenti di rumah paling ujung yang tadi dia datangi. Senyumnya makin melebar saat melihat sosok tampan yang dia rindukan keluar dari mobil tersebut. Dia langsung menghentikan mobil di depan rumah Ibu Dewi dan keluar dengan terburu-buru.


"Mas Adi," teriak Sekar Ayu yang berjalan cepat ke arah pria pujaannya itu.


Adi refleks menoleh begitu namanya dipanggil. Dia terkejut saat melihat Sekar Ayu sedang berjalan mendekat padanya.


"Mau apa kamu ke sini, Sekar?" tanya Adi dengan nada dingin.


"Aku akhirnya bisa ketemu Mas Adi. Aku kangen, Mas," jawab Sekar Ayu tanpa rasa malu sedikitpun.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini. Kita sudah tidak punya urusan lagi, Sekar," usir Adi.


"Kita baru bertemu loh, Mas. Apa Mas Adi tidak mau memuliakan tamu dengan menyuruhku masuk ke dalam rumah?" rayu Sekar Ayu.


"Hah, tamu? Tamu yang tidak tahu diri kenapa harus dimuliakan? Lebih baik kamu pergi dan jangan ganggu aku lagi. Pergilah, mumpung aku masih bisa bersikap baik sama kamu." Sekali lagi Adi mengusir Sekar Ayu.


Dasar Sekar Ayu yang bebal, dia tidak mau menuruti Adi. Sudah lama dia menunggu pria yang dicintainya itu, saat sudah bertemu kenapa harus cepat berpisah? Begitu pikirnya.


Dia harus memanfaatkan waktu, untuk setidaknya membuat Adi tidak bersikap dingin lagi padanya.


"Aku ingin menyambung silaturahim loh, Mas. Masa malah diusir." Sekar Ayu masih mencoba mengambil hati Adi.


"Siapa dia, Mas?" tanya Ibu Sarah yang baru datang dengan menggunakan taksi online.


"Ma--ma." Saking seriusnya Adi, sampai tidak menyadari kedatangan ibu mertuanya.


Sekar Ayu tersenyum pada Ibu Sarah. Dengan penuh percaya diri dia mengulurkan tangan pada ibu mertua Adi tersebut. "Saya Sekar Ayu. Teman lama Mas Adi dan juga cinta pertamanya."


...---oOo---...


Jogja, 231121 00.50


Siapkan hati eh camilan ya untuk bab selanjutnya, kabur 🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️

__ADS_1


Catatan :


(*) USG transvaginal adalah prosedur pencitraan menggunakan gelombang suara yang dipancarkan melalui organ intim untuk memeriksa organ reproduksi wanita, meliputi rahim, saluran telur, indung telur, leher rahim, dan organ intim. USG jenis ini termasuk pemeriksaan internal, karena akan memasukkan alat USG yang menyerupai tongkat sepanjang 5-7 cm ke dalam organ intim.


__ADS_2