
"Mas Adi, aku boleh kerja enggak?" tanya Adelia saat mereka sedang bersantai sambil menonton televisi di ruang tengah.
Adi menoleh pada istrinya. "Ai, serius mau kerja?"
Adelia mengangguk. "Iya, Mas. Apa boleh?"
Adi tersenyum. "Tentu saja boleh. Aku kan tidak pernah melarang Ai bekerja. Selama ini, Ai, yang memilih untuk mengurus rumah."
"Benar boleh, Mas?" tanya Adelia dengan binar bahagia.
Adi menyengguk. "Iya. Apa aku boleh tahu kenapa Ai akhirnya memutuskan ingin kerja?"
"Aku bingung aja di rumah, Mas. Kalau pekerjaan rumah sudah selesai, enggak tahu mau ngapain. Ale diajak sama Rendra ke butik setiap hari. Aku jadi enggak ada pekerjaan. Aku kan juga belum hamil lagi, Mas."
"Apa sudah ada rencana mau kerja di mana, Ai?" tanya Adi.
Adelia menggeleng. "Belum, Mas."
"Apa mau jadi asistenku?" tawar Adi.
Adelia tertawa. "Jangan bercanda, Mas."
"Aku enggak bercanda, Ai. Aku memang sedang butuh asisten lagi. Ada dua proyek yang sekarang aku pegang. Nanti kalau Ai mau, bantu aku pegang proyek yang baru," terang Adi.
"Apa kata teman-teman, Mas Adi, nanti. Masa iya istrinya jadi asisten. Lagian aku juga bukan karyawan di kantor, Mas."
"Kalau asisten itu hakku memilih, Ai, bisa pakai karyawan sana atau dari luar. Aku tahu istriku punya kemampuan, jadi enggak ada salahnya kan aku angkat Ai jadi asisten." Adi menatap istrinya.
Adelia menggeleng. "Enggak, Mas. Jangan. Nanti kalau kerjaku enggak bagus, malah Mas Adi jadi omongan orang kantor."
"Wajar kalau anak baru masih banyak salah, Ai. Kan butuh proses buat belajar, tidak langsung bisa."
Adelia kembali menggeleng. "Kenapa enggak Bara saja, Mas. Dia sudah jadi karyawan di kantor Mas Adi kan."
"Aku sempat kepikiran sama dia. Tapi, karena tadi Ai ingin kerja, ya aku tawarkan sama Ai dulu. Siapa tahu Ai mau," ujar Adi sembari tersenyum pada wanita yang sudah mengisi hatinya itu.
"Ya, udah, tawarkan saja sama Bara. Mas Adi, kan juga sudah tahu kinerjanya seperti apa."
Adi menganggut. "Ya sudah kalau Ai tidak mau. Apa aku tanyakan temanku siapa tahu ada lowongan di kantornya, Ai?"
"Aku ingin kerja tapi enggak terikat waktu, Mas," ujar Adelia.
"Maksud, Ai, gimana?" Adi mengernyit.
"Kaya Rendra gitu, Mas. Jadi pekerja lepas," terang Adelia.
"Oh, kerja bikin desain kaya Rendra gitu?"
Adelia bergeleng. "Bukan. Mana bisa aku bikin desain kaya Rendra. Itu butuh keahlian khusus."
"Terus kerjanya bagaimana?" Adi semakin mengerutkan kening.
"Misalnya membuat drafter (1) atau menghitung RAB (2)."
"Ai, mau membuka jasa itu?" tanya Adi memastikan.
Adelia menyengguk. "Iya, Mas. Tapi, aku bingung mulainya dari mana."
"Coba nanti aku bicarakan lagi sama Rendra. Kami dulu ingin buka perusahaan jasa konsultan seperti itu. Tapi, karena ada banyak hal yang terjadi di luar kendali kita, jadi belum bisa terealisasi. Rendra sekarang juga sedang fokus mengurus clothing line-nya."
"Iya, Mas. Aku sementara ini kan juga bantu memasarkan via online. Lumayan hasilnya bisa buat jajan bakso. Aku juga minta tolong mama, promo ke teman-temannya." Adelie mengikik sendiri.
"Nah, itu kan Ai juga sudah bekerja secara tidak langsung. Hasilnya bisa Ai tabung sendiri."
"Iya, sih, Mas. Tapi, hasilnya belum banyak. Meski setiap hari setidaknya ada satu orang yang pesan."
"Ya, kan, pelan-pelan, Ai. Nanti lama-lama juga banyak yang pesan. Yang penting, Ai, konsisten promo. Segala sesuatu itu pasti ada prosesnya, tidak langsung jadi." Adi berusaha membangkitkan semangat istrinya.
"Iya, Mas."
"Apa Ai mau bantu langsung di butik? Biar gajinya lebih banyak? Nanti aku yang ngomong sama Rendra."
"Enggak usah, Mas. Enakan begini, santai kerjanya."
Adi tersenyum lalu mengelus kepala istrinya. "Sabar dulu ya, Ai. Aku sama Rendra baru mengumpulkan modal biar bisa bangun kantor. Kemarin Rendra sudah banyak keluar modal untuk usahanya yang baru. Semoga akhir tahun ini bisa terealisasi."
"Aamiin," sahut Adelia. "Kenapa tidak di rumah ini saja kantornya, Mas?" tanyanya.
"Rendra tidak mau. Ai, di rumah cuma sendiri. Kalau ada tamu pria, riskan. Apalagi rumah kita paling pojok. Rencananya, kami mau buat di halaman samping kafe. Dita juga sudah buat desainnya, tapi ya itu modalnya belum ada. Kalaupun nanti sudah jalan, sementara kantornya mungkin di kafenya Rendra. Di sana kan ada ruangan kantor yang biasa Rendra pakai kalau bertemu kolega bisnisnya."
Adelia mengangguk-angguk. "Kita bisa pinjam uang di bank tempat Papa buat modal, Mas," usulnya.
Adi menggeleng. "Tidak, Ai. Aku tidak mau berhutang. Aku ingin modal murni dari uang sendiri. Rendra juga sependapat sama aku."
"Kalian berdua memang cocok. Sering sependapat," ucap Adelia.
Adi tertawa kecil. "Jangan-jangan Rendra sama Dita itu adik yang tertukar ya, Ai," candanya.
Adelia ikut tertawa. "Mas Adi, bisa saja."
...---oOo---...
"Mas, aku besok mau ke kantor tempatku magang, mau menyerahkan surat pengantar dari kampus. Aku naik ojol saja ya biar Mas Rendra enggak bolak-balik antar jemput aku." Dita meminta izin pada suaminya saat mereka melakukan pillow talk.
__ADS_1
Rendra mengernyit. "Naik motor?"
Dita mengangguk. "Iya. Kan lebih praktis dan cepat."
Rendra menggeleng. "No. Enggak boleh. Sayang, bawaannya banyak. Repot nanti kalau pakai ojol. Sayang, bawa mobil sendiri atau aku antar jemput. Cuma itu pilihannya."
Dita menghela napas. "Aku enggak enak kalau bawa mobil ke tempat magang, Mas."
"Kalau gitu aku antar," tukas Rendra.
"Tapi, nanti Mas Rendra harus bolak-balik kalau antar aku."
"Enggak apa-apa. Lagian aku juga enggak ada kerjaan selain mengurus Ale."
"Mas Rendra, kan biasanya ke butik ngontrol penjualan sama produksi."
"Gampanglah itu. Bisa aku atur nanti."
"Kalau aku bawa mobil, nanti Mama, Mas Rendra sama Ale gimana ke butiknya?"
"Naik taksi," jawab Rendra enteng.
"Mas, kok enak banget sih jawabnya." Dita mengernyit.
"Kan memang perkara yang gampang. Ngapain dibikin rumit," sahut Rendra.
"Aku serius loh, Mas." Dita menatap suaminya.
"Aku juga serius, Sayang." Rendra balik menatap istrinya dengan senyum menggoda.
"Please, izinkan aku naik ojol, Mas. Sekali ini saja." Dita kembali memohon pada suaminya.
"Sekali aku bilang tidak boleh, ya artinya tidak boleh. Mau merayu pakai apapun, aku tetap tidak mengizinkan," tegas Rendra.
"Benar, tidak akan tergoda dengan rayuanku?" Kali ini Dita memberi tatapan dan senyum menggoda pada Rendra.
"Bilang saja kalau Sayang baru ingin itu. Tidak perlu pakai alasan merayu. Aku pasti akan membuat Sayang melayang seperti biasa. Tapi, keputusanku tidak akan berubah." Rendra mendekati istrinya. Ale sudah tidur nyenyak di boknya, jadi tidak akan menganggu aktivitas mereka. Sembari dia berdoa dalam hati semoga saja Ale tidak terbangun saat mereka sedang memadu cinta.
Dita mencibir. Dalam hati dia menyesal telah menggoda suaminya. Bukannya berhasil, malah jadi senjata makan tuan.
Keesokan paginya, Dita memutuskan membawa mobil sendiri. Dia sudah berani mengendarai mobil dan punya SIM A saat sedang mengandung Ale. Namun, dia masih belum berani mengendarai sepeda motor sendiri.
Dita merasa lebih praktis membawa mobil sendiri, tanpa harus merepotkan sang suami. Meski, mama mertuanya nanti harus naik taksi online ke butik karena mobil mereka hanya satu. Dita berjanji akan menjemput mereka di butik setelah urusannya selesai.
Ibu Dewi memang tidak mengizinkan Rendra membeli mobil lagi meskipun putranya itu mampu. Selain karena garasi mereka kecil, Ibu Dewi tidak ingin putranya menghabiskan uang untuk hal yang belum begitu penting. Untuknya, mobil bukanlah kebutuhan pokok yang harus segera dibeli. Mereka masih bisa menggunakan jasa taksi online atau ojol.
Dita memang mulai mengurus keperluan magangnya. Karena di liburan semester genap nanti, dia akan magang selama sebulan penuh di sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan kampusnya.
Setelah kemarin meminta surat pengantar ke kampus, hari ini dia mengantar surat itu. Sekaligus memperkenalkan diri dan menjelaskan kapan dia akan mulai magang di sana. Dia tidak magang bersama Bella dan Baim, karena mereka sudah punya pilihan masing-masing.
Dita menyimpan botol asi dan breast pump di kursi belakang. Dia juga mengganti breast pad yang sudah sedikit basah. Tentu saja dia memakai apron menyusui saat melakukan itu, walaupun kaca mobilnya sudah gelap. Namun, dia mengantisipasi bila ada orang iseng yang coba mengintip.
Sesudah itu, Dita melajukan mobil ke perusahaan tempatnya magang. Dia disambut seorang satpam saat memasuki gedung. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, satpam itu memberi arahan padanya harus pergi ke mana.
Dita mengikuti petunjuk yang diberikan satpam. Tibalah dia di depan ruangan yang dituju.
Tok tok.
Dita mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Ya, masuk," titah suara dari dalam ruangan.
Perlahan Dita memutar kenop, lalu membuka pintu tersebut.
"Selamat siang, Pak. Apa benar ini ruangan Pak Abimanyu Dewangga?" sapa Dita dengan sikap sopan.
Pria yang sedang duduk di belakang meja itu, mendongak. Dia tersenyum ramah saat melihat Dita. "Iya, benar. Ada keperluan apa ya?"
"Perkenalkan, nama saya, Anindita Kusuma. Saya mahasiswi jurusan arsitektur UGM yang akan magang di sini, Pak. Ini, surat pengantar dari kampus." Dita menyerahkan amplop coklat pada pria tersebut.
"Silakan duduk," ucap pria yang bernama Abimanyu itu setelah menerima amplop dari Dita.
"Terima kasih, Pak." Dita kemudian duduk di depan meja. Diam-diam, dia mengamati sekeliling ruangan dari sudut matanya sembari menunggu pria di depannya selesai membaca surat pengantarnya.
"Baik, suratnya sudah saya terima. Kamu bisa magang di sini, kebetulan saya sedang membutuhkan tambahan arsitek untuk proyek kami selanjutnya," ujar Abimanyu.
"Terima kasih, Pak. Sesuai yang tertera dalam surat tersebut, saya akan magang mulai bulan depan setelah ujian akhir semester genap selesai," terang Dita.
"It's oke. Tidak masalah. Kalau ada waktu, main ke sini tidak apa-apa, agar tahu proyek apa yang sedang kami kerjakan sekarang. Jadi, saat magang nanti sudah paham tugas-tugasnya."
"Baik, Pak."
"Oh ya, namanya tadi Anin siapa?" Pria itu kembali melihat surat pengantar Dita.
"Anindita Kusuma, Pak," sahut Dita.
"Oke, saya panggil Anin saja ya, biar lebih enak," ujar Abimanyu.
"Kalau Bapak lebih nyaman begitu, silakan," balas Dita.
"Kamu bisa panggil saya, Abim, Bima atau Dewa. Terserah pilih yang mana." Abimanyu tertawa kecil. "Kalau orang kantor sini biasa memanggil saya, Abim," lanjutnya.
"Kalau begitu saya panggil Pak Abim saja biar sama dengan yang lain," ucap Dita.
__ADS_1
"Oke. Ngomong-ngomong, saya belum nikah loh. Jangan panggil Pak lah, jadi merasa tua banget saya," kelakar Abimanyu.
"Rasanya tidak sopan kalau saya tidak memanggil Pak," tolak Dita secara halus.
"Di sini santai kok. Panggilan apa pun tidak masalah. Yang penting pekerjaan selesai dan bagus hasilnya. Anak-anak magang sebelumnya memanggil saya, Mas, Bang, Kak, Uda. Yah, suka-suka mereka," ujar pria dengan rambut klimis dan berkacamata itu.
Dita tersenyum simpul. "Kalau begitu saya panggil Kak Abim, saja."
"Sip." Abimanyu mengacungkan jempolnya.
"Oh ya, dari tadi kita sudah mengobrol tetapi belum berkenalan secara resmi. Abimanyu Dewangga." Dia mengulurkan tangan kanannya.
Dita menangkupkan kedua tangan di depan dada. "Maaf, Kak Abim. Bukan bermaksud tidak menghormati, tapi saya tidak bersalaman selain dengan mahram saya."
Abimanyu menarik tangannya setelah mendengar ucapan Dita. "It's oke. Tidak masalah. Saya suka wanita berprinsip seperti kamu." Dia lalu tersenyum pada Dita.
"Di sini ada musala, jadi jangan khawatir kalau kamu mau salat," lanjutnya.
"Iya, Kak."
"Oh ya, saya sampai lupa. Besok saya yang akan jadi penanggung jawab atau pembimbing kamu selama magang di sini. Jadi, kalau ada kesulitan apa pun bisa hubungi saya. By the way, berapa nomormu? Biar kita lebih mudah berkoordinasi." Abimanyu mengambil gawai, bersiap menyimpan nomor Dita.
Dita kemudian menyebutkan nomor ponselnya. Dia sebenarnya agak sedikit heran, kenapa justru pembimbingnya yang meminta nomor, seharusnya kan dia? Namun, dia tidak terlalu memikirkan hal tersebut.
Dddrrt ... dddrrtt ....
Gawai Dita bergetar di dalam tas.
"Itu saya yang misscall. Nanti jangan lupa disimpan," titah Abimanyu.
"Iya, Kak."
"Kamu keburu ada acara tidak?" tanya Abimanyu.
"Tidak. Kenapa, Kak?"
"Saya ajak kamu tur di kantor ini. Biar besok kamu tidak bingung kalau sudah magang," terang Abimanyu.
"Oh, baik, Kak." Dita bangkit dari duduknya lalu mengikuti Abimanyu yang sudah berdiri.
Abimanyu benar-benar mengajaknya berkeliling kantor tersebut. Dia menunjukkan di mana musala, toilet, pantry bahkan tempat di mana biasanya mereka makan siang selain ruangan kantor yang ada di sana.
"Siapa, Bim?" tanya seorang pria yang berpapasan dengan mereka.
"Mahasiswi yang mau magang di sini," jawab Abimanyu.
"Oh, baru mau ya. Kirain sudah magang."
"Iya, tadi baru bawa pengantar dari kampusnya."
"Tumben kamu ajak keliling sendiri. Biasanya kamu nyuruh orang lain."
"Kebetulan aku lagi enggak ada kerjaan, jadi sekalian. Pegal juga kakiku kalau kelamaan duduk," alasan Abimanyu.
"Bukannya kamu lagi dikejar dead-."
"Sudah sana balik kerja, jangan ngurusin orang lain. Aku tunggu laporanmu 1 jam dari sekarang," tukasnya.
"Kebiasaan. Ada cewek bening aja, langsung lupa sama kerjaan," celoteh pria tersebut sambil berlalu dari hadapan mereka.
"Jangan dengarkan hal yang aneh-aneh dari karyawan di sini. Biasa dikejar target dan deadline jadi omongannya suka ngaco," ujar Abimanyu.
"Iya, Kak."
Mereka pun melanjutkan tur kantor yang tertunda.
...---oOo---...
Jogja, 020122 00.35
Catatan:
(1) Drafter adalah orang yang bekerja membuat gambar-gambar kerja teknik, sehingga gambar tersebut jelas dan mudah dimengerti orang lain dan mudah dalam proses pembentukan obyek gambar tersebut.
Drafter beda dengan arsitek. Kalau arsitek yang merancang atau mendesain bangunan. Kalau drafter menggambar lebih detail lagi rancangan si arsitek.
(2) RAB (Rencana Anggaran Biaya) adalah perkiraan biaya yang diperlukan oleh perorangan ataupun kontraktor berdasarkan gambar rencana dan spesifikasi bangunan yang akan dibangun dari awal sampai selesai.
...---oOo---...
Untuk teman-teman yang menantikan cerita KaiSha, InsyaAllah, minggu depan sudah bisa dinikmati, tetapi bukan di sini.
Kisah KaiSha bisa dibaca di facebook atau di platform yang nanti akan saya beritahukan lebih lanjut di mananya.
Jadi, bagi yang ingin dan berkenan membaca, silakan membuat akun facebook.
Bila ada yang meminta pertemanan pada saya di facebook, tetapi belum saya konfirmasi, silakan DM saya atau komen di sini nama akunnya apa, InsyaAllah secepatnya saya konfirmasi bila sedang online.
Tolong jangan kirim messenger ya, karena saya tidak mengaktifkan fitur tersebut di ponsel. Silakan DM saya kalau ada yang mau ditanyakan atau komentar di sini.
Untuk info kapan tepatnya KaiSha rilis nanti akan saya update di IG @kokoro.no.tomo.82
Kalau ada yang mau baca tulisan saya setiap hari silakan ke IG atau di facebook. ššš
__ADS_1
Oh ya, satu lagi, kalau ada yang berminat, nanti kisah KaiSha bisa dibukukan. Kalaupun tidak ada juga tidak mengapa š¤š¤š¤
Saya sudah memenuhi janji ya up seminggu sekali, semoga berkenan menikmati beberapa tulisan terakhir saya di sini ššš