
"Bu Dita, Pak Rendra, sepertinya operasi caesar harus dipercepat," kata dokter Lita setelah melakukan pemeriksaan pada Dita.
"Kenapa, Dok? Apa ada masalah?" tanya Rendra setelah membantu Dita turun dari ranjang dan mereka duduk di hadapan dokter Lita.
"Jahitan bekas operasi menipis, Pak, Bu. Kalau tidak segera ada tindakan akan berbahaya," jelas dokter Lita seraya memandang mereka berdua.
"Ya Allah. Gimana ini, Mas?" Dita memegang erat tangan Rendra dengan raut wajah cemas.
"Tenang, Sayang. Kita dengarkan dulu penjelasan Dokter Lita." Rendra coba menenangkan sang istri, meski sebenarnya dia juga merasa sangat khawatir.
"Luka jahitan operasi kemarin memang bagus, tetapi masih belum pulih total. Jaringan yang terbentuk masih belum normal. Jahitan belum rapat sempurna tetapi sudah tertarik atau melebar lagi karena terdesak kandungan yang semakin besar. Demi keselamatan ibu dan dedek bayi, kita harus reschedule tanggal operasi caesar Bu Dita," terang dokter Lita.
"Apa harus operasi hari ini, Dok? Saya masih ujian sampai minggu depan." Dita tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Bagaimana pun dia tidak ingin kehilangan anaknya lagi.
"Bu Dita, selesai ujian kapan?"
"Tanggal 17 besok, Dok."
"Saya hitung kalau tanggal 17 dedek bayinya sudah cukup bulan. Insya Allah jahitan juga masih bisa bertahan kalau seminggu lagi, sesudah tanggal itu saya tidak berani memastikan. Saya jadwalkan operasi tanggal 17 sore atau malam bagaimana?" Dokter Lita memandang Dita dan Rendra bergantian.
"Bu Dita, pagi kan ujiannya?" tanya dokter Lita karena belum mendapat jawaban.
"I--iya, Dok." Dita menjawab dengan gagap.
"Kalau begitu, Ibu bisa ke sini setelah selesai ujian. Sore atau malamnya baru kita lakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan dedek bayi."
Dita memandang Rendra meminta pendapatnya. Rendra menganggukkan kepala sambil tersenyum pada istrinya.
"Baik, Dok. Insya Allah, saya akan bawa istri saya tanggal 17 besok," kata Rendra dengan penuh keyakinan.
"Alhamdulillah, terima kasih, Pak. Mari kita sama-sama berdoa semoga semuanya berjalan lancar sesuai rencana."
"Aamiin," sahut Rendra dan Dita bersamaan.
"Saya buatkan pengantar untuk reschedule tanggal operasi dan pemesanan kamar," kata dokter Lita sambil menulis di kertas.
"Saya boleh ikut menemani operasi seperti dahulu kan, Dok?" tanya Rendra.
"Tentu boleh, Pak."
"Saya rencananya akan menyewa orang untuk mengabadikan momen saat istri saya melahirkan. Apa orangnya boleh masuk melihat proses operasi?" tanya Rendra lagi.
Dokter Lita tersenyum. "Boleh, Pak. Silakan. Banyak juga yang seperti itu."
"Terima kasih, Dok. Berarti setelah ini saya sekalian mengurus administrasi untuk minggu depan ya, Dok?"
"Iya, Pak. Untuk jadwal ulang operasi dan pemesanan kamar."
"Apa yang harus kami lakukan lagi, Dok?" tanya Rendra lagi.
"Berdoa, Pak. Lalu untuk Bu Dita, kalau ada keluhan yang dirasakan atau ada yang beda dari biasanya harus segera bilang ya. Jangan sampai terlambat, karena ini sangat serius," nasihat dokter Lita.
"Iya, Dok."
"Jaga pikiran tetap tenang ya, Bu. Jangan sampai dedek bayi juga ikutan stres."
"Insya Allah, Dok."
Setelah selesai pemeriksaan dan konsultasi, Rendra dan Dita keluar dari ruang praktek dokter Lita. Mereka lalu menuju ke bagian administrasi. Dita duduk menunggu suaminya yang mengurus segala sesuatunya.
Berulang kali Dita beristighfar agar hati dan pikirannya tetap tenang. Dia terus mengelus perutnya yang membuncit. Mencoba memberi sugesti pada diri sendiri dan calon anaknya kalau semua akan baik-baik saja. Dia selalu berusaha menepis segala pikiran buruk yang muncul di benaknya. Dia harus terus berpikir dan berprasangka yang baik.
"Sayang, pulang yuk." Rendra memegang pelan bahu Dita yang tidak menyadari keberadaannya.
"Sudah selesai, Mas?" Dita mendongak menatap suaminya.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah. Sayang, tadi terlalu asyik melamun sampai enggak tahu aku datang." Rendra mengelus kepala istrinya yang tertutup hijab.
"Aku enggak melamun, Mas. Aku istighfar terus dari tadi."
Rendra tersenyum pada istrinya. "Istriku makin salehah, jadi makin cinta deh. Kita pulang yuk, Sayang."
Dita menganggut. Rendra kemudian membantu sang istri berdiri dari duduknya.
"Mas, kita harus kabari ayah sama bunda," kata Dita saat mereka berjalan menuju tempat parkir mobil.
"Iya, nanti sampai rumah kita kabari ayah, bunda dan yang lainnya. Sekarang, Bubu sama Ale mau makan atau jajan apa sebelum pulang?"
"Aku mau makan sushi, Mas."
Rendra mengernyit. Dia menoleh pada Dita yang berjalan di sampingnya.
"Tapi janji dulu, enggak boleh makan yang mentah. Pilih yang matang atau isinya sayur. Wasabinya juga tidak boleh banyak-banyak." Rendra memberikan beberapa persyaratan sebelum menuruti kemauan istrinya.
"Iya, janji," sahut Dita dengan bibir cemberut.
"Ini demi kebaikan, Sayang. Besok kalau sudah melahirkan, bebas mau makan apa saja."
"Iya, Mas."
Mereka kemudian meluncur ke restoran sushi yang berada di Kompleks Colombo, utara Pasar Demangan. Mereka sempat berdebat dengan menu yang akan dipesan, meski akhirnya keputusan akhir ada pada Rendra. Mereka memesan Salmon Mentai Sushi, Baked Salmon Roll, Chawanmushi, Jumbo Dragon Roll, dan Crunchy Lobster Roll. Setelah semua menu tersaji, Dita tetap makan dengan lahap walaupun menunya bukan yang tadi dia inginkan. Sesudah makan, mereka lalu pulang ke rumah.
Bakda Isya, keluarga Ibu Dewi berkumpul di ruang tengah. Adi dan Adelia juga berada di sana setelah tadi dipanggil Rendra. Sesudah semua berkumpul, Rendra menjelaskan mengenai kondisi kehamilan Dita, yang harus dipercepat operasinya karena kondisi jahitan operasi sebelumnya yang menipis. Dia juga meminta doa pada semuanya agar Dita dan juga calon anak mereka diberikan kesehatan dan keselamatan sampai proses persalinan selesai.
Semuanya merasa prihatin dengan kondisi kehamilan Dita. Ibu Dewi dan Adi bahkan memeluk Dita untuk memberinya kekuatan. Mereka semua memberi semangat dan meminta Dita tetap sabar serta berpikir positif. Dita sampai menangis terharu karena semua orang memberinya perhatian. Setelah itu Rendra memberi tahu kedua mertuanya melalui telepon.
"Mas," panggil Dita setelah mereka berbaring di atas ranjang, bersiap untuk tidur.
"Ada apa, Bubu Sayang." Rendra mengelus wajah halus istrinya yang tidur miring menghadap dia. Sejak kandungannya membesar, Dita memang lebih nyaman tidur miring, berhadapan dengan suaminya.
"Besok kalau habis pulang dari rumah sakit, apa aku boleh tinggal sebentar sama bunda?" tanya Dita sambil menatap suaminya.
"Pasti aku butuh banyak bantuan merawat Ale karena kondisiku belum pulih. Kalau sama bunda, kan aku lebih enak kalau minta tolong, Mas." Dita memberi alasannya.
"Sama mama kan juga bisa, Sayang."
"Iya, tapi mama kan harus pergi ke butik. Aku lebih nyaman sama bunda, Mas. Bunda juga di rumah terus, aku bisa setiap saat minta tolong. Boleh ya, Mas."
Rendra menghela napasnya. "Mau tinggal berapa lama sama bunda?"
"Seminggu atau dua minggu, Mas."
"Satu minggu saja ya, Sayang." Rendra mengelus pipi tembam Dita.
"Jadi boleh, Mas?" tanya Dita memastikan.
Rendra mengangguk. "Iya, boleh, tapi satu minggu saja. Terus ke sananya setelah akikah Ale di sini."
Dita tersenyum lebar. "Makasih, Mas." Dia meraih tangan Rendra yang ada di pipinya, lalu menciumnya.
"Kok tangan saja yang dicium, Sayang. Yang ini, sama ini enggak." Rendra menunjuk pipi dan bibirnya.
Dita tertawa kecil. "Mas, modus ah."
"Enggak apa-apa kan modusin istri sendiri. Mumpung belum ada Ale, aku masih bisa memiliki Sayang sepenuhnya." Rendra menatap sang belahan jiwa penuh cinta.
"Iya--iya, aku selamanya milik Mas meski sudah ada anak-anak kita nanti."
Rendra tersenyum lalu mencium kening istrinya. "Insya Allah sampai janah ya, Sayang."
"Aamiin. Insya Allah, Mas." Dita mendekatkan diri pada suaminya. Dia memeluk pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu.
__ADS_1
"Ale akikahnya kapan, Mas?" tanya Dita dalam pelukan suaminya.
"Hari ketujuh kelahiran Ale. Besok aku akan minta tolong mama untuk pesan katering akikah."
"Mas, atur saja, aku udah ngantuk." Dita memejamkan mata dalam pelukan Rendra.
"Ya sudah tidur. Sayang, besok juga masih ujian. Jangan lupa berdoa dulu." Rendra mengecup puncak kepala istrinya.
"Selamat tidur, Bubu. Selamat tidur, Ale." Rendra mengelus perut sang istri.
Dita mengangguk pelan, tanpa menjawab suaminya. Tak lama dia sudah berada di alam mimpi.
Setelah kontrol terakhir, setiap Dita mengikuti Ujian Akhir Semester, Rendra selalu dengan setia menunggu sang istri. Dia bahkan mengantar Dita sampai depan ruangan ujian. Biasanya dia akan menunggu di dekat ruang ujian Dita sambil mengerjakan pekerjaan desainnya. Dia benar-benar sangat menjaga Dita dan tidak ingin jauh dari istrinya, agar kalau ada sesuatu yang terjadi, dia sudah siap sedia. Dia tidak ingin kejadian saat Akhtar meninggalkan mereka tahun lalu, terjadi lagi.
Perlengkapan untuk melahirkan Dita dan bayinya sudah disiapkan di mobil, jadi bila setiap saat harus melahirkan tinggal berangkat ke rumah sakit. Rendra juga menjadwal ulang semua kegiatannya, kecuali dia bisa mengajak Dita atau jadwalnya benar-benar tidak bisa diganti. Sejak selesai sidang skripsi, dia sering diundang mengisi pelatihan atau seminar, baik mengenai kopi, menjadi barista atau pun menceritakan perjuangannya menjalankan kafe. Itu menjadi kegiatannya selain mengurus kafe dan membuat desain.
Tanggal 17 Desember, sejak bangun tidur, Dita sudah menyiapkan diri dan mentalnya. Hari ini akan jadi salah satu hari yang terpenting dalam hidupnya. Dia akan bertemu dengan anaknya yang selama hampir 9 bulan ini berada di dalam rahimnya.
Seperti biasa, setiap pagi dia sarapan bersama sebelum berangkat kuliah. Nanti setelah ujian, dia akan langsung pergi ke rumah sakit seperti rencana mereka sebelumnya. Dia berpamitan pada Ibu Dewi, Shasha, Nisa, Adi dan juga Adelia sebelum pergi ke kampus. Sore nanti mereka akan menyusul ke rumah sakit untuk memberi dukungan pada Dita menjalani operasi caesar.
Usai ujian, Dita meminta doa pada Bella, Baim dan juga teman-teman lainnya agar operasinya berjalan lancar. Bella dan Baim berjanji akan datang esok hari untuk menjenguk Dita dan bayinya.
Setiba di rumah sakit, Rendra kembali mengurus administrasi agar Dita bisa segera masuk ke kamar yang sudah dipesan sebelumnya. Setelah proses administrasi selesai, mereka diantar ke kamar oleh seorang perawat.
Perawat melakukan beberapa pemeriksaan mendasar pada Dita, seperti mengecek tekanan darah, mengambil darah untuk mengecek hb dan lainnya. Dita juga diminta mulai berpuasa. Setelah itu, Rendra dan Dita dimintai tanda tangan pernyataan persetujuan operasi caesar dan beberapa pernyataan lainnya.
Bakda Asar, Dita mulai bersiap untuk menjalani operasi. Dia sudah memakai baju khusus yang digunakan saat operasi. Tim dari Birth Photography yang akan mengambil video dan foto saat Dita melahirkan, juga sudah datang. Ada dua orang yang semuanya perempuan. Mereka mulai mengambil foto dan video sejak mereka tiba di rumah sakit.
Sebelum masuk ke ruang operasi, Dita kembali meminta doa pada Ibu Dewi, Ibu Hasna, Pak Wijaya dan Adelia, yang sudah berada di sana sejak pukul 03.00 sore. Rendra yang sudah berganti baju medis dan memakai masker, ikut masuk ke ruang operasi, begitu juga tim dari Birth Photography. Sedangkan yang lain menunggu di luar ruang operasi.
Sesudah masuk ke ruang operasi, Dita diberikan suntik epidural di bagian tulang belakang oleh dokter anastesi, yang membuatnya mati rasa dari punggung ke bawah. Dokter itu terus berada di dekat Dita untuk memastikan tidak ada reaksi negatif dari tubuhnya.
Rendra duduk di samping Dita sambil terus menggenggam tangan sang istri. Dia mengajak istrinya berdoa dan sesekali bercerita dan bercanda agar Dita merasa rileks.
Pukul 17.00 WIB tepat, operasi dimulai. Dokter Lita mulai menyayat perut dan rahim Dita pada bekas jahitan operasi sebelumnya. Beberapa menit kemudian terdengar suara tangisan bayi yang memenuhi ruang operasi tersebut.
Oeee ... oeee ... oeee.
"Alhamdulillah. Bu Dita, Pak Rendra, selamat ya dedek bayinya lahir dengan selamat pada pukul 17.00 lebih 12 menit," kata dokter Lita setelah mengeluarkan sang bayi dari rahim Dita.
"Alhamdulillah," ucap Dita dan Rendra bersamaan. Mereka saling menatap dan tersenyum. Tanpa terasa air mata mengalir dari sudut mata karena rasa haru dan bahagia yang mereka rasakan.
Dokter Lita kemudian memberikan bayi yang baru lahir itu pada dokter anak. Dokter itu mengecek tanda-tanda vital bayi dan memastikan kondisinya sehat dan bugar. Setelah itu saluran pernapasan bayi dibersihkan agar dia bisa bernapas dengan baik. Sesudah dikeringkan, perawat meletakkan bayi pada posisi tengkurap di atas dada Dita. Sebelumnya perawat sudah mengatur pembatas area operasi sedemikian rupa agar ada ruang untuk bayi dan sang ibu melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
Dita menangis bahagia saat bayinya menyentuh kulit dadanya. Dia dan bayinya bersentuhan tanpa penghalang apa pun. Bayi yang selama ini dia kandung kini sudah bisa dia pandang dan sentuh. Dia memeluk tubuh mungil yang sedang berusaha mencari sumber kehidupannya itu.
Perawat kemudian menyelimuti Dita dan bayinya untuk menutupi kepala dan badan bayi serta badan ibunya agar tidak terhindar dari cedera dingin atau hipotermia.
"Mas, Ale sudah bisa kupeluk," ucap Dita seraya menengok pada sang suami dengan raut wajah bahagia.
Rendra yang sedari dari terdiam karena menikmati pemandangan indah di depan mata, saat dua orang yang dicintainya saling bersentuhan, akhirnya tersenyum lebar pada istrinya.
"Iya, Sayang. Ale sudah bisa kita peluk. Terima kasih, Bubu sudah mengandung Ale." Rendra mengecup kening istrinya. Tangannya ikut memeluk tubuh Ale dari balik selimut.
Pelan-pelan Ale mulai bergerak mencari sumber kehidupannya.
"Ale Sayang, semangat, sedikit lagi." Dita sangat antusias saat merasakan Ale bergerak di atas dadanya.
Ale bergerak dengan menendang, menggerakkan kaki, bahu, dan lengan mungilnya. Dia bergerak menuju areola ibunya. Ale membentur-benturkan kepalanya ke dada Dita. Setelah mencapai puncak dada Dita, Ale mengangkat kepala. Dia mulai mengulum puncak dada ibunya, dan mulai menyusu.
Butuh waktu sekitar 30 menit untuk Ale bisa menemukan sumber kehidupannya. Rendra yang melihat keberhasilan putranya ikut berteriak girang hingga membuat semua yang ada di ruang operasi tertawa.
"Well done, My Son. Welcome to the world, Ale."
Sementara Dita dan Ale menjalankan IMD, dokter Lita menyelesaikan prosedur operasi caesar. Dokter Lita mengeluarkan plasenta (ari-ari) dari rahim Dita, dan memberikan suntikan hormon oksitosin untuk merangsang kontraksi rahim sehingga perdarahan akan berkurang dan akhirnya berhenti sepenuhnya. Kemudian dokter Lita menutup sayatan pada rahim dan perut Dita dengan jahitan.
__ADS_1
...---oOo---...
Jogja, 150921 23.00