Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Sekar Ayu


__ADS_3

Sekar Ayu merasa gelisah setelah mendapat telepon dari kurir yang mengantar kue untuk Adi. Dia berjalan mondar-mandir di kontrakannya.


"Masa sih alamatnya Mas Adi salah?" gumam Sekar Ayu sambil melihat lagi alamat yang diberikan oleh orang yang dia sewa untuk menyelidiki tentang Adi.


"Aku harus membuktikan sendiri kalau itu bukan rumahnya Mas Adi. Aku bakal minta ganti rugi kalau sampai benar-benar salah. Aku kan sudah membayar mahal mereka."


"Tapi, seandainya memang salah alamat, aku pakai alasan apa ya sama yang punya rumah?" Sekar Ayu tampak berpikir keras.


Pagi tadi dia sengaja membuat kue untuk pria pujaan hatinya itu setelah mendapatkan alamat rumah Adi. Dia yakin Adi akan suka dengan kue buatannya. Untung saja dia punya hobi memasak jadi membuat kue bukan hal yang susah untuknya. Bukankah kita bisa menarik perhatian dan hati seseorang lewat perutnya. Dia sangat yakin Adi akan menghargai usahanya dan pelan-pelan bisa menerimanya lagi.


Akan tetapi, impian tidak selalu seindah kenyataan. Dia sangat terkejut saat mendapat telepon dari kurir kalau alamat Adi salah. Karena dia ada urusan lain tadi, jadi dia berikan saja kuenya pada sang kurir. Toh, itu hanya kue yang bisa dibuat lagi kapan pun dia mau.


Sekar Ayu menghempaskan dirinya ke atas ranjang setelah lelah berjalan mondar-mandir di kamar. Dia harus menyusun rencana yang matang, menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Dia tidak boleh gegabah lagi seperti saat di kediaman Pak Wijaya.


Setelah memikirkan hal apa saja yang dia rencanakan dan akan dilakukan, Sekar Ayu kembali mengenang awal pertemuannya dengan Adi beberapa tahun yang silam.


Sekar Ayu dan Adi dahulu merupakan aktivis remaja masjid di desanya. Mereka tidak tinggal di desa yang sama, tetapi desa mereka bertetangga. Meski berbeda desa, mereka aktif di masjid besar yang sama.


Karena seringnya bertemu, jadi menumbuhkan benih-benih cinta di hati mereka. Meskipun Adi tidak pernah menyatakan perasaannya secara langsung, tapi dia menunjukkan perhatiannya pada Sekar Ayu. Begitupun dengan Sekar Ayu, juga menunjukkan perhatiannya pada Adi. Mereka berdua memendam perasaan yang sama selama beberapa tahun.


Mereka tidak pernah pergi atau janji bertemu berduaan. Mereka bertemu saat di masjid atau bila ada kegiatan yang berkaitan dengan program remaja masjid. Kedudukan Adi sebagai ketua dan Sekar Ayu sebagai sekretaris, membuat intensitas pertemuan mereka menjadi lebih sering.


Setelah Adi lulus kuliah, dia langsung diterima bekerja di salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia. Sementara Sekar Ayu masih menyelesaikan kuliah, karena selisih usia mereka dua tahun. Sembari menunggu Sekar Ayu lulus kuliah, Adi mengumpulkan tabungan sedikit demi sedikit dari gajinya untuk mempersiapkan diri melamar Sekar Ayu. Sejak Adi sibuk bekerja, mereka jarang bertemu karena Adi jarang pulang ke rumah. Tidak sesering saat Adi masih kuliah.


Sekar Ayu merupakan kembang di desanya. Banyak pria yang ingin menjadikan dia pacar atau istri, tetapi dia selalu bilang tidak ingin berpacaran atau menikah sebelum lulus kuliah. Kedudukan orang tuanya yang merupakan seorang lurah, membuat keluarganya jadi terpandang. Karena itu pula tidak sembarang orang yang berani mendekatinya.


Tanpa Sekar Ayu ketahui, kedua orang tuanya menjodohkan dia dengan Anton, seorang anak pengusaha yang kaya raya di daerahnya. Kedua orang tuanya berniat menikahkan Sekar Ayu dan Anton setelah putri mereka diwisuda.


Kedua orang tuanya ingin Sekar Ayu menikah dengan seseorang yang sudah mapan. Mereka tidak ingin putrinya menderita bila suaminya bukan pria yang mapan. Mereka bisa tenang bila suatu saat mereka meninggal, Sekar Ayu sudah hidup dengan nyaman tanpa harus bekerja keras.


Setelah Adi tahu Sekar Ayu diwisuda, dia menghubungi Sekar Ayu. Dia bilang akan datang ke rumah Sekar Ayu bersama dengan kedua orang tua dan keluarganya yang lain untuk bersilaturahim.


Sekar Ayu yang memang sudah menanti Adi untuk melamar, tentu saja merasa sangat bahagia. Jangan bilang kalau dia ke-ge er-an. Laki-laki yang datang ke rumah perempuan bersama dengan kedua orang tua, kalau bukan untuk melamar, untuk apa lagi, iya kan?


Adi memberanikan diri meminta pada Pak Wijaya untuk melamar Sekar Ayu. Awalnya Pak Wijaya menolak karena sudah mendengar desas-desus kalau Sekar Ayu akan dijodohkan dengan seorang anak pengusaha kaya. Namun, Adi berhasil meyakinkan Pak Wijaya kalau Sekar Ayu juga mempunyai perasaan yang sama dengannya.


Akhirnya Pak Wijaya setuju untuk melamar Sekar Ayu. Mereka rombongan satu mobil datang ke rumah orang tua Sekar Ayu. Perasaan Ibu Hasna sudah tidak enak begitu sampai di sana, karena sama sekali tidak ada sambutan dari keluarga pihak perempuan seperti layaknya acara lamaran.


Rombongan keluarga Pak Wijaya hanya ditemui oleh kedua orang tua Sekar Ayu dan Sekar Ayu sendiri. Setelah cukup berbasa-basi, Pak Wijaya akhirnya mengutarakan maksud kedatangannya.


"Pak Gatot, maksud kedatangan kami kemari adalah untuk melamar putri Pak Gatot yang bernama Sekar Ayu untuk Adi, putra sulung saya," ungkap Pak Wijaya pada Pak Gatot, bapaknya Sekar Ayu.


Pak Gatot dan istrinya terkejut mendengar apa yang Pak Wijaya utarakan. Dengan rasa pongah, Pak Gatot membalas ungkapan Pak Wijaya.


"Nak Adi, kerja di mana? Sudah punya apa mau melamar Sekar?" Pak Gatot menatap tajam Adi.


"Alhamdulillah, saya bekerja di perusahaan konstruksi. Saya memang belum punya apa-apa, tetapi saya sudah menabung untuk membangun rumah dan yang lainnya," sahut Adi dengan tenang.

__ADS_1


"Belum punya apa-apa kok mau melamar Sekar. Mau dikasih apa Sekar nanti kalau menikah? Apa dia harus tinggal di kontrakan? Apa dia juga harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri?" sinis Pak Gatot.


"Pak," protes Sekar Ayu pada sang bapak.


"Sudah, kamu diam saja. Biar dijawab dulu sama Nak Adi," titah Pak Gatot.


"Insya Allah, pelan-pelan, saya akan memenuhi semua keinginan Sekar Ayu. Saya juga akan membuatkan rumah untuk kami nanti." Adi mencoba terus tersenyum.


"Kapan itu? Kamu bisa memberi kepastian?" cecar Pak Gatot.


Adi menggeleng. "Saya tidak bisa berjanji kapan, tapi saya pasti akan memenuhi janji saya," jawab Adi penuh percaya diri.


Pak Gatot tersenyum sinis mendengar jawaban Adi. "Sudah, lupakan saja Sekar. Dia sudah aku jodohkan sama Anton. Pengusaha yang bisa memberikan rumah dan semua kebutuhan Sekar tanpa harus menunggu lagi."


"Pak, jangan mengada-ada. Mana ada aku dijodohkan," bantah Sekar Ayu.


Pak Gatot tersenyum pada putri semata wayangnya itu. "Kami memang sengaja merahasiakan hal itu sampai keluarga mereka datang melamar minggu depan. Jadi, lupakan peristiwa hari ini anggap tidak pernah terjadi."


"Maksud Pak Gatot apa? Mau menghina anak saya dan keluarga saya?" Pak Wijaya mulai terpancing emosi.


"Menghina? Saya bicara kenyataan kok. Nak Adi tidak pantas untuk Sekar Ayu. Putri saya hanya pantas bersama pria yang sudah mapan," sahut Pak Gatot yang jadi semakin pongah.


"Kalau mau menolak lamaran kami bilang saja langsung, tidak perlu menghina dan merendahkan keluarga kami, terutama Adi." Pak Wijaya semakin geram dengan Pak Gatot.


"Adi, ayo kita pulang. Tidak ada gunanya kita duduk di sini dan mendengarkan penghinaan mereka." Pak Wijaya berdiri dari duduknya dan segera beranjak keluar rumah, diikuti anggota keluarga lainnya. Hanya Adi yang masih di sana.


"Selamat atas perjodohan kalian. Semoga kalian hidup berbahagia. Selamat tinggal, Sekar." Adi memberikan senyum terakhirnya pada Sekar Ayu. Dengan badan tetap tegap, dia keluar dari rumah Pak Gatot meski hatinya hancur berkeping-keping.


"Mas Adi," panggil Sekar Ayu dengan wajah yang berlinang air mata. Dia tidak menduga akhirnya akan seperti ini. Padahal dia selalu membayangkan dilamar dan menikah dengan Adi, pria yang sudah mengisi hatinya selama beberapa tahun terakhir.


"Sekar, jangan tangisi pemuda kere itu," tegur Pak Gatot.


"Pak, Mas Adi itu tidak kere. Dia sudah bekerja, cuma masih belum mapan saja," protes Sekar Ayu.


"Kalau belum mapan itu ya kere. Kamu mau dikasih makan apa sama dia? Rumah saja belum punya, mau tinggal di mana? Numpang sama orang tua? Apa ngekos?" Pak Gatot menatap tajam putrinya.


"Bapak tidak mau kamu menderita setelah menikah, Sekar. Bapak sudah pilihkan Anton yang masa depannya sudah jelas. Kamu akan langsung diberi rumah dan mobil setelah menikah. Kamu juga bisa beli baju-baju bagus dan mahal. Apa pun yang kamu mau pasti akan dia turuti."


"Tapi, aku tidak butuh semua itu, Pak," ujar Sekar Ayu dengan wajah yang masih sembab.


"Itu semua kebutuhanmu, Sekar. Jangan munafik kamu juga butuh uang yang tidak sedikit biar wajahmu bisa kinclong terus. Kamu juga bisa bebas pergi ke mana saja yang kamu mau. Anton pasti akan mengabulkannya." Pak Gatot masih menyakinkan putrinya.


"Bapak, jahat." Sekar meninggalkan kedua orang tuanya dan pergi ke kamar dengan wajah penuh air mata.


Seminggu kemudian, keluarga Anton benar-benar datang ke rumah Pak Gatot. Akhirnya mau tidak mau, Sekar Ayu menurut keinginan kedua orang tuanya.


Anton, sosok pemuda tampan yang merupakan anak pengusaha kaya raya. Saat ini dia meneruskan perusahaan sang ayah. Karena ayahnya sudah berumur, jadi terkadang dia yang memimpin rapat atau meninjau langsung perusahaan.

__ADS_1


Setelah acara lamaran, Sekar Ayu perlahan-lahan bisa menerima Anton. Karena selain tampan, Anton juga bersikap baik padanya. Apa pun yang dia mau, Anton selalu memberikannya. Hhmm, perempuan mana yang tidak luluh bila mendapat perlakuan seperti itu.


Tiga bulan kemudian, Sekar Ayu menikah dengan Anton. Sekar Ayu diberi mas kawin sebuah rumah dan juga mobil atas namanya sendiri. Tentu saja, Sekar Ayu merasa sangat bahagia. Dia pun mulai merancang masa depannya dengan Anton, dan pelan tapi pasti, dia melupakan sosok Adi.


Pesta pernikahan Sekar Ayu dan Anton diselenggarakan secara besar-besaran. Ada ribuan orang yang diundang mengingat jabatan Pak Gatot dan juga pekerjaan Anton sebagai pengusaha yang pastinya mempunyai relasi bisnis yang banyak.


Awal pernikahan mereka merupakan saat yang berbahagia. Anton bahkan mengajak Sekar Ayu berbulan madu ke luar negeri. Kehidupan Sekar Ayu langsung berubah drastis setelah menikah.


Anton sering mengenalkan Sekar Ayu pada relasi bisnis dan teman-temannya. Dia juga rajin mengajak Sekar Ayu pergi ke luar kota atau negeri untuk urusan bisnis atau sekedar melepas penat.


Petaka mulai terjadi setelah satu tahun pernikahan mereka karena Sekar Ayu belum juga hamil. Sekar Ayu sudah mengusahakan berbagai cara agar dia bisa hamil. Dia bahkan memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan dia adalah perempuan yang subur.


Berulang kali Anton bicara akan menceraikan Sekar Ayu kalau dia tidak juga hamil. Sikap Anton banyak berubah, beda seperti di awal pernikahan mereka.


Anton jadi sering pulang malam bahkan pulang pagi. Dia sering menghina dan merendahkan Sekar Ayu dengan ucapan yang tajam. Dia bahkan mulai main tangan. Sekali waktu Anton juga mengajak perempuan pulang bersamanya.


Bisa dibayangkan kan bagaimana perasaan Sekar Ayu. Lama-kelamaan akhirnya dia tidak tahan dan meminta cerai dari sang suami. Kedua orang tuanya awalnya tidak menyetujui keinginan Sekar Ayu. Akan tetapi setelah melihat bagaimana perlakuan Anton pada Sekar Ayu akhirnya mereka menyetujui keinginan Sekar Ayu.


Sesudah beberapa tahun dia bercerai, tanpa diduga muncul lagi bayangan Adi yang tampak lebih dewasa. Perlahan rasa yang pernah ada dan terkubur, mulai tumbuh lagi. Kali ini dia bertekad harus mendapatkan Adi, entah bagaimana caranya.


Semesta sepertinya mendukung keinginannya. Tanpa pernah disangka Sekar Ayu bertemu lagi dengan Adi saat dia sedang berbelanja di salah satu mal.


Dia tersenyum manis pada Adi. Dia tahu Adi terkejut saat melihat sosoknya. Dalam hati, Sekar Ayu mengagumi ketampanan Adi yang bertambah karena gaya pakaiannya yang tampak berkelas.


Rupa-rupanya, kebahagiaan Sekar Ayu tidak berlangsung lama. Hatinya sangat hancur saat mendengar kata istri dari mulut Adi. Ya, Adi sudah menikah dan punya istri. Dan yang membuatnya makin sedih, istri Adi sangat cantik sekali seperti seorang model. Sepertinya istri Adi juga bukan perempuan dari kalangan biasa.


Sekar Ayu sedikit merasa bahagia saat Adi mengajaknya bicara di sebuah kedai kopi ternama. Rasa sesalnya semakin besar setelah tahu Adi kini bukan pria kere seperti yang bapaknya dulu katakan. Adi sudah menjadi pria mapan seperti yang bapaknya inginkan.


Meski Sekar Ayu sudah menceritakan semua masalahnya, tetapi Adi tetap bergeming. Adi sama sekali sudah menutup pintu hatinya untuk Sekar Ayu. Tetapi jangan panggil Sekar Ayu kalau dia orang yang mudah menyerah. Dia memutuskan mengubungi kenalannya yang bisa mencarikan orang atau detektif untuk mencari info soal Adi.


Semesta kembali membantunya saat dia melihat Adi pulang ke rumah Pak Wijaya. Meski Adi bersama istrinya, tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin kembali bersama Adi. Kata orang cinta pertama tidak akan mati, begitu pun apa yang dia rasakan. Dia juga yakin Adi merasakan hal yang juga dia rasakan.


Akan tetapi, lagi dan lagi, harapan tak seindah kenyataan. Bahkan kali ini lebih pahit karena dia sampai diusir dari rumah Pak Wijaya. Dia tidak bisa menahan emosi saat istri Adi memprovokasinya. Citranya di mata keluarga Adi pasti semakin jelek. Namun, dia tidak memedulikan hal tersebut.


Saat Sekar Ayu mengutarakan maksudnya untuk kembali dengan Adi, kedua orang tuanya menolak. Mereka sudah terlanjur malu pada keluarga Pak Wijaya. Dengan atau tanpa restu kedua orang tuanya, Sekar Ayu tetap akan mendekati Adi, bagaimana pun caranya.


...---oOo---...


Jogja, 181121 00.15


Alhamdulillah, mau berbagi kabar bahagia. Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti lomba menulis cerpen anak yang diselenggarakan oleh salah satu penerbit.


Alhamdulillah, naskah cerpen anak yang saya ikutkan lolos seleksi. Dan, insya Allah nanti akan terbit buku cerpen anak dari beberapa penulis yang lolos seleksi.


Nanti saya akan kabari kalau bukunya sudah terbit. Siapa tahu teman-teman ada yang berminat beli untuk putra putrinya ☺️☺️☺️.


Awalnya saya maju mundur mau ikut, karena menulis cerpen anak itu tidak mudah. Harus ada pesan moral di dalam cerita yang jumlah katanya sangat terbatas. Karena saya suka menantang diri sendiri, akhirnya saya bulatkan tekad untuk ikut meski tidak terlalu percaya diri. Waktu itu pemikirannya, tidak masalah tidak menang yang penting saya sudah berusaha dan mencoba. Alhamdulillah, ternyata cerita saya lolos, rasanya tidak percaya saat mendapat email dari penyelenggara sampai saya senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Terima kasih untuk teman-teman yang dengan tulus selalu mendukung saya, karena dukungan itu menjadi penyemangat saya untuk terus menulis 🙏🙏🙏.


__ADS_2