
Bakda Asar, Pak Wijaya, Ibu Hasna, Rendra dan Dita tiba di kediaman Pak Lukman. Mereka disambut Adelia, Ibu Sarah dan kerabat lainnya. Sambil menunggu para tamu, mereka mengobrol di ruang tamu.
Karyawan katering sudah tampak sibuk menata snack box dan juga kotak nasi, yang sudah dipesan Ibu Hasna, di pintu gerbang. Di teras dan halaman rumah juga sudah digelar karpet untuk acara pengajian dan syukuran nanti.
Adi, Arsenio dan Rendra tampak berbicara serius di depan garasi. Mereka sedang merencanakan sesuatu.
"Arsen, kira-kira kamu sudah ada bayangan belum siapa yang jadi mata-mata Restu?" tanya Adi pada adik iparnya.
"Sudah, Senpai, eh Mas. Ada satu orang yang aku curigai namanya Toni. Dia selalu antusias kalau aku bicara tentang Mbak Adel. Nanti aku tunjukkan yang mana orangnya," terang Arsenio.
"Apa Restu ngaku kalau punya mata-mata, Mas?" Rendra menatap kakak iparnya.
"Tentu saja tidak. Tapi dia terlihat gugup saat aku menyinggung soal itu. Makanya tadi undangan disebar setelah aku mengabari Arsen kalau aku sudah selesai ketemu Restu." Adi menjelaskan pada Rendra.
"Tapi, aku punya feeling kalau Restu belum menyerah. Yang jelas kita harus tetap waspada. Jangan sampai Adelia tahu soal ini, aku takut nanti dia khawatir. Sampai aku yakin Restu menyerah, aku enggak akan melepas Adelia pergi sendiri." Adi merangkul kedua adik iparnya saat bicara agar tidak ada yang mendengar.
"Kalau Adel mau ke kampus biar bareng aku sama Dita aja, Mas. Nanti aku bilang Dita kalau Adelia ke mana-mana harus selalu ditemani, dengan alasan harus pergi dengan mahram," kata Rendra.
"Terima kasih, Rend." Adi menepuk bahu Rendra.
"Terus nanti kita awasi Toni enggak, Mas?" tanya Arsenio pada Adi.
"Iya dong, nanti kalian koordinasikan berdua. Aku enggak mungkin ikut mengawasi. Nanti selesai acara kita bicara sama dia baik-baik. Kalau terlihat mencurigakan dan masih mengelak, kita kasih sedikit gertakan." Adi memberi instruksi pada Arsenio dan Rendra.
"Perlu disikat enggak, Mas?" tanya Arsenio lagi.
"Enggak perlu pakai kekerasan. Kita main cantik saja. Mode senyap," jawab Adi santai.
"Wah, enggak seru dong," protes Arsenio.
"Dasar anak muda," seloroh Rendra menanggapi Arsenio.
"Memangnya Mas Rendra sudah tua?" cibir Arsenio.
"Masih lah. Ayo kita kumite, siapa yang menang berarti dia yang masih muda," canda Rendra.
"Wes abot iki, lawan senpai yo jelas kalah aku (wah berat ini, lawan senior ya aku pasti kalah)," gurau Arsenio yang membuat mereka bertiga tertawa.
Saat waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, para tamu mulai berdatangan. Keluarga inti Pak Lukman dan Pak Wijaya berdiri di depan gerbang untuk menyambut mereka. Para pria menyambut tamu pria, begitu juga sebaliknya. Begitu tamu datang, langsung diberikan snack box dan nasi kotak dalam tas spunbond, jadi saat azab Magrib nanti mereka bisa segera membatalkan puasa.
Saat Toni datang, Arsenio segera memberi kode pada Rendra dan Adi. Sambil tetap menyambut tamu lainnya, diam-diam mereka mengawasi gerak gerik Toni.
Setelah Ustaz Faharudin datang, acara pengajian dan syukuran hari itu dimulai. Pertama-tama acara dibuka dengan mendengarkan ayat suci Al-Qur'an yang dilantunkan dengan merdu oleh Rendra. Setelah itu sambutan selamat datang dari Pak Lukman sekaligus mengumumkan kalau Adelia sudah menikah. Pak Lukman juga memperkenalkan Adi sebagai suami Adelia.
Sesudah Pak Lukman selesai memberi sambutan, Ustaz Faharudin mengisi tausiah dengan tema 'Mencetak Generasi Islami'. Karena zaman yang terus berubah dengan generasi yang selalu berganti. Tantangan di masa depan semakin besar. Sudah seharusnya kita menyiapkan generasi yang kokoh, bukan generasi yang lemah. Maka dengan semangat Ramadan kita bisa terinspirasi untuk mencetak generasi Islami. Mendidik dan mengasuh anak dengan tuntunan Islam, karena suasana Ramadan sangat mendukung hal tersebut. Menikah karena cinta kepada Allah merupakan salah satu cara untuk melahirkan generasi Islami. Tinggal bagaimana membentuk mereka jadi anak yang saleh dan salehah.
Beberapa menit sebelum azan Magrib, Ustaz Faharudin mengakhiri tausiahnya. Dia memimpin doa untuk kedua mempelai dan juga semua yang hadir di sana.
Saat Pak Lukman memperkenalkan Adi tadi, Toni diam-diam mengambil gambarnya. Arsenio yang terus mengawasi, diam-diam langsung menghampiri dia.
"Ambil foto Mas Adi buat apa, Mas Toni?" tanya Arsenio dari belakang Toni.
Toni terkejut sampai gawainya terjatuh. Arsenio bisa melihat kalau Toni sedang mengirim foto dan pesan dari layar gawai yang masih menyala. Toni bergegas mengambil gawai lalu memadamkan layarnya agar tidak ketahuan Arsenio. Tapi, sudah terlambat.
"Buat kenang-kenangan," kata Toni dengan gugup.
"Oh, begitu." Arsenio memberi kode pada Rendra kalau Toni memang mata-mata Restu.
"Nanti aku dikirimi fotonya ya, Mas Toni," kata Arsenio sambil meremas bahu Toni.
"I ... iya," sahut Toni.
Arsenio lalu meninggalkan Toni. Sementara itu Rendra terus mengawasi segala tindak tanduk Toni yang seperti merasa takut dan gelisah. Dia terlihat beberapa kali mengusap keringat di dahinya.
Usai acara pengajian dan syukuran ditutup, semua yang ada di sana membatalkan puasa mereka dengan snack dan segelas teh manis hangat. Sebagian ada yang langsung menikmati nasi kotak, ada pula yang membawanya pulang ke rumah. Kemudian satu per satu tamu mulai berpamitan pulang. Mereka masing-masing diberi bingkisan kue untuk dibawa pulang.
Toni yang sedang menghabiskan makanannya masih tinggal di sana. Adi dan Arsenio kemudian menghampiri dia. Mereka duduk mengapit Toni.
"Mas Toni, ini kenalkan Mas Adi, suaminya Mbak Adel." Arsenio mengawali dengan memperkenalkan Toni dan Adi, mereka kemudian saling bersalaman.
"Mas Toni ini rumahnya sebelah mana?" tanya Adi dengan senyum ramah.
"Depan situ, Mas. Yang cat rumah warna biru," jawab Toni dengan santai sambil tetap makan.
"Oh, sudah kerja atau masih kuliah, Mas?" tanya Adi lagi.
"Masih kuliah. Sama dengan Adelia," kata Toni.
"Satu kampus sama Adel?" Adi mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Enggak. Maksud saya, sama-sama sedang skripsi."
"Butuh banyak biaya ya untuk skripsi, Mas?" Adi memberi pertanyaan yang menohok.
Toni langsung menghentikan makannya. Dia sepertinya terpancing emosi. Dia menatap tajam Adi. "Maksudnya ngomong seperti itu apa, Mas?"
"Selow, Mas. Rasah ngegas (Santai, Mas. Jangan emosi)." Arsenio merangkul bahu Toni.
Adi tersenyum miring sambil melirik Toni. "Dibayar berapa sama Restu?"
"Maksudnya apa ini?" Toni mengernyit sambil memandang Adi dan Arsenio bergantian.
"Enggak usah pura-pura, Mas Toni. Tadi Mas Toni kirim foto Mas Adi ke Mas Restu, kan." Kali ini Arsenio yang bicara.
"Jangan asal menuduh kalau enggak ada bukti. Nanti jatuhnya fitnah," sergah Toni.
"Sini aku pinjam, hp-nya Mas Toni." Arsenio mengulurkan tangan kanannya.
"Bu ... buat apa?" Toni mulai panik.
"Cari bukti dong. Katanya tadi harus ada bukti. Kan buktinya ada di hp Mas Toni," ujar Arsenio.
"Enggak. Enggak ada apa-apa di hp-ku." Toni menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku juga butuh bukti kalau Mas Toni enggak bohong. Dari sikap Mas Toni kelihatan seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Apa perlu kita lapor Pak RT atau malah polisi karena melakukan persekongkolan dengan Restu, ya kan Mas Adi?" gertak Arsenio.
Adi menganggukan kepala menanggapi Arsenio.
"Kenapa harus bawa-bawa polisi?" Toni panik.
"Kenapa? Mas Toni takut? Kalau tidak salah kenapa harus takut," sindir Adi.
"Kalau aku jujur, kalian tidak akan lapor polisi kan?" tanya Toni memastikan.
"Aman, Mas. Tapi kalau Restu sampai bertindak nekat dan Mas Toni tidak mau mengaku sekarang, ya pasti akan ikut terseret." Adi tersenyum lebar pada Toni.
Toni mengambil gawai dari saku dan menyerahkan pada Arsenio.
"Silakan dilanjut makannya, Mas Toni. Kami ke masjid dulu salat Magrib," kata Adi.
"Terus hp-ku gimana?" tanya Toni seraya menatap Adi dan Arsenio bergantian.
"Nanti susul kami ke masjid," jawab Adi.
Dalam perjalanan ke masjid, Arsenio melihat-lihat isi pesan Toni dan Restu. Dia menunjukkannya pada Adi.
"Apa yang akan kita lakukan, Mas?" tanya Arsenio.
"Nanti kita interogasi dia. Gimana selanjutnya tergantung nanti," jawab Adi.
"Ayo buruan, sudah telat ini kita." Adi mempercepat langkahnya yang diikuti Arsenio.
Usai salat Magrib, Rendra menunggu Adi dan Arsenio di serambi masjid. Tadi dia pergi ke masjid dulu bersama Ustaz Faharudin yang terus mengajaknya mengobrol setelah memberi tausiah.
"Gimana hasilnya?" tanya Rendra pada Arsenio yang ke luar lebih dulu.
Arsenio mengeluarkan gawai Toni dari sakunya. Dia menyerahkan pada Rendra. "Di situ ada bukti percakapannya mereka."
Rendra melihat isi percakapan Toni dan Restu. Rupanya sudah lama Toni menjadi informannya Restu. Untung saja Toni tidak pernah membersihkan chat-nya dengan Restu.
"Arsen, mana hp-ku?" desak Toni.
"Kita ngobrol dulu, Mas Toni," sela Adi yang baru bergabung dengan mereka.
"Apalagi? Kalian kan sudah melihat hp-ku. Apa belum cukup?" protes Toni tak terima.
"Kita masih harus ngobrol, Mas," tegas Adi.
Toni akhirnya hanya duduk pasrah. Tidak mungkin dia melawan tiga orang itu. Kalau nekat sama saja cari mati.
"Sudah berapa lama Mas Toni jadi mata-mata Restu?" tanya Adi dengan tenang.
"Sejak Mas Restu pindah tugas ke luar kota," jawab Toni sambil menunduk.
"Apa?" Arsenio hendak meraih kerah kemeja Toni tapi ditahan Rendra.
"Istigfar, Sen." Rendra merangkul Arsenio agar tidak melampiaskan emosinya.
"Dibayar berapa sama dia?" tanya Adi lagi.
__ADS_1
"Tiga ratus ribu per bulan. Kadang juga dikasih bonus kalau dia sedang senang," jawab Toni.
Adi tersenyum miring. "Apa tiap hari Mas Toni harus laporan sama dia?"
"Ya, kalau saya lihat Mbak Adel pergi ke luar atau Mas Restu tanya baru lapor." Toni semakin menunduk.
"Apa Mas Toni tahu alasan sebenarnya pertunangan Restu dengan istriku batal?" selidik Adi.
Toni menggeleng. "Mas Restu bilang kalau Mbak Adel tidak mau LDR-an makanya mereka terpaksa putus. Terus Mas Restu minta saya mengawasi Mbak Adel siapa tahu ternyata Mbak Adel selingkuh."
"Kurang ajar." Arsenio menggeram. Kedua tangannya terkepal seperti akan memukul.
"Arsen, tenang. Lebih baik kamu pulang saja kalau tidak bisa menahan emosi," tegur Adi.
"Aku enggak mau pulang." Arsenio coba menahan emosinya. Rendra kembali merangkulnya.
"Mas Toni sudah dibohongi. Restu selingkuh dan menghamili wanita lain, itu alasan yang sebenarnya." Adi menatap Toni yang terus menunduk.
Toni kemudian mendongak. Dia kaget dengan kenyataan yang dipaparkan Adi. "Jadi selama ini aku dibohongi sama dia. Kurang ajar."
"Kalau tahu yang sebenarnya pasti saya juga tidak mau, Mas. Saya mau membantu karena merasa kasihan sama Mas Restu, tapi ternyata saya sudah dibohongi sama dia." Toni meratapi dirinya.
"Apa setelah ini Mas Toni masih mau jadi mata-matanya Restu?" tanya Adi.
Toni menggeleng. "Tidak, Mas."
"Apa perintah terakhir Restu sama Mas Toni?"
"Saya diminta memberikan informasi tentang Mas Adi." Toni menundukkan kepala lagi.
"Salah satunya tadi, dengan mengirim fotoku sama Restu?"
"Iya, Mas. Tapi, demi Allah, saya belum memberikan banyak informasi soal Mas Adi karena memang saya tidak tahu apa-apa." Toni membela dirinya.
"Apa Mas Toni tahu apa rencana Restu selanjutnya?"
Toni menggeleng. "Dia tidak pernah memberi tahu rencananya. Saya hanya memberi laporan saja, tidak lebih dari itu. Mas Adi bisa cek dari hp saya tadi."
"Apa benar?" Adi menoleh pada Arsenio dan Rendra.
"Benar, Mas. Tidak ada percakapan tentang rencananya. Tapi kemarin ada panggilan telepon dari Restu," ujar Rendra.
"Itu kemarin Mas Restu tanya apa Mbak Adel benar sudah nikah. Dia juga minta saya lebih hati-hati agar tidak ketahuan. Sama minta informasi soal Mas Adi." Toni menjelaskan sendiri tanpa harus diminta.
"Terus setelah ini apa yang akan Mas Toni lakukan? Pasti dia akan minta info soal aku kan."
"Saya akan blokir nomornya, Mas."
Adi tertawa kecil. "Percuma. Dia pasti akan menghubungi dengan nomor baru. Percaya sama aku, Mas. Karena Adelia juga sudah memblokir berulang kali tapi juga begitu. Jalan satu-satunya ganti nomor baru."
"Kalau begitu nanti saya beli nomor baru, Mas," kata Toni.
"Nomor lama boleh aku minta?" tanya Adi.
"Untuk apa, Mas?" Toni tergagap.
"Untuk bukti kalau dia sampai berbuat nekat."
Toni terkesiap. Dia tidak menyangka ternyata Restu orang yang licik. Lebih baik dia menghindar saja dari masalah pelik ini.
"Silakan kalau mau diambil, Mas."
"Arsen, tolong di-back up isi percakapannya biar enggak hilang," perintah Adi.
"Siap, Mas," sahut Arsenio.
"Ditunggu dulu ya, Mas Toni biar di-back up Arsen." Adi mengambil dompet dari saku belakang celananya, lalu mengambil selembar uang berwarna merah.
"Ini untuk membeli nomor yang baru." Adi menyerahkan uang itu pada Toni.
"Enggak perlu, Mas," tolak Toni.
"Terima saja, Mas. Itu rezeki buat Mas Toni." Rendra ikut menyahut.
"Terima kasih, Mas." Toni menerima uang itu dengan sungkan.
"Semoga skripsinya lancar ya, Mas. Lulus kuliah terus langsung kerja." Adi menepuk bahu Toni sambil tersenyum ramah.
"Aamiin. Terima kasih, Mas."
__ADS_1
...---oOo---...
Jogja, 240621 14.45