Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Can We Start Now


__ADS_3

Kini, Dita mengalami mual dan muntah setiap pagi. Dimulai saat dia bangun tidur untuk menjalankan salat Subuh sampai letak matahari agak tinggi. Dia baru bisa makan kalau sudah menjelang pukul 10.00 pagi. Selama Subuh sampai saat itu, dia hanya minum air jahe hangat dan madu. Selagi di rumah Pak Wijaya, bundanya setiap pagi selalu membuatkan rebusan air jahe dan madu untuk Dita. Ibu Hasna tak lupa mengajari Rendra cara menyiapkannya, berjaga kalau nanti mereka kembali ke rumah Ibu Dewi.


Setiap hari aktivitas Dita lebih banyak di kamar, berbaring ditemani suaminya. Dia akan marah dan mengambek kalau Rendra tidak menemaninya. Kemarin saat Rendra meninggalkannya karena membantu Adi memotong dan membersihkan dahan pohon mangga yang menjulur ke jalan, Dita jadi uring-uringan. Dia menuduh Rendra tidak mencintai dan memedulikannya lagi. Sampai-sampai semua orang membujuknya agar mau memaafkan Rendra. Dia baru mau dekat dengan Rendra saat mau tidur karena dia tidak bisa tidur jika tidak dipeluk suaminya.


Adi merasa kasihan dan prihatin melihat adik iparnya yang harus selalu bersabar menghadapi Dita. Dia tidak berani membayangkan kalau nanti Adelia hamil akan seperti itu. Setiap kali adik semata wayangnya berulah, dia selalu berdoa di dalam hati semoga saat istrinya hamil nanti tidak merepotkan.


Setelah lima hari menginap di rumah Pak Wijaya, mereka berempat kembali pulang ke kota. Ibu Hasna membekali jahe dan mangga untuk putri bungsunya. Dita sempat menangis sesenggukan saat berpamitan dengan bundanya. Dia merasa sedih harus berjauhan dengan sang bunda. Ibu Hasna sampai harus menenangkan dan memberi pengertian pada Dita.


Adi kembali pada rutinitasnya bekerja. Adelia juga mulai fokus lagi mengerjakan skripsi yang sudah masuk bab 4. Dita masuk kuliah dengan penuh perjuangan karena dia masih mengalami morning sickness. Dia harus melawan rasa mual setiap masuk kuliah pagi. Dia sampai membawa bekal untuk mengurangi mualnya. Rendra pun dengan setia menunggu istrinya di kampus bila Dita hanya masuk satu mata kuliah.


Adelia setiap bimbingan skripsi ke kampus selalu berangkat dengan Dita dan Rendra atau diantar suaminya, karena Adi tidak pernah mengizinkannya pergi sendiri. Sementara pulangnya kalau tidak bersama adik iparnya, ya dijemput Arsenio. Adi tidak pernah memberi tahu alasan sebenarnya kenapa dia tidak melepas istrinya pergi sendiri. Adi tidak mau membuat Adelia khawatir. Dia selalu beralasan kalau wanita pergi harus ditemani mahramnya.


Saat Adelia sedang mengerjakan skripsi, tak jarang Adi sering membantu kalau istrinya merasa bingung atau sudah mentok idenya. Yah, salah satu keuntungan mereka kuliah di jurusan yang sama, bisa saling membantu. Apalagi mereka kuliah di almamater yang sama hanya berbeda angkatan.


"Alhamdulillah." Adelia meregangkan tangan setelah dia selesai mengetik.


"Sudah selesai, Ai?" tanya Adi yang duduk tak jauh dari istrinya di ruang tengah.


"Sudah, Mas." Adelia mulai merapikan kertas-kertas dan bukunya yang berserakan di meja dan sofa.


Malam ini mereka berdua sama-sama sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Adelia dengan skripsinya dan Adi dengan pekerjaannya yang dia bawa pulang. Adi sekarang jarang mengambil lembur kecuali kalau mendesak. Karena itu dia sering membawa pulang pekerjaannya. Dia tidak tega istrinya tinggal sendirian di rumah. Kalau dia memang harus lembur, pasti dia menyuruh Adelia pulang ke rumah Pak Lukman. Nanti dia akan menjemput istrinya sepulang lembur.


"Tunggu sebentar, Ai. Aku tinggal sedikit lagi selesai," ucap Adi.


"Iya, santai saja, Mas." Adelia tersenyum pada suaminya sambil merapikan semua barang-barangnya.


"Ai," panggil Adi tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di depannya.


"Iya, Mas."


"Ai, besok ingin kita bulan madu ke mana?" tanya Adi seraya menoleh pada istrinya.


"Ke mana saja lah. Tapi apa kita masih perlu bulan madu, Mas?" Adelia memandang suaminya.


"Perlu lah. Dita sama Rendra saja sudah dua kali bulan madu. Mereka juga sering liburan berdua meski hanya di seputaran Jogja, short getaway gitu. Masa kita enggak bulan madu? Biar ada kenangan istimewanya, Ai."

__ADS_1


"Setiap waktu yang aku lewati dengan Mas Adi rasanya selalu istimewa, Mas," tutur Adelia dengan tersipu.


Adi tersenyum mendengar penuturan istrinya. Apa Adelia sedang menggombal padanya?


"Itu juga istimewa, Ai. Tapi, apa Ai enggak ingin kita pergi liburan berdua? Just two of us." Adi menatap mata istrinya.


"Kalau ada kesempatan dan waktu ya aku mau saja, Mas."


"Insya Allah, besok setelah selesai semua resepsi kita bulan madu. Biar aku sekalian mengajukan cutinya," kata Adi.


"Benar, Mas?" tanya Adelia dengan wajah berbinar-binar.


Adi menganggut. "Tentu saja, Ai. Makanya aku tanya Ai mau pergi ke mana?"


"Aku sama sekali belum kepikiran ke mana, Mas." Adelia mengangkat kedua bahunya.


"Kalau begitu, besok kalau Ai ada waktu coba cari info tempat bulan madu yang menarik. Aku percayakan sepenuhnya pada Ai. Masalah biaya tidak masalah, asal tidak sampai 100 juta," kelakar Adi.


"Ish, janganlah kalau sampai segitu. Sayang banget uangnya, Mas. Nanti deh aku cari yang budget-nya tidak terlalu mahal tapi keren tempatnya."


"Mas, sudah selesai belum? Aku mau ke kamar sebentar memasukkan barang-barangku ini." Adelia menunjuk dengan dagunya.


"Sudah, tinggal cek akhir. Ai, ke kamar duluan enggak apa-apa. Tapi jangan tidur dulu ya."


"Iya, kalau begitu aku tunggu di kamar ya, Mas."


Adi menganggut kemudian Adelia berlalu masuk ke kamar dengan membawa barang-barangnya. Setelah meletakkan semua barangnya di tempat semula, Adelia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan wudu sebelum tidur. Tak lupa dia membawa baju tidur yang disukai suaminya, gaun satin tipis dengan tali satu di bahunya.


Saat Adelia ke luar dari kamar mandi, ternyata suaminya sudah berada di kamar. Adi duduk di sisi ranjang yang dekat dengan kamar mandi.


"Loh, Mas Adi, sudah selesai? Kok cepet banget," tanya Adelia.


"Besok pagi saja ngeceknya setelah Tahajud. Aku sudah enggak fokus tadi, Ai," jawab Adi dengan alasannya.


"Aku ambilkan baju dulu ya, Mas." Adelia bergegas menuju lemari pakaian untuk mengambil baju tidur suaminya. Ketika dia selesai menyiapkan baju, ternyata suaminya sudah masuk ke kamar mandi. Akhirnya bajunya dia letakkan di atas ranjang.

__ADS_1


Sambil menunggu Adi selesai, Adelia melakukan perawatan wajah sebelum tidur. Pertama-tama dia memakai toner wajah untuk mengangkat sisa sabun muka di pori-pori wajah dan untuk menyeimbangkan PH wajah. Setelah itu dia memakai serum untuk wajah. Sesudah serum meresap, kemudian dia memakai krim mata dan krim wajah.


Adi ke luar dari kamar mandi bertepatan dengan Adelia yang sudah selesai melakukan perawatan malam untuk wajahnya. Adelia terkesiap karena dari kaca dia melihat Adi menghampirinya dengan hanya memakai bokser dan bertelanjang dada. Adi lalu memeluknya dari belakang sambil mencium belakang telinganya.


"Mmmhhh, istriku wangi sekali. Tahu saja ya cara membahagiakan suaminya." Adi berbisik di samping telinga istrinya dengan mata saling bertatapan di kaca.


Adelia tersenyum malu pada suaminya. Rona merah menghiasi pipinya yang putih.


"Sudah selesai belum, Ai?"


"Sudah, Mas."


Adi lalu berdiri di samping kursi Adelia. Tiba-tiba dia mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya ke ranjang.


"Tolong dimatikan lampu utamanya, Ai. Ganti dengan lampu tidur," pinta Adi saat mereka sudah di dekat sakelar lampu kamar.


Tanpa menjawab, Adelia menjulurkan tangannya menggapai sakelar lampu dan melakukan perintah suaminya. Setelah itu Adi membaringkannya dengan pelan di atas ranjang, seolah dia barang rapuh yang harus dijaga agar tidak rusak atau pecah.


"Ini sudah tiga hari kan, Ai. Saatnya kita memproduksi dedek bayi." Adi menyunggingkan senyum menggoda.


"Mas, kalau nanti aku belum hamil gimana?" tanya Adelia yang tampak khawatir karena takut tidak bisa memenuhi keinginan suaminya yang ingin segera punya anak.


"Berarti kita harus rajin produksi sampai Ai hamil." Adi mengedipkan sebelah matanya.


"Mas Adi, enggak akan kecewa?" tanya Adelia lagi.


"Mungkin rasa kecewa pasti ada, tapi kembali lagi itu semua takdir dari Allah. Jodoh, hidup, mati, rezeki sudah digariskan. Tugas kita sebagai manusia hanya berusaha, berdoa dan bertawakal. Hasil akhir biarlah Allah yang menentukan. Kalau ternyata kita belum dikasih amanah berarti Allah punya rencana yang indah untuk kita. Mungkin Allah ingin kita pacaran dan saling mengenal dulu sebelum memberi kita momongan. Ai, jangan berpikir yang tidak-tidak, ya." Adi mengusap-usap pipi halus istrinya.


"Iya, Mas."


Adi lalu tersenyum. "Can we start now?"


Adelia menyengguk tanpa menjawab suaminya. Adi pun memulai hobi barunya, memproduksi dedek bayi.


...---oOo---...

__ADS_1


Kulon Progo, 130721 00.55


__ADS_2