
"Kalau kamu sudah masuk kuliah, siapa yang mengasuh Ale, Dek?" tanya Adelia yang baru datang dari dapur sambil membawa kudapan ke ruang tengah, di mana Dita dan Ibu Hasna berada.
"Kemarin sih rencananya Mas Rendra, Mbak. Nanti Mas Rendra kalau menerima pekerjaan menyesuaikan sama jadwal kuliahku," jawab Dita.
"Kenapa memangnya, Mbak?" Dita menoleh pada kakak iparnya itu.
"Kalau kalian berdua sibuk, aku mau bantu mengasuh Ale." Adelia menatap Dita dengan pandangan serius.
"Oh, nanti bilang saja sama Mas Rendra, Mbak. Yang jelas kami enggak akan pakai jasa baby sitter. Mas Rendra ingin kami mengasuh Ale sendiri. Kalaupun dibantu sama keluarga saja. Tahu sendiri kan gimana protektifnya Mas Rendra," ujar Dita.
Adelia menyengguk. "Iya, Dek."
Rendra memang tidak membiarkan sembarang orang menyentuh Ale. Apalagi kalau orang itu tidak membersihkan diri dahulu. Minimal tangannya harus dalam keadaan bersih. Dia tidak segan untuk menegur orang yang sembarang menyentuh putranya.
"Enggak apa-apa kan Dek, sekali waktu Mbak Adel mengasuh Ale. Mbak Adel kan juga sering membantu Adek." Ibu Hasna ikut bersuara.
"Iya, Bun. Kalau aku sih tidak masalah, enggak tahu kalau Mas Rendra."
"Nanti bunda akan bantu ngomong sama Rendra." Ibu Hasna tersenyum pada Adelia. Dia tahu menantunya itu sangat ingin mengasuh Ale.
"Masih belum kenyang ya, Nak. Pasti kelaparan karena tadi nangis terus." Dita mengelus pipi gembul Ale yang masih belum melepas pucuk dadanya.
"Nanti aku yang gendong biar Ale sendawa ya, Dek," kata Adelia menawarkan diri.
Dita mengangguk. "Iya, Bude." Dia kembali memandangi wajah Ale yang tenang, tapi dengan mulut yang terus bergerak.
"Ale nanti dimandikan di sini saja, Dek," usul Ibu Hasna.
"Aku belum bawa perlengkapan mandi Ale. Di tas tadi cuma baju, popok, sama tisu basah, Bun."
"Biar aku ambilkan, Dek." Adelia hendak bangkit dari duduknya.
"Aku telepon Mas Rendra saja biar dibawa ke sini. Tolong ambilkan hp-ku di pinggiran tas, Mbak."
Adelia mencari gawai Dita tapi tidak ada di sana. "Tidak ada, Dek."
"Astaghfirullah, aku lupa masukkan berarti tadi."
"Aku ambil saja ya. Nanti telepon Rendra ya kalau diangkat, kalau enggak. Dia kan sama kaya kamu Dek, jarang pegang hp kalau di rumah."
Dita tertawa kecil. "Ya sudah kalau tidak merepotkan. Makasih ya, Mbak."
Adelia menjawab dengan anggukkan. Dia lalu beranjak dari duduknya.
"Mas, aku mau ke sebelah sebentar ambil perlengkapan mandi Ale." Adelia meminta izin pada suaminya yang sedang duduk-duduk dengan Pak Wijaya di ruang tamu.
"Iya, Ai," sahut Adi.
Setelah mendapat izin dari suaminya, dia pergi ke rumah Ibu Dewi.
Ale akhirnya melepaskan pucuk dada Dita setelah merasa kenyang. Matanya membuka lebar menatap ibunya. Kebiasaannya kalau sudah selesai menyusu.
"Ale, sudah kenyang?" Dita bicara dengan putranya sambil membersihkan mulut Ale dengan tisu. "Lapar banget ya tadi, sampai lama banget minumnya."
Dita menutup dadanya dan merapikan lagi pakaiannya setelah membersihkan mulut Ale. Dia mengubah posisi Ale yang semula berbaring menjadi berdiri dengan kepala Ale di bahunya. Tangan kanan menyangga kepala, sementara tangan kiri menepuk pelan punggung Ale.
"Eh, Ale sudah selesai nenennya," ucap Adelia yang baru kembali dari rumah Ibu Dewi.
"Sudah, Bude. Mau gendong Ale?" tanya Dita pada sang kakak ipar.
"Aku cuci tangan dulu ya." Adelia bergegas pergi ke dapur untuk mencuci tangannya.
"Ale nanti digendong Bude ya. Bubu mau nyiapin baju sama mandinya, Ale." Dita berdiri sambil bicara dengan Ale.
"Sini, Dek."
Dita menyerahkan Ale pada Adelia. Dita lalu menempatkan kain di bahu Adelia di mana kepala Ale bersandar. "Main dulu sama Bude ya."
"Iya, Bubu." Adelia menirukan suara anak kecil.
"Mbak, mana perlengkapan mandi Ale?" tanya Dita yang tidak melihat perlengkapan mandi Ale.
"Nanti mau dibawa Rendra sendiri ke sini, Dek. Tadi dia baru selesai beberes."
"Oh ya sudah. Aku mau cari ember buat Ale mandi, Mbak."
"Di ruang cuci ada kan, Dek."
"Oh iya, nanti aku bawa ke kamar ya, Mbak."
"Iya, ambil aja, Dek."
"Main ke depan yuk, sama pakde dan yangkung." Adelia menggendong Ale ke ruang tamu di mana Adi dan ayah mertuanya berada.
"Ale mau langsung dimandikan, Dek?" tanya Ibu Hasna.
"Enggak, Bun. Tunggu setengah jam dulu. Lagian perlengkapan Ale juga belum dibawa ke sini," jawab Dita.
"Bunda sama ayah nanti pulang bakda Magrib, Dek."
"Iya, enggak apa-apa. Bunda, besok mau ikut beli kain di Solo sama mama dan Bude Ryani?"
"Kalau diajak Bude Ryani ya ikut, kalau enggak ya tidak ikut. Kenapa, Dek?" Ibu Hasna memandang putri bungsunya itu.
"Enggak apa-apa. Ingin tahu saja," jawab Dita sambil meringis.
"Aku masih kangen sama Bunda." Dita mendekati Ibu Hasna lalu menyandarkan kepala di bahu sang bunda.
"Sudah jadi ibu kok masih manja sama bunda," canda Ibu Hasna.
Dita mengerucutkan bibir. "Memangnya enggak boleh, Bun?"
"Boleh, Dek. Bunda itu sampai sekarang kadang masih tidak percaya sudah punya cucu. Kayanya baru kemarin bunda melahirkan Adek. Waktu tidak terasa cepat berlalu." Ibu Hasna menggenggam satu tangan Dita, menikmati waktu kebersamaan mereka yang hanya sebentar.
"Mungkin sebentar lagi tambah cucu, Bun."
"Adek, mau langsung hamil lagi?"
"Ih, kok aku sih. Mbak Adel lah. Aku kan baru caesar kemarin, bekas jahitan juga belum kering, Bun."
"Oh iya, bunda lupa." Ibu Hasna tertawa kecil.
"Bunda, nih masa sama menantu sendiri lupa," ledek Dita.
"Bukannya lupa. Tadi bunda pikir Adek mau program hamil lagi."
__ADS_1
"Bunda, bisa aja ngelesnya." Mereka berdua kemudian tertawa.
Sementara itu di ruang tamu.
"Mas, sudah pantas belum aku menggendong bayi?" tanya Adelia pada sang suami saat dia sudah di ruang tamu.
"Pantas banget, Ai." Adi mengacungkan ibu jarinya.
Adelia tersenyum lebar mendengar jawaban Adi. Dia terlihat sangat bahagia.
"Semoga aku bisa segera hamil, biar Ale ada teman main," harap Adelia.
"Aamiin," sahut Adi dan Pak Wijaya bersamaan.
"Ayah, jadi umrah puasa besok?" tanya Adi.
"Insya Allah, jadi. Mau bareng sekalian?" tawar Pak Wijaya.
"Ai, mau umrah bulan puasa besok?" Adi bertanya pada istrinya sebelum menjawab ayahnya.
"Mau, Mas," jawab Adelia.
"Tapi ini umrah saja tidak pakai liburan, Ai."
"Iya, enggak apa-apa. Liburan kan bisa kapan saja, Mas."
"Ayah daftarkan sekalian kalau begitu," kata Pak Wijaya.
"Syaratnya apa saja, Yah?" tanya Adi.
"Besok ayah kirim apa saja syaratnya. Yang penting daftar dulu, soalnya banyak yang berminat," terang Pak Wijaya. "Ini kebetulan teman ayah penyelenggaranya, jadi ayah ditawarkan lebih dahulu sebelum ke yang lain."
"Yang menurut ayah baik saja. Besok aku transfer uang pendaftarannya."
Pak Wijaya menganggukkan kepalanya.
"Assalamu'alaikum," salam Rendra yang baru datang.
"Wa'alaikumussalam."
"Baba sudah datang itu. Ale sudah bisa mandi sekarang," kata Adelia pada Ale.
"Baba siapkan airnya dulu. Ale, sama Bude dulu ya, Nak." Rendra mengelus kepala putranya yang menyandar di bahu Adelia.
"Ayah, Mas Adi, aku ke belakang dulu," pamit Rendra pada mereka berdua.
"Iya, Rend," sahut Adi.
Rendra masuk ke ruang tengah dan mendapati istrinya sedang menggelendot manja pada ibu mertuanya.
"Eh, Mas Ren." Dita mengangkat kepala dari bahu sang bunda begitu melihat suaminya.
"Ale mau dimandikan di mana, Sayang?" tanya Rendra yang sudah membawa perlengkapan mandi Ale.
"Di kamar saja, Mas. Aku ambilkan ember dulu di ruang cuci."
"Biar aku yang ambil. Bubu, siapkan bajunya Ale saja." Rendra beranjak ke ruang cuci untuk mengambil ember.
"Bun, aku ke kamar ya," pamit Dita pada bundanya.
Dita bangun dari duduknya lalu masuk ke kamar membawa tas yang berisi baju dan perlengkapan Ale.
Rendra menyiapkan air mandi untuk Ale, sedangkan Dita menyiapkan baju gantinya. Setelah itu Dita mengambil Ale dari Adelia. Sesudah melepas baju Ale, dia memandikan Ale dengan dibantu Rendra. Mereka memang sering melakukan aktivitas memandikan dan memakaikan baju Ale bersama.
Seusai mandi dan memakai baju, Ale digendong Rendra ke ruang tamu. Sementara itu Dita membereskan perlengkapan mandi dan baju kotor Ale. Dia kemudian mandi sore.
"Wah, sudah ganteng cucu yangkung," puji Pak Wijaya begitu melihat Ale digendong Rendra.
"Iya, Yangkung. Ale sudah mandi," balas Rendra sembari mendekati ayah mertuanya.
"Ale, sini sama yangkung. Dari tadi yangkung belum gendong." Pak Wijaya mengulurkan tangan, mengambil alih Ale dari gendongan Rendra.
"Ale main sama yangkung dulu ya. Baba mau bantu bubu." Rendra mengelus kepala Ale sebelum meninggalkannya dengan Pak Wijaya.
"Cucu yangkung sudah makin besar. Jadi anak saleh yang pintar ngaji kaya baba ya nanti kalau sudah besar." Pak Wijaya mengajak Ale bicara yang hanya dibalas dengan tatapan mata.
"Ayah, mandi dulu. Nanti main lagi sama Ale." Ibu Hasna datang dengan tampilan yang lebih segar sesudah mandi. Dia menghampiri suami dan cucunya.
"Ale masih mau main sama yangkung. Yangti ganggu saja ya, Le," sahut Pak Wijaya. (Le adalah panggilan untuk anak laki-laki dalam bahasa Jawa)
Ibu Hasna menggelengkan kepala seraya tersenyum mendengar sahutan suaminya. "Yangkung, jangan ngajarin Ale males mandi."
"Yangkung tidak malas, cuma menunda mandi," elak Pak Wijaya yang masih asyik bermain dengan Ale.
"Bun, kita pulang besok bakda Subuh saja gimana? Ayah masih kangen sama Ale." Pak Wijaya menoleh pada istrinya beberapa saat kemudian.
"Bunda sih ikut saja. Apa Ayah tidak terburu-buru kalau pulang besok pagi?"
"Ayah besok pagi mandi di sini. Jadi pulang tinggal ganti baju dinas. Lagian kalau masih pagi jalanan juga masih sepi, Bun."
"Terserah Ayah saja. Tadi Dita juga minta bunda menginap sini, tapi bunda bilang tidak bisa karena besok ada arisan ibu-ibu PKK."
"Arisannya sore kan, Bun? Besok pulang sekalian beli jajanan buat snack-nya, tidak usah bikin sendiri."
"Iya, Yah."
"Kalau begitu nanti kita bilang sama anak-anak kalau kita menginap di sini. Dita sama Rendra juga disuruh tidur di sini."
"Oeee, oeee." Ale menangis keras.
"Ale, kenapa? Marah sama yangkung ya karena ditinggal ngobrol sama yangti?" Pak Wijaya berdiri lalu menimang-nimang sang cucu.
"Sini sama yangti saja. Ini tandanya yangkung disuruh mandi sama Ale." Ibu Hasna mengambil alih Ale karena dia masih saja menangis meski sudah ditimang yangkung-nya. Setelah digendong Ibu Hasna, tak lama Ale menghentikan tangisannya.
"Ale memang cucu yangti. Begitu digendong yangti langsung diam. Yangkung mandi dulu. Nanti kita main lagi ya, Le." Pak Wijaya mencium pipi bulat Ale sebelum meninggalkan ruang tamu.
"Ale tadi menangis kenapa, Bun?" tanya Rendra dengan raut wajah khawatir. Dia tadi bergegas ke ruang tamu setelah mendengar Ale menangis.
Ibu Hasna tersenyum pada menantunya. "Kayanya dia protes karena dicuekin. Sebelumnya diajak bercanda yangkung, terus yangkungnya ngajak bunda ngobrol."
"Oh, ya sudah. Memang begitu dia, Bun." Rendra menghela napas lega.
"Nak Rendra, nanti ayah sama bunda mau menginap di sini. Ayah masih kangen sama Ale katanya. Ayah ingin Nak Rendra dan Dita juga tidur di sini."
"Iya, Bun. Nanti Rendra pulang sebentar ambil kasur, bantal sama gulingnya Ale."
__ADS_1
Ibu Hasna menyengguk. "Iya."
"Ayah mana, Bun?"
"Baru mandi."
"Kalau begitu Rendra pulang dulu, sekalian bawa baju kotor Ale, Bun."
"Jangan lupa pamit sama Ibu Dewi."
"Iya, Bun."
Bakda Isya mereka bertujuh berkumpul di ruang tengah. Meja ruang tengah dipindah untuk menggelar karpet bulu agar Ale bisa direbahkan di sana dan tidak terus digendong. Dia tertidur setelah tadi menyusu. Dia tidur dengan nyenyak di atas kasur kecilnya.
"Nak Rendra, Dita, insya Allah ayah, bunda, Adi dan Adelia berencana akan umrah bersama." Pak Wijaya membuka pembicaraan malam itu.
"Alhamdulillah. Kapan, Yah?" tanya Rendra pada ayah mertuanya.
"Bulan puasa besok. Kebetulan ada teman ayah yang mengajak. Dia yang punya biro perjalanannya," terang Pak Wijaya.
"Wah, pasti seru bisa puasa di sana. Sayangnya kami tidak bisa ikut, Yah." Dita menimpali.
"Insya Allah lain waktu kita bisa umrah bersama kalau Ale sudah besar. Doakan ayah dan bunda tetap sehat dan panjang umur," ujar Pak Wijaya.
"Aamiin."
"Adek, gimana rencana kuliahnya?" Pak Wijaya beralih pada putri bungsunya.
"Ya, kuliah seperti biasa, Yah. Besok kalau kuliah bawa perlengkapan untuk memompa asi," ujar Dita.
Pak Wijaya menganggut mendengar jawaban Dita.
"Nak Rendra, bagaimana rencana selanjutnya?" Pak Wijaya ganti bertanya pada menantunya.
"Insya Allah kalau Dita kuliah, Rendra yang mengasuh Ale, Yah. Rendra akan menerima pekerjaan di luar dengan menyesuaikan jadwal kuliah Dita. Rencananya Rendra juga mau buat clothing line pakaian bayi laki-laki. Nanti dibantu desainnya sama Nisa. Sementara outletnya ikut sama butiknya mama dulu sambil mengembangkan pemasaran via online. Rendra baru mencari koneksi untuk konfeksinya." Rendra menjabarkan rencananya.
"Wah, bagus itu, Ren. Aku mau bantu masarin," seru Adelia. "Selama ini baju buat anak laki-laki kan tidak banyak modelnya."
"Makasih, Del. Makanya aku mau buat itu. Ale bisa jadi modelnya sekalian. Nanti merek juga pakai namanya."
"Berarti kalau nanti kamu punya anak cewek bikin baju cewek juga, Ren?" tanya Adelia.
"Mungkin." Rendra mengedikkan bahu.
"Apa pun rencana Nak Rendra, ayah doakan semoga semuanya dilancarkan dan bisa memberi manfaat untuk orang lain. Bisa mempekerjakan orang yang menganggur."
"Aamiin. Terima kasih doanya, Yah. Konsepnya masih terus digodok, semoga bisa secepatnya terealisasi."
"Aamiin."
"Nak Rendra, kalau misalnya memang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan Dita sedang kuliah, biar Adelia yang membantu menjaga dan mengasuh Ale." Ibu Hasna memberi saran pada menantunya.
"Memangnya kamu mau, Del?" Rendra berpaling pada Adelia.
"Mau banget, Ren." Adelia menjawab penuh antusias.
"Alhamdulillah kalau mau. Aku pikir kamu enggak mau."
"Mana mungkin aku tidak mau. Aku ini fannya Ale nomor satu. Ya kan, Mas." Adelia meminta dukungan pada suaminya.
"Iya. Sehari enggak lihat Ale saja sudah kelimpungan budenya ini." Adi tergelak menggoda istrinya.
"Oeee, oeee." Ale menangis, terbangun dari tidurnya.
"Mas Adi nih, ketawanya terlalu kencang. Jadi kebangun kan Ale." Adelia memarahi suaminya.
"Ale pipis nih," kata Dita setelah memegang bedung Ale.
"Mas, tolong ambilkan baju ganti Ale," pinta Dita pada suaminya.
Rendra bangkit dari duduknya, lalu bergegas ke kamar mengambil tas perlengkapan Ale.
"Tuh Ale menangis karena pipis bukan karena aku ketawa." Adi membela dirinya.
"Ssshhh, sebentar ya, Nak. Baru diambilkan baju ganti sama Baba." Dita membuka bedung Ale yang sudah basah.
"Basah semua ya, Dek?" tanya Ibu Hasna.
"Iya, Bun. Kayanya harus dilap ini badannya. Pup juga ternyata." Dita mengangkat kaki Ale. Dia menutup tubuh Ale dengan bagian yang tidak basah agar putranya tidak kedinginan.
"Bunda ambilkan air hangat kalau begitu." Ibu Hasna beranjak ke dapur.
"Ai, perhatikan itu cara membersihkan kalau Ale pipis atau pup." Adi menyenggol lengan Adelia.
"Iya, Mas. Aku sudah sering lihat juga," tukas Adelia.
...---oOo---...
Jogja, 081021 23.15
Assalamualaikum
Apa kabar semuanya? Semoga dalam keadaan baik dan sehat 🙏🙏🙏
Ada yang kangen sama cerita ini ga sih? Tiap hari bolak-balik ngecek ada up atau tidak? 🤔🤔🤔
Alhamdulillah, tadi pagi saya sudah suntik vaksin yang kedua. Alhamdulillah, tidak mengalami efek yang berlebihan selain tangan pegal, mengantuk dan lapar 🙈🙈🙈.
Teman-teman, meski sudah vaksin kita tetap harus jaga prokes ya. Karena meski sudah vaksin bukan berarti tidak bisa terpapar covid 19. Vaksin itu untuk menambah imun kita melawan virus bukan menangkal. Jadi jangan sampai abai prokesnya 🤗🤗🤗
Bagaimana putra-putrinya apa sudah mulai PTM (pertemuan tatap muka) atau masih daring sekolahnya?
Alhamdulillah di tempat saya sudah mulai PTM meski terbatas. Empat hari PTM, dua hari daring, jadi bisa sedikit meringankan beban sebagai ibu guru di rumah 🤭🤭🤭. Anak-anak juga lebih senang karena bisa bertemu dengan teman-temannya meski tidak bisa bermain seperti dahulu. PTM tentu saja dilaksanakan sesuai prokes.
Hummm, sudah kepanjangan ya cuap-cuapnya ✌🏻✌🏻✌🏻
Jangan lupa jaga hati dan pikiran agar tetap bahagia. Tetap sehat, tetap semangat agar kita tetap bisa jalan jalan dan makan-makan. Pokoke maknyuuussss 👌🏻👌🏻👌🏻. Eh, ada yang ingat tagline ini? (melantur lagi 🤭✌🏻)
Jangan lupa prokes ya semuanya 🤗🤗🤗
Salam sayang untuk para Teman Hati 🥰🥰🥰
Wassalamu'alaikum
Kokoro No Tomo
__ADS_1