
Hari keempat di Makkah, mereka bebas melakukan apa saja. Tentunya mereka mengisinya dengan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. Di saat senggang, mereka menyempatkan berjalan-jalan membeli beberapa barang khas Arab dan juga berwisata kuliner. Malamnya mereka berkemas, karena besok pagi mereka akan meninggalkan Makkah dan kembali ke Jeddah.
Hari kelima, bakda salat Subuh berjemaah, rombongan mereka melakukan tawaf wada' (tawaf perpisahan). Setelah itu mereka check out dari hotel, kemudian kembali menuju Jeddah.
Sesampai di Jeddah, mereka melakukan city tour Kota Jeddah. Tujuan pertama mereka adalah Pusat Perbelanjaan Ballad Corniche. Di tempat ini beragam cendera mata khas Tanah Suci dijual. Ada tasbih, sajadah, abaya, kafiyeh (sorban), pasmina, karpet, kurma, cokelat, kue, celak mata, hena dan lainnya dijajakan rapih di pasar modern yang sangat luas ini. Nama toko-toko di sini banyak yang menamai dengan nama Indonesia, seperti Toko Ali Murah, yang menjadi pelopor toko oleh-oleh umrah dan haji.
Selanjutnya mereka menuju Masjid Qisas. Masjid Syeikh Ibrahim Al Juffali atau lebih dikenal dengan Masjid Qisas ini merupakan tempat eksekusi hukuman qisas (1) terhadap para pelanggar yang melakukan pelanggaran seperti pembunuhan. Di halaman masjid yang berhadapan dengan Departemen Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi ini hukuman qisas dilakukan. Biasanya hukum qisas dilaksanakan usai salat Jumat di depan umum. Namun eksekusinya tidak setiap bulan terjadi, karena banyak syarat yang harus dipenuhi sebelum hukuman itu benar-benar dilaksanakan.
(Masjid Qisas)
(Tempat eksekusi qisas)
Makam Siti Hawa menjadi tujuan selanjutnya. Makam ini juga dikenal sebagai Moqbara Umna Hawwa (makamnya bunda Hawa). Siti Hawa adalah wanita pertama di dunia dan ibu dari seluruh manusia. Beliau diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam AS. Makam ini panjangnya mencapai 80 meter dan diyakini sebagai makam Siti Hawa. Meskipun belum ada ada kepastian tentang peristirahatan terakhir istri Nabi Adam tersebut.
(Makam Siti Hawa)
Tujuan terakhir mereka di Jeddah yaitu Laut Merah. Laut Merah yang dalam bahasa Arab disebut Bahrul-Ammar ini juga dikenal dengan nama Laut Teberau. Laut ini muncul karena pemisahan Jazirah Arab dari benua Afrika yang dimulai sekitar 30 juta tahun yang lalu dan masih berlanjut sampai sekarang.
Meski namanya Laut Merah, bukan berarti warna airnya merah selalu merah, warna air yang sebenarnya adalah biru hijau. Di dalam Laut Merah hidup ganggang laut Trichodesmium erythraeum yang saat mati akan mengubah warna air dari biru kehijauan menjadi cokelat kemerahan.
(Laut Merah)
Di Laut Merah ada kisah tentang Nabi Musa AS yang membelah Laut Merah dengan tongkatnya atas izin Allah, dan merupakan salah satu mukjizat Nabi Musa AS. Saat itu Nabi Musa AS dan pengikutnya dikejar oleh Fir'aun yang mengaku sebagai Tuhan. Mereka berlari dan tidak menemukan jalan lain karena di hadapan mereka adalah Laut Merah.
Atas perintah Allah SWT, Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya lalu laut menjadi terbelah (2). Nabi Musa AS dan pengikutnya bergegas melewati jalan tersebut. Kemudian disusul Firaun dan pasukannya yang ikut melintasi jalan itu. Namun lautan kembali seperti semula setelah Nabi Musa dan pengikutnya melewatinya, membuat Firaun dan pasukannya pun tenggelam (3).
Di tepi Laut Merah ada Masjid Ar-Rahma, atau lebih dikenal dengan Masjid Terapung Jeddah. Masjid ini memang tidak sepenuhnya terapung, namun jika Laut Merah sedang pasang, Masjid Ar-Rahma tampak seperti masjid yang muncul dari dasar Laut Merah.
(Masjid Ar-Rahmah)
Rombongan mereka kemudian menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Begitu tiba di Bandara, mereka melakukan check in tiket dan bagasi, kemudian melalui proses imigrasi. Mereka masuk ke pesawat untuk melanjutkan perjalanan menuju Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Mereka dijemput oleh perwakilan agen tur dan travel setelah tiba di Bandara Abu Dhabi. Dari bandara, mereka langsung diajak untuk berkeliling kota Abu Dhabi. Selain Dubai, Abu Dhabi juga merupakan salah satu bagian dari Uni Emirat Arab.
Emirates Palace menjadi tempat yang mereka kunjungi pertama kali. Emirates Palace adalah hotel bintang lima yang mewah di Abu Dhabi. Meskipun itu hotel tetapi terbuka untuk umum, siapa saja boleh masuk asal berpakaian dengan rapi dan mengikuti aturan di sana.
(Emirates Palace)
"Ya Allah, bagus banget hotelnya." Nisa melongo melihat arsitekstur hotel yang terlihat sangat mewah.
"Ma, Kak Shasha, ayo kita foto di sini." Nisa sudah memegang tongkat selfie di tangannya, siap untuk mengambil gambar.
"Sayang, mau foto juga di sana?" tanya Rendra sambil menunjuk di mana Nisa dan yang lain mengambil foto.
"Mau kalau sama Mas. Kalau sendiri enggak mau," jawab Dita. Dia memang bukan tipe yang suka foto selfie lalu mengunggahnya di media sosial. Dia lebih menyukai memfoto gedung, pemandangan atau suasana sekitar.
"Yuk ke sana, bergabung dengan Nisa dan yang lain. Sekalian kita foto berlima." Rendra merangkul bahu istrinya saat berjalan menghampiri Nisa.
Tujuan mereka berikutnya yaitu Etihad Tower, yaitu kompleks bangunan dengan lima menara di Abu Dhabi. Menara ini terletak di seberang hotel Emirates Palace dan difungsikan sebagai kantor, apartemen, tempat belanja, tempat makan dan hotel. Setiap tower atau menara punya fungsinya masing-masing. Menara 1 berfungsi sebagai hotel dan apartemen. Menara 2, 4 dan 5 juga berfungsi sebagai apartemen. Dan menara 3 menjadi perkantoran.
(Etihad Tower)
Selanjutnya mereka menuju Istana Kepresidenan Uni Emirat Arab di Abu Dhabi yang bernama Qasr Al Watan. Istana kepresidenan ini memang dibuka untuk umum sejak Maret 2019.
Dita sangat mengagumi arsitekstur istana kepresidenan ini. Sebagai mahasiswi jurusan arsitekstur, tentu saja dia berharap bisa mendapat inspirasi dari berbagai macam arsitekstur sejak tiba di Abu Dhabi.
(Istana Kepresidenan Abu Dhabi)
"Masya Allah, kubahnya besar dan cantik sekali," gumam Dita yang melihat kubah dengan dinding yang penuh dengan arsitekstur yang menakjubkan. Dia seperti dibawa ke warisan dan sejarah Arab yang megah, yang sebelumnya tak terlihat. Kubah itu merupakan salah satu yang terbesar di dunia.
__ADS_1
(Kubah di Istana Kepresidenan Abu Dhabi)
"Mewah banget ini, lantainya marmer, lampu gantungnya berkilauan, dan itu pintunya emas, Mas." Dita terus mengagumi sambil berjalan bergandengan tangan dengan suaminya.
"Ini ada baju besi samurai dari Jepang, Mas," ucap Dita saat mereka melihat koleksi hadiah diplomatik yang dipajang di sana.
"Aku foto ya, Sayang," tawar Rendra. Tapi, istrinya menggelengkan kepalanya.
"Foto bangunan sama dekorasinya saja, Mas," pinta Dita.
Selanjutnya mereka menuju ke Yas Marina, sirkuit balap yang ada di Abu Dhabi. Mereka tidak masuk ke dalam, hanya melihat dari luar lalu mengambil foto.
Sesudah itu mereka berkunjung ke Ferrari World. Taman hiburan ini, memiliki berbagai atraksi pemecah rekor, termasuk roller coaster tercepat di dunia, Formula Rossa, dan Flying Aces, yang memiliki salah satu loop tertinggi di dunia. Ada juga Roof Walk yang mengajak pengunjung untuk mengukur atap merah ikonik Ferrari World Abu Dhabi. Lalu Zip Line yang membawa pengunjung dalam penerbangan sepanjang 400 meter melintasi taman.
(Ferrari World)
"Kak Rendra, ayo naik ke wahana yang cuma ada di sini," ajak Nisa.
"Sama Kak Shasha saja, aku temani mama sama Dita," tolak Rendra yang sebenarnya enggan meninggalkan istrinya.
"Aku sama mama aman di sini, Mas. Kami enggak akan ke mana-mana. Mas, temani Nisa dan Mbak Shasha aja." Dita membujuk suaminya.
"Iya, Ren. Nikmati waktu kalian di sini. Jangan khawatirkan kami berdua." Ibu Dewi ikut bersuara.
"Iya, tapi Mama dan Dita jangan pergi ke mana-mana ya." Rendra akhirnya menuruti keinginan Nisa.
"Iya, Mas. Nanti aku kirim pesan kalau mau beli makan atau ke toilet," kata Dita.
"Yeay, asyik. Ayo, Kak." Nisa menggandeng kedua kakaknya menuju wahana yang dia inginkan dengan wajah ceria.
"Dita, ada yang ingin dimakan tidak?" tanya Ibu Dewi saat mereka duduk berdua menunggu Shasha, Rendra, dan Nisa menaiki berbagai wahana.
Dita menggelengkan kepala. "Enggak ada, Ma. Nanti kalau aku ingin sesuatu pasti ngomong."
"Benar ya. Jangan dipendam kalau ingin sesuatu."
"Iya, Ma." Dita menoleh, tersenyum pada mertuanya yang duduk di sampingnya.
Setelah dari sana, mereka menuju ke Yas Mal yang terhubung dengan Ferrari World. Yas Mal adalah sebuah mal atau pusat perbelanjaan di Pulau Yas, Abu Dhabi, yang berfungsi sebagai tempat berbelanja, bersantap, dan hiburan bagi penduduk Abu Dhabi dan Pulau Yas.
Masjid Agung Sheikh Zayed atau Sheikh Zayed Grand Mosque menjadi tujuan terakhir mereka hari ini. Masjid ini dinobatkan menjadi masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi.
Masjid yang dirancang bergaya Maroko ini tampak mewah dengan lapisan batu pualam putih. Tak hanya itu, masjid ini juga memiliki kubah-kubah khas Ottoman sebanyak 82 kubah. Dalam Guinness Book of World Records, masjid ini meraih tiga rekor yaitu masjid dengan karpet terluas, lampu gantung terbesar dan kubah terbesar.
Setelah dari Masjid Agung Sheikh Zayed, mereka menuju hotel untuk check in dan beristirahat.
Pagi, setelah sarapan, rombongan mereka menuju Dubai Museum yang dianggap sebagai bangunan tertua di Dubai. Museum ini berisi benda-benda antik lokal dan artefak dari negara-negara Afrika dan Asia yang melakukan perdagangan dengan Dubai. Selain itu juga ada diorama yang memperlihatkan kehidupan di sana sebelum ada penemuan minyak. Ada juga artefak yang berusia 3000 SM.
Selanjutnya mereka ke Dubai Gold Souk, yaitu pasar tradisional yang kebanyakan tokonya menjual perhiasan emas. Ibu Dewi membeli perhiasan untuknya sendiri, Shasha, Nisa dan juga Dita.
Setelah itu mereka ke Dubai Spice Souk atau Old Souk, yaitu pasar tradisional yang menjual berbagai macam rempah dan kacang. Dari sini mereka kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak sebelum sorenya melakukan tur lagi.
Sore hari mereka dijemput untuk Desert Safari atau tur di padang pasir/gurun dengan menggunakan mobil Land Cruise. Waktu terbaik untuk pergi ke padang pasir adalah saat sore hari, saat matahari mulai tenggelam. Panas di gurun akan menghilang dan menjadi dingin hingga membuat lebih nyaman.
Mereka berkeliling gurun dengan menggunakan Land Cruise. Kemudian mereka berhenti sejenak untuk melihat matahari terbenam di tengah gurun. Sesudah itu mereka dibawa ke camp yang berada di tengah gurun.
"Mas, aku boleh naik unta enggak?" tanya Dita yang tertarik dengan salah satu atraksi di sana.
"Jangan dulu ya, Sayang. Aku takut enggak aman untuk kandungannya. Lain kali kalau ada rezeki kita ke sini lagi saat Sayang tidak hamil," jawab Rendra sambil mengelus kepala istrinya.
"Aku juga enggak akan naik unta kok. Sayang, kita pakai baju tradisional Arab saja ya, lalu foto berdua," lanjut Rendra.
"Iya, Mas." Dita mengangguk. Meski dia kecewa tidak bisa naik unta, dia juga tidak boleh egois. Keselamatan dia dan janinnya lebih utama.
"Ma, aku sama Kak Shasha mau naik unta dulu ya," seru Nisa.
"Iya, hati-hati ya kalian," pesan Ibu Dewi.
"Siap, Ma," sahut Nisa yang sudah siap menaiki unta yang akan dia dan Shasha naiki.
"Mama, nanti mau pakai henna enggak?" tanya Dita pada ibu mertuanya.
"Apa mama masih pantas pakai henna? Mama sudah tua. Dita saja," jawab Ibu Dewi.
"Ih, Mama masih muda, masih cantik gini. Buat kenang-kenangan, Ma. Temani aku ya, Ma," bujuk Dita dengan tatapan memohon.
__ADS_1
"Mama kan sudah punya cucu, sudah tua. Tapi demi memenuhi keinginan bumil, mama mau deh," kata Ibu Dewi sambil tersenyum.
"Makasih, Ma." Dita mencium pipi mertuanya. "Mama mau sekalian pakai baju tradisional enggak?"
Ibu Dewi menggeleng. "Enggak, kalian saja. Mama tunggu di sini."
Di akhir malam itu mereka makan malam di camp, dengan beratapkan langit malam. Sambil makan mereka melihat atraksi belly dance, tanura dance (tarian tradisional Mesir) dan live fire show (pertunjukkan dengan menggunakan api). Sebelum meninggalkan camp untuk kembali ke hotel, mereka melakukan berfoto bersama.
Di hari terakhir, setelah check out dari hotel, mereka tur mengelilingi Kota Modern Dubai. Mereka berkunjung ke beberapa tempat untuk berfoto. Tujuan pertama mereka di Dubai Frame.
Dubai Frame adalah landmark arsitekstur di Taman Zabeel, Dubai. Bingkai ini memegang rekor sebagai bingkai terbesar di dunia. Bingkai Dubai ini dibuat dari kaca, baja, aluminium, dan beton bertulang dengan tinggi 150 meter.
(Dubai Frame)
Bingkai Dubai memiliki banyak fasilitas canggih di dalamnya, seperti galeri, museum interaktif dan pameran berteknologi augmented reality (penggabungan benda-benda nyata dan maya di lingkungan nyata, berjalan secara interaktif dalam waktu nyata, dan terdapat integrasi antarbenda dalam tiga dimensi). Yang paling menarik di puncak bangunan yaitu jembatan sepanjang 93 meter yang alasnya terbuat dari kaca.
Burj Al-Arab atau Menara Arab menjadi tujuan mereka berikutnya. Bangunan yang mencapai ketinggian 321 meter dan merupakan salah satu bangunan tertinggi ini sebenarnya adalah sebuah hotel mewah.
(Burj Al-Arab)
Selanjutnya mereka ke Palm Jumeirah. The Palm Jumeirah merupakan pulau buatan dengan proses reklamasi, yang berbentuk pohon palem. Ada yang berbentuk batang, mahkota dengan 17 daun, dan sebuah pulau berbentuk sabit yang mengelilinginya dan membentuk 11 kilometer pemecah gelombang. Pulau ini dihubungkan dengan Dubai melalui sebuah jembatan sepanjang 300 meter. Sementara pulau sabit dihubungkan dengan ujung atas palem melalui terowongan bawah laut.
(The Palm Jumeirah)
Atlantis Hotel yang terletak di Palm Jumeirah juga mereka kunjungi. Mereka dapat melihat kehidupan di bawah laut melalui terowongan akuarium hotel ini. Ada hiu, ikan pari, piranha, lobster, kuda laut, hingga ubur-ubur yang ada di akuarium tersebut.
Mereka kemudian ke The Dubai Mall, yang diklaim sebagai pusat perbelanjaan terbesar di dunia. Mal ini luasnya setara dengan 50 lapangan bola. Ada air terjun ilusi di sana. Selain itu ada toko permen terbesar di dunia yang ada pohon lolipop di dalamnya.
Di dalam mal juga ada akuarium indoor dengan panel aklirik terbesar di dunia. Berbagai wahana yang menguji adrenalin juga ada. Begitu pula arena ice skating yang luasnya seukuran olimpiade. Yang paling menarik bagi Rendra tentu saja menjadi navigator pesawat di simulator penerbangan Edge. Dia menjadi navigator di pesawat tipe Emirates A 380 dan bisa memilih salah satu dari 12 bandara tersibuk di dunia sekaligus juga mendapatkan poin sebagai navigator.
Tur berikutnya ke Burj Khalifa atau Menara Khalifa yang merupakan bangunan tertinggi di dunia dengan tinggi bangunan 828 meter. Menara ini mempunyai lift tercepat dengan kecepatan 60 km/jam atau 16.7 m/s. Selain itu bangunan mempunyai paling banyak lantai yaitu 162 lantai yang di setiap lantainya ada berbagai macam hiburan.
(Burj Khalifa)
The Dubai Fountain menjadi penutup tur mereka di Dubai. Sistem air mancur dengan koreografi ini terletak di danau Burj Khalifa. Air mancur di sini dianimasikan dengan pertunjukan yang diatur dengan cahaya dan musik. Setiap pertunjukan berlangsung setiap 30 menit yang bisa terlihat dari setiap titik di kawasan pejalan kaki di dekat danau dan dari banyak bangunan di sekitarnya.
(The Dubai Fountain)
Dari sini mereka langsung menuju ke bandara Abu Dhabi untuk melakukan penerbangan ke Jakarta, baru kemudian kembali ke Jogja tercinta.
"Capai enggak, Sayang?" tanya Rendra saat memijit kaki istrinya di lounge bandara. Dia menempatkan kaki Dita di pangkuannya.
"Capai, tapi senang, Mas," jawab Dita.
"Perutnya aman kan, enggak tegang?" tanya Rendra lagi.
"Insya Allah aman, Mas. Ale kayanya juga suka diajak jalan-jalan." Dita mengelus perutnya.
"Eh, Ale bergerak Mas. Artinya dia juga senang," ucap Dita sambil tersenyum lebar.
"Alhamdulillah. Besok kita jalan-jalan lagi, kalau Ale dan Bubu-nya senang. Tapi di seputaran Jogja saja ya," kata Rendra sambil terus memijit kaki Dita yang agak membengkak.
"Nanti di pesawat tidur ya, biar capainya ilang," titah Rendra.
"Iya, Mas. Ini aku juga sudah mulai ngantuk." Dita menutup mulutnya yang menguap.
"Mau tiduran di sini?" tawar Rendra sambil menepuk pahanya.
"Enggak, Mas. Nanti di pesawat saja. Pijit kakiku saja, Mas."
"Siap, Bubu Sayang."
...---oOo---...
Jogja, 300821 01.25
Ini bab terakhir umrah dan liburan keluarga Ibu Dewi. Semoga tidak bosan ya bacanya ✌️✌️✌️🙏🙏🙏.
Catatan:
(1) Qisas berarti pembalasan (pelaku kejahatan dibalas seperti perbuatannya). Misalnya dalam kasus pembunuhan, hukum qisas memberikan hak kepada keluarga korban untuk meminta hukuman mati kepada terpidana. Atau jika memotong anggota tubuh maka dipotong juga anggota tubuhnya.
(2) “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS:Asy-Syu’ara Ayat: 63).
__ADS_1
(3) “Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS:Asy-Syu’araa Ayat: 65-67)