
Adelia baru pulang dari memeriksakan kehamilannya yang sudah memasuki 36 minggu. Posisi janinnya masih saja sungsang. Karena itu dokter Lita menjadwalkan Adelia untuk operasi caesar saat kehamilannya memasuki usia 38 minggu.
"Ai, enggak apa-apa kalau memang harus melahirkan secara caesar. Itu 'kan juga untuk kebaikan Ai dan juga anak kita." Adi menguatkan istrinya yang terlihat kecewa setelah ke luar dari ruangan dokter Lita. "Dita malah sudah dua kali menjalani caesar, dia tetap bisa jadi ibu yang baik 'kan buat Ale," imbuhnya.
Adelia mendesah begitu mendengar ucapan sang suami. Dia menoleh pada pria yang sedang mengemudi di sampingnya. "Iya, aku tahu, Mas. Cuma rasanya aku masih berat menerima setelah semua usahaku selama ini. Aku sudah melakukan apa saja yang diminta dokter, instrukstur yoga, dan nasihat orang-orang. Tapi, ternyata tidak ada efeknya sama sekali."
Adi mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya. Namun, sebagai suami, dia harus memberi pengertian pada belahan jiwanya itu. Putra sulung Pak Wijaya itu mencari tempat yang tidak terlalu ramai, kemudian menghentikan mobil.
"Loh, kenapa berhenti, Mas? Apa mobilnya ada masalah?" tanya Adelia dengan raut khawatir.
Adi menggeleng seraya tersenyum pada sang istri tercinta. "Mobilnya tidak apa-apa, Ai. Aku cuma mau ngomong sesuatu sama Ai." Dia melepas sabuk pengaman, kemudian duduk menyamping menghadap Adelia. Diraihnya tangan kanan calon ibu itu, kemudian dia kecup dengan lembut.
"Mas Adi, apa-apaan sih? Memangnya mau ngomong apa sampai kaya gini?" tanya Adelia seraya tersipu malu. Walaupun sudah hampir dua tahun menikah, setiap disentuh sang suami dengan lembut, pasti membuatnya jadi malu-malu.
"Ai, aku tahu Ai sudah melakukan segala ikhtiar agar posisi Mbak tidak sungsang. Aku yakin Ai tidak lupa, tugas kita sebagai manusia itu berikhtiar dan berdoa. Bagaimana hasilnya, Allah yang menentukan. Allah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita, Ai. Pasti ada hikmah yang bisa kita ambil dari ini semua." Adi mengelus punggung tangan istrinya.
"Mau Ai melahirkan caesar atau normal, Ai, tetap umi yang terbaik untuk anak-anak kita dan istri yang paling cantik dan salihah di mataku. Ai, tidak perlu mendengarkan apa kata orang di luar sana. Biar saja mereka bicara apa, tidak usah didengarkan. Lebih baik kita fokus mempersiapkan diri menjadi orang tua. Menyiapkan kebutuhan Ai setelah melahirkan, dan juga Mbak." Adi terus menatap netra sang istri dengan penuh cinta.
"Jangan sedih dan kecewa lagi ya, Ai. Jangan sampai Mbak ikut sedih karena uminya bersedih. Ai, boleh kok sedih dan kecewa, itu hal yang wajar. Akan tetapi jangan sampai berlarut-larut. Percayalah ada aku yang selalu di samping Ai. Selain itu ada papa, mama, Arsenio, bunda, ayah, Dita, Rendra, dan juga Ale." Adi tersenyum seraya menghapus air mata yang diam-diam keluar dari sudut netra Adelia. "Ai, kenapa nangis? Aku salah ya?"
Adelia menggeleng berulang kali. Ibu hamil itu kemudian tersenyum. "Mas Adi, enggak salah. Aku yang terharu sama kata-kata Mas. Aku merasa jadi hamba yang tidak pandai bersyukur. Dulu aku ingin sekali hamil, alhamdulillah Allah mengabulkan. Sekarang sudah dikabulkan, tapi aku malah meminta lebih. Semestinya aku bersyukur sudah hamil dan calon anak kita sehat. Seharusnya aku berdoa minta diberi lancar, sehat, dan selamat saat melahirkan daripada menginginkan hal yang lain."
Senyum Adi melebar setelah sang istri bicara. Dia bersyukur karena Adelia akhirnya bisa mengerti dan menerima kenyataan. "Ai, tidak salah meminta pada Allah. Kita bebas meminta apa pun. Justru mintalah sebanyak-banyaknya, tapi kita juga harus menerima segala ketentuan dari Allah. Kita tidak boleh kecewa atau marah sama Allah kalau apa yang kita inginkan tidak dikabulkan. Yang penting kita sudah berusaha, berdoa, dan berserah diri pada Allah. Karena apa pun yang Allah beri, itu pasti yang terbaik untuk kita."
Adelia menyengguk. "Iya, Mas. Maafkan aku ya," pintanya.
__ADS_1
"Ai, tidak salah. Tidak ada yang perlu dimaafkan." Adi mengelus pipi tembam sang istri. "Kita lanjutkan jalan ya. Ai, mau ke mana setelah ini?" Adi melepas genggaman tangannya. Kembali duduk menghadap ke depan dan memasang sabuk pengaman.
"Aku mau ketemu mama sama papa, Mas," sahut Adelia.
"Kalau begitu kita ke rumah papa. Ai, mau makan dulu atau langsung ke sana?" tanya Adi.
"Langsung saja. Kita nanti makan di sana. Aku juga kangen masakan di rumah," jawab Adelia.
Adi kemudian melajukan mobil menuju kediaman sang mertua seperti keinginan Adelia.
***
"Dek, operasi caesar sakit tidak?" tanya Adelia saat Dita sedang bermain ke rumah sang kakak bersama Ale. Istri Rendra itu sudah selesai KKN, jadi sudah kembali tinggal di kota. Karena sedang tidak ada jadwal ke kampus, jadi dia seharian menemani Adelia.
Adelia menyengguk. "Kadang memang masih merasa takut, Dek. Enggak tahu kenapa, padahal aku juga sudah coba menyugesti diri setiap hari," akunya. "Padahal aku sering bilang mau melahirkan normal atau caesar, insya Allah siap. Tapi saat dokter sudah memastikan harus caesar, rasanya kaya ada yang mengganjal di hati."
Dita tersenyum sambil terus mengawasi Ale yang sedang asyik menyusun balok sendiri. "Rasa takut wajar sih, Mbak. Banyak berzikir agar hati kita lebih tenang. Besok Mbak Adel akan ditangani oleh dokter Lita dan timnya. Mbak, percaya saja pasti mereka akan melakukan yang terbaik. Dua kali operasiku ditangani dokter Lita, alhamdulillah aman semua. Mbak Adel 'kan juga tahu bagaimana aku dulu melahirkan Ale."
"Iya, Dek. Sepertinya aku yang terlalu overthinking." Adelia mengelus perut buncitnya.
"Aku paham sih apa yang Mbak Adel rasakan. Setiap wanita pasti ingin melahirkan secara normal. Memang ada orang yang bilang, sempurnanya wanita itu kalau sudah hamil dan merasakan sakitnya melahirkan normal. Memang kalau caesar itu tidak sakit saat melahirkan, tapi setelah operasi kita pasti merasa sakit saat biusnya habis. Caesarย membutuhkan pemulihan yang lebih lama. Belum lagi berbagai macam obat, infus, dan suntikan yang kita harus kita dapatkan. Mau melahirkan normal atau caesar, semua itu butuh pengorbanan yang tidak mudah dilalui," ujar Dita seraya menyambut Ale yang berjalan menghampirinya.
"Bubu, num cucu," ucap Ale sambil duduk di pangkuan Dita. Dia membuka hijab bubunya. Kode kalau ingin meminum ASI langsung dari sumbernya.
"Minum pakai botol saja, ya. Malu sama Bude," sahut Dita seraya menoleh pada Adelia dan menurunkan hijabnya.
__ADS_1
"No! Ndak mau." Ale menggelengkan kepala. "Cucu Bubu!" teriaknya yang mulai marah. Batita itu jadi lebih manja dan ingin selalu dekat dengan bubunya setelah kembali tinggal bersama usai Dita KKN.
"Iya. Tunggu sebentar." Dita membuka kancing kemeja. Ale masuk ke dalam hijab bubunya. Batita itu terbiasa minum ASI dengan kondisi tertutup. "Berdoa dulu, Nak. Bismillahirrahmanirrahim."
"Sekarang jarang mau pakai botol, Dek?" tanya Adelia.
"Iya, Mbak. Kan selama satu setengah bulan jarang ketemu. Begitu ketemu jadi manja. Sebenarnya aku juga merasa bersalah karena jadi kurang memberi perhatian selama KKN. Bukan maksudku juga begitu, tapi karena keadaan," jawab Dita seraya mengelus punggung putra semata wayangnya itu.
"Meskipun dekat sama Rendra, tapi Ale juga tetap butuh bubunya. Kapan hari itu pas aku telepon, bunda enggak sengaja sebut namamu, Dek. Langsung nangis dia," cerita Adelia.
"Bunda juga cerita soal itu, Mbak. Karena nangisnya keterusan, jadi terpaksa diajak ke tempat KKN. Aku ngelonin sampai Ale tidur. Begitu sudah pulas terus dibawa pulang sama bunda. Untung pas bangun babanya sudah ada di rumah jadi enggak begitu rewel," ungkap Dita.
"Memang mengasuh anak banyak dramanya ya, Dek?" Adelia menoleh pada sang adik ipar.
"Banget! Tidak cuma saat mengasuh. Mulai hamil saja juga banyak drama, Mbak," ucap Dita sambil mengikik.
"Betul juga. Perjuangan menjadi ibu memang tidak mudah. Dari hamil, melahirkan sampai mengasuh anak, semua ada dramanya masing-masing," ujar Adelia.
"Dan, setiap ibu pasti punya cerita masing-masing, Mbak," timpal Dita yang diiyakan oleh Adelia.
"Mbak Adel, herus tetap semangat. Pikirkan saja hal-hal positif dan bahagia. Tidak usah memikirkan hal yang tidak-tidak," saran Dita.
"Iya, Dek," sahut Adelia.
Jogja, 181022 22.40
__ADS_1