Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Aishiteiru


__ADS_3

"Dari mana, Mas? Kok baru datang?" tanya Dita pada suaminya, yang langsung mengecup puncak kepalanya begitu tiba. Untung saja dia hanya sendirian di ruang tamu.


"Dari masjid, Sayang. Tanggung tadi mau balik. Jadi sekalian tunggu azan Isya." Rendra duduk di samping istrinya. Dia langsung menggengam tangan Dita.


"Baru pisah sebentar aja langsung nempel. Jangan terlalu bucin, Rend," ledek Adi.


Rendra tersenyum simpul mendengar ucapan kakak iparnya. "Dita selalu bikin kangen sih, Mas."


Dita melirik kesal pada kakaknya. "Lihat aja nanti Mas Adi bakal bucin sama Mbak Adel," balas Dita.


Adi hanya tertawa menanggapi ucapan adik semata wayangnya itu.


"Mas Adi, sudah makan?" tanya Adelia yang baru dari dapur.


"Belum," jawab Adi.


"Kamu sudah makan belum, Ren?" Adelia beralih pada Rendra.


"Belum juga," sahut Rendra.


"Kalau begitu makan bareng sekalian sama Mas Adi. Aku sudah siapkan di meja makan. Ayo, Mas Adi, Ren," ajak Adelia.


"Sayang, sudah makan belum?" tanya Rendra pada istrinya.


"Sudah tadi bareng-bareng. Aku temani Mas makan ya." Dita bangkit dari duduknya lalu mengajak Rendra ke ruang makan menyusul Adi.


Di ruang makan, Adi dilayani Adelia, sedangkan Rendra dilayani Dita. Adelia dan Dita menemani makan suami mereka sambil mengobrol berempat.


Sementara itu, para orang tua berkumpul di ruang keluarga. Mereka membicarakan tentang persiapan pernikahan Adi dan Adelia.


Setelah Rendra selesai makan dan para orang tua juga sudah selesai membicarakan persiapan pernikahan, Pak Wijaya pamit pulang.


"Ayah, Bunda, besok pulangnya tunggu mas ya," pinta Adi.


"Iya, ayah sama bunda enggak terburu-buru kok," sahut Ibu Hasna.


Adi dan Adelia kemudian mengantar mereka sampai di samping mobil.


"Hati-hati bawa mobilnya, Rend," pesan Adi.


"Siap, Mas. Kami pulang dulu. Assalamu'alaikum." Rendra membunyikan klakson lalu mulai melajukan mobil meninggalkan kompleks rumah Pak Lukman.


"Wa'alaikumussalam." Adi dan Adelia melambaikan tangan. Mereka menunggu sampai mobil yang dikendarai Rendra tidak terlihat lagi.


"Arsen ke mana, Mas? Kok belum pulang sampai sekarang?" Adelia baru menyadari kalau adiknya tidak ada di rumah.


"Tadi katanya mau nongkrong sama anak-anak," kata Adi.


"Kebiasaan sukanya nongkrong. Belum makan kan tadi dia," gerutu Adelia.


"Sudah, biarkan saja. Arsen sudah besar. Nanti kalau lapar juga pasti pulang. Kita masuk saja yuk." Adi merangkul bahu istrinya. Mereka kemudian masuk ke rumah.


"Mas Adi, mau ke kamar sekarang apa nanti? Aku mau beresin ini dulu." tanya Adelia sambil membereskan gelas dan piring kudapan di ruang tamu.


"Kita nanti ke kamar bareng. Aku bantu biar cepat." Adi ikut membereskan lalu membawa gelas dan piring ke dapur.


"Loh, Mas Adi sudah istirahat saja. Biar nanti Arsen yang membereskan," tegur Ibu Sarah.


"Enggak apa-apa, Ma. Sudah biasa di rumah seperti ini," kata Adi sambil tersenyum pada ibu mertuanya.


"Cukup ditaruh di dapur saja. Jangan dicuci," larang Ibu Sarah.


"Mbak Adel, sudah beberesnya. Ajak Mas Adi ke kamar," titah Ibu Sarah.


"Sebentar lagi, Ma. Ini tinggal sedikit. Biar rapi, kan jadi enak dilihat." Adelia merapikan bantal sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Sudah, Mbak. Kasihan Mas Adi pasti capek," kata Ibu Sarah.


"Iya, Mama Sayang. Ini sudah selesai kok. Aku ke kamar dulu ya, Ma." Adelia mengecup pipi mamanya sebelum beranjak ke kamar.


"Ayo kita ke kamar, Mas." Adelia melingkarkan tangan ke lengan suaminya. Mereka naik tangga ke lantai dua di mana kamar Adelia berada.


Setelah masuk ke kamar, Adi mengunci pintu kamar.


"Aku bersih-bersih dulu. Tolong siapkan bajuku buat tidur," pesan Adi sebelum masuk ke kamar mandi.


"Iya, Mas." Adelia mengambil baju tidur Adi di lemari, kaos oblong dan celana kolor selutut. Dia meletakkannya di atas ranjang. Setelah itu dia melepas hijab, dan membersihkan wajahnya di depan meja rias.


Adi keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggangnya. "Baju kotor ditaruh di mana?" tanyanya.


"Taruh di keranjang di samping pintu itu dulu, Mas. Besok pagi aku masukkan kantong plastik nanti aku cuci di rumah Mas Adi," kata Adelia tanpa mengalihkan wajah dari kaca rias.


"Hei, itu rumah kamu juga. Rumah kita." Adi mendekati istrinya. Dia menunduk, meletakkan kepalanya di bahu Adelia.


"Kamu lebih cantik kalau apa adanya begini," bisik Adi tepat di telinga istrinya.


Wajah Adelia langsung memerah mendengar ucapan suaminya. Tubuhnya meremang karena hawa panas napas Adi yang menerpa telinganya. Itu salah satu titik sensitifnya.


"Aku ... mau ganti baju dan bersih-bersih dulu, Mas."


Adi tersenyum sambil menatap istrinya lewat kaca. Mereka saling memandang. Sebelum menegakkan badannya, Adi mencuri ciuman di pipi istrinya, yang membuat wajah Adelia semakin merah.


Adelia segera bangkit dari duduknya lalu mengambil baju tidur. Dia langsung masuk ke kamar mandi tanpa melihat lagi wajah suaminya. Adi tertawa gemas karena sudah membuat istrinya tersipu malu.


Adi lalu memakai baju tidurnya. Dia menyiapkan tempat tidur sambil menunggu istrinya. Sesudah itu, dia mengecek gawai kalau ada pesan atau email penting yang masuk.


Tak lama, Adelia ke luar dari kamar mandi dengan menggunakan gaun tidur berbahan satin dengan satu tali di bahu.


Adi menelan ludah melihat istrinya. Rupanya Adelia memang suka memakai gaun tidur seperti itu. Apalagi istrinya juga tidak memakai penutup dada. "Ya Allah, kuatkan aku."


"Mas, handuknya kok ditaruh di atas kasur, nanti jadi basah kasurnya," kata Adelia untuk mengalihkan fokus suaminya.


"Kan kamu lagi di kamar mandi. Apa boleh aku masuk tadi buat taruh handuk di sana," ucap Adi beralasan.


"Kan bisa ditaruh di kursi, Mas."


"Iya, maaf. Lain kali aku taruh di kursi atau langsung di kamar mandi," ucap Adi dengan senyum menggoda.


Adelia mengambil handuk Adi lalu menaruhnya di gantungan handuk di kamar mandi. Setidaknya dia bisa sedikit bernapas lega, lepas dari tatapan mematikan suaminya. Dia merutuk dirinya sendiri karena memakai gaun tidur yang cukup seksi ini. Dia tadi asal mengambil di tumpukan paling atas tanpa melihat modelnya.


Bagaimanapun suaminya pria normal yang pasti akan tergoda bila melihat tubuh yang seksi. Apalagi melihat istrinya yang sudah halal untuk disentuh pasti jadi lebih bersemangat. Adelia mengembuskan napas panjang sebelum kembali menemui suaminya.


Adi sudah menyalakan lampu tidur dan menyandarkan kepalanya di headboard dengan mata terperjam. Perlahan Adelia naik ke atas ranjang. Dia menepuk pelan lengan Adi.


"Mas, tidurnya berbaring, jangan seperti ini. Nanti kepala sama lehernya sakit."


Adi membuka matanya. "Aku lebih sakit kepala melihatmu berpakaian seperti itu," godanya.


"Aku ganti baju aja kalau begitu." Adelia mau bangkit tapi ditahan Adi.


"Enggak usah. Aku suka kamu pakai itu, tapi cukup di depanku saja tidak boleh di depan orang lain. Apalagi kalau kamu sudah tidak haid, aku lebih suka lagi." Adi menangkup wajah Adelia.


"Maaf, Mas. Aku belum bisa menjalankan kewajibanku sebagai istri." Adelia menunduk, merasa bersalah.


Adi mengangkat wajah istrinya, membuat mata mereka saling bertatapan. "Ini bukan salah kamu, jangan minta maaf. Aku sabar kok menunggu saat itu."


"Terima kasih, Mas." Adelia tersenyum pada suaminya.


"Kamu sudah ngantuk belum?" tanya Adi.


"Belum. Kenapa, Mas?"

__ADS_1


"Kita ngobrol sebentar ya. Sini duduk dekatku." Adi kembali duduk menyandar di headboard. Adelia menggeser duduknya jadi di samping Adi.


Adi mengambil gawai. Dia terlihat mencari sesuatu di sana.


"Katanya mau ngobrol, kok malah pegang hp, Mas," protes Adelia.


"Tunggu sebentar, ada yang mau aku tunjukkan sama kamu." Adi menyerahkan gawainya pada Adelia.


"Apa ini, Mas?" Adelia mengernyit melihat angka-angka di layar gawai suaminya.


"Itu slip gajiku. Biar kamu tahu berapa penghasilanku tiap bulan. Kalau dulu separuhnya aku tabung. Kalau sekarang mungkin jadi seperempatnya karena aku juga harus menafkahi kamu," terang Adi.


"Mas Adi, kasih aku secukupnya saja. Jangan berlebihan dan memanjakan aku. Biar aku juga belajar bagaimana mengelola keuangan keluarga. Beri aku jatah tetap setiap bulan, termasuk untuk kebutuhan belanja."


"Kamu enggak mau aku kasih semua gajiku terus kamu yang mengatur semuanya?" tanya Adi.


"Mas Adi, kan juga punya kebutuhan lain yang aku tidak tahu apa saja. Mas Adi, mungkin ingin memberi pada bunda atau Dek Dita. Katanya Mas Adi juga masih bertanggung jawab untuk biaya kuliahnya Dek Dita. Mas Adi, atur saja sendiri. Cukup Mas Adi lapor pengeluaran sama aku saja dan beri jatah tetap bulanan."


"Benar, enggak apa-apa?" tanya Adi memastikan.


"Iya, Mas. Aku percaya sama Mas Adi. Pasti Mas Adi pintar mengelola uang karena sudah bisa punya rumah dan kendaraan sendiri." Adelia mengelus pipi suaminya dengan sebelah tangan.


"Ini ponselnya, Mas." Adelia mengembalikan gawai pada suaminya.


Adi menerima gawai lalu meletakkannya di nakas. Dia kembali fokus pada istrinya.


"Kamu tahu kan Rendra itu manggil sayang ke Dita. Aku juga mau punya panggilan spesial buat kamu."


"Apa, Mas?" Adelia tampak berbinar. Ternyata suaminya pria yang cukup romantis, meski terkesan datar.


"Aku punya dua alternatif, nanti kamu pilih satu. Yang pertama eini, itu bahasa Arab, maknanya sama dengan my lovely. Yang kedua ai, itu bahasa Jepang, artinya cinta. Kamu suka yang mana?" Adi menatap intens mata istrinya.


"Aku lebih suka ai karena lebih simpel dan gampang diucapkan," ucap Adelia.


Adi tersenyum. "Oke, mulai sekarang aku panggil kamu, Ai."


"Iya, Mas." Adelia tersenyum malu.


"Ai, kapan ya selesai haidnya?" tanya Adi seraya mengelus pipi Adelia.


"Mungkin dua atau tiga hari lagi, Mas," jawab Adelia dengan malu-malu


"Benarkah?" Raut wajah Adi tampak berbinar.


"Insya Allah, Mas." Adelia kembali tersenyum malu.


"Sebelum lebaran aku bisa belah duren dong," seloroh Adi.


"Mas Adi, apaan sih." Adelia memukul pelan dada suaminya.


"Ah, kan jadi ingin segera belah duren," kata Adi kembali dengan senyum menggoda.


"Kalau foreplay-nya dimulai dari sekarang, boleh kan?" Adi memainkan kedua alisnya.


Adelia tertawa kecil melihat tingkah lucu suaminya. "Terserah, Mas Adi. Tapi aku belum bisa tanggung jawab ya, Mas."


"Biar aku tanggung sendiri, Ai cukup menjawabnya. Oke," Adi mengedipkan sebelah matanya.


Adelia mengangguk pelan dengan senyum malu di wajahnya.


Perlahan Adi mendekatkan wajah mereka. Saat mereka bisa merasakan embusan napas masing-masing, Adi berbisik. "Aishiteiru (aku cinta kamu)."


...---oOo---...


Jogja, 250621 01.00

__ADS_1


__ADS_2