Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Terurai Satu Per Satu


__ADS_3

Kaisar langsung pergi ke lokasi penangkapan Restu dari rumah Adi. Tadi saat di rumah Adi, dia mendapat telepon dari ketua tim penggerebekan, mengabarkan kalau Restu sudah diamankan. Dia memang sengaja belum memberi tahu berita baik ini karena dia ingin melihat dengan mata kepala sendiri kalau Restu sudah benar-benar ditangkap.


Restu ditangkap di sebuah hotel yang terletak di perbatasan Jogja dan Jawa Tengah. Saat akan ditangkap, dia sempat melarikan diri. Petugas sudah memberi peringatan, tetapi dia tidak mengindahkan. Petugas akhirnya menembak kakinya agar dia tidak bisa lari. Kini di ke dua kakinya bersarang timah panas, karena setelah ditembak sekali dia masih tetap nekat lari, dengan terpaksa polisi menembak kakinya yang satu lagi.


Petugas mengamankan semua barang yang dibawa Restu, termasuk mobilnya. Sebuah tas yang berisi baju dan perlengkapannya, dua gawai serta mobil, semua dibawa polisi ke kantor tempat penanganan kasus Restu. Sebelumnya, Restu mendapat perawatan medis untuk mengeluarkan timah panas yang bersarang di kedua kakinya. Karena itu dia tidak bisa berjalan hingga harus dipapah oleh dua orang petugas.


Setelah sampai di kantor polisi, penyidik langsung melakukan pemeriksaan pada Restu. Saat petugas menanyakan apakah dia minta didampingi pengacara, Restu bilang tidak perlu. Dia akan menghadapinya sendiri. Dia tidak mau merepotkan kedua orang tuanya untuk membayar jasa pengacara yang pasti tidak akan kecil nilainya.


Kaisar memberi kabar pada Adi kalau Restu sudah ditangkap dan saat ini sedang diinterogasi oleh petugas. Arsenio yang mendengar hal itu, nyaris tidak bisa menahan emosi ingin bertemu langsung Restu untuk menghajarnya. Tetapi Pak Lukman dan yang lainnya berhasil menghentikan Arsenio. Mereka sudah menyerahkan kasusnya pada polisi jadi sudah tidak perlu campur tangan lagi. Mereka cukup memberi keterangan yang dibutuhkan dan juga memantau perkembangan penyelidikan hingga nanti sidang digelar sampai dengan putusan pengadilan.


Kaisar ikut mendampingi petugas dalam proses penyidikan Restu. Dia harus menahan emosinya saat jawaban Restu mulai berbelit-belit.


"Apa yang Saudara lakukan pada hari Minggu tanggal 22 Juni 20xx?" tanya penyidik.


"Saya pergi ke rumah tunangan saya," jawab Restu dengan santai.


"Mantan tunangan, tepatnya. Jangan mengada-ada, " tukas Kaisar dengan nada sinis.


"Oh, Pak Polisi tahu," kata Restu dengan senyum kecut.


"Jadi apa yang Saudara lakukan?" tanya penyidik lagi.


"Saya ke rumah mantan tunangan saya, Adelia, lalu saya mengikuti dia dan suami sirinya," jawab Restu.


"Mengikuti ke mana? Dengan apa?"


"Mengikuti mereka pulang dari rumah orang tua Adelia, ke Mirota Kampus terus ke Masjid Syuhada. Saya mengikuti dengan mobil."


"Apa Saudara ikut masuk ke Mirota Kampus dan Masjid Syuhada?"


"Saya sempat masuk ke Mirota Kampus, tapi tidak masuk masjid. Saya menunggu mereka di luar di dalam mobil."


"Apa Saudara menabrak Saudara Adi di jalan depan Masjid Syuhada?" Penyidik menatap mata Adi.


"Iya," jawab Restu sambil tersenyum.


"Kenapa Saudara menabrak Saudara Adi?"


Restu menghela napas panjang sebelum menjawab. "Saya tidak rela Adelia menikah dengan pria lain. Hanya saya yang boleh menikah dengan dia. Kalau saya tidak bisa mendapatkan dia, berarti orang lain juga tidak akan bisa."

__ADS_1


"Egois, sekali," sahut Kaisar.


"Cinta memang harus egois atau kita tidak akan memiliki dia," balas Restu dengan senyum licik.


"Kalau begitu apa Saudara berniat menghilangkan nyawa Saudara Adi?"


Restu mengangguk. "Iya. Saya kan harus menyingkirkan penghalang saya untuk memiliki Adelia."


"Berengsek! Kurang ajar," geram Kaisar. Dia menarik kerah baju Restu dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya bersiap mau meninju Restu.


"Kai, tahan emosimu. Jangan mudah terprovokasi," tegur temannya.


Kaisar lalu melepaskan tangannya. "Kamu bisa selamat kali ini," kata Kaisar sambil menatap Restu dengan tajam.


Restu tersenyum sinis pada Kaisar.


"Apa Saudara melakukannya secara sadar?" tanya penyidik.


"Tentu saja. Apa Bapak pikir saya gila? Saya ini orang yang berprestasi di pendidikan dan pekerjaan. Jangan merendahkan saya," jawab Restu dengan sedikit emosi.


"Berarti Saudara tahu konsekuensi hukumannya?"


"Apa Saudara yakin sudah membunuh Saudara Adi?"


"Tentu saja. Saya sudah menabraknya dengan kencang dan dia juga terjatuh. Tidak mungkin dia masih hidup," kata Restu penuh keyakinan.


"Kamu bukan Tuhan yang bisa begitu saja mencabut nyawa manusia," sindir Kaisar.


"Tapi Tuhan berpihak pada saya," balas Restu.


Kaisar tertawa mengejek. "Percaya diri sekali. Sayangnya, Tuhan berpihak pada Adi."


Restu terkesiap tapi lalu tersenyum miring. "Apa? Jangan membuat lelucon yang tidak lucu, Pak."


"Benar, Saudara Adi masih hidup," sahut penyidik.


Restu menggelengkan kepala. "Tidak mungkin. Dia harusnya sudah mati. Kalian jangan membohongi saya, ya."


"Untuk apa kami membohongimu. Siap-siap saja hadapi hukumanmu. Dan jangan pernah berharap lagi bisa kembali dengan Adelia karena dia sudah bahagia dengan Adi," ketus Kaisar.

__ADS_1


"Saya mau pengacara. Saya tidak akan bicara lagi sebelum ada pengacara," kata Restu setelah merasa terpojok.


"Cepat hubungi pengacaramu." Salah satu penyidik memberikan telepon pada Restu.


"Bisa pinjam hp saya, Pak? Saya tidak hafal nomornya," pinta Restu pada penyidik itu.


Seorang polisi memberikan gawai milik Restu.


Setelah menelepon salah satu kenalan pengacaranya, Restu kemudian dimasukkan ke sel tahanan sembari menunggu pengacaranya datang. Kedua orang tuanya tadi juga menjenguk sambil membawakan pakaian dan juga makanan.


Ibunya menangis melihat keadaan Restu yang kedua kakinya terkena timah panas dan tidak bisa berjalan sendiri. Dia juga sangat menyesalkan perbuatan putra kesayangannya itu. Harusnya dia bisa menyadarkan Restu sejak putranya memutuskan pertunangan dengan Adelia. Dia harusnya mendukung pernikahan putranya dengan Claudia bukannya malah masih mengharapkan Adelia sebagai menantunya. Penyesalan memang selalu terlambat datangnya.


Sesudah Restu mendapat pengacara, dia selalu didampingi selama proses penyidikan. Meski dia tahu hukumannya tidak ringan setidaknya dia tidak mendapat hukuman maksimal. Selama di penjara dia ingat anaknya yang dikandung Claudia. Walau dia tidak mencintai istrinya, dia tetap mencintai darah dagingnya. Hanya dalam hitungan hari saja anaknya akan lahir.


Sementara itu Adi tetap memantau perkembangan penyidikan Restu dari Kaisar. Sahabatnya itu selalu menyempatkan diri mengikuti proses penyidikan di sela waktu luangnya. Dia ingin Restu mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.


Kondisi kesehatan Adi mulai berangsur pulih. Dia hanya sesekali sakit kepala kalau sedang banyak pekerjaan. Sekarang, dia menjadi tidak tahan dengan cahaya matahari saat sedang terik-teriknya. Kalau dulu dia bisa seharian di proyek dan berpanas-panasan, kini hanya di saat pagi atau sore saat cahaya matahari tidak begitu menyengat. Adi lebih banyak berada di kantor. Asistennya yang lebih banyak berada di lapangan.


Surat pengantar pernikahan Adi yang sempat tertunda akhirnya diurus oleh Rendra. Adik iparnya itu benar-benar sangat membantu dan bisa diandalkan meski juga harus memperhatikan Dita yang sedang hamil. Tidak pernah sekali pun Rendra mengeluh walau dia tahu kalau adik iparnya pasti merasakan lelah.


Arsenio juga sesekali membantu Adi bila sedang tidak ada jadwal kuliah. Dia akan siap sedia kalau Adi atau pun Adelia membutuhkan bantuannya. Terutama menemani Adelia ke kampus atau mengurus keperluan pernikahannya.


Setelah Restu tertangkap dan ditahan, kedua orang tuanya menyempatkan datang ke rumah Pak Lukman. Mereka meminta maaf atas kejadian yang menimpa Adi karena ulah Restu. Mereka sangat menyesalkan kejadian tersebut. Selain itu, mereka juga meminta agar tidak membuat kesaksian yang memperberat hukuman Restu.


Meski merasa marah, Pak Lukman tetap menerima mereka. Pak Lukman mengatakan kalau semua sudah diserahkan pada pihak yang berwajib. Kesaksian mereka pun sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, tidak dilebihkan juga tidak dikurangi. Perkara seberapa berat hukuman yang akan diterima Restu itu nanti akan diputuskan oleh hakim di pengadilan. Pak Lukman juga mengatakan kalau dia ingin Restu mendapat hukuman yang setimpal dengan kejahatannya dan menyesali semua perbuatannya.


Adelia beberapa kali bertemu dengan psikolog untuk mengatasi rasa bersalah dan ketakutannya. Ya, dia merasa bersalah pada Adi karena dia merasa sebagai penyebab suaminya celaka. Padahal Adi dan keluarga sudah berulang kali meyakinkan kalau itu bukan karena dia. Tetapi dia tetap merasa bersalah dan selalu meminta maaf pada Adi.


Pascakecelakaan Adi, Adelia semakin takut untuk ke luar rumah, apalagi saat Restu belum tertangkap. Dia lebih banyak di kamar menemani Adi beristirahat. Kalau dia butuh belanja sesuatu selalu minta tolong pada Arsenio atau Dita. Benar-benar takut ke luar karena dia merasa seperti selalu diikuti. Beberapa kali dia bahkan mengigau saat tidur.


Setelah melewati beberapa sesi terapi, pelan-pelan dia mulai bisa menerima keadaan. Di samping itu dia juga harus menyiapkan mentalnya untuk bersaksi di persidangan melawan Restu. Tentu saja dia harus siap bertemu Restu lagi dengan keadaan emosi yang stabil. Dia tidak boleh takut bertemu dengan Restu.


Karena hal itu, kuliah Adelia menjadi sedikit terbengkalai. Skripsi yang harusnya bisa selesai dan bisa mengajukan sidang setelah nilainya keluar jadi tertunda. Untung saja saat ujian akhir semester dia tetap mau ikut karena bersamaan waktunya dengan Dita dan Rendra. Yah, meski harus diyakinkan dulu oleh semua orang terutama Adi.


Dua minggu sebelum pernikahan Adi dan Adelia digelar, sidang pertama Restu berlangsung. Seluruh keluarga Adi dan Adelia ikut hadir untuk mengikuti jalannya persidangan. Kini, satu per satu masalah yang menimpa mereka telah terurai satu per satu. Saatnya mereka untuk menjalani hari dengan penuh semangat dan keyakinan menyongsong hari bahagia mereka.


...---oOo---...


Jogja, 290721 16.55

__ADS_1


__ADS_2