Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Mengintil Kerja


__ADS_3

"Ai, bangun yuk salat Tahajud." Adi mengecup kening sang istri yang masih terlelap.


"Jam berapa, Mas?" tanya Adelia dengan suara serak khas bangun tidur dan mata yang masih terpejam.


"Setengah empat," jawab Adi.


"Sebentar lagi, Mas." Adelia masih enggan untuk bangun.


"Jangan ajari anak kita malas, Ai." Adi kemudian mengelus perut Adelia. "Nak, ayo bantu bangunkan umi."


Adelia tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ada rasa bahagia yang dia rasakan saat Adi mengelus perutnya.


"Iya, Abi." Adelia membuka mata. Dia berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya di dalam kamar.


"Mas Adi, sekarang punya senjata ampuh kalau aku malas," cibir Adelia.


Adi tertawa kecil. "Sudah menjadi kewajibanku untuk mengajak istri dan anakku menjalankan ibadah, Ai." Adi mengelus kepala istrinya penuh kasih.


"Yuk, bangun. Pelan-pelan saja jangan langsung duduk."


"Bangunin." Adelia mengulurkan kedua tangannya dengan manja.


Adi tersenyum melihat istrinya yang jadi lebih manja sekarang. Dia pun membantu Adelia untuk bangun.


"Ai, bersih-bersih dulu di kamar mandi. Aku tunggu di musala." Adi hendak bangkit dari duduknya tapi ditahan oleh Adelia.


"Gendong ke kamar mandi." Adelia kembali bersikap manja.


Adi terkekeh geli. Dia lalu membopong Adelia ke kamar mandi."Sekalian dibantu bersih-bersih tidak, Ai," godanya.


"Ih, Mas modus," sindir Adelia.


"Enggak apa-apa kan modusin istri sendiri," balas Adi.


Adi menurunkan Adelia di dekat wastafel.


"Jadi mau dibantu enggak, Ai." Adi mengedipkan sebelah mata.


"Ish, sana Mas Adi keluar." Adelia mendorong badan tegap Adi agar keluar dari kamar mandi.


Adi meninggalkan istrinya sambil tergelak.


Setelah dalam kondisi suci, mereka menjalankan salat Tahajud bersama. Usai salat dan berdoa, mereka membaca Al-Qur'an sambil menunggu azan Subuh berkumandang.


"Mas, nanti pulang jam berapa?" Adelia memeluk suaminya dari belakang saat Adi merapikan kemeja di depan kaca.


"Ya, seperti biasa, Ai. Kenapa? Ai, mau pergi?" Adi membalikkan badan hingga berhadapan dengan sang istri.


Adelia menggelengkan kepala.


"Terus kenapa?" Adi menangkup wajah Adelia.


"Pingin bareng Mas Adi saja." Adelia memeluk Adi dan menyandarkan kepala di dada bidang suaminya.


"Kalau aku enggak kerja kan sama Ai terus."


"Iya. Tapi aku mau sama Mas Adi." Adelia merengek.


"Nanti aku suruh Dita sama Ale ke sini temani Ai, ya."


"Enggak mau. Aku maunya Mas Adi."


"Aku harus kerja, Ai. Kalau aku enggak kerja, aku enggak bisa menafkahi Ai sama anak kita."


"Aku ikut."


"Ikut ke mana, Ai?" Adi mengernyit.


"Kerja." Adelia mendongak menatap suaminya.


"Hah? Ikut kerja?" Adi terkejut mendengar keinginan istrinya.


Adelia mengangguk.


"Lama loh Ai, enggak cuma satu apa dua jam saja. Aku juga harus ke proyek."


"Bilang saja enggak boleh ikut." Adelia langsung berubah cemberut dan melepas pelukannya.


"Bukannya tidak boleh ikut. Ai, kan pernah aku ajak ke kantor. Ini nanti aku harus ke proyek tidak cuma ke kantor saja. Kalau cuma di kantor tidak apa-apa kalau Ai mau ikut." Adi mencoba memberi pengertian pada istrinya.


"Alasan saja. Pasti ada anak magang yang cantik kan di sana makanya aku enggak boleh ikut." Adelia mulai berprasangka buruk pada suaminya.


"Astaghfirullah. Jangan suuzan, Ai. Anak magang kan Ai sudah tahu semua."


"Siapa tahu ada yang baru lagi," tukas Adelia.


"Tidak ada, Ai. Demi Allah tidak ada anak magang baru. Ya sudah kalau Ai mau ikut, tapi nanti aku ke proyek loh."


"Benar, Mas?" Wajah Adelia langsung berubah ceria. "Nanti aku tunggu di mobil kalau Mas Adi ke proyek."


"Iya. Sekarang Ai ganti baju dulu. Aku siapkan bekal minum sama camilan buat Ai."


"Makasih, Mas Adi." Adelia sedikit berjinjit, mencium pipi suaminya. Dia langsung membuka lemari dan memilih pakaian yang akan dia pakai.


"Pelan-pelan, Ai. Tidak perlu terburu-buru."


Adelia akhirnya ikut suaminya bekerja. Adi terpaksa menuruti keinginan istrinya agar Adelia tahu kesibukannya bekerja. Berharap setelah hari ini, sang istri tidak minta ikut dia kerja lagi.


Sebelum ke kantor, Adi pergi ke proyek dahulu agar istrinya tidak kepanasan menunggunya di mobil. Panasnya pagi tidak seterik di siang hari.


"Ai, jadi menunggu di mobil?" tanya Adi setelah mereka tiba di lokasi proyek.

__ADS_1


"Iya, Mas."


"Kalau begitu AC-nya aku nyalakan, tapi jendelanya dibuka sedikit biar ada sirkulasi udara yang masuk dan keluar," ujar Adi.


"Kenapa, Mas?" Adelia mengerutkan kening.


"Kalau kelamaan di dalam mobil yang AC-nya dinyalakan nanti bisa keracunan gas Carbon Monoksida (CO). Ini untuk mengurangi risiko, Ai."


"Memang Mas Adi lama di sini?"


"Kurang lebih satu jam. Aku usahakan secepatnya, Ai. Kemarin kan aku pulang cepat, ini nanti aku melihat hasil kerja kemarin. Terus aku kasih instruksi pekerjaan selanjutnya."


"Hhhmmm, lama juga," keluh Adelia.


"Kan tadi aku sudah bilang mau ke proyek. Ai, bilang enggak apa-apa nungguin di mobil." Adi mengingatkan janji yang istrinya tadi katakan.


"Iya--iya. Ya sudah, Mas Adi buruan sana, keburu panas nanti."


"Nanti kalau Ai kepanasan, keluar dari mobil saja. Ini kuncinya aku tinggal. Ai, bisa duduk-duduk di warung depan itu." Adi menunjuk warung di dekat lokasi proyek.


"Iya."


"Nak, abi mau kerja dulu. Temani umi di mobil ya." Adi mengelus perut Adelia sebelum turun dari mobil.


"Iya, Abi," balas Adelia sambil tersenyum manis. "Umi-nya enggak dipamitin, nih."


"Aku kerja ya, Ai. Jangan lupa kunci pintunya." Adi mencium kening sang istri.


"Iya. Hati-hati, Mas." Adelia melambaikan tangan saat suaminya keluar dari mobil.


Selama menunggu sang suami, Adelia berselancar di dunia maya. Dia mencari informasi tentang kehamilan dan cara mendidik anak sejak di dalam kandungan.


Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Adi kembali ke mobil setelah sekitar 1,5 jam di proyek karena banyak hal yang harus dia urus. Dia berjalan dengan cepat sambil memakai topi proyek, takut istrinya mengambek karena terlalu lama menunggu.


Dia melihat ke arah warung, tapi tak terlihat sosok sang istri. Dia lalu mengetuk kaca mobil penumpang di mana istrinya duduk.


"Ai, tolong buka pintunya," pinta Adi dari luar mobil.


Adi menunggu beberapa saat tetapi, Adelia tidak segera membuka pintu. Dia mulai panik. Apa sesuatu terjadi pada istrinya di dalam mobil? Dia tidak bisa mengintip dengan jelas ke dalam mobil karena kacanya dilapisi kaca film hitam.


Dia mulai mengetuk kaca mobil lebih keras.


"Ai--Ai. Buka pintunya, Ai," teriak Adi.


Dia melihat sekeliling, berniat mencari batu untuk memecahkan kaca mobil kalau istrinya tidak juga membukakan pintu mobil.


Tak lama terdengar kunci mobil dibuka. Adi menghela napas lega. "Alhamdulillah."


Dia bergegas membuka pintu penumpang sampai membuat Adelia terkejut.


"Kok buka pintuku, Mas?" tanya Adelia heran.


"Aku enggak apa-apa. Mas Adi ini kenapa sih kok panik?" Adelia semakin heran dengan sikap Adi.


"Aku tadi mengetuk pintu beberapa kali, Ai. Tapi Ai tidak menjawab. Baru setelah aku mengetuk lebih keras, dan berteriak, Ai membuka pintu." Adi menjelaskan penyebab dia panik.


"Astaghfirullah, maafkan aku, Mas. Tadi aku ketiduran habis browsing-browsing."


"Tidak apa-apa, Ai. Yang penting Ai baik-baik saja. Aku tadi takut Ai pingsan di dalam karena keracunan gas."


Adelia tersenyum lebar. Ada rasa bahagia dan haru saat mendengar Adi sangat mencemaskan dirinya.


"I'm fine, Mas. We're fine." Adelia menangkup wajah calon abi dari anak yang sedang dikandungnya itu.


Adi tersenyum lalu memeluk erat sang istri. "Terima kasih kalian baik-baik saja. Maaf tadi tidak bisa tepat waktu karena ada sedikit masalah yang harus aku urus, Ai."


"Enggak apa-apa, Mas. Untung saja tadi aku ketiduran jadi tidak merasa bosan." Adelia terkekeh kecil.


"Ya sudah, kita lanjut ke kantor ya." Adi mengurai pelukannya.


"Aku pulang naik ojol saja, Mas. Nanti kalau aku ngantuk enggak bisa tidur di kantornya, Mas."


"No. Enggak boleh naik ojol. Aku antar Ai pulang saja."


"Tapi Mas Adi kan harus ke kantor."


"Aku antar Ai pulang, baru ke kantor."


"Mas Adi jadi bolak-balik dong."


"Enggak apa-apa. Aku lebih tidak tenang kalau Ai naik ojol."


"Ya udah, antar aku pulang sekarang."


"Siap, Nyonya." Adi tersenyum lalu memasangkan sabuk pengaman istrinya. Setelah itu dia berjalan memutar lewat depan mobil.


"Maaf sudah merepotkan Mas Adi hari ini," kata Adelia setelah Adi duduk di kursi pengemudi.


"Apanya yang repot, Ai?"


"Mas Adi harus bolak-balik karena aku."


"Enggak ada yang repot, Ai, apalagi buat istriku tercinta. Aku ikhlas lahir batin melakukan semuanya selama tidak melanggar syariat."


"Terima kasih, Mas. Aku janji besok-besok enggak mau ikut lagi ke kantor."


Adi hanya tersenyum menanggapi istrinya. Dia melajukan mobil dalam kecepatan sedang untuk kembali ke rumah, mengantarkan belahan jiwanya.


Sesampai di rumah, setelah memastikan sang istri masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu, Adi bergegas pergi ke kantor karena ada rapat yang harus dia ikuti. Tadi sang asisten sempat menelepon, mengingatkan kalau ada rapat penting. Dia meminta asistennya untuk menyiapkan materi rapat yang sudah dia buat kemarin, jadi dia nanti tinggal menyampaikan saja saat rapat.


Begitu tiba di rumah, Adelia langsung merebahkan diri di atas ranjang tanpa berganti baju rumah. Dia merasa mengantuk sekali padahal jam tidurnya normal seperti biasa. Tak butuh waktu lama, dia sudah terlelap ke alam mimpi.

__ADS_1


...---oOo---...


"Hai, Ta! Apa kabar?" sapa Bella saat bertemu dengan Dita di kantor akademik. Hari ini mereka janji bertemu sekalian konsultasi dengan dosen wali.


"Alhamdulillah, baik. Kamu gimana kabarnya, Bel?"


"Aku juga baik, Ta. Kangen sama kamu." Bella memeluk erat sahabatnya itu.


"Sama. Aku juga kangen." Dita balas memeluk Bella.


"Gimana kabar Kak Rendra dan calon menantuku?" tanya Bella setelah mengurai pelukan mereka.


Dita mengernyit. "Mas Rendra kabarnya baik. Siapa calon menantumu?"


"Ya Ale. Masa Kak Rendra," jawab Bella sambil tergelak.


"Ck, suami aja belum punya kok sudah ingin punya calon menantu," cibir Dita.


"Cita-cita boleh dong ya punya menantu tampan yang wajahnya sebelas dua belas kaya Kak Rendra." Bella kembali mengikik.


"Enggak dapat bapaknya, dapat anaknya juga enggak apa-apa. Aku enggak dapat, yang penting anakku dapat." Bella semakin tergelak.


"Ya kalau anakmu besok cewek, Bel. Kalau cowok masa iya mau dijodohin sama Ale," sindir Dita.


"Jadi kalau anakku cewek boleh kan dijodohkan sama Ale?"


"Jangan mimpi kamu, Bel."


"Ish, segitunya kamu, Ta. Apa kamu enggak minat besanan sama aku biar persahabatan kita langgeng?"


"Ogah, makanmu banyak soalnya." Dita mengerjai Bella.


"Ngeselin kamu, Ta." Bella melihat Dita dengan kesal.


"Bella jangan marah-marah, takut nanti lekas tua." Dita semakin menggoda sang sahabat.


"Suka-sukamu lah, Ta." Bella menyerah bila Dita sudah menggodanya.


Dita tertawa lalu merangkul Bella. "Dih, gitu aja ngambek, Bu. Gimana kabar Mas Candra?"


"Setahuku baik. Eh kenapa kamu tanya kabar Mas Candra? Kan dia karyawan kalian."


"Aku kan enggak pernah ke kafe sekarang, Bel. Mas Rendra juga jarang. Kan kamu yang setiap hari ketemu Mas Candra."


"Ya, enggak setiap hari juga aku ketemu, Ta. Aku kan libur sebulan. Baru minggu ini mulai masuk lagi."


"Apa kalian tidak pernah saling kirim pesan, Bel?"


"Pesan apa? Enggak ada ya kaya gitu-gitu. Kita ngobrol cuma di grup karyawan yang ada Kak Rendra juga." Bella menjelaskan hubungannya dengan Candra, manajer Osu Kafe milik Rendra.


"Kirain kalian udah ada perkembangan, Bel."


"Jangan bikin gosip, Ta." Bella kembali sewot


"Siapa yang bikin gosip, Bel. Makanya aku tanya langsung sama kamu, soalnya ada desas-desus kalau kalian dekat."


"Enggak usah mancing, Ta. Mana ada desas-desus kaya gitu. Jangan mengada-ada."


Dita terkekeh sampai menutup mulut agar tidak terlalu keras tertawa.


"Kamu rencana magang di mana, Ta?" tanya Bella setelah tawa Dita reda.


"Belum tahu, Bel. Cari yang waktunya tidak terlalu ketat kali ya. Aku juga masih mencari yang ada tempat untuk memompa ASI."


"Sedetail itu kamu carinya?" Bella menatap Dita dengan pandangan heran.


Dita menyengguk. "Aku kan masih menyusui, Bel. Untungnya waktu magang setelah ASI eksklusif Ale selesai. Jadi, dia sudah bisa minum susu formula dan makanan pendamping ASI."


"Gimana rasanya jadi ibu, Ta?"


"Campur-campur rasanya. Ada bahagia, sedih, terharu, dan lain-lain, tapi paling banyak ya rasa bahagia. Aku lihat wajah Ale saat tidur saja sudah buat aku bahagia. Apalagi kalau dia sedang menyusu, aku tuh kaya merasa dibutuhkan banget sama Ale. Tanpa ASI-ku seolah dia tidak bisa hidup. Bahagiaku sederhana banget, Bel."


"Auramu sekarang memang beda, Ta. Kamu lebih tampak keibuan dan dewasa, jauh beda kaya dulu pertama kali kita bertemu. Kamu tomboi banget. Selalu pake celana jin, topi, kemeja, sneakers. Sekarang pake gamis, hijab lebar meski tetap pakai sneakers." Bella tertawa kecil.


"Manusia selalu berubah, Bel. Semoga aku berubah ke arah yang lebih baik."


"Aamiin. Insya Allah perubahanmu lebih baik. Kak Rendra hebat bisa merubah kamu jadi seperti sekarang. Aku jadi merasa iri sama kamu."


"Iri kenapa?" Dita mengerutkan kening.


"Punya suami dan anak yang ganteng. Mana Kak Rendra tuh bucin banget sama kamu. Enggak malu menunjukkan rasa cintanya sama kamu."


Dita tertawa mendengar pengakuan Bella.


"Semoga nanti kamu bisa dapat suami seperti yang kamu inginkan, Bel."


"Aamiin. Eh, tapi kenapa enggak mendoakan aku dapat suami seperti Kak Rendra?"


"Karena tidak ada yang seperti Mas Rendra di dunia ini." Dita tergelak, sementara Bella jadi cemberut karena kembali dikerjai sahabatnya.


...---oOo---...


Jogja, 051121 01.45


Cerita ini mengikuti lomba update tim, bagi yang berkenan mohon bantuan votenya. Terima kasih. šŸ™šŸ™šŸ™




__ADS_1


__ADS_2