Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Langkah Baru


__ADS_3

Hari terus berganti dan berlalu dengan kesibukan serta rutinitas masing-masing. Rendra, Dita dan Ale kembali ke rumah Ibu Dewi bertepatan dengan jadwal kontrol Dita dan Ale. Dari yang rencana semula hanya tujuh hari di rumah Pak Wijaya, akhirnya molor menjadi sepuluh hari.


Rendra tidak tega memaksa istrinya pulang karena Ale sempat rewel hingga membuat Dita kewalahan bila tanpa bantuan sang bunda. Sementara dia disibukkan dengan beberapa pekerjaan yang membuatnya harus meninggalkan mereka berdua. Karena sekarang ada dua orang yang harus dinafkahi, membuat dia sering menerima pekerjaan sebagai pembicara atau memberi pelatihan, selain tetap menggeluti pekerjaan sebelumnya.


Dia memanfaatkan waktu selama istrinya masih belum disibukkan dengan kuliah. Nanti saat istrinya sudah kuliah, dia yang akan mengasuh Ale sendiri. Dia tidak mau Ale tumbuh dalam pengasuhan baby sitter. Dia tidak mau sang anak tercukupi kebutuhannya, tapi kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua karena kesibukan keduanya.


Selama Ale masih di rumah yangkung-nya, Adelia setiap hari tak pernah absen melakukan panggilan video. Dia akan melakukannya saat jadwal Ale minum susu. Begitu pula sang tante--Nisa, dan sang oma--Ibu Dewi, juga melakukan panggilan video setiap hari. Sejak kelahirannya, Ale memang menjadi pusat perhatian setiap orang.


Acara lamaran Shasha dilaksanakan sesuai waktu yang telah ditentukan. Rombongan keluarga Kaisar datang ke kediaman Ibu Dewi untuk secara resmi melamar Shasha. Ibu Dewi didampingi kakaknya--Pak Dewa dan juga Rendra menerima kedatangan keluarga Kaisar. Sebelum ke rumah Ibu Dewi, rombongan Kaisar tadi terlebih dahulu transit di rumah Adi.


Pak Wijaya ikut hadir sebagai perwakilan dari keluarga Pak Dipta (ayah Kaisar) untuk melamar Shasha. Selain kedua putra sulung mereka yang bersahabat, Pak Wijaya dan Pak Dipta juga berteman sejak muda. Karena itu Pak Dipta meminta Pak Wijaya untuk turut serta dalam momen penting putranya. Kalau dahulu Pak Wijaya menerima lamaran dari keluarga Ibu Dewi, kali ini dia yang melamar putri Ibu Dewi untuk putra sahabatnya.


Sebelum ke acara inti, kedua keluarga saling memperkenalkan anggota keluarga masing-masing. Acara lamaran kali ini berlangsung sederhana, hanya anggota keluarga inti dan kerabat dekat saja. Setelah proses perkenalan keluarga, selanjutnya Pak Wijaya menyampaikan lamaran Kaisar pada Shasha.


Ibu Dewi bertanya pada sang putri sulung, apa dia bersedia menerima lamaran Kaisar dan menjadi istrinya. Dengan penuh keyakinan, Shasha menjawab kalau dia mau menjadi istri Kaisar. Semua yang mendengar mengucap syukur dan merasa bahagia..


Setelah lamaran diterima, Ibu Ryani (ibunda Kaisar), memasangkan cincin di jari manis kiri Shasha. Sesudah itu mereka membicarakan tentang akad nikah dan resepsi. Untuk waktu akad dan resepsi belum ditentukan. Mereka masih harus menunggu sidang pra nikah dan surat izin menikah keluar baru bisa menentukan. Yang jelas mereka tetap menyiapkan segala pernak-pernik untuk akad dan resepsi sambil menunggu surat izin menikah. Kaisar dan Shasha juga harus mulai mencari surat-surat yang dibutuhkan, baik untuk sidang pra nikah maupun untuk mendaftarkan pernikahan ke KUA.


Saat di tengah pembicaraan, Kaisar mendapat telepon dari kantor. Dia harus segera datang ke kantor.


"Pada keluarga Ibu Dewi, saya mohon maaf karena harus meninggalkan acara ini. Bukan bermaksud tidak sopan, tetapi ada tugas negara yang menanti. Beginilah saya sebagai abdi negara yang harus siap setiap saat bila ada tugas memanggil. Nanti dari pihak keluarga saya yang akan meneruskan pembicaraan. Sekali lagi saya mohon maaf." Kaisar yang dalam posisi berdiri, kemudian setengah membungkuk untuk menyatakan permintaan maafnya.


"Iya, tidak apa-apa, Mas Kaisar. Jalankan dahulu tugas negara," tutur Ibu Dewi dengan senyum khasnya.


"Terima kasih. Saya pamit dahulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Kaisar berjalan ke luar dari kediaman Ibu Dewi dengan diikuti Shasha di belakangnya. Shasha mengantar Kaisar sampai di dekat motor Kaisar terparkir. Dia memang sengaja membawa motor sendiri untuk mengantisipasi hal seperti ini terjadi.


"Maaf, aku harus pulang, Sha," ucap Kaisar sambil memakai helm.


"Enggak apa-apa, Mas. Aku ngerti kok," balas Shasha sambil terus tersenyum.


"Hitung-hitung latihan ya kalau besok sudah jadi istriku." Kaisar tersenyum pada Shasha.


"Iya. Mas Kai, tidak ganti baju?" Shasha menunjuk kemeja batik lengan panjang pas badan, yang dipakai sang calon suami.


"Aku selalu sedia baju ganti di kantor kok. Enggak apa-apa pakai batik begini, biar mereka tahu kalau aku sedang melamar kamu."


Shasha tersipu malu, ada rona merah yang muncul di pipinya.


"Sudah ya, Sha. Aku sudah ditunggu. Nanti aku telepon kalau sudah di rumah." Kaisar sudah siap di atas motor.


"Iya, Mas. Hati-hati, jangan mengebut."


"Makasih, Sha. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Shasha melambaikan tangan begitu Kaisar melajukan motornya meninggalkan cluster perumahan.


Shasha kemudian kembali masuk ke ruang tamu dan bergabung dengan yang lain.


Mereka kembali meneruskan pembicaraan sampai azan Zuhur berkumandang. Para pria menjalankan salat Zuhur di masjid, sedangkan para wanita salat Zuhur di rumah Adi yang ada musalanya.


Usai salat Zuhur, mereka makan siang bersama di kediaman Ibu Dewi. Selama makan, mereka mengobrol dengan suasana yang lebih santai. Ibu Dewi banyak berbicara dengan Ibu Ryani, sedangkan Shasha dengan Tirta.


"Aku enggak nyangka kamu bakal jadi kakak iparku, Sha," kata Tirta.


"Jangankan kamu, aku aja enggak," ujar Shasha sambil menoleh pada calon adik iparnya


"Jodoh memang tidak bisa ditebak ya. Semuanya menjadi rahasia Allah."


Shasha menganggut. "Iya. Aku dan Mas Kai, Rendra dan Dita, Mas Adi dan Adelia. Kisah kami semua tidak pernah disangka."


"Kalian semua tanpa pacaran, kan."

__ADS_1


Shasha kembali menyengguk. "Iya. Kamu sendiri kapan mau nikah, Ta?"


"Aku belum terpikir untuk menikah, Sha."


"Memangnya pacarmu belum ngajak kamu menikah?" Shasha menatap sang sahabat.


Tirta menggeleng. "Kami masih membangun karir masing-masing, Sha. Mumpung masih muda."


"Aku dulu juga berpikir kaya kamu, Ta. Tapi saat Mas Kai bilang mau serius, aku jadi berpikir ulang. Karir kalau dikejar tidak akan ada habisnya. Saat karir sudah di atas, usia kita sudah tidak muda lagi. Peluang untuk punya anak jadi makin kecil. Apalagi kita wanita, tingkat kesuburan kita berkurang seiring bertambahnya usia."


"Aku melihat Dita yang di usia 20 tahun sudah punya anak. Nanti saat anaknya sudah besar, dia masih muda. Masih bisa hang out bareng sama anak. Aku juga ingin seperti itu." Shasha menerawang sambil terus tersenyum.


"Aku sependapat dengan apa yang kamu katakan soal anak. Doakan saja, Sha, semoga aku juga segera bertemu jodohku." Tirta menghela napas panjang.


"Aamiin. Tapi kamu kan sudah punya pacar, Ta. Tinggal kalian membahas soal pernikahan saja, kan."


Tirta tersenyum masam. "Dia ingin mengejar karir, Sha. Dia ingin menikah kalau sudah mapan, punya rumah dan mobil sendiri. Dan itu entah kapan bisa terjadi. Mungkin saat aku sudah berumur 30-an."


"Jangan pesimis begitu, Ta. Kalaupun kamu tidak melihat masa depan dengan pacarmu, kenapa kamu tidak putus saja dengannya? Cari pria yang mau serius menikah."


"Gimana ya, Sha. Kamu tahu kan kami sudah melewati susah senang bersama sejak kuliah. Tidak mudah untuk melepas semua itu." Tirta kembali menghela napasnya.


Shasha mengangguk. "Iya, aku tahu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu."


"Makasih, Sha." Tirta tersenyum pada wanita yang sudah berhasil mencuri hati kakaknya itu.


Sementara itu di sisi yang lain.


"Jadi Bu Dewi punya butik?" tanya Ibu Ryani setelah Ibu Hasna tadi bercerita soal calon besannya itu.


"Alhamdulillah, iya, Bu," jawab Ibu Dewi.


"Kebaya yang dipakai akad dan resepsi Dita, apa Bu Dewi yang buat?" tanya Ibu Ryani lagi.


"Semua bagus dan cantik, Bu. Pasti langganan para pejabat ya," puji Ibu Ryani.


"Alhamdulillah, itu semua rezeki anak dan cucu, Bu."


"Bu Dewi, terlalu merendah. Kalau begitu nanti urusan kebaya dan seragam keluarga juga among tamu bisa ya minta tolong sama Bu Dewi."


"Insya Allah. Kapan-kapan kita bisa belanja kain bersama ke Solo."


"Boleh-boleh. Besok kita bisa janjian waktunya. Nanti saya tanya Tirta dulu bisanya kapan. Kalau Kaisar tidak bisa diharapkan waktunya." Ibu Ryani menggelengkan kepalanya.


"Mas Kaisar kan ada pekerjaan, tidak jadi masalah. Biasanya yang ribet kan yang wanita. Kalau pria lebih gampang."


"Maaf ya, Bu Dewi. Anak saya tadi harus pergi tugas." Ibu Ryani menyatakan penyesalannya.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya maklum karena Mas Kaisar adalah abdi negara," tutur Ibu Dewi.


"Terima kasih atas pengertiannya, Bu Dewi. Begitulah anak saya, kadang baru pulang sebentar harus ke kantor lagi. Mudah-mudahan nanti setelah punya istri bisa pulang setiap hari, tidak sering tidur di kantor."


"Aamiin. Tapi kalau memang tuntutan pekerjaan ya tidak apa-apa, Bu." Ibu Dewi mengulas senyum.


Selesai makan siang dan beristirahat sebentar, rombongan keluarga Pak Dipta pamit pulang. Mereka kembali ke rumah Adi dulu sebelum pulang ke desa.


Ale yang tadi sempat rewel karena merasa tidak nyaman dengan keramaian, menjadi lebih tenang setelah berada di gendongan yangti-nya. Dia akhirnya bisa tidur dengan tenang, meski saat diletakkan kembali ke boks bayinya, dia kembali bangun dan menangis. Mungkin Ale merasa kangen dengan yangti hingga ingin terus digendong. Membuat Bu Hasna membawa Ale ke rumah Adi.


Selama Ale bersama dengan Ibu Hasna, Dita jadi punya kesempatan untuk membantu Ibu Dewi. Meski dia hanya mengumpulkan piring dan gelas yang kotor, karena dia tidak boleh bekerja berat. Saat jadwal minum susu Ale, dia membawa perlengkapan Ale ke rumah sang kakak.


"Bunda, dari tadi tidak menurunkan Ale?" tanya Dita yang melihat bundanya masih menggendong Ale.


"Tiap bunda letakkan nangis terus, Dek. Enggak apa-apa, bunda juga kangen sama Ale. Mumpung di sini bisa menggendong dan bermain sama Ale," ujar Ibu Hasna.


"Sini dulu, Bun. Waktunya Ale minum susu." Dita mengambil alih Ale dari gendongan Ibu Hasna.

__ADS_1


Tanpa diduga Ale menangis dengan keras saat Dita menggendongnya. "Oeee, oeee ..."


"Ini bubu, Nak. Minum susu dulu ya, nanti sama yangti lagi." Dita berbicara dengan Ale sambil mengambil posisi yang nyaman untuk menyusui Ale. Tapi Ale masih terus menangis dengan keras.


"Yangti di sini temani Ale minum susu ya." Ibu Hasna akhirnya duduk di samping Dita dan mengelus kening Ale dari samping. Perlahan tangis Ale mereda, dia pun mulai mencari pucuk dada Dita.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Dita saat Ale mulai menghisap pucuk dadanya.


"Bunda menginap di sini saja. Ale kayanya kangen sama Bunda," kata Dita pada sang bunda.


"Bunda enggak bisa, Dek. Besok ada arisan ibu-ibu PKK di rumah," ujar Ibu Hasna.


"Nanti kalau Ale rewel gimana, Bun?" Dita tampak khawatir.


"Adek, tenang, santai saja, jangan panik. Nanti kan sudah ada Nak Rendra. Tadi baba-nya sedang repot." Ibu Hasna menenangkan putrinya.


"Dari pagi memang cuma sebentar tadi dipegang Mas Rendra. Apa Ale tidak nyaman sama aku ya, Bun?" Dita terlihat sedih.


"Mana mungkin anak tidak nyaman sama ibunya sendiri, Dek. Anak kecil itu peka, kalau ibunya panik, dia juga jadi panik. Mungkin tadi Adek bingung, cemas, jadi Ale merasa tidak tenang. Adek, harus lebih bisa mengatur emosi. Jangan mudah panik, apalagi kalau anak menangis. Kenali dulu penyebabnya apa. Hadapi dengan tenang."


"Bunda maklum kalau Adek masih sering merasa bingung dan takut saat Ale menangis. Lama kelamaan Adek juga akan mengerti apa yang Ale rasakan dan mau. Perhatikan tangisannya, pasti ada bedanya, Dek."


"Sebagai ibu yang melahirkan anak, pasti kita lebih tahu apa yang anak kita rasakan. Apalagi Ale masih sangat bergantung sama Adek. Kalian bisa membangun ikatan yang kuat selama Ale masih asi eksklusif."


"Bunda yakin Adek bisa jadi bubu yang hebat dan kuat buat Ale." Ibu Hasna mengelus kepala putri bungsunya setelah memberikan beberapa nasihat.


"Aamiin, makasih, Bun," kata Dita dengan terisak-isak.


"Eh, kok malah nangis, Dek. Ingat Ale sedang menyusu, tidak boleh sedih." Ibu Hasna mengusap air mata yang mengalir di pipi sang putri.


"Aku--terharu, Bun." Dita mulai menguasai dirinya.


"Dek, itu ganti yang sebelah menyusunya," titah Ibu Hasna.


"Iya, Bun." Dita lalu merubah posisi Ale.


Saat mulut Ale dipaksa lepas dari sumber kehidupannya, dia menangis kencang lagi, sepertinya dia masih belum kenyang. Ale memang kuat menyusunya, untung saja asi Dita bisa memenuhi kebutuhan putranya.


"Sebentar, Sayang. Ini ganti yang satunya. Ale belum kenyang ya, Nak. Yuk minum lagi, bismillahirrahmanirrahim."


Ale kembali tenang setelah bisa menghisap lagi sumber kehidupannya. Matanya menutup dengan satu tangan menyentuh dada Dita.


"Masih konsumsi daun katuk kan, Dek?" tanya sang bunda.


"Masih, Bun, tapi yang kapsul, soalnya susah kalau cari daunnya. Mama kadang enggak dapat," terang Dita.


"Iya, enggak apa-apa. Yang penting Adek tetap berpikir positif. Besok kalau sudah kuliah jangan lupa stok asi di rumah."


"Iya, Bun. Rasanya berat kalau bayangin mau kuliah. Inginnya dekat Ale terus."


"Masih sebulan lagi kan, kuliahnya?" Ibu Hasna memandang putrinya.


"Iya, Bun."


"Sudah beli perlengkapan buat memompa asi di kampus?"


"Sudah ada, Bun. Ada yang kasih kado itu kemarin. Alhamdulillah rezekinya Ale. Palingan beli botol sesuai kebutuhan asi Ale sama ice pad tambahan. Lainnya sudah ada."


"Syukurlah kalau begitu. Tidak perlu repot beli lagi."


"Iya, Bun."


...---oOo---...


Jogja, 031021 23.55

__ADS_1


__ADS_2