
"Ma, aku pulang dulu." Adelia memeluk mamanya sebelum masuk ke mobil.
"Iya, Mbak. Sering-sering ya main ke sini." Ibu Sarah mengelus punggung putri sulungnya sebelum mengurai pelukan mereka.
"Insya Allah, Ma." Adelia beralih ke Pak Lukman. Dia mencium punggung tangan papanya lalu memeluknya. "Pa, aku pulang ikut suamiku ya."
"Iya. Jadi istri yang taat pada suami, ya." Pak Lukman mengecup kening putrinya setelah mengurai pelukannya.
"Dek, jangan banyak nongkrong. Temani mama. Kalau ada waktu main ke rumah." Adelia memeluk Arsenio.
"Iya, Mbak," sahut Arsenio pendek.
Setelah selesai berpamitan, Adi dan Adelia masuk ke mobil. Mereka lalu meninggalkan rumah Pak Lukman.
"Jangan sedih, Ai. Kalau Ai kangen mama sama papa tinggal main ke sana. Minta jemput Arsen, nanti pulangnya aku jemput." Adi mengelus kepala Adelia dengan tangan kirinya.
"Iya, Mas. Lagian dekat juga. Aku bisa bawa motor sendiri, tidak perlu dijemput Arsen."
"No! Enggak boleh pergi sendiri. Mama dan Papa kan kerja semua, pulangnya sore. Kalau Ai main ke sana pasti pulangnya jadi malam. Enggak baik perempuan ke luar malam sendiri tanpa mahram. Aku enggak akan kasih izin kalau pergi sendiri. Dijemput Arsen, diantar Rendra dan Dita atau aku. Cuma itu pilihannya kalau mau pergi."
"Iya, Mas." Adelia mengiakan ucapan suaminya. "Tapi kalau begitu, motor buat apa kalau aku enggak boleh ke mana-mana?"
"Kan bisa dipakai bareng aku, atau sama Dita. Pokoknya Ai enggak boleh pergi sendiri."
"Mana mungkin aku pergi berdua sama Dek Dita. Rendra kan ke mana-mana selalu ngintilin dia," gerutu Adelia.
Adi tertawa mendengar istrinya menggerutu. "Ya kalau begitu motor dipakai bareng aku. Belum pernah kan kita naik motor berdua. Jadi pingin dipeluk dari belakang kaya Rendra gitu. Gimana ya rasanya."
"Ish, jangan modus ya, Mas," cibir Adelia.
"Masa modusin istri sendiri enggak boleh. Kalau aku mau modus, aku pinjam motornya Rendra tuh. Mantep deh meluknya." Adi mengerling pada istrinya.
"Apaan sih, Mas." Adelia tersenyum malu. Dia memalingkan wajahnya ke samping, pura-pura melihat ke luar.
"Ai, juga mau kan. Nanti sore deh kita ngabuburit pakai motornya Rendra."
"Terserah Mas Adi aja."
Adi tertawa lalu mengelus kepala istrinya.
"Malam takbiran nanti kita menginap di rumah papa. Siangnya kita pulang ke rumah ayah. Kita menginap di sana beberapa hari. Ai, belum pernah kan datang ke rumah ayah?"
"Ya, belumlah, Mas. Kita menikah saja mendadak." Adelia menoleh pada suaminya.
"Bara yang sudah pernah ke sana waktu Rendra melamar Dita," cerita Adi.
"Serius, Mas?" Adelia terkejut.
"Serius dong. Dia katanya mau jadi saksi cinta Rendra dan Dita. Kuat banget hatinya Bara." Adi menggelengkan kepala, merasa takjub dengan Bara.
"Dia memang hatinya baik. Mau berkorban untuk sahabatnya. Sayang kemarin pas kita nikah dia sudah balik ke Jakarta. Tapi dia janji pas kita nikah resmi akan datang."
"Ai, beruntung punya sahabat seperti Bara yang tulus. Meski aku pernah cemburu sama dia." Adi menertawakan kekonyolannya sendiri.
"Mas Adi cemburu sama Bara?" Adelia mengernyit tak percaya.
Adi mengangguk. "Iya. Karena itu aku langsung ngajak Ai taaruf tanpa basa-basi dulu."
"Oh, jadi karena cemburu ngajak taarufnya. Berarti kalau enggak ada Bara, kita sampai sekarang enggak akan menikah dong ya." Adelia melirik suaminya dengan wajah cemberut.
"Bukan gitu, Ai. Aku tetap ajak taaruf tapi masih mencari waktu yang pas." Adi beralasan.
__ADS_1
"Terus menurut Mas Adi kapan waktu yang pas?"
"Mungkin setelah Ai selesai skripsi."
"Padahal aku masih enggak tahu kapan selesainya." Adelia menghela napasnya.
"Sudah, jangan cemberut gitu, Ai. Yang penting kan sekarang kita sudah menikah. Mau karena Bara atau bukan, Allah sudah menggariskan takdir kita seperti ini. Jadi, jangan jadikan itu masalah lagi, oke. Yang jelas aku cinta sama Ai. Aku juga takut kehilangan Ai. Jangan pernah ragukan itu." Adi meraih tangan kanan Adelia Dia mengecup punggung tangan istrinya itu. "Aku tresno sliramu, Ai." (Aku cinta kamu, Ai)
Adelia tersipu malu mendengar pernyataan cinta suaminya. Mas Adi yang kaku dan datar mulai bisa bersikap romantis.
Tak lama mereka tiba di rumah. Adelia masuk ke dalam rumah terlebih dulu karena Adi melarangnya membawa barang-barang. Dia minta bantuan Rendra untuk membawa masuk barang-barang Adelia.
Ibu Hasna dan Dita sedang di dapur menata kulkas. Tadi pagi ternyata mereka berbelanja ke pasar. Setelah dari kamar meletakkan tasnya, Adelia menghampiri mereka.
"Wah, banyak banget belanjanya. Aku bisa apa enggak ya masaknya," gumam Adelia.
"Pasti bisa. Nanti biar Adi atau Dita yang bantu masak." Ibu Hasna tersenyum pada menantunya.
"Aku kan juga mau belajar, Bun. Aku cuma bisa masak air sama mie instan soalnya," ucap Adelia sambil meringis.
"Nanti lama-lama juga bisa, Mbak. Alah bisa karena biasa (1)," sahut Dita.
"Tapi aku dibantu loh, Dek."
"Iya, Mbak. Tenang aja."
"Ini belanjanya di mana? Apa ada tukang sayur yang lewat sini?" tanya Adelia.
"Di pasar, Mbak. Nanti kalau bahan-bahan ini habis, kita ke pasar bareng biar Mbak Adel tahu belanjanya di mana aja," jawab Dita.
"Terima kasih ya, Bun, Dek, sudah dibelanjakan. Ditatain sekalian lagi. Kan jadi keenakan akunya."
"Dek, ini diselesaikan sama Mbak ya. Bunda mau siap-siap dulu. Kasihan ayah kalau kesiangan pulangnya enggak bisa istirahat. Soalnya nanti sore ayah ada undangan buka bersama," kata Ibu Hasna pada putri bungsunya.
Saat Dita dan Adelia selesai dengan food preparation-nya, Ibu Hasna juga sudah selesai bersiap.
Sebelum Pak Wijaya dan Bu Hasna pulang, mereka berenam berkumpul di ruang tengah. Pak Wijaya memberikan beberapa petuah pada kedua anak dan menantunya.
Setelah mengantar kepulangan Pak Wijaya dan Ibu Hasna, mereka berempat masuk ke rumah.
"Rend, nanti sore mau ke luar enggak?" tanya Adi pada Rendra.
"Kayanya sih, enggak. Kenapa memangnya, Mas?"
"Aku pinjam motormu ya. Lagi pingin jalan pakai motor nih," kata Adi.
"Pakai aja, Mas. Nanti sore aku antar motornya."
"Itu beli motor buat apa Mas kalau enggak dipakai?" sela Dita.
"Aku lagi pingin naik motornya Rendra, Dek. Pingin lah pacaran kaya kalian," sahut Adi.
Dita tertawa mendengar ucapan kakaknya. "Iya, sana pacaran, Mas. Pegangan yang erat ya Mbak nanti."
"Betul tuh kata Dita. Pegang yang erat jangan sampai lepas." Adi melirik istrinya.
Adelia mencubit pinggang Adi.
"Ouch, sakit Ai." Adi memegang pinggangnya yang dicubit Adelia.
"Cie cie, udah punya panggilan spesial sekarang," goda Dita.
__ADS_1
"Biar enggak kalah sama Adek dan Rendra."
Dita tertawa lagi. "Astaga, emang kita lagi lomba Mas pakai kalah menang."
"Biar bisa romantis kaya Rendra, Dek."
"Iya, belajar yang romantis sama istri jangan kaku kaya kanebo kering. Omong-omong, aku mau balik ke sebelah, Mas."
"Kenapa, Dek? Terus kapan ajari aku masak?" tanya Adelia.
"Aku mau memberi waktu Mas Adi biar belajar romantis sama Mbak Adel. Kalau ada aku dan Mas Rendra takutnya mengganggu. Nanti kan Mbak Adel mau ke luar, enggak usah masak. Itu juga masih ada sayur kok, bisa buat sahur besok. Besok siang atau sore aku ke sini buat bantu masak untuk buka puasa," terang Dita.
"Benar ya, Dek?"
"Iya, Mbak. Aku janji."
"Dek, besok kalau ke sini sama Rendra kabarin Adel dulu, takutnya dia lagi enggak pakai hijab," kata Adi dengan mimik serius.
"Siap, Mas. Aku juga ngerti kok." Dita mengacungkan jempolnya.
"Apa nanti sore kita double date saja? Tapi tukeran motornya," usul Adi.
"Apa nanti kita enggak ganggu Mas Adi dan Adel?" tanya Rendra.
"Enggak lah. Aku juga ingin tahu gaya pacaran kalian gimana," jawab Adi.
"Gimana, Sayang?" Rendra meminta pendapat istrinya.
"Terserah Mas, aku mah cuma bonceng aja," ucap Dita.
"Kalau begitu, nanti bakda Asar kita ke sini lagi, Mas. Kami pulang dulu sekarang, sekalian ambil motor nanti." Rendra akhirnya menyetujui usul kakak iparnya.
Adi mengangguk.
Rendra dan Dita kemudian masuk ke kamar untuk mengambil beberapa barang mereka. Setelah itu mereka kembali ke rumah Ibu Dewi.
Adi mengunci pintu depan setelah kepulangan Dita dan Rendra. Tinggal dia dan istrinya di rumah.
"Sekarang boleh dilepas hijabnya, Ai. Ganti baju juga yang nyaman. Mau istirahat apa beresin barang-barang dan baju dulu?" tanya Adi.
"Beres-beres dulu, Mas. Nanti baru istirahat. Aku juga mau cuci baju yang kotor sama yang dibeli kemarin," jawab Adelia.
"Kita bagi tugas aja kalau begitu. Ai, beresin baju dan barang. Aku yang cuci baju, gimana?" usul Adi.
"Masa Mas Adi cuci bajuku sih."
"Kenapa memangnya? Apa dibalik tugasnya? Ai, yang cuci baju, aku yang beres-beres."
"Ya udah, Mas Adi saja yang cuci baju. Nanti kalau Mas Adi yang beres-beres malah aku bingung di mana letak barang-barangku." Adelia beranjak dari duduknya lalu masuk ke kamar. Setelah berganti baju, dia mulai menata baju dan barang-barangnya yang dibawa dari rumah orang tuanya.
Sementara itu Adi juga memilah pakaian yang akan dicuci. Setelah mengatur program pencucian, dia menunggu sambil mengerjakan pekerjaan kantor yang dia bawa pulang dan belum sempat disentuh.
...---oOo---...
Jogja, 260621 13.20
Adakah yang kangen sama keuwuan Rendra dan Dita? šš
Catatan:
(1) Alah bisa karena biasa \= kalah kepandaian oleh latihan; Sesuatu yang sukar, kalau sudah biasa dikerjakan, tidak terasa sukar lagi (sumber KBBI)
__ADS_1
(2) Food preparation atau *food pre**p* adalah kegiatan menyiapkan makanan dalam jangka panjang atau dalam jumlah banyak. Metodenya dengan membersihkan, memotong bahan mentah menjadi bahan siap masak. Bahan-bahan mentah siap masak dimasukkan dalam wadah tertutup dan bersih, lalu disimpan di kulkas atau freezer. Jadi saat akan memasak tinggal mengeluarkan dari kulkas atau freezer tidak perlu memotong dan membersihkan lagi.