
Setelah Adi duduk di kursi pemeriksan, sama seperti Adelia, dia pun diminta menyebutkan identitasnya oleh Hakim Ketua.
"Nama saya Adindra Kusuma, umur 30 tahun, beralamat di ...."
"Apakah Saudara kenal dengan terdakwa?" tanya Hakim Ketua.
"Ya, saya kenal, Yang Mulia."
"Apa Saudara memiliki hubungan dengan terdakwa?"
"Tidak, Yang Mulia."
"Saksi yang pertama tadi istri Saudara?"
"Benar, Yang Mulia."
"Saksi pertama mengatakan bahwa terdakwa memperkenalkan diri sebagai cinta pertama Saudara, apa benar?"
"Ya, benar, Yang Mulia. Tapi itu sudah tujuh tahun yang lalu."
Hakim ketua menganggukkan kepala. "Apa Saudara dalam keadaan sehat dan siap untuk bersaksi?"
"Siap, Yang Mulia."
Hakim ketua lalu meminta Adi bersumpah sebelum memberikan kesaksian. Setelah itu mulai mengajukan pertanyaan padanya. Kemudian dilanjutkan oleh hakim anggota, jaksa penuntut umum dan pengacara Sekar Ayu. Selesai Adi memberikan keterangan, hakim ketua bertanya pada Sekar Ayu. "Bagaimana pendapat Saudari Terdakwa atas keterangan saksi kedua?"
"Saya keberatan, Yang Mulia," sahut Sekar Ayu yang membuat Adi mengalihkan perhatian padanya.
"Bagian mana yang membuat Saudari keberatan?" tanya hakim ketua.
"Saudara Saksi tidak mencintai saya lagi dan mengatakan saya terobsesi dengan dia," jawab Sekar Ayu.
"Saya keberatan, Yang Mulia," sela Adi. "Apa yang saya katakan itu benar. Saya sudah tidak mencintai terdakwa sejak tujuh tahun yang lalu. Sekarang yang saya cintai hanya istri saya dan kami bahagia karena sedang menanti kelahiran anak pertama kami."
"Tindakan terdakwa yang selalu mengusik saya dan istri itu apa namanya kalau bukan obsesi? Saya sudah menjelaskan berkali-kali kalau sudah bahagia dengan istri, tapi terdakwa tidak peduli. Bahkan di sidang ini pun, Yang Mulia dan semua orang bisa melihat sikap terdakwa pada saya. Saya sudah tidak tahu lagi bagaimana menjelaskannya. Kebenaran mengenai obsesi ini silakan ditanyakan dengan yang lebih ahli," lanjutnya.
"Saksi berbohong, Yang Mulia. Kami masih saling mencintai," seru Sekar Ayu.
"Sekar! Jangan sembarangan bicara kamu!" hardik Adi.
Hakim ketua mengetuk palu agar situasi kembali tenang karena banyak yang menimpali ucapan Sekar Ayu. "Harap tenang semuanya. Tolong hormati persidangan hari ini," tegas sang hakim.
"Jaksa penuntut umum, apa bisa menghadirkan saksi ahli soal obsesi ini?" tanya hakim ketua.
"Kami sudah menjadwalkannya, Yang Mulia," jawab jaksa penuntut umum.
"Kesaksian Saudara Saksi sudah cukup, silakan meninggalkan area sidang," perintah hakim ketua.
"Baik, Yang Mulia." Adi bangkit dari kursi pemeriksaan lalu kembali ke kursi pengunjung.
"Mas Adi, kalau Mas tidak mau menceraikan Adelia, aku mau jadi istri kedua Mas," teriak Sekar Ayu yang sekali lagi mendapat teriakan dari para pengunjung sidang. Ruang sidang jadi riuh kembali.
Hakim kembali mengetuk palunya. "Tenang semuanya. Saudari Terdakwa jaga ucapan dan perilaku Saudari di ruang sidang ini."
Adi menggenggam tangan Adelia. "Ai, jangan dengar dan masukkan ke hati apa yang Sekar katakan. Percayalah, hanya Ai yang aku cintai dan jadi satu-satunya istriku," ucapnya untuk menenangkan dan meyakinkan sang istri.
Adelia pun menggerakkan kepala ke bawah. "Iya, Mas. Aku percaya sama Mas Adi," timpalnya.
"Terima kasih, Ai. Kita pulang saja ya, nanti Ai capai. Kasihan juga Dita sama Ale kalau kelamaan munggu," ajak Adi.
"Iya, Mas. Kayanya Mbak lapar ini dari tadi nendang-nendang terus." Adelia mengelus perut buncitnya.
__ADS_1
Akhirnya Adi, Adelia, Rendra, dan Ibu Dewi pulang terlebih dahulu. Pak Lukman, Ibu Sarah, Arsenio, Pak Wijaya, Ibu Hasna, Kaisar, Shasha, dan Nisa tetap tinggal di sana mengikuti jalannya sidang. Meskipun Shasha juga sedang hamil, tapi dia ingin menikmati kebersamaan bersama suaminya yang belum tentu setiap hari pulang. Duduk berdampingan dan saling menggenggam tangan cukuplah untuk menggantikan hari-hari yang hilang.
Saat Rendra menjemput anak dan istrinya, Ale sedang menangis karena mengantuk, tapi tidak bisa tidur. Rendra mengambil alih mengendong Ale dan membantu Dita membawa perlengkapan putranya itu. Setelah masuk ke dalam mobil, Ale sedikit tenang.
Batita itu tapi kembali mencari Dita. "Bubu, cucu," ucapnya.
"Iya, bubu di sini. Minum pakai botol ya?"
Ale menggeleng. "No." Dia lalu melepaskan diri dari Rendra dan berpindah ke Dita yang duduk di samping. Duduk di pangkuan sang bubu lalu membuka hijab untuk meminum susu langsung dari sumbernya.
"Eh, malu itu loh dilihat sama pakde dan bude, pakai botol saja ya," bujuk Dita.
"No. Cucu, Bubu," teriak Ale.
"Sudah dituruti saja. Kasihan Ale pasti capai dan kepanasan. Ini juga sudah lewat jam tidurnya," tutur Ibu Dewi.
"Mas, tolong ambilkan apronnya," pinta Dita pada Rendra yang dengan cekatan langsung memberikannya pada sang istri
"Cucu, cucu," teriak Ale lagi.
"Iya, Ale minum susu. Bubu pasang ini dulu biar enggak malu sama pakde dan bude. Oke, Ale Anak Saleh."
Ale mengangguk. Setelah apron terpasang, Ale segera membenamkan diri, menyesap sumber kehidupannya.
"Kita mau makan di mana nih?" tanya Adi yang memegang kemudi.
"Ke rumah makan yang bahan dasarnya dari jamur saja, Mas. Dekat kok dari sini," usul Rendra.
"Wah, boleh juga tuh. Nanti kabari yang lain juga biar menyusul ke sana. Ai, mau kan?" Adi beralih pada sang istri.
Adelia menyengguk. "Mau, Mas. Penasaran dari dulu belum pernah coba."
"Arahnya ke mana ini, Rend?" tanya Adi.
"Dekat banget ya, Rend?"
"Kalau tidak kena lampu merah lima menit sampai, Mas."
Adi melajukan kendaraannya ke arah utara, menyusuri Jalan Magelang dari alun-alun Sleman. Mobil kemudian berhenti di simpang empat Beran karena lampu lalu lintas berwarna merah.
"Ini nanti kita belok kanan ya, Mas." Rendra memberi arahan pada sang kakak ipar.
Setelah lampu berubah hijau, Adi mengarahkan mobil ke kanan, menyusuri Jalan Pandowoharjo sepanjang 750 meter. Begitu di kiri jalan terlihat tulisan Jejamuran, tibalah mereka di tempat tujuan.
"Ya, di sini tempatnya, Mas. Mau turun dulu di sini apa bareng-bareng di tempat parkir saja? Parkirnya di sebelah kanan, Mas. Sepertinya tidak penuh. Kalau penuh kita harus parkir di sebelah sana." Rendra menunjuk ke arah depan.
"Ya sudah, kita turun bersama saja. Nanti Ale malah rewel lagi kalau turun terburu-buru," putus Adi yang langsung membelokkan fortuner-nya ke tempat parkir. Karena belum jam makan siang dan bukan tanggal merah jadi tempat parkir masih lengang. Setelah mobil terparkir dengan rapi, satu per satu turun dari mobil.
Rendra membantu Dita memasang gendongan dahulu karena Ale sudah tenang dan baru saja tertidur meski belum melepaskan salah satu sumber kehidupannya. Setelah itu dia membawakan perlengkapan putranya, berjaga-jaga kalau nanti Ale terbangun. Adi membantu mengeluarkan stroller dari bagasi. Mereka kemudian berjalan bersama menuju ke rumah makan.
Begitu masuk ke rumah makan, mereka disambut dengan berbagai macam tanaman jamur yang dipakai sebagai bahan dasar masakan mereka. Ada juga spot untuk berfoto di sana dengan latar tanaman jamur dan sepeda model lama.
"Selamat datang di Jejamuran. Meja untuk berapa orang?" tanya salah satu karyawan dengan ramah.
"Tiga belas orang, Mbak. Ini baru lima orang, nanti yang delapan menyusul," jawab Adi.
"Baik, Pak. Mari saya antarkan ke mejanya." Karyawan tersebut berjalan di depan mereka.
Sebelum memasuki area makan, ada konter yang menjual berbagai macam produk jamur untuk dijadikan oleh-oleh. Ada jamur krispi kemasan, juga ada berbagai macam masakan dari jamur yang dikemas dalam bentuk kaleng. Setelah itu mereka melewati lorong yang di sampingnya terdapat kolam ikan. Bagian kiri dan kanan terdapat tanaman yang membuat suasana menjadi sejuk. Di tengah restoran ada taman yang bisa dijadikan spot foto atau untuk bermain ayunan.
Memasuki area makan, mereka memilih meja yang panjang, bisa untuk belasan orang. Adi menarik kursi untuk Adelia, begitu juga Rendra melakukannya untuk sang mama dan Dita.
__ADS_1
"Silakan dipilih dulu menunya. Nanti bisa panggil saya kalau sudah selesai." Karyawan tersebut memberikan dua buku menu pada mereka.
"Baik, terima kasih, Mbak."
Menu makanan yang ada di sana mayoritas berbahan dasar jamur. Ada sate jamur dengan bumbu kacang dan kecap, tongseng jamur, rendang jamur, pepes jamur, jamur goreng penyet, tom yum jamur, sup jamur, lumpia/risoles jamur, martabak jamur, dan masih banyak lagi. Minuman mereka juga bervariasi dari teh, jeruk, aneka macam wedang tradisional, bahkan jamu pun ada seperti kunyit asam dan beras kencur.
Setelah melihat-lihat buku menu mereka memesan sate jamur, tongseng jamur, rendang jamur, jamur tiram asam manis, tumis brokoli shitake dan lumpia jamur. Untuk minumannya mereka memilih es teh dan es jeruk.
"Rend, kamu sudah mengabari yang lain?" Adi bertanya pada adik iparnya.
"Sudah di grup, Mas. Arsen sama Nisa juga sudah menjawab oke terus minta share loc. Mungkin sebentar lagi mereka ke sini," jawab Rendra.
Adi mengangguk. "Ale sudah tidur, Dek?" Dia beralih pada adik semata wayangnya.
"Alhamdulilah sudah. Kecapaian dia lari-larian terus. Seneng banget kayanya bisa bebas lari ke mana saja tidak hanya di dalam rumah." Dita mengusap kening Ale yang mulai berkeringat.
"Tinggal di rumah ayah bakal betah dia."
"Tapi ngeri kalau ke belakang rumah, Mas. Kan banyak kolam ikannya ayah."
"Iya, disuruh main di halaman depan saja."
"Mana mau di depan terus. Dia maunya lihat ikan soalnya ayah suka ngajak Ale kalau kasih makan ikan. Ale suka lihat ikan-ikannya rebutan makanan." Dita menggeleng-gelengkan kepala berulang kali mengingat kebiasaan sang putra tercinta.
"Persis dulu kaya Rendra itu," celetuk Ibu Dewi.
"Serius, Ma?" tanya Dita penuh antusias.
"Iya, malah pernah sampai kecebur ke kolam ikan. Untung saja langsung ketahuan papanya. Begitu tahu, papanya terus turun ke kolam narik dia. Habis jatuh, besoknya ke kolam lagi. Tidak kapok meski sudah jatuh. Tapi Rendra jadi lebih hati-hati." Ibu Dewi mengenang masa kecil Rendra.
"Like father like son ya, Mas." Dita mengerling pada sang suami.
"Itu jadi salah satu bukti nyata kalau Ale memang anakku," timpal Rendra penuh percaya diri.
"Ya kalau bukan anak Mas Rendra anaknya siapa? Dari wajahnya saja sudah sebelas dua belas kok," beber Dita yang membuat semua orang tertawa.
"Mas, tolong lepaskan apronnya," pinta Dita pada sang suami setelah tawanya mereda.
"Ale sudah selesai?" tanya Rendra memastikan. Karena putranya itu biasanya lama kalau menyusu pada bubunya.
"Sudah, barusan. Lagian ini juga sudah keringatan. Pasti panas karena tertutup apron."
Rendra pun membantu melepas apron menyusui. Melipatnya lalu memasukkan ke dalam tas perlengkapan Ale. "Ale mau dipindah ke stroller?"
"Jangan! Nanti saja. Biar dia nyenyak dulu." Dita menepuk-nepuk bokong sang putra.
Tidak lama kemudian makanan dan minuman yang mereka pesan satu per satu mulai dihidangkan di atas meja.
"Sayang, coba satenya nih, enak banget." Rendra menyodorkan satu tusuk sate pada Dita.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Dita sebelum memasukkan sate jamur ke dalam mulutnya.
"Masya Allah, enaknya. Tidak terasa kalau makan jamur. Rasanya manis, tanpa ditambah bumbu kacang sama kecap juga sudah enak," komentar Dita yang diiakan oleh yang lain.
Rombongan yang tadi tetap tinggal di pengadilan akhirnya tiba. Mereka kembali memesan makanan dan minuman sesuai selera masing-masing. Begitu semua pesanan sudah datang, mereka mulai makan bersama dalam suasana yang ceria. Mereka memuji rasa masakan di restoran tersebut yang semuanya terasa lezat di lidah. Bahkan memesan untuk dibawa pulang.
...---oOo---...
Jogja, 030622 23.16
Maunya up tipis-tipis tapi sering atau panjang tapi jarang? š¤
__ADS_1
Semoga tidak ada kesalahan nama karakter atau tertukar dengan Dewa Alay karena tadi sempat salah ketik š
Yang mau liburan ke Jogja jangan lupa mampir di Jejamuran, kebetulan lokasinya tidak begitu jauh dari tempat saya tinggal š¤