Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Malam Pertama Lagi


__ADS_3

Hari ini masa nifas Dita selesai, kebetulan juga bertepatan dengan jadwal kontrol terakhir dengan dokter Lita. Pagi ini, dia mengunjungi dokter Lita sekaligus mengecek pertumbuhan Ale.


"Alhamdulillah bekas jahitannya bagus, Bu. Tetap perbanyak protein, sayur dan buah ya," kata dokter Lita setelah memeriksa jahitan operasi caesar.


"Bu Dita, sudah tidak keluar darah nifas lagi?" tanya dokter Lita.


"Iya, Dok. Terakhir kemarin siang keluar flek. Tadi pagi sudah tidak keluar lagi," terang Dita.


"Alhamdulillah, berarti Pak Rendra sudah bisa buka puasa ini," goda dokter Lita seraya melihat Rendra.


"Dokter Lita, bisa saja." Rendra menjawab sambil tersenyum lebar.


"Pak Rendra, Bu Dita, karena masa nifas sudah selesai dan sudah bisa kembali berhubungan suami istri, saya berharap Bapak dan Ibu bisa memikirkan kembali untuk menunda kehamilan berikutnya. Ibu Dita dalam kurun satu tahun sudah menjalani 2 kali operasi caesar, seandainya belum ada setahun dari sekarang Bu Dita hamil lagi, mau tidak mau juga harus caesar lagi untuk kehamilan berikutnya."


Dita terkesiap mendengar dokter Lita. "Bukannya bisa melahirkan normal meski sudah pernah caesar, Dok?"


Dokter Lita mengangguk dengan senyum ramahnya. "Memang bisa, Bu. Akan tetapi, jeda kehamilan selanjutnya setidaknya 2 tahun dari yang sekarang. Itu pun bila memang memenuhi syarat untuk melahirkan normal."


"Berkaca dari kehamilan kemarin, waktu operasi akhirnya dipercepat karena kondisi jahitan bekas operasi yang menipis. Kalau seandainya terjadi kehamilan kembali dalam waktu dekat, kemungkinan hal itu bisa terjadi lagi. Karena itu saya berharap agar kehamilan selanjutnya bisa ditunda, setidaknya minimal sampai 1,5 tahun. Kalau bisa dua tahun, itu lebih baik," lanjut dokter Lita.


"Saya pernah mendengar kalau memberi asi ekslusif bisa sebagai KB alami, Dok. Apa kami masih memerlukan alat kontrasepsi lagi untuk menunda kehamilan?" tanya Dita.


"Oh itu metode amenore laktasi. Metode itu memang bisa menunda tapi dengan beberapa kondisi, Bu. Pertama, Ibu belum mengalami menstruasi lagi setelah kehamilan. Kedua, dedek bayi hanya menyusu asi ekslusif dan tidak mendapat makanan dan minuman lainnya. Yang ketiga, bayi berusia kurang dari enam bulan," terang dokter Lita.


"Metode amenore laktasi memang bisa menunda, tetapi hanya selama enam bulan dengan beberapa syarat yang saya sebutkan tadi. Namun, sebenarnya menstruasi bisa datang kapan saja bahkan di luar dari prediksi kita. Karena itu, metode ini pada dasarnya tidak sepenuhnya efektif mencegah kehamilan. Hanya saja, setidaknya tubuh Ibu Dita tidak memproduksi sel telur selancar dan sebanyak biasanya selama enam bulan setelah melahirkan."


Rendra dan Dita mengangguk-angguk mendengar penjelasan dokter Lita.


"Ada banyak yang berhasil dengan metode ini, tetapi tidak sedikit juga yang gagal. Apalagi bila memang Ibu sangat subur. Dan, Bu Dita ini termasuk kategori yang sangat subur. Ibarat kata, dicolek Pak Rendra saja bisa langsung hamil," seloroh dokter Lita agar situasi tidak tegang.


Rendra dan Dita serta perawat yang ada di sana menjadi tertawa, hanya Ale yang diam dalam gendongan Rendra.


"Di sini saya tidak memaksa Bu Dita atau Pak Rendra memakai alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan. Saya hanya menyarankan karena Bu Dita ingin melahirkan secara normal untuk kehamilan selanjutnya. Silakan Pak Rendra dan Bu Dita membicarakan sendiri lebih lanjut langkah yang selanjutnya akan diambil. Nanti seumpama memang ingin memakai alat kontrasepsi bisa kembali ke sini atau dokter kandungan atau ke bidan terdekat."


"Terima kasih atas penjelasannya, Dok. Nanti kami akan mempertimbangkan saran dari dokter Lita," ujar Rendra.


"Bagaimana perkembangan si kecil?" tanya dokter Lita.


"Alhamdulillah bagus, Dok. Sudah bisa protes kalau tidak diperhatikan," jawab Dita sambil melirik Ale yang tertidur pulas dalam gendongan Rendra.


"Anteng ya dedeknya, tidak rewel."


"Tadi habis menyusu jadi pulas tidurnya. Kalau menangis ya kencang, Dok," terang Dita seraya tertawa kecil.


"Alhamdulillah, semoga perkembangannya dedek Ale semakin baik dan sehat terus. Begitu pula Bu Dita dan Pak Rendra," doa tulus dokter Lita.


"Aamiin. Terima kasih, Dok."


Setelah selesai kontrol dan konsultasi mereka pulang. Dita menggendong Ale di dalam mobil, sedangkan Rendra yang menyetir.


"Sayang, kita menginap di hotel yuk," ajak Rendra.


"Mau ngapain menginap di hotel?" Dita mengernyit mendengar ajakan suaminya.


"Malam pertama lah." Rendra menaik turunkan alisnya.


"Sudah punya anak kok masih malam pertama," sahut Dita sambil tersenyum geli.


"Ya kan malam pertama setelah aku puasa, Sayang. Mau ya?" rayu Rendra dengan mengedipkan sebelah mata pada istrinya.


"Sama Ale kan?" Dita menatap suaminya.


"Berdua dong, Sayang."


"Enggak mau. Mas, tega ya ninggalin Ale sendiri di rumah." Dita mengeratkan gendongannya pada Ale.


"Kan ada mama sama Adel, Sayang."


"Enggak---enggak. Kita di rumah saja kalau begitu. Aku enggak mau ninggalin Ale." Dita menolak mentah-mentah ajakan suaminya.


Rendra menghela napas panjang. "Tapi, kalau di rumah kita enggak bisa bebas ngapain saja, Sayang."


"Aku mau di hotel tapi harus sama Ale. Kalau enggak sama Ale, aku enggak mau," tegas Dita.


"Sayang, tega sama aku sekarang." Rendra mulai merajuk.


"Astaghfirullah. Ale baru berumur sebulan, Mas. Dia masih bergantung sama asi-ku. Mana mungkin aku tega meninggalkan dia di rumah. Memang ada stok asi di rumah, tapi juga tidak mencukupi kalau seharian. Mas, yang lebih tega sama Ale kalau begitu."


"Mungkin aku akan menjadi istri yang durhaka karena menolak ajakan suami, tapi Ale itu tanggung jawab kita, Mas. Dia masih sangat membutuhkan kita, terutama aku. Kalau Mas Rendra mau kita menginap di hotel, ayo kita pergi, tapi dengan Ale. Jadwal tidur Ale itu sudah mulai teratur, Mas. Kita bisa melakukannya saat Ale sedang tidur. Tolong, jangan buat aku jadi istri yang durhaka atau menjadi ibu yang tidak bertanggung jawab, Mas." Dita mulai meneteskan air mata.


Dia mengerti kebutuhan suaminya, tetapi dia juga tidak bisa mengabaikan putranya yang masih sangat kecil. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran suaminya yang menginginkan mereka hanya pergi berdua dan meninggalkan Ale di rumah.


Rendra terdiam mendengar kata-kata Dita. Hatinya terasa sakit saat suara istrinya mulai parau. Dan lebih sakit lagi saat melihat ada air mata yang menetes dari sudut mata Dita. Dia menghirup napas panjang, lalu mengembuskan dengan pelan. Dia sudah menyakiti hati istrinya, wanita yang sangat dia jaga agar selalu bahagia, tapi ternyata sekarang dia yang jadi penyebab tangis dan kesedihan Dita.


Rendra menepikan mobil setelah melihat situasi jalan yang lengang. Dia melepas sabuk pengaman lalu duduk menyamping, menghadap sang istri.


"Sayang, jangan menangis lagi. Maafkan aku sudah bersikap egois." Rendra mengusap air mata di sudut mata dan pipi istrinya.


"Kita enggak akan ninggalin Ale, Sayang. Kita akan sama-sama terus sama Ale. Maafkan suamimu, ya." Rendra menangkup wajah istrinya, menatap dalam mata yang masih berkaca-kaca itu.

__ADS_1


"Mas, harus minta maaf juga sama Ale," kata Dita lirih.


"Ale, maafkan Baba. Ale, mau kan maafkan Baba." Rendra mengelus kepala Ale yang tertutup kupluk bayi dengan gambar bintang.


Ale yang baru saja bangun, hanya mengedipkan mata.


"Sayang, aku sudah minta maaf sama Ale. Sayang, mau memaafkan aku kan?" Rendra mencium punggung tangan istrinya sambil memandang Dita dengan tatapan memohon.


"Iya, Mas." Dita menganggut.


"Sayang, mau kan kita menginap di hotel bertiga?"


Dita mengangguk sebagai jawaban.


"Alhamdulillah." Rendra menghela napas lega.


"Memangnya kita mau menginap di mana, Mas."


"Di resort saja ya yang nuansanya alam. Nanti aku cari yang buat Ale juga nyaman."


"Iya. Terima kasih, Mas."


Rendra mengernyit. "Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih tidak membuatku jadi istri durhaka dan ibu yang tidak bertanggungjawab." Dita tersenyum pada suaminya.


Rendra tersenyum. Dia kembali mencium punggung tangan istrinya. "Aku yang salah. Aku tidak pantas mendapat ucapan terima kasih. Aku yang seharusnya berterima kasih karena Sayang sudah menyadarkan aku."


"Terima kasih, Bubu Sayang." Rendra sedikit mengangkat tubuhnya lalu mencium kening istrinya.


"Oeee, oeee." Ale yang berada di antara kedua orang tuanya menangis keras.


Dita dan Rendra tertawa, momen romantis mereka terjeda karena tangisan Ale. Rendra kemudian menjauhkan diri dan kembali duduk.


"Anakmu protes karena dicuekin, Mas."


Dita melihat jam digital di atas dashboard mobil. Ternyata sudah waktunya Ale minum susu.


"Mas, tolong ambilkan bantal di belakang. Terus taruh di belakang punggungku." Dita mencari posisi yang nyaman untuk menyusui Ale.


Rendra pun dengan sigap melaksanakan perintah istrinya. Setelah itu Dita mulai menyusui Ale. Tentu saja Ale langsung berhenti menangis karena sudah asyik menikmati sumber kehidupannya.


Rendra menatap kedua orang yang sangat dia cintai itu sedang saling menatap dan bersentuhan. Ada rasa bahagia yang membuncah di dadanya. Dalam hati dia bersyukur karena Allah sudah menganugerahkan istri dan anak padanya. Tidak semua orang bisa mendapatkan kenikmatan seperti apa yang dia rasakan saat ini.


Dia kembali melajukan mobil, pulang ke rumah. Sesampai di rumah, dia segera melakukan pemesanan kamar. Sepertinya semesta mendukung, kamar yang dia inginkan masih tersedia satu. Dia langsung memesan untuk tiga hari, setelah sebelumnya berdebat dengan Dita soal berapa hari mereka akan menginap di resort.


Setelah selesai memesan kamar, dia menyiapkan perlengkapan dan baju Ale yang tidak sedikit. Kalau dulu dia cukup menyiapkan bajunya dan Dita dalam satu koper, kini dia harus menyiapkan segala printilan kebutuhan Ale. Demi kebersamaan dengan istri dan anaknya, dia rela melakukannya. Sementara itu Dita menidurkan Ale setelah tadi kenyang minum susu.


"Coba dicek lagi, Sayang." Rendra menunjukkan barang-barang yang akan mereka bawa. Dita melihat-lihat barang bawaan mereka, terutama yang dibutuhkan Ale.


"Kayanya sudah semua. Tinggal bajuku saja ya, Mas?" Dita menoleh pada suaminya yang sedang memandangi Ale yang tertidur pulas.


"Iya, Sayang. Aku sudah siapkan juga beberapa, tinggal tambahkan saja yang kurang," jawab Rendra.


"Maafkan Baba ya, Nak. Tadi sempat terpikir meninggalkan kamu. Padahal Baba tidak melihat kamu sebentar saja rasanya sudah kangen." Rendra mengelus-elus kening Ale, lalu menciumnya.


"Mas, sudah bilang sama Mama kita mau pergi?"


"Belum. Ini aku baru mau bilang. Kalau sudah selesai packing, Sayang, istirahat saja menemani Ale tidur. Nanti bakda Asar kita baru berangkat." Rendra bangkit dari atas ranjang, lalu keluar kamar untuk menemui mamanya.


Tok ... tok ....


Rendra mengetuk pintu kamar sang mama. Setelah mendapat jawaban, dia segera masuk ke kamar mamanya. Dia melihat Ibu Dewi sedang duduk di depan meja kerja dengan beberapa lembar desain pakaian di sana.


"Mama sedang sibuk?" Rendra duduk di sisi ranjang, menghadap mamanya.


"Tidak, hanya melihat ada yang perlu ditambah apa tidak di desainnya." Ibu Dewi melepas kacamata bacanya, lalu duduk menghadap Rendra. "Ada apa, Ren?"


"Rendra mau menginap di resort selama 3 hari, Ma."


"Sendiri?"


"Sama Dita dan Ale, Ma."


"Tapi Ale masih kecil, jangan diajak pergi jauh, Ren."


"Enggak jauh kok, Ma. Cuma di Ringroad Barat situ, yang di dekat selokan." Rendra menyebutkan nama resort-nya.


"Oh ya sudah. Di sana bagus suasananya. Mama pernah ke sana dengan teman-teman pengajian."


"Nanti Rendra naik taksi online ke sana, Ma."


"Kenapa tidak bawa mobil sendiri? Bawaannya banyak kan?" Ibu Dewi mengerutkan kening.


"Mungkin Mama atau Kak Shasha mau pakai mobil besok atau lusa."


"Mama tidak ada rencana ke mana-mana, Ren. Kak Shasha kayanya juga tidak ada acara. Dia palingan pergi sama Mas Kaisar bawa motor. Kamu bawa mobil saja."


"Di sana Rendra juga enggak ke mana-mana, Ma. Cuma butuh mobil untuk berangkat dan pulang saja."

__ADS_1


"Sudah bawa saja. Kalian lebih membutuhkan daripada mama. Ribet bawa perlengkapan Ale kalau pakai taksi online."


"Ma, sebenarnya Rendra mau beli mobil."


"Buat apa?"


"Buat dipakai Dita kuliah, Ma. Tidak mungkin kan Rendra mengantar jemput Dita pakai motor apalagi bawa perlengkapan untuk memompa asi. Kalau pas Rendra tidak bisa, Dita bisa bawa mobil sendiri."


"Pakai saja mobil yang ada, Ren. Tidak usah beli baru. Mama jarang pergi-pergi. Kalaupun ada acara bisa pakai taksi online. Simpan uangmu untuk Ale atau kebutuhan lainnya."


"Tapi, Ma---."


"Tidak ada tapi-tapian. Mama akan marah kalau kamu sampai beli mobil lagi. Kalau mau ditukar sama yang lebih besar tidak apa-apa, tapi tidak perlu beli mobil lagi. Kamu kan juga mau buka usaha baru, Ren. Lebih baik uang yang untuk beli mobil dipakai untuk mengembangkan usaha saja."


"Iya, Ma." Rendra menundukkan kepala.


Ibu Dewi berdiri lalu menghampiri putranya. Dia duduk di samping Rendra.


"Bukan mama mau ikut campur masalah rumah tangga dan keuanganmu, Ren. Tapi, selama ada kendaraan yang bisa dipakai lebih baik pakai yang ada. Mama tidak pernah mengajarkan kalian untuk hidup boros. Mentang-mentang ada uang langsung beli apa pun yang diinginkan." Ibu Dewi mengelus lembut punggung putranya.


"Kita ini wiraswasta, Ren. Kita harus pandai-pandai mengatur dan menyimpan uang. Usaha selalu berputar tidak selalu di atas, pasti ada kalanya di bawah. Jangan sampai saat kita di bawah, kita tidak punya simpanan yang bisa kita pakai untuk menyambung hidup. Saat kita di atas, kita juga tidak boleh takabur dan berfoya-foya. Saat di atas, kita bisa lebih banyak menyimpan uang dan berbagi pada yang lain."


"Iya, Ma. Maafkan Rendra. Hari ini Rendra banyak khilaf." Rendra menghela napas panjang.


"Maksudmu apa, Ren?" tanya Ibu Dewi tak mengerti.


"Tadi Rendra sudah bersikap egois sama Dita dan Ale sampai Dita nangis, Ma."


Ibu Dewi terkesiap mendengar pengakuan putranya. "Kalian sudah baik-baik saja kan sekarang?"


"Sudah, Ma. Kalau belum baikan, mana mungkin Dita mau diajak pergi menginap."


"Oh, jadi kalian pergi itu untuk merayakan karena sudah berbaikan," tebak Ibu Dewi dengan ekspresi meledek Rendra.


"Mama, nih meledek saja. Bukan itu sih alasan sebenarnya," elak Rendra.


"Apa mama boleh tahu alasan sebenarnya?" Ibu Dewi tersenyum, menggoda Rendra.


"Mmm, itu karena Dita sudah selesai nifas, Ma." Rendra memegang tengkuknya sembari tersenyum malu.


"Dasar ya kamu, Ren. Sudah tidak sabar saja. Kalau mau begitu kan di rumah juga bisa, nanti biar Ale tidur sama mama."


"Enggak asyik kalau di rumah. Momen romantisnya kurang, Ma."


Ibu Dewi tersenyum, mencibir. "Iya, yang merasa pengantin baru terus. Apa mama perlu ikut menginap di sana buat menjaga Ale?"


"Tidak perlu, Ma." Rendra menggeleng cepat.


Ibu Dewi kembali tersenyum. "Perlakukan Dita dengan lembut. Jangan memforsir kalau dia merasa lelah. Lebih kendalikan diri, Ren, jangan berlebihan. Kasihan menantu mama kalau kamu forsir. Ingat, ada Ale di antara kalian."


"Iya, Ma. Rendra mau siap-siap dahulu, Ma. Nanti habis Asar, kami berangkat."


Ibu Dewi menyengguk. "Iya."


...---oOo---...


Jogja, 101021 23.59


Assalamualaikum wr. wb.


Apa kabar semuanya?


Semoga teman-teman kabarnya baik dan sehat selalu.


Saya mau curhat, boleh ya 🤭🤭🤭


Sebenarnya ini kegelisahan saya dari lama. Dan juga yang dirasakan oleh beberapa teman sesama penulis dan segelintir pembaca yang peduli dengan penulis.


Saya ingin bertanya pada teman-teman, kriteria cerita seperti apa yang pantas untuk mendapatkan gift (hadiah) dan vote?


Apakah gift (hadiah) dan vote itu hanya pantas untuk penulis dengan jumlah pembaca jutaan?


Atau hanya akan diberikan dengan loyal saat ada giveaway bagi yang memberikan gift (hadiah) terbanyak?


Apakah penulis pemula dan receh seperti saya dan beberapa teman penulis dengan sedikit pembaca tidak pantas mendapatkannya meski hanya setangkai mawar?


Ataukah memang cerita kami hanya pantas dibaca, disukai dan dikomentari tanpa layak mendapatkan gift (hadiah) dan vote?


Di aplikasi NT atau MT ini, teman-teman hanya perlu mengeluarkan kuota internet untuk bisa membaca tanpa harus membayar dengan koin atau poin. Poin bisa didapatkan dengan gratis dengan menjalankan misi.


Apa tidak bisa sekitarnya teman-teman sedikit menghargai kami (penulis) dengan memberikan gift (hadiah) meski hanya dengan setangkai mawar?


Saya sungguh sangat prihatin dengan beberapa penulis bagus yang hanya sedikit mendapatkan penghargaan dari pembaca. Kebanyakan pembaca hanya memberikan hadiahnya pada penulis dengan jutaan pembaca atau saat ada giveaway saja.


Saya pribadi, selalu memberikan hadiah setiap selesai membaca novel untuk menghargai penulis lain yang sudah meluangkan waktu dan pikiran untuk bisa menulis cerita.


Saya hanya memohon, tolong lebih hargai penulis seperti kami.


Kami sudah sangat berterimakasih tulisan kami sudah dibaca, tapi kami akan menjadi lebih bahagia dan semangat bila kami lebih dihargai.

__ADS_1


Terima kasih sudah dibaca curhatan ini, mohon maaf lahir dan batin bila ada yang merasa tersakiti atau tersinggung. 🙏🙏🙏


Wassalamu'alaikum wr. wb.


__ADS_2