Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Merasa Pusing


__ADS_3

"Dita kenapa kok belum ke luar kamar, Rend?" tanya Ibu Dewi pada putranya yang baru ke luar dari kamar dengan membawa keranjang baju kotor. Biasanya setelah salat Subuh menantunya akan membantu di dapur atau mencuci baju.


"Tidur, Ma. Tadi dia mengeluh pusing dan lemas," jawab Rendra.


"Apa Dita sakit? Waktu sahur tadi juga kelihatan pucat wajahnya." Tampak raut cemas di wajah Ibu Dewi.


"Kecapaian kayanya, Ma," sahut Rendra.


"Kamu semalam bikin dia capai, ya?" Ibu Dewi menatap Rendra curiga.


"Enggak, Ma. Tadi malam kami langsung tidur kok. Swear, Ma!" Rendra mengangkat tangan kirinya membentuk huruf V.


"Mungkin Dita kecapaian mengurus pernikahannya Mas Adi, Ma," lanjutnya.


"Tahu istrinya capai kok malah diajak pergi sih, Rend." Ibu Dewi menggelengkan kepalanya.


"Kemarin itu Mas Adi yang ngajak, Ma. Dita juga enggak keberatan kok. Terus, pas ngayuh sepeda hias di Alkid, dia bilang capai. Semalam di kafe dia juga cuma tiduran di sofa padahal biasanya ngobrol sama Bella atau ikut bantu melayani di depan." Rendra memberi penjelasan pada mamanya.


"Nanti Dita ada kuliah pagi?" tanya Ibu Dewi.


"Iya, Ma. Ada tugas yang harus dikumpulkan juga hari ini. Biar dia tidur dulu, nanti Rendra bangunkan jam 06.00."


"Kalau masih lemas sama pusing disuruh izin saja, Rend. Kamu titipkan tugasnya sama Bella," saran Ibu Dewi.


"Iya, Ma. Rendra ke atas dulu ya Ma, mau merendam baju kotor."


"Iya." Ibu Dewi melanjutkan kegiatannya di dapur.


"Sayang, bangun." Rendra mengecup kening lalu mengelus kepala istrinya yang masih tertidur pulas. Dia menatap wajah Dita yang memang terlihat agak pucat pagi ini.


Dita menggeliatkan badan. Perlahan dia membuka matanya. "Jam berapa, Mas?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Jam 06.00, Sayang." Rendra membantu Dita yang bangun dari tidurnya.


"Aduh, Mas. Kepalaku kok masih pusing." Dita memegang kepalanya.


"Tidur lagi saja ya. Kuliahnya izin dulu. Nanti tugasnya aku titip sama Bella." Rendra menatap istrinya dengan rasa khawatir.


"Iya, Mas." Dita kembali berbaring dibantu Rendra.


"Mas, nanti ke kampus kan antar tugasnya?" tanya Dita lemah.


"Iya. Ada pesan buat Bella?"


"Tolong dimintakan izin aja, Mas."


"Sayang, tiduran aja. Tugasnya ditaruh di mana, Sayang?" Rendra mengelus kepala istrinya.


"Di ransel. Tolong bawa ke sini, Mas."


Rendra mengambil ransel istrinya dan membawanya ke atas ranjang. Dia membuka ransel itu. "Tugasnya yang mana, Sayang?"


"Di stopmap plastik. Dibawa saja semuanya, Mas. Terus dikasihkan ke Bella."


"Yang ini?" Rendra menunjukkan stopmap plastik warna hijau yang dia ambil dari dalam ransel Dita.


"Iya, Mas."


"Tidur lagi, ya. Aku telepon Bella dulu." Rendra mengecup kembali kepala istrinya sebelum beranjak dari atas ranjang.


Dita mengangguk pelan. Dia memejamkan matanya lagi.


Rendra mengambil gawai lalu ke luar kamar untuk menelepon Bella. Dia tidak mau mengganggu istirahat istrinya.


"Istrimu gimana, Rend?" tanya Ibu Dewi begitu melihat Rendra.


"Masih pusing katanya, Ma. Wajahnya juga pucat. Ini Rendra mau telepon Bella nitip tugasnya Dita," terang Rendra.


"Mama lihat Dita ya, Rend."


"Iya, Ma. Masuk saja."


Ibu Dewi masuk ke kamar Rendra lalu menghampiri menantunya yang berbaring sambil memejamkan mata.


"Dita, masih pusing?" tanya Ibu Dewi sambil mengelus kepala menantunya.


Dita membuka mata. "Iya, Ma," jawabnya lemah.

__ADS_1


"Ke dokter ya," tawar Ibu Dewi.


Dita menggeleng. "Ditunggu dulu sampai nanti sore, Ma. Kalau masih pusing dan lemas, aku ke dokter."


"Mama bikinkan teh manis panas ya. Kamu batalkan saja ya puasanya. Wajah kamu pucat begini." Ibu Dewi menatap menantunya dengan khawatir.


"Insya Allah, aku kuat puasa, Ma. Nanti kalau enggak kuat, aku pasti bilang."


"Benar ya. Mama khawatir sama kamu. Harusnya semalam kalian enggak usah pergi kalau kamu capai."


"Kemarin juga enggak apa-apa kok, Ma. Jangan salahkan Mas Rendra. Baru bangun sahur tadi mulai pusing, Ma."


"Ya sudah. Kamu tidur dulu. Kalau butuh apa-apa panggil Rendra atau mama ya."


"Iya. Terima kasih, Ma." Dita kembali memejamkan mata setelah ibu mertuanya meninggalkan ranjang.


"Rend, kalau sampai nanti sore istrimu masih pusing dibawa ke dokter ya."


"Iya, Ma."


"Tadi mama minta Dita batalkan puasanya, tapi dia tidak mau."


"Nanti Rendra akan coba bujuk Dita. Oh ya Ma, nanti kalau Rendra ke kampus nitip Dita dulu ya. Rendra cuma pergi sebentar, ketemu Bella saja."


"Kamu tenang saja. Dita juga sudah jadi anak mama, tanpa kamu minta juga mama akan jaga Dita. Kamu mau kabarin bundanya enggak?"


"Nanti saja, kalau sudah ke dokter, Ma."


"Adi, kamu kabari juga?"


"Iya, Ma. Sekalian Rendra ambil dan antarkan motor. Rendra mau mandi dulu terus siap-siap."


"Feeling mama kok kayanya Dita hamil, Rend."


"Masa sih, Ma." Rendra tak percaya dengan ucapan mamanya.


Ibu Dewi menganggukkan kepala.


"Aku pergi dulu ya, Sayang." Rendra mengecup kening Dita sebelum berangkat ke kampus.


"Hati-hati ya, Mas. Maaf jadi merepotkan. Ini parfumnya kok bikin pusing sih, Mas." Dita menutup hidungnya.


"Tapi bikin aku makin pusing. Jauh-jauh deh, Mas." Dita membalikkan badan membelakangi suaminya.


Rendra menghela napas. "Apalagi salahku?"


"Kalau Sayang butuh sesuatu panggil atau telepon mama ya selama aku pergi," pesan Rendra.


"Iya, Mas," sahut Dita sengau. Dia masih menutup hidungnya.


Sampai sore, ternyata Dita masih merasa pusing walau sudah berkurang setelah tidur dan minum obat. Akhirnya Dita mau membatalkan puasa setelah Rendra berhasil membujuknya. Sesuai janjinya tadi pagi pada Ibu Dewi, sore ini dia pergi ke dokter.


Rendra dengan setia selalu menemani istrinya. Kalau Dita tidak menahannya, dia pasti sudah menggendong Dita sampai di depan praktik dokter tanpa istrinya harus berjalan pelan sambil berpegangan erat padanya.


Tak lama Dita sudah dipanggil masuk ke ruang praktik dokter. Rendra tadi sudah mendaftarkan istrinya jadi tidak perlu lama menunggu.


Mereka masuk ke ruang praktik dokter. Di atas meja tertulis nama dr. Arimbi Atmarani. Rendra memang sengaja mencari dokter wanita untuk istrinya karena dia tidak rela pria lain memegang dan melihat tubuh istrinya. Ya, seposesif itulah dia.


"Selamat sore, Ibu Anindita," sapa dokter Arimbi dengan ramah.


"Sore, Dok," sahut Dita juga dengan ramah.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya dokter Arimbi.


"Begini, Dok. Istri saya ini merasa pusing dan juga lemas. Tadi sudah minum obat pereda pusing, tapi katanya masih belum hilang pusingnya," terang Rendra.


"Tensinya memang biasa rendah ya, Bu?" dokter Arimbi mendongak setelah membaca catatan tensi Dita.


"Biasanya normal, Dok."


"Silakan berbaring, Bu. Saya akan periksa."


Rendra membantu istrinya berbaring di ranjang periksa.


"Mulai kapan pusingnya, Bu?"


"Baru tadi pagi, Dok."

__ADS_1


"Apa ada keluhan lain, misal mual, muntah?"


"Tidak ada, Dok. Tapi saya agak sensitif dengan bau."


Dokter Arimbi mengangguk. Setelah selesai memeriksa dia mempersilakan Dita duduk kembali. Dia juga duduk di belakang mejanya.


"Apa Ibu ingat kapan terakhir haid?" tanya dokter Arimbi.


Dita dan Rendra saling berpandangan. Rendra tersenyum lalu menggenggam tangan istrinya.


"Sebelum puasa, Dok." Rendra yang menjawab pertanyaan dokter dengan semangat.


"Secara umum tidak masalah, Bu. Saya beri vitamin untuk menambah stamina. Sepertinya rasa pusing dan lemas Ibu karena Ibu sedang hamil. Tapi untuk memastikan, ibu harus melakukan tes kehamilan. Apa mau sekalian periksa di sini?" dokter Arimbi memandang Dita dan Rendra bergantian.


"Gimana, Sayang?" Rendra menoleh pada istrinya.


"Sekalian juga tidak apa-apa. Biar langsung ketahuan," jawab Dita.


"Sus, tolong bantu Ibu Anindita untuk mengambil sampel darah dan urine," kata dokter Arimbi pada salah satu perawat di sana.


"Nanti setelah hasilnya keluar akan dipanggil ya, Ibu, Bapak," ujar dokter Arimbi.


"Terima kasih, Dok"


"Mari ikut dengan saya, Bu," kata perawat pada Dita.


Rendra dan Dita kemudian mengikuti perawat tersebut. Dita diberi wadah untuk mengambil sampel urine. Setelah itu diambil sampel darahnya.


"Sayang, kalau benar hamil, siap kan?" tanya Rendra sambil membelai kepala Dita yang menyandar di bahunya.


"Insya Allah, Mas."


"Kayanya baby yang ini minta perhatian lebih dari ayah." Rendra mengelus perut Dita.


"Dia tahu ayahnya punya banyak waktu sekarang," selorohnya.


"Semoga aku masih bisa kuliah, Mas. Sebulan lagi kan Ujian Akhir Semester," gumam Dita.


"Aamiin. Insya Allah, kuliah tetap lancar. Bantu Ibu tetap kuliah ya, Baby." Rendra kembali mengelus perut istrinya.


"Mas, nanti kalau aku positif hamil. Berarti kita langsung ke dokter Lita ya?"


"Nanti coba telepon dulu, bikin janji. Takutnya kalau mendadak sudah penuh pasiennya."


"Iya, Mas."


Sekitar setengah jam kemudian, Dita dipanggil lagi ke ruangan dokter Arimbi.


"Bapak, Ibu, ini sudah keluar hasil tesnya. Selamat, Ibu Anindita positif hamil." Dokter Arimbi menyerahkan laporan hasil labnya.


"Alhamdulillah. Terima kasih, Dok." Rendra menerima laporan hasil lab dengan senyum lebar.


"Sayang, kita mau punya baby lagi."


Dita mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak bisa berkata-kata karena berbagai perasaan yang dia rasakan.


"Bukan kehamilan pertama ya, Pak?"


"Iya, Dok. Ini kehamilan istri saya yang kedua."


"Selamat ya, Pak, Bu. Pasti si sulung senang mau punya adik." Dokter Arimbi tersenyum lebar.


"Di kehamilan pertama, istri saya mengalami IUFD di usia 7 bulan," sahut Rendra.


"Oh, maaf Pak, Bu," ucap dokter Arimbi.


"Tidak apa-apa, Dok."


"Semoga di kehamilan kedua ini diberi kesehatan dan kelancaran sampai melahirkan," doa dokter Arimbi dengan tulus.


"Aamiin. Terima kasih, Dok."


"Ini saya resepkan vitamin dulu ya, Bu. Sebaiknya juga segera konsultasi ke dokter kandungan setelah ini." Dokter Arimbi menulis resep untuk Dita.


"Terima kasih, Dok."


...---oOo---...

__ADS_1


Jogja, 010721 01.10


__ADS_2