
Satu hal yang paling aku sesali dalam hidupku adalah mengkhianati cinta Adelia. Wanita yang sudah menjadi kekasihku sejak aku kelas tiga SMA. Wanita yang sudah susah payah aku dapatkan hatinya. Cinta pertamaku dan satu-satunya pacarku. Hanya karena menuruti hawa nafsu, aku melakukan perselingkuhan sampai menghamili Claudia, rekan kerjaku.
Aku masih ingat saat pertama kali melihat Adelia, yang tampak menonjol saat upacara pembukaan orientasi siswa baru, karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Selain teman-teman seangkatannya, banyak adik kelasku kelas 2 dan juga teman seangkatanku yang tertarik dan mengincar Adelia sejak saat itu. Aku rasa tidak ada yang tidak tertarik dengan pesona kecantikan Adelia. Hanya saja, ada yang berani mengungkapkan dan mengejarnya, tapi ada yang hanya cukup mengaguminya dalam diam. Dan, aku termasuk yang mengejarnya.
Posisiku saat itu yang sebagai Ketua OSIS tentu saja menjadi pusat perhatian para siswa baru. Yeah, selain karena jabatan tentu juga karena tampangku yang kata mereka mirip aktor Korea Song Joongki. Aku sendiri tidak tahu seperti apa wajah aktor itu, aku hanya tahu namanya saja karena banyak yang mengatakannya.
Meski banyak siswa baru yang mengelu-elukan aku setiap melewati atau dekat dengan mereka, tetapi Adelia bersikap cuek dan biasa saja, membuatku jadi penasaran dan tertantang untuk menaklukkan hatinya. Setelah masa orientasi selesai dan segala macam laporan pertanggung jawaban beres, aku mulai mengatur strategi untuk mendekati Adelia.
Adelia bukanlah tipe wanita yang gampang tergoda dengan segala rayuan dan pendekatan. Buktinya banyak yang sudah mendekati dan memberinya bunga, cokelat bahkan surat tetapi Adelia bergeming. Hingga akhirnya banyak yang menyerah karena tidak pernah mendapat balasan.
Diam-diam, aku mengamati kebiasaan Adelia, dari dia tiba di sekolah sampai pulang. Setelah tiba di sekolah, dia langsung masuk ke kelas. Saat jam istirahat pertama biasanya dia akan pergi sendiri ke perpustakaan. Sementara saat jam istirahat kedua, dia akan pergi ke kantin dengan teman-temannya. Setiap pagi dia selalu diantar dengan mobil, dan pulangnya biasanya dengan ojek kalau tidak dijemput.
Sejak aku tahu kebiasaan Adelia, aku mulai rajin ke perpustakaan pada jam istirahat pertama. Berpura-pura mencari buku sekaligus mencari tahu buku apa saja yang menarik perhatiannya hingga setiap hari ke perpustakaan. Aku akhirnya berhasil mengajaknya kenalan setelah satu minggu mengikutinya di perpustakaan. Untung saja aku dianugerahi otak yang cukup encer dan pembawaan yang supel, jadi bisa cepat akrab dan bicara banyak hal dengannya.
Sejak itu aku sering bergabung dengan dia dan teman-temannya saat di kantin. Tentu saja hal itu jadi berita menghebohkan di sekolah, karena baru pertama kali ini aku mendekati seseorang di sekolah secara terang-terangan. Kedudukanku sebagai ketua OSIS dan Adelia sebagai kembang sekolah tentu saja menarik perhatian semua warga sekolah.
Seiring waktu kami semakin dekat. Aku mulai mengantar Adelia setiap pulang sekolah di sela waktu sebelum tambahan pelajaran dimulai. Karena aku sudah kelas tiga, setiap pulang sekolah ada tambahan pelajaran untuk persiapan Ujian Nasional. Aku pun sering bertandang ke rumahnya dan mengajaknya keluar.
Proses untuk bisa dekat dan membuat Adelia nyaman denganku tidaklah sebentar. Butuh berbulan-bulan. Berulang kali aku harus meyakinkan dia kalau aku benar-benar sayang dan cinta dia. Setelah perjuangan panjangku, akhirnya dia mau menerima cintaku setelah hampir satu semester. Sejak itu kami digadang-gadang menjadi pasangan yang serasi dan tak terpisahkan.
Setelah aku lulus SMA dan melanjutkan kuliah, hubungan kami masih terjalin dengan baik dan justru semakin dekat karena kedua keluarga menyetujui hubungan kami. Setiap ada acara keluarga baik keluargaku atau Adelia, kami selalu datang bersama. Yeah, kami selalu berdua setiap ada kesempatan.
Gaya pacaran kami waktu itu seperti layaknya anak muda pada umumnya. Pergi nonton, jalan-jalan ke mal, makan, berkumpul dan nongkrong dengan teman. Kontak fisik pun hanya berpegangan tangan dan rangkulan saja. Tidak lebih dari itu, bisa dibilang gaya pacaran yang sehat lah.
Setelah lulus kuliah, tanpa menunggu lama, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan multinasional. Rekan kerjaku kebanyakan sudah berkeluarga, ya kalau pun masih lajang juga sudah punya pacar. Saat bekerja kami saling bercerita tentang pasangan masing-masing. Aku sering diledek mereka karena gaya pacaranku dengan Adelia yang mereka anggap kuno.
__ADS_1
Sejak itu aku mulai berani mencium pipi dan juga bibir Adelia. Itu pun awalnya dia menolak, tapi karena aku berhasil membujuknya, lama-lama itu jadi hal yang biasa untuk kami. Rekan-rekan kerjaku selalu memberi trik dan tips untuk merayu Adelia agar mau melakukan hal yang lebih intim lagi.
Karena hubungan kami sudah berjalan lebih dari lima tahun dan tak pernah ada masalah yang berarti, aku pun mengajak Adelia untuk menikah. Toh aku juga sudah punya penghasilan sendiri, jadi aku yakin bisa menghidupi Adelia kelak setelah menjadi istriku.
Saat aku menyampaikan niat baik itu, kedua keluarga sangat mendukung kami. Kemudian aku pun bertunangan dengan Adelia dulu sembari menunggu dia menyelesaikan kuliahnya, dan pihak keluarga menyiapkan pernikahan kami yang akan digelar setelah Adelia diwisuda.
Kenapa aku tidak langsung menikah tetapi malah bertunangan? Karena Adelia masih kuliah, dan kemungkinan besar aku akan dipindah tugas ke luar kota. Aku tidak mau tinggal terpisah dengan Adelia setelah menikah, jadi kami bertunangan dulu sebagai tanda pengikat hubungan yang lebih serius.
Mulai saat itu, hubungan kami semakin intim. Keluarga kami seolah membebaskan kami untuk melakukan apa saja. Bahkan kami pergi berdua dan menginap dalam satu kamar pun mereka tidak mempermasalahkannya. Toh nanti kami juga akan menikah.
Bisa dibayangkanlah apa yang dilakukan pria dan wanita dewasa di kamar berdua. Saling mencumbu, menyentuh dan menjelajahi setiap inci tubuh kami, itu hal yang biasa kami lakukan. Tidur pun kami saling berpelukan. Hingga suatu ketika kami nyaris melakukan hubungan suami istri. Tapi, tiba-tiba Adelia menangis dan memohon agar aku tidak mengambil mahkotanya sebelum kami resmi menikah. Katanya itu akan jadi kado untukku nanti agar lebih spesial saat malam pertama kami.
Meski hasratku sudah di ubun-ubun, aku tidak bisa mengabaikan wanita yang sudah mengisi hatiku selama lebih dari lima tahun ini. Aku urung melakukan hal itu, tapi aku minta Adelia untuk menuntaskan hasratku dengan cara lain sebagai konsekuensinya. Ya, ada banyak cara kan tidak harus dengan melakukan hubungan intim untuk mencapai kepuasan. Itu yang diajarkan oleh rekan-rekan kerjaku.
Sejujurnya aku kecewa karena tidak bisa melakukannya dengan Adelia. Setiap kami saling menyentuh, aku berusaha merayu dan mengatakan akan bertanggung jawab kalau dia sampai hamil. Bahkan aku sampai membeli pengaman agar dia percaya. Tetapi Adelia tetap bersikukuh pada keputusannya. Katanya hanya itu hartanya yang paling berharga yang masih dia jaga, karena seluruh tubuhnya juga sudah aku lihat semua.
Setelah setengah tahun aku bertunangan, aku dipindah tugaskan di sebuah kota besar di Jawa Timur. Memang sejak wawancara, dan saat penandatangan perjanjian kerja, aku harus siap ditempatkan di mana saja. Itu salah satu strategi perusahaan agar karyawan tidak merasa jenuh bekerja di tempat yang sama terus. Jadi selalu ada mutasi setiap beberapa tahun sekali.
Meski terpisah jarak, hubungan kami masih lancar. Hampir setiap hari kami melakukan video call sebagai pelepas rindu. Tetapi memang aku hanya bisa pulang ke Jogja sebulan sekali atau saat long weekend.
Sebagai pria normal tentu saja aku membutuhkan sesuatu untuk memuaskan hasratku. Biasanya Adelia yang akan sukarela melakukannya. Tapi karena sekarang kami berjarak, tentu saja aku harus bermain solo. Sungguh, sangat tidak menyenangkan.
Sampai suatu ketika Claudia menggodaku dengan penampilannya yang seksi. Claudia memang sehari-hari memakai pakaian yang ketat dan seksi, memperlihatkan lekuk tubuh dan juga belahan dadanya. Tapi, aku sama sekali tidak menghiraukan hal itu karena tujuanku ke kantor adalah bekerja. Dan, aku punya seseorang yang sangat aku cintai di Jogja.
Claudia sepertinya memang sudah mengincarku. Meski berulang kali aku bertahan agar tidak tergoda, dia tetap saja menggodaku. Dan aku hanyalah manusia biasa yang lemah iman. Lama-lama aku pun menanggapinya. Ibarat kucing kalau diberi ikan asin pasti tidak akan menolak kan, ya begitulah diriku.
__ADS_1
Aku mulai membiarkan tiap dia menyentuh tubuhku di bagian mana pun. Hingga aku tergoda mencium bibirnya saat di ruangan divisi kami hanya ada kami berdua. Kami saling berpagutan dan menyentuh hingga membuat pakaian kerja kami sedikit berantakan. Itu awal mala petaka hubunganku dengan Adelia.
Sejak itu kami sering mencuri ciuman saat bekerja hingga kami menyewa kamar hotel saat jam istirahat kerja. Kami pamit dengan rekan kerja lainnya untuk makan siang bersama, tetapi kenyatannya kami saling 'menyantap' tubuh. Aku selalu mendapat kepuasan tiap bersama Claudia. Yeah hubungan kami hanya untuk mendapatkan kepuasan bersama, tidak lebih dari itu. Setiap berhubungan pun aku selalu membayangkan wajah cantik Adelia, seolah-olah aku sedang berhubungan dengannya.
Walaupun aku terus melakukan hal itu dengan Claudia, tetapi hubunganku dengan Adelia tetap berjalan dengan baik. Rutinitas video call juga tetap aku lakukan. Adelia begitu percaya padaku, karena itu aku sangat mencintainya. Claudia hanya pemuas nafsuku, sedangkan Adelia adalah cintaku, pemilik hatiku.
Aku selalu menantang adrenalin bersama dengan Claudia. Kami pernah melakukannya di meja kerjaku, di dalam lift, toilet kantor, bahkan mobil. Hasratku sebagai pria muda yang normal memang sangat besar. Hampir setiap hari aku melakukannya kecuali kalau dia sedang datang bulan.
Suatu hari Claudia mengajakku bicara serius setelah kami berhubungan, katanya dia hamil anakku sambil menunjukkan hasil tes kehamilannya. Aku tidak percaya dengan ucapannya karena aku merasa selalu menggunakan pengaman jadi tidak mungkin dia hamil.
Aku akhirnya mengajak Claudia ke dokter kandungan untuk mengecek kebenarannya. Dan ternyata, Claudia benar-benar hamil. Duniaku rasanya mau runtuh. Aku bingung. Aku kalut. Aku bahkan meminta Claudia untuk menggugurkan kandungannya, tetapi dia tidak mau. Katanya perbuatan kami sudah berdosa, kalau menggugurkan kandungan itu sama saja dengan membunuh. Dia tidak mau menambah dosa lagi.
Aku masih menyangsikan kalau itu memang anakku mengingat pengaman yang selalu aku pakai. Tapi Claudia mengingatkan kalau aku pernah tidak memakainya saat di lift kantor sepulang kerja, karena hasrat yang sudah tidak bisa aku tahan. Sialnya, saat itu dia sedang mengalami masa subur. Damn!!! Kenapa aku sampai melupakan hal itu?
Claudia menuntutku agar bertanggung jawab. Dia minta aku menikahinya. Aku menolak dengan alasan aku sudah punya tunangan. Aku tidak bisa meninggalkan tunanganku karena aku sangat mencintainya. Tapi dia terus mendesak bahkan mengancam akan bunuh diri kalau aku masih terus menolak menikahinya. Mau tidak mau aku harus menikah dengannya.
Akhirnya dengan berat hati aku pulang ke Jogja dan menemui Adelia. Aku meminta maaf padanya karena aku sudah berselingkuh sampai Claudia hamil. Aku harus bertanggung jawab dan menikah dengan Claudia. Aku juga mengatakan kalau tetap hanya dia yang aku cintai.
Hatiku sakit melihat Adelia yang tampak sedih dan kecewa. Aku tahu dia berusaha tegar dan menahan air matanya. Aku mengutuk diriku sendiri karena sudah menyakiti wanita yang sangat aku cintai itu. Dia memintaku memutuskan pertunangan dengan menemui papanya. Aku pun menemui Pak Lukman dan memutuskan pertunangan dengan alasan sudah tidak ada kecocokan, kami sering bertengkar dan tidak tahan saling berjauhan. Dengan berat hati, Pak Lukman menerimanya.
Seminggu setelah aku memutuskan pertunangan, aku menikahi Claudia. Keluargaku sangat menentang pernikahan ini dan sangat menyesalkan perbuatanku. Mereka tetap menginginkan Adelia sebagai istriku. Karena itu tidak ada resepsi pernikahan di keluargaku seperti layaknya keluarga lain yang bahagia karena anaknya menikah. Mereka terpaksa menerima Claudia karena sudah mengandung anakku.
Pernikahanku dengan Claudia tidak berjalan mulus. Lama-lama aku mengetahui sifat aslinya yang kasar dan mau menang sendiri. Kami sering bertengkar hanya karena masalah sepele. Kami hanya rukun saat kami sama-sama saling membutuhkan untuk memuaskan nafsu. Bahkan pernikahanku saja terjadi hanya agar anakku kelak bisa dengan mudah mendapat akta kelahiran, tidak lahir di luar pernikahan. Selain itu ya hanya karena memenuhi kebutuhan biologis. Poor me.
...---oOo---...
__ADS_1
Jogja, 170621 14.00