
Proses persidangan Sekar Ayu berjalan dengan lancar. Kaisar dan Arsenio yang selalu datang dan memantau jalannya persidangan. Sementara yang lain hanya mendengar laporan dari kedua orang tersebut.
Adelia, yang menjadi korban, sama sekali tidak tertarik mengikuti persidangan. Dia ingin fokus dengan kehamilan dan melakukan terapi dengan psikolog untuk menghilangkan rasa traumanya. Berapa pun hukuman yang nanti dijatuhkan pada Sekar Ayu, dia tidak peduli. Itu sudah menjadi urusan hakim di pengadilan.
Saat sidang pembacaan putusan, Adi dan Pak Lukman datang ke pengadilan. Mereka ingin mendengar sendiri hukuman yang diterima oleh Sekar Ayu.
Setelah Hakim Ketua membuka sidang, dia menjelaskan bahwa acara sidang hari ini adalah pembacaan putusan. Sebelum putusan dibacakan, Hakim Ketua meminta agar para pihak yang hadir memperhatikan isi putusan dengan saksama. Sang hakim lalu mulai membaca isi putusan.
Saat akan membacakan amar putusan, Hakim Ketua memerintahkan Sekar Ayu untuk berdiri di tempat.
"... 1. Menyatakan terdakwa Sekar Ayu telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana percobaan melakukan pembunuhan dan penganiayan. 2. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama tujuh tahun ...."
Setelah amar putusan dibacakan seluruhnya, Hakim Ketua mengetuk palu satu kali dan mempersilakan Sekar Ayu duduk kembali.
Pengacara dan Sekar Ayu kemudian berunding untuk menentukan sikap setelah mendengar amar putusan. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengajukan banding. Sementara pihak jaksa penuntut umum menyatakan pikir-pikir.
Pak Lukman, Adi, dan Arsenio cukup puas menerima putusan para hakim. Mereka berharap dengan hukuman penjara selama itu, Sekar Ayu sadar dan tidak mengulangi lagi perbuatannya. Kalaupun wanita itu mengajukan banding, biarlah nanti urusan hakim pengadilan tinggi yang akan menentukan bagaimana hasilnya. Yang paling penting sekarang, mantan cinta pertama Adi itu dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara.
Malam harinya, keluarga besar mereka berkumpul di rumah Adi. Mereka melakukan syukuran karena proses persidangan Sekar Ayu sudah selesai di tingkat pengadilan negeri. Tinggal nanti menunggu hasil putusan dari pengadilan tinggi.
"Sekarang kalian berdua tinggal fokus pada kehamilan Mbak Adel dan mempersiapkan mental jadi orang tua," nasihat Pak Lukman.
"Iya, Pa," sahut Adi dan Adelia bersamaan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Sabtu depan kita mengadakan acara tujuh bulanan? Mama ingin mengundang keluarga dan teman-teman mama biar mereka tahu mama sebentar lagi punya cucu," usul Bu Sarah yang sangat antusias menyambut kehadiran cucu pertamanya.
Adi dan Adelia saling pandang, sebelumnya mereka pernah membicarakan hal tersebut berdua. Sebenarnya mereka tidak berniat melakukannya karena itu tidak ada dalam ajaran Islam. Namun, untuk menghormati Bu Sarah yang sangat menginginkan acara tersebut diadakan, mereka berdua pun menyetujui.
"Mbak, mau konsep acaranya bagaimana?" tanya sang mama.
"Terserah, Mama. Aku ikut saja karena enggak paham," jawab Adelia.
"Kalau begitu mama yang atur ya semuanya. Mau di sini atau di rumah sana?"
"Di sini saja, Ma," sahut Adi.
"Oke, nanti mama akan hubungi EO-nya biar besok ngecek ke sini buat dekorasinya," ujar Bu Sarah.
"Bisa sama pengajian 'kan, Ma?" tanya Adi.
"EO-nya ini sudah biasa mengurusi acara tujuh bulanan, jadi kita tinggal terima beres dan menentukan konsep acaranya bagaimana. Tenang saja pokoknya," imbuhnya.
"Oh ya, Jeng Dewi, bisa 'kan bikin seragam dadakan untuk keluarga?" Bu Sarah kini beralih pada mamanya Rendra.
"Insya Allah, bisa. Mau bikin kebaya atau gamis?" sahut Bu Dewi.
"Kalau aku kebaya saja, kalau Jeng Hasna mungkin gamis. Nanti aku tanyakan ya." Kedua wanita paruh baya itu lalu larut dalam obrolan untuk menentukan jenis kain dan juga desain pakaian seragam keluarga.
__ADS_1
***
Pada hari pelaksanaan tujuh bulanan tiba, garasi dan depan rumah Adi sudah dihias sedemikian rupa untuk acara tersebut. Dekorasi acara dan tenda didominasi warna merah muda dengan hiasan bunga-bunga berwarna pastel. Tenda dipasang sampai di depan rumah Bu Dewi karena mereka mengundang banyak orang. Selain tetangga, kerabat Adelia, juga beberapa teman dekat Bu Sarah dan Pak Lukman.
Acara tujuh bulanan atau mitoni merupakan salah satu tradisi Jawa. Kata mitoni berasal dari kata ’pitu′ (tujuh) yang artinya adalah pitulungan atau pertolongan. Tujuan menyelenggarakan mitoni atau tingkeban saat kehamilan tujuh bulan yaitu memohon keselamatan kepada Tuhan agar ibu yang melahirkan diberikan kelancaran, dan bayi yang dilahirkan selamat, sehat dan tak kurang apa pun. Mitoni ini sebenarnya tidak dapat diselenggarakan sewaktu-waktu, biasanya dipilih hari yang dianggap baik dan dilakukan pada waktu siang atau sore hari.
Dahulu mitoni dilakukan di tempat yang disebut dengan pasren, yaitu senthong tengah (1). Pasren adalah tempat untuk memuja Dewi Sri, dewi padi. Karena di rumah Adi tidak punya pasren maka dilakukan di halaman rumah.
Acara syukuran tujuh bulanan Adelia dimulai dengan pengajian. Ibu hamil itu mengenakan gamis berwarna pastel dan Adi mengenakan baju takwa berwarna senada dan celana bahan hitam. Mereka duduk bersisian dan mendengarkan dengan khusyuk apa yang disampaikan oleh ustaz. Isi ceramah sang ustaz tentang bagaimana mendidik anak yang sesuai dengan ajaran agama Islam.
Setelah ceramah selesai dan doa-doa dipanjatkan untuk kesehatan dan keselamatan calon ibu dan bayi, acara selanjutnya adalah sungkeman. Pertama-tama Adelia sungkem pada Adi. Kemudian mereka berdua melakukan sungkeman pada Pak Wijaya, Bu Hasna, Pak Lukman, dan Bu Sarah. Sungkeman itu untuk memohon doa restu agar proses kehamilan dan kelahiran kelak berjalan dengan lancar dan selamat.
Adelia kemudian ganti memakai manset warna kulit dan badannya dililit dengan kain basahan dan mori putih. Tubuh bagian atas ditutup dengan rangkaian melati dan mengenakan bando melati di kepala. Sesudah itu Adelia dengan didampingi Adi, ke garasi karena acara siraman dilakukan di sana.
Siraman merupakan simbol penyucian sang calon ibu dan anak yang ada di dalam kandungan. Air siraman yang dipakai berasal dari tujuh mata air yang dimasukkan ke dalam jambangan bersama bunga setaman. Eyang buyut Adelia yang merupakan sesepuh, yang pertama kali melakukan siraman. Dia mengguyur Adelia dengan menggunakan gayung atau siwur yang terbuat dari batok kelapa yang masih ada daging buahnya. Kemudian dilanjutkan oleh Eyang putri dari mama dan papanya, Bu Sarah, Bu Hasna, Bu Dewi, dan salah satu kerabat Adelia. Totalnya ada tujuh orang wanita yang melakukan siraman.
Selesai dimandikan, Adelia wudu menggunakan air dari dalam kendi sambil berdoa. Bu Hasna dan Bu Sarah memegang kendi bersama, lalu memecahnya dengan cara dijatuhkan ke tanah. Konon, bentuk pecahan dari kendi bisa memprediksi jenis kelamin si jabang bayi.
Setelah itu Adelia mengganti kain yang basah dengan kain jarik kering. Kemudian perutnya dilingkari letrek. Bu Hasna menjatuhkan teropong (alat tenun) ke dalam letrek sambil berkata, "Lanang arep, wedok arep, waton slamet. Turas. Turas. Metu waras. Waras ibune, waras bayine." (Laki-laki mau, perempuan mau, asal selamat. Turas. Turas. Lahir sehat. Sehat ibunya, sehat bayinya). Bu Sarah kemudian menerima teropong tersebut. Sesudah itu Bu Sarah menjatuhkan cengkir gading sambil mengatakan hal yang sama seperti sang besan, "Lanang arep, wedok arep, waton slamet. Turas. Turas. Metu waras. Waras ibune, waras bayine."
Adelia kemudian dilingkari janur. Adi datang dengan mengenakan beskap dan bawahan kain. Calon ayah itu menghunus keris untuk memotong janur. Adi mundur tiga langkah kemudian lari dengan cepat. Prosesi brojolan ini sebagai simbol membuka jalan lahir, agar dimudahkan proses persalinannya kelak.
Catatan:
__ADS_1
(1) Senthong adalah ruang yang terletak di bagian belakang rumah dengan posisi lebih tinggi dari lantai bawah.
Senthong dibagi menjadi tiga bagian; senthong kanan, senthong kiri, dan senthong tengah.