
"Kalau Mas Adi mau kita buka lebih cepat, dan kantornya sementara di kafe, ya enggak masalah. Tapi, tunggu sampai Dita selesai magang dulu," ujar Rendra saat Adi mengajaknya bicara soal membuka perusahaan properti.
Malam ini Adi mengajak Rendra dan Dita untuk makan malam bersama. Mereka pergi ke pusat perbelanjaan yang ada di Jalan Solo. Adi pernah berjanji mau mengajak adiknya makan sukiyaki dan dia baru bisa menepatinya. Maka di sinilah mereka sekarang. Di sebuah restoran yang menyajikan menu sukiyaki.
"Aku enggak bisa ninggalin Ale untuk urus surat-surat, Mas. Kasihan kalau kami tinggal seharian. Dita kan magang setiap hari dari pagi sampai sore. Kalau dia sudah selesai, aku sih oke aja," sambungnya.
"Iya, Rend. Aku ngerti. Ini sambil jalan pelan-pelan dan mempersiapkan apa saja yang kita butuhkan. Jangan lupa juga perjanjian kerjanya. Meski kita keluarga, tetap harus ada perjanjian. Bisnis ya bisnis, keluarga ya keluarga," ucap Adi.
"Iya, Mas. Nanti aku coba konsultasi sama temanku yang pengacara. Terus kita jadinya mau bikin PT apa CV, Mas?" Rendra minta pendapat Adi.
"Menurutmu gimana?" Adi malah balik bertanya.
"Kalau kita mau mengembangkan proyek besar ya mendingan langsung ke PT, Mas. Tapi, biaya pendiriannya lebih mahal PT. Nanti kita juga pakai sistem saham," jelas Rendra.
"Enggak masalah sih, Rend. Yang penting perusahaannya jadi dulu. Modalnya sementara pakai yang ada. Kita buka jasa konsultasi di awal-awal, nanti baru kita ambil proyek kecil-kecil. Kalau sudah ada tambahan modal, baru kita ambil proyek besar atau ikut lelang proyek pemerintah," sahut Adi.
Rendra mengangguk, mengiakan apa yang kakak iparnya katakan. "Mas Adi, apa sudah kepikiran nama perusahaannya?" tanyanya kemudian.
Adi menggeleng. "Belum. Nanti kita pikirkan bersama."
"Lagi ngobrol apa sih kayanya serius banget?" tanya Adelia yang baru selesai memilih bahan yang akan dimasukkan ke dalam kuah sukiyaki bersama Dita.
"Soal kita buka perusahaan bareng, Ai," sahut Adi.
"Oh, kirain gosipin apa. Sudah pesan minum?" Adelia menatap Adi dan Rendra bergantian.
"Belum, sekalian saja sama kalian," jawab Rendra sambil menarik kursi untuk istrinya duduk.
"Makasih, Mas," ucap Dita setelah duduk di kursi sambil menggendong Ale.
"Mau minum apa, Sayang?" tanya Rendra sambil menunjukkan menu minuman pada Dita.
"Energizing potion aja. Buah-buahan kan isinya," sahut Dita.
"Kamu apa, Ren?" tanya Adelia.
"Mojito strawberry."
"Mas Adi, apa?" Adelia beralih pada suaminya.
"Orange juice."
"Oke, kita mau pake kuah apa nih? Tomyam apa kaldu ayam? Atau dua-duanya?" tanya Adelia lagi.
"Dua-duanya aja, Mbak," jawab Dita.
Adelia mengangguk. Dia lalu menyebutkan pesanan pada pramusaji yang melayani mereka.
"Jadi, gimana obrolannya tadi?" tanya Adelia setelah pramusaji meninggalkan mereka.
"Rendra mau mengurus surat-suratnya nanti setelah Adek selesai magang," jelas Adi. "Tapi, kantor kita sementara di kafe kalau ada yang mau datang."
"Iya, enggak masalah kalau begitu. Apa berarti harus setiap hari ngantor di sana?"
"Enggak, Del. Kita optimalkan dulu yang via online. Tapi, kalau ada yang mau ke kantor, kita bisa janjian. Atau kita bisa janji ketemu di tempat klien atau sesuai kesepakatan. InsyaAllah nanti setelah Dita selesai kuliah, kita bisa optimalkan lagi yang offline. Satu atau dua tahun harusnya bisa sih kita bangun kantor," terang Rendra.
__ADS_1
"Kenapa harus nunggu aku lulus kuliah, Mas?" tanya Dita penasaran.
"Biar sudah ada gelar arsitek nanti di kartu namanya," jawab Rendra sambil tersenyum. "Nanti langsung lanjut kuliah profesi ya, Sayang."
"Kayanya kita belum bahas soal aku kuliah profesi deh." Dita mengerutkan keningnya.
"Langsung saja ke profesi, Dek. Biar klien lebih mantap kalau ada arsitek yang sudah profesional," sela Adi.
"Aku enggak jadi selesai kuliah tahun depan dong, Mas."
"Enggak apa-apa. Nanti setelah itu, aku baru ambil S-2," sahut Rendra.
"Mau ambil kuliah di mana, Rend?" Adi memandang Rendra.
"Belum tahu, Mas. Lihat perkembangan nanti saja," jawab Rendra.
"Kalau masih bisa sih, saranku ambil yang beasiswa ke Jepang. Di sana pasti ilmunya lebih bagus dari di sini," usul Adi.
Rendra tersenyum. "Lihat nanti saja, Mas. Aku juga belum memutuskan di mana."
"Kalau kamu ke Jepang, perusahaan bisa aku handle sama Adel dan Bara. Kamu jangan khawatir. Adek, kalau bisa juga sekalian kuliah di sana." Adi beralih pada adik semata wayangnya.
"Ish, kenapa jadi gini bahasannya? Aku lulus kuliah saja belum. Ini masih magang, belum KKN, belum tugas akhir," protes Dita.
"Ya, tidak ada salahnya kan, Dek, merancang masa depan. Lagian dua tahun kalau dijalani juga pasti rasanya cepat berlalu," ujar Adi.
"Iya, tapi biarkan aku selesaikan magang dan kuliah dulu, baru mikir yang lain. Aku juga sudah ada Ale. Semoga saja belum nambah sampai urusan kuliah beres." Dita melirik Rendra yang duduk di sampingnya.
Rendra tertawa kecil mendapat lirikan maut dari istrinya. Dia memang berencana punya anak lagi setelah Ale berumur 1,5 atau 2 tahun sesuai anjuran dokter Lita. Kalau seandainya dokter tidak melarang, mungkin Dita sekarang sudah hamil lagi.
"Ck, sudah jangan bahas itu lagi. Aku udah lapar nih," tukas Dita setelah melihat perubahan wajah Adelia saat dia membahas soal anak.
Dua bulan sudah berlalu sejak Adi dan Adelia pulang umrah plus bulan madu, tapi mereka belum diberi kepercayaan lagi untuk punya anak. Meski Adelia sudah bisa menerima dan pasrah dengan segala ketentuan Allah, dia kadang masih merasa iri bila ada orang yang membahas soal anak di depannya. Kadang dalam kesendirian, dia bertanya-tanya kenapa takdirnya harus seperti ini? Apa ini karma karena dosa-dosanya di masa lalu?
...---oOo---...
Pukul 06.30 pagi, Dita sudah selesai memandikan dan menyiapkan asi untuk Ale selama dia magang. Meski sudah diberi tanggal dan waktu di wadah penyimpanan asi, kadang Rendra tidak menghiraukan hal itu. Suaminya itu memang rapi untuk agenda kerjanya, tapi untuk urusan asi agak sedikit teledor, asal ambil kalau tidak disiapkan istrinya.
"Mas, nanti asi yang diminum Ale sudah aku taruh di tempat biasa ya. Jangan ambil yang di freezer," pesan Dita. "Biskuit sama bubur juga sudah aku siapkan di tas," lanjutnya.
"Iya, Bubu," balas Rendra sambil meletakkan Ale di kursi tinggi khusus untuk bayi. Sejak usia Ale 6 bulan, dia sudah mendapat makanan pendamping asi. Sejak itu, dia dibelikan kursi untuk duduk di meja makan. Saat kedua orangtuanya makan, dia juga akan makan biskuit atau bubur bayi.
"Ale maem dulu, ya. Mau disuapi siapa Baba apa Bubu?" Rendra mengajak Ale bicara meski putranya itu mungkin belum paham apa maksudnya.
"Bu, bu," celetuk Ale sambil tertawa dan tangannya terus bergerak-gerak.
"Ale minta disuapi Bubu nih."
"Iya, Sayang. Ini baru bubu siapin makannya." Dita menghaluskan buah pisang untuk Ale. Setelahnya, dia duduk di sebelah putra semata wayangnya itu.
Dita menyuapi Ale dengan telaten, meski dia juga sambil makan sendiri. Dia harus bisa mengatur waktunya, agar pukul 07.30 sudah bisa berangkat agar tidak telat magang.
Usai makan dan menyuapi Ale, Dita berganti baju. Gantian Rendra yang mengurus Ale sambil memanaskan mobil. Dia nanti akan mengantar Dita ke tempat magang, sementara Ale dititipkan sebentar sama omanya.
"Sayang, bubu sekolah dulu. Ale, baik-baik ya sama Baba dan Oma," pamit Dita sambil menciumi pipi gembul Ale.
__ADS_1
"Bu, bu," balas Ale dengan senyumnya.
Dita tersenyum. Dia mengecup kening putranya sebelum menyerahkan pada Ibu Dewi. "Ma, titip Ale," ucapnya.
"Iya," balas Ibu Dewi sambil menerima Ale.
Dita mencium punggung tangan mertuanya itu sebelum keluar dari rumah. Rendra sudah menunggunya di dalam mobil. Dia sengaja tidak menampakkan diri, agar Ale tidak menangis karena tahu dia pergi. Ya, Ale akan menangis keras kalau tahu ditinggal pergi Rendra. Lain kalau Dita yang pergi, Ale akan biasa saja karena sudah terbiasa ditinggal kuliah sejak usianya 2 bulan. Namun, kalau dia sedang lapar atau sakit, pasti bubu-nya yang dicari.
Rendra mengantar Dita setelah istrinya itu masuk ke mobil. Sebenarnya dia minta istrinya bawa mobil saja, tapi Dita tidak mau. Istrinya itu merasa tidak enak dengan karyawan lain kalau dia bawa mobil sendiri.
Setelah sampai di tempat magang, Dita menyalami punggung tangan suaminya sebelum keluar dari mobil. Rendra akan membalas dengan mengecup kening dan juga bibir sang istri. Sesudah itu, Dita keluar mobil sambil membawa 2 tas. Satu tas perlengkapan untuk memompa asi. Satu lagi untuk keperluannya selama magang.
Rendra baru akan meninggalkan kantor setelah melihat istrinya masuk ke dalam. Sambil dia mengamati karyawan di sana yang tampak menyapa istrinya. Sejauh ini dia belum melihat ada orang yang tertarik pada istrinya. Usai memastikan Dita masuk, dia segera meninggalkan tempat itu.
"Pagi, Anin," sapa Abimanyu yang baru datang dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Pagi juga, Kak Abim," balas Dita. Dia meletakkan tas di meja sebelum duduk di kursinya.
"Kamu setiap hari diantar jemput ya, Nin?" tanya Abimanyu.
"Iya, Kak. Saya tidak enak kalau bawa mobil di sini." Dita menjawab dengan jujur.
"Kenapa tidak enak? Itu kan mobilmu sendiri, santai aja kali."
"Masa mahasiswi magang pakai mobil, sementara karyawan lain pakai motor, Kak. Saya tidak mau nanti dibilang sok atau gimana sama yang lain."
Abimanyu tersenyum. Diam-diam dia mengagumi sikap rendah hati Dita.
"Terus siapa yang antar jemput kamu? Supir?"
Dita menggeleng. "Bukan, Kak. Itu su--."
"Sebentar, Nin. Bos telepon," potong Abimanyu sebelum Dita selesai bicara. Gawainya berbunyi saat itu.
Dita tidak jadi melanjutkan ucapannya. Dia lalu mulai mengerjakan tugas yang diberikan padanya.
Usai menerima telepon, Abimanyu sepertinya sudah lupa dengan pertanyaannya. Dia juga langsung bekerja, karena si bos menyuruhnya segera memberikan laporan yang diminta.
...---oOo---...
Jogja, 100122 00.20
Ada yang punya usul nama perusahaan Adi dan Rendra? š¤š¤š¤
Siapa yang sudah membaca KaiSha?
Atau ada yang belum tahu?
KaiSha sudah hadir sejak tanggal 7 Januari 2022 kemarin di grup facebook KMO Club dan di bukulaku.id. Ceritanya akan diunggah setiap hari selama 30 hari di sana. Kalau selama 30 hari belum selesai, kelanjutannya bisa dibaca di salah satu platform, tapi yang jelas bukan di sini. ššš
Ada info apa pun pasti akan saya share di IG atau facebook. Karena sekarang, saya cukup aktif di dua media sosial tersebut.
IG @kokoro.no.tomo.82, FB kokoronotomo82, silakan follow dan minta pertemanan jika berkenan, tidak pun tidak apa-apa.
Oya ini covernya KaiSha, judulnya Smaradhana. Terima kasih yang sudah membaca, memberi jempol dan komentar di facebook šš¤. Semoga berkenan membaca masa putih abu-abu Kaisar dan perjuangannya menjadi abdi negara.
__ADS_1