
Kalau dia tidak ingat harus bangun sahur dan bekerja meninjau proyek pagi nanti, Adi pasti akan meneruskan kegiatan membakar kalori yang dipastikan menjadi hobi barunya sejak malam ini. Ternyata sebegitu nikmat dan menyenangkan melakukannya dengan wanita yang kini sudah tertidur di pelukannya.
Dia memandangi Adelia, tampak gurat kelelahan di paras cantiknya. Adelia sama sekali tidak menolak setiap kali dia meminta lagi, padahal dia tahu kalau istrinya sudah kepayahan melayaninya. Dia hanya memberi waktu sebentar untuk Adelia beristirahat, sedangkan mereka melakukannya berkali-kali. Saat waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, Adi baru benar-benar menghentikan kegiatan panas mereka. Adelia langsung terlelap begitu Adi menyelimuti tubuh polos mereka dan memeluk istrinya. Dia tersenyum lalu mengecup kening belahan jiwanya sebelum menyusul Adelia ke alam mimpi.
Pukul 02.30 pagi, Adi terbangun karena suara alarm. Dia merasa lengan kirinya kebas dan berat, ternyata kepala istrinya masih di atasnya. Tangan Adelia pun masih memeluk pinggangnya. Istrinya ternyata tipe yang tenang saat tidur. Dia tersenyum memandang istrinya yang tetap cantik meski sedang tidur.
Perlahan dia menarik lengannya agar tidak membangunkan Adelia. Dia bangkit lalu kembali menyelimuti Adelia. Kemudian memunguti pakaian yang semalam dia lempar sembarangan sekalian berjalan ke kamar mandi. Dia akan mandi dulu sebelum nanti membangunkan Adelia. Meski dia tidur kurang dari 2 jam, tapi dia sama sekali tidak merasa mengantuk. Apa ini efek kebahagiaannya semalam?
"Ai, bangun yuk. Mandi, terus sahur." Adi mengusap-usap pipi halus Adelia sesudah dia mandi.
"Jam berapa sekarang, Mas?" tanya Adelia begitu dia membuka matanya.
"Jam tiga kurang lima belas menit," jawab Adi.
Setelah kesadarannya mulai terkumpul, Adelia bangun. Dia duduk di atas ranjang sambil memegang selimut agar tetap menutupi tubuh polosnya. Dia merasakan sedikit perih di bagian bawah tubuhnya.
"Pakai bathrobe ya, jangan pakai selimut." Adi menyerahkan bathrobe pada istrinya. Adelia menerima, lalu memakainya sebelum beranjak ke kamar mandi.
Melihat Adelia seperti kesulitan berjalan, Adi tiba-tiba menggendongnya lalu membawa istrinya ke kamar mandi. "Maaf ya sudah membuat Ai seperti ini," ucapnya.
Adelia menggeleng sambil tersenyum. "Itu sudah kewajibanku, Mas. Mungkin karena belum terbiasa jadi seperti ini."
"Kalau begitu harus dibiasakan ya Ai, biar enggak sakit lagi." Adi mengedipkan sebelah matanya.
Adelia hanya tertawa kecil menanggapi suaminya.
Adi lalu meninggalkan istrinya di kamar mandi. Dia mengganti seprai dan selimut yang kotor dengan seprai dan selimut bersih. Dia beranjak ke ruang cuci untuk merendam seprai dan selimut yang kotor. Setelah itu dia berganti baju koko dan sarung. Dia kemudian mengambil wudu untuk menjalankan rutinitasnya di sepertiga malam.
Usai salat, Adi kembali mengganti bajunya dengan baju rumah. Dia ke dapur untuk menyiapkan sahur. Tadi istrinya belum ke luar dari kamar mandi, mungkin masih berendam di bath up untuk meredakan rasa lelahnya. Dia mencari bahan yang praktis untuk dimasak. Dia selalu punya stok makanan beku di dalam freezer. Jadi, dia tinggal menggoreng atau memanaskan di microwave bila mau makan.
Adi mengambil rendang beku dari dalam freezer. Dia mengeluarkan rendang sesuai kebutuhan lalu diletakkan di mangkok tahan panas sebelum dimasukkan ke dalam microwave. Sebelum dipanaskan, rendang itu dihilangkan bekuan esnya dengan mode defrost. Sambil menunggu rendang dihangatkan, dia membuat teh manis panas untuk minumnya. Setelah itu dia memotong sayur untuk dicampur dalam telur dadar.
"Lho Mas Adi kok malah masak?" Adelia terkejut saat melihat suaminya sibuk di dapur.
"Sudah selesai Ai mandinya?" Adi malah balik bertanya tanpa menjawab Adelia.
"Kalau Mas Adi yang masak gini terus aku ngapain, Mas? Kaya enggak ada gunanya aku jadi istri, enggak bisa melayani suami dengan baik," gerutu Adelia.
Adi terkesiap mendengar ucapan istrinya. Dia langsung membalikkan badan dan memegang kedua bahu Adelia. "Ai, jangan bilang lagi tidak ada gunanya jadi istri. Ai, sudah jadi istri yang baik. Aku hanya meringankan pekerjaan, Ai. Bukankah suami istri harus saling membantu dalam pekerjaan rumah tangga? Ini aku juga belum selesai kok masaknya. Ayo kita selesaikan berdua. Jangan cemberut begitu."
"Jadi aku mengerjakan apa ini, Mas?" tanya Adelia yang masih sedikit cemberut.
"Ai, tolong telurnya dipecah terus ditaruh di mangkuk, kasih bumbu terus dikocok rata dengan telurnya. Nanti sayurnya ini dimasukkan ke kocokan telur. Baru dibikin telur dadar." Adi memberi instruksi pada istrinya.
"Bumbunya apa saja, Mas?" tanya Adelia setelah memecahkan telur.
"Garam halus sama lada bubuk saja."
"Seberapa, Mas?"
"Sedikit saja, bisa kan memperkirakan?" Adi menoleh pada istrinya.
"Segini?" Adelia menunjukkan jumlah garam yang akan dimasukkan ke dalam telur.
"Tambah segitu lagi, Ai."
"Ladanya segini, Mas?"
__ADS_1
"Yup. Pintar istriku." Adi tersenyum seraya mengacungkan jempolnya.
Adelia lalu mengocok telur setelah diberi bumbu. "Telurnya sudah dikocok, Mas. Tolong sayurnya dimasukkan ya, Mas."
Adi memasukkan sayur yang tadi dia potong ke dalam kocokan telur berbumbu. Dia lalu menyiapkan wajan untuk menggoreng telur.
"Telurnya mau digoreng bulat atau dilipat, Ai?" tanya Adi sebelum memasukkan minyak ke dalam teflon.
"Kita sahurnya sama telur dadar saja, Mas?"
"Sama rendang, itu ada di microwave."
"Kalau begitu dilipat saja nanti terus dipotong telurnya."
"Ini sudah aku siapkan wajan sama minyaknya." Adi menyalakan kompor dengan api kecil.
"Cara melipat telurnya bagaimana, Mas?" Adelia meringis.
Adi tersenyum. Rupanya sang istri belum bisa cara membuat telur dadar lipat.
"Kocokan telur dimasukkan sedikit-sedikit, terus diratakan. Tunggu sampai agak matang, terus mulai dilipat telurnya sampai ujung teflon. Masukkan lagi kocokan telur di samping telur yang dilipat tadi, diratakan, tunggu sampai agak matang terus mulai melipatnya dari yang sudah dilipat tadi. Begitu seterusnya." Adi menjelaskan pada istrinya.
"Mas Adi, kasih contoh dulu ya," pinta Adelia.
"Oke." Adi mengecek kondisi teflon yang sudah panas. Dia memasukkan sedikit kocokan telur, lalu diratakan memenuhi teflon. Setelah agak matang, dia melipat telur sampai ke ujung teflon.
"Sudah. Sekarang Ai yang teruskan." Adi berpindah ke samping memberi tempat pada istrinya.
Adelia mengikuti cara Adi menggoreng telur tadi. Tetapi dia masih belum rapi melipat telur jadi bentuknya agak tak beraturan.
"Mas, bentuknya jadi kurang bagus begini," keluh Adelia.
"Udah semua kan. Yuk disiapkan di meja makan," ajak Adi.
"Mas Adi duduk saja, biar aku yang bawa ke meja makan."
"Oke, Ai. Aku ambil salad buah saja dari kulkas." Adi akhirnya menuruti keinginan istrinya. Dia tidak mau Adelia merasa tidak bisa menjadi istri yang baik.
Adi sudah duduk manis di kursinya saat Adelia menyiapkan lauk dan meletakkannya di atas meja makan. Setelah semuanya terhidang di meja makan, Adelia mengambilkan nasi untuk Adi.
"Porsinya agak banyak ya, Ai. Habis olahraga malam jadinya lapar," celetuk Adi yang sukses membuat rona merah di wajah Adelia.
"Segini, Mas?" Adelia menyerahkan piring berisi nasi pada suaminya.
"Yup, makasih, Ai." Adi mengambil rendang dan telur dadar lipat sebagai teman makan nasi.
Sesudah melayani suaminya, Adelia mengambil nasi dan lauk untuknya sendiri. Mereka makan bersama setelah sebelumnya berdoa.
"Mas, nanti aku mau ke kampus, ada bimbingan terakhir sebelum lebaran," kata Adelia.
"Kok mendadak, Ai?" Adi mengerutkan keningnya.
"Ternyata semalam dosen pembimbingku kirim pesan, Mas. Baru aku buka tadi setelah mandi. Boleh kan aku pergi?" Adelia memandang suaminya.
"Jam berapa bimbingannya?"
"Jam 08.00, Mas."
__ADS_1
"Nanti berangkatnya bareng aku. Pulangnya minta jemput Arsen," tegas Adi.
"Aku bawa motor sendiri saja, Mas."
"No. Aku enggak kasih izin Ai bawa motor sendiri ke kampus."
"Kenapa? Katanya itu motor buat aku pakai, Mas." Adelia mulai cemberut.
"Iya, tapi tidak untuk sekarang ini. Kejahatan menjelang lebaran biasanya meningkat. Aku tidak tenang kalau Ai pergi sendiri. Kalau besok bimbingannya, aku bisa antar dan tungguin Ai sampai selesai. Aku sudah bisa libur besok. Kalau hari ini, aku enggak bisa. Aku harus memantau proyek sebelum libur lebaran. Mungkin nanti aku juga lembur. Aku tidak tahu pulang jam berapa. Ai, boleh langsung pulang ke rumah papa sama Arsen, nanti pulang ke sininya aku jemput."
"Benar, aku boleh ke rumah papa, Mas?" Mata Adelia berbinar-binar.
"Iya. Boleh banget, Ai. Tapi harus dijemput sama Arsen."
"Oke, siap." Adelia sudah tersenyum lebar sekarang.
"Nanti sekitar jam 06.00, Mbak Surti ke sini untuk bersih-bersih sama menyetrika baju."
"Mbak Surti itu siapa, Mas?"
"Yang biasa bantu bersih-bersih, mencuci dan menyeterika baju."
"Setiap hari ke sini?" tanya Adelia ingin tahu.
"Enggak, biasanya seminggu dua atau tiga kali."
"Sudah ada aku apa masih butuh Mbak Surti, Mas?"
"Dia janda, Ai. Punya anak yang masih sekolah. Kasihan kalau nanti berkurang penghasilannya kalau enggak bantu di sini lagi. Semua tetangga juga pakai jasanya. Enggak apa-apa kan kita tetap bantu dia?" Adi menatap mata istrinya.
"Kalau itu alasannya tidak apa-apa, Mas." Adelia mengangguk, setuju dengan keinginan suaminya.
"Oh ya, nanti Ai kan pergi sama Arsen, sekalian beli bingkisan sembako untuk Mbak Surti ya. Kita kasih sehari sebelum lebaran. Sama THR dan juga untuk anaknya."
"Apa saja isi bingkisannya, Mas?"
"Beras, gula pasir, minyak goreng, telur, sama apa lagi terserah. Budgdet-nya sekitar 200 ribuan. Pakai uang yang aku kasih tempo hari untuk persiapan lebaran. Kalau ada orang lain yang ingin Ai kasih, sekalian saja belanjanya."
"Iya, Mas. Nanti aku pikirkan lagi siapa yang akan aku kasih."
Adi mengangguk sambil, mengunyah makanannya.
"Mas Adi, nanti benar mau lembur?" tanya Adelia memastikan.
"Iya. Kenapa? Takut kangen aku ya," goda Adi.
"Ish, bukan begitu. Berarti kan aku enggak menyiapkan buka puasa untuk Mas Adi nanti sore."
"Iya, enggak. Aku buka puasa di proyek sama anak-anak. Ternyata mau tanya soal buka puasa, kirain ingin terus berduaan sama aku." Adi pura-pura menunjukkan wajah sedih.
"Nanti Mas Adi pulang kerja kan juga ketemu," cibir Adelia.
"Aku pikir Ai sudah kangen sama sentuhanku semalam. Hayo ngaku. Jadi enggak sabar nih buat nanti malam." Adi menggoda Adelia lagi.
"Apaan sih, Mas. Jangan melantur."
Adi terkekeh mendengar jawaban wanita yang sudah mencuri hatinya itu. Sepertinya dia akan melakukan hobi barunya itu setiap hari agar istrinya terbiasa dan tidak merasa sakit lagi.
__ADS_1
...---oOo---...
Jogja, 030721 00.10